2019 : bersiap untuk yang terburuk, berharap untuk yang terbaik

lima tahun yang lalu saya bilang kepada teman saya si Carlos Ginting itu (satu-satunya teman yang punya kemampuan prediksi sama seperti saya) kalau dua kandidat presiden pasti sedang sinting atau tidak waras karena masih ngotot mau jadi presiden walau dengan kondisi finansial yang tidak jelas itu.

waktu itu status politik saya masih netral dan saya rasa hari ini status politik saya mulai berubah, karena saya mendukung siapapun yang mementingkan financial recovery yang sangat dibutuhkan saat ini.

dan yang membuat saya bingung juga ; kenapa kebanyakan orang tidak bisa melihat “gajah dalam ruangan ini” sepertinya semua orang dalam kondisi delusional akut hingga mengabaikan hal krusial yang menentukan masa depan kita ini.

saya menulis ini dengan situasi hati yang tidak menentu, pertama karena prediksi saya pada rupiah dan situasi ekonomi ternyata benar (dan itu membuat saya sangat tidak senang) kedua, karena kita masih terjebak dan terkotak-kotak dalam arus politik yang tidak menentu ini, dan ketiga ; ternyata ada beberapa orang yang sebenarnya paham apa yang terjadi (karena mereka orang-orang finansial) namun malah membuat opini yang menyesatkan orang banyak yang tidak tahu soal finansial.

kemarin saya melihat status seorang analisa saham yang mencoba mencari hadist tentang boleh berhutang, padahal kita tahu bahwa hukum syariah sangat menghindari hutang, namun kelihatannya orang bank itu mencoba menggali hukum syariah yang bisa mensupport penjualan hutang secara syariah, yang sebenarnya problematik karena banyak orang awam yang tidak paham soal investasi dengan hutang ini.

kedua, saya juga melihat beberapa analisa mulai membuat status menyalahkan rakyat atas kehancuran rupiah, yang menurut saya ini sangat absurd karena bukan rakyat yang membuat kebijakan finansial negara ini, tanpa menyalahkan rakyat pun sebenarnya rakyat telah menanggung secara langsung dampak krisis dari naiknya harga-harga pokok dan hilangnya pelayanan kesehatan dan pendidikan, dsb.

dan yang ketiga juga ada yang mengajak rakyat agar membeli instrument hutang agar membantu negara keluar dari krisis, ini hal yang paling absurd, lagi-lagi karena rakyat juga telah menanggung efek dari krisis dengan kehilangan pekerjaan, harga-harga naik…..masak harus disuruh membayar hutang negara yang dimana saat dibuat itu rakyat bukan yang melakukannya ? jika ingin mengusut siapa sebenarnya yang paling bersalah maka harusnya selain pemerintah saat ini juga dicari siapa yang dulu membuat kebijakan itu.

saya bisa berpanjang-lebar dan terus berkeluhkesah soal ini dan tidak akan ada habisnya, namun saya sebagai orang yang beriman masih punya harapan untuk bangsa ini, walau kita sudah dihabisi sampai tidak ada lagi yang kita miliki namun tetap kita tidak boleh kehilangan asa, juga tetap harus siap dengan apapun yang akan terjadi.

prepare for the worst and hope for the best.

 

 

I remember…..

I remember when everything was simple and we still believe in a thing called love

I remember when he kept asking about what I was thinking, doing and felling. There was a time when I was really important for him, and I was the only one in his mind.

Wherever I was, there he was.

Whatever I did, he loved it

He made me feel happy just the way he showed how he cared for me, I never could understand why he treasured me that much, while I didn’t treasure myself like he did.

He always called me everyday, and when I went away, he could find a way to call me.

When I was having holiday in granma’s house, and the phone’s line there was broken, he called the operator to fix it, and after it was fixed, he called me just to hear my voice.

letters, and letters….words would never enough to describe his feeling for me that moment.

last year, he asked ; do I still remember those days ?

I replied ; I was surprised you still remember it, I thought you forget all about it.

he never forget it, either do I

it was nice to know when things are over there are some sweet memories that will stay forever in our mind