Sejarah, pengulangan yang berirama

“Sejarah akan berulang dengan sendirinya, yang pertama adalah tragedi, yang kedua adalah lelucon”

Dalam lini masa kehidupan manusia, kita akan menemui suatu pola pengulangan yang serupa, pola itu bagai puisi yang berirama, seperti lagu yang memiliki bagian pembukaan, chorus dan penutupan.

Sjahrir, yang merupakan salah satu Founding Fathers yang memiliki jasa yang besar dalam perjuangan kemerdekaan negri ini, berkat kepiawaian diplomasinya berkali-kali nasib bangsa ini terselamatkan pada masa-masa agresi militer belanda setelah proklamasi kemerdekaan.

Namun roda nasib berputar, Partai Sosialis (PSI) yang dipimpinnya tidak menang pada Pemilu pertama di negri ini, bahkan setelah pemberontakan PRRI-Permesta, Sukarno semakin paranoid dengan para Masyumi dan Sosialis, hal ini dimanfaatkan Aidit yang komunis dan Soebandrio untuk semakin dekat dengan Sukarno.

Soebandrio yang awal karirnya diorbitkan oleh Sjahrir justru menikamnya dari belakang, laporan intelejen dari Soebandrio menyebabkan tokoh-tokoh politik yang berseberangan dengan pemerintah ditangkap dan diasingkan termasuk Sjahrir.

Syahrir meninggal dunia di Zurich, Swiss, tanggal 9 April 1966 dengan status tahanan politik oleh mantan teman seperjuangannya sendiri, Soekarno

Soebandrio sendiri adalah merupakan tokoh yang penuh kontroversi, dicap sebagai “Durno” tokoh dalam pewayangan yang bermuka dua dan menebarkan fitnah den kebencian, pada masa pasca G30S PKI nasib Soebandrio langsung berubah drastis ; dituduh terlibat secara langsung peristiwa makar tersebut (walau tanpa bukti) dan dijatuhi hukuman mati yang kemudian menjadi hukuman seumur hidup.

Pada 2004 Soebandrio wafat pada usia 90 tahun, karena umurnya yang panjang dan memori yang masih jelas, Soebandrio sempat menuliskan secara rinci kronologi kejadian makar G30S PKI yang merupakan sebuah kudeta yang rekayasa.

Setelah dilengserkan, Soekarno hidup dalam pengasingan sebagai tahanan politik, kondisi kesehatannya yang semakin menurun dan tidak diberikan fasilitas pengobatan yang memadai oleh pemerintah saat itu, menyebabkan Soekarno semakin dekat dengan ajalnya.

Pernah ada segerombolan komplotan yang pro-Soekarno, mencoba menculiknya agar dia terbebas dari tahanan, namun Soekarno menolak karena tidak ingin hal tersebut menimbulkan perang saudara di negri ini.

Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno. “Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik” Hatta menoleh pada isterinya dan berkata “Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kita itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini”.

Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno.

Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan “Bagaimana kabarmu, No” mata Hatta sudah basah. Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta “Hoe gaat het met Jou?” kata Bung Karno, Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil.

Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar tahanan Sukarno yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada.

Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.

Soekarno dan Sjahrir mati dalam pengasingan, Tan Malaka mati ditembak, hanya Hatta saja yang cukup pintar untuk keluar dari kancah politik sebelum terlambat.

“Kamis, 21 mei 1998, beberapa mobil masuk ke dalam halaman rumah Cendana, dari mobil mercedes benz hitam keluar Suharto, dengan kemeja safari wajah jendral besar itu tampak suram dan pucat. Sulit merupakan peristiwa itu, ini adalah pertama kalinya Bapak pulang sebagai warga negara biasa, cerita Tutut”

“Saya memutuskan mundur supaya tidak ada korban jatuh lagi, jika saya tetap kukuh maka korban akan berjatuhan lagi, saya dulu naik berkat mahasiswa, sekarang sudah ada korban mahasiswa, saya tidak mau ada korban lagi” – Suharto

Sepuluh tahun kemudian Jendral besar itu tutup usia.

Dan sejarah berulang kembali.

history_repeats_itself-572-185

 

 

 

memaafkan, dendam dan kemenangan

“Victory is changing the heart of your opponents by Gentleness and Kindness”

Salahuddin al- Ayyubi

 

beberapa hari yang lalu saya menonton wawancara mantan presiden kita, B.J. Habibie dalam suatu acara talkshow yang terkenal, Mata Najwa, saat Habibie ditanya apakah dia merasa dendam saat pertanggungjawabannya ditolak oleh DPR, Habibie langsung menjawab : tidak.

tentu saja kita paham bahwa seorang teknokrat seperti Habibie memiliki pola pikir yang berorientasi pada solusi, jadi dia paham betul bahwa jika dia mendendam dan bahkan merencanakan untuk melakukan balas dendam maka itu adalah hal yang sia-sia dan hanya merugikan dirinya sendiri.

Pada masa Agresi Militer Belanda, tokoh-tokoh kemerdekaan kita ditangkap dan diasingkan oleh Belanda, diantara Sjahrir, Soekarno dan H. Agus Salim, mereka dibawa ke Prapat, Sumatra Utara. Ada suatu insiden antara mereka, ketika Soekarno sedang mandi dan bernyanyi dengan keras, hal ini sangat mengganggu Sjahrir yang sedang dirudung duka karena terpisah dari keluarganya, hingga Sjahrir menghardik Soekarno : “Houd je Mond !” (shut up)

Soekarno sangat gusar dengan hardikan ini, untung saat itu ada Agus Salim yang bisa melerai kedua anak muda yang berkepala batu ini, namun beberapa sumber dekat menuliskan bahwa Soekarno tetap tidak bisa memaafkan kelancangan Sjahrir, hubungan mereka terus memburuk mulai saat itu, hingga partai yang dipimpin Sjahrir dibubarkan dan Sjahrir diasingkan hingga ia menemui akhir hayatnya.

banyak hal yang telah kita lihat dari akibat tidak bisa memaafkan orang disekitar kita yang telah berbuat salah, adalah suatu hal yang sulit untuk melupakan kesalahan dari orang lain, mungkin selamanya kita tidak akan bisa melupakan hal itu, namun buat apa juga terus menerus menyimpan dendam yang hanya akan membebani pikiran kita.

kehidupan terus berjalan, dan hal yang paling berat yang pernah kita harus lakukan adalah mengendalikan diri saat sedang marah, berusaha sabar, dan memberi maaf kepada yang berbuat salah.

“Sejarah manusia dan bangsa-bangsa sudah terlalu banyak memberi pelajaran bahwa kekerasan dan dendam hanya berujung pada satu hal : Kehancuran”

 

MCDKIOF FE065