Islam dalam bernegara (part 2)

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”. (QS. 16:125)

 

Dalam artikel Islam dalam bernegara bagian pertama, saya sudah mencoba menjelaskan bahwa Islam memiliki kelebihan tersendiri sebagai agama di penghujung masa ini dengan kemampuannya untuk beradaptasi dengan mudah.

Seperti yang bisa kita lihat jika kita meneliti sejarah hidup Nabi (Sirah Nabawiyah) maka secara garis besar terbagi menjadi dua periode : Periode Mekkah dan Periode Madinah, dimana kedua periode itu memiliki perbedaan yang sangat signifikan.

Periode Mekkah dimana dakwah dilakukan secara sembunyi, dan tanpa perlawanan ketika beberapa umat disiksa oleh kaum quraisy, intinya pada masa ini hampir sama seperti yang terjadi pada zaman kenabian Nabi Isa ; kesabaran ditempa dengan menahan diri dan bersikap pasif tidak bereaksi sedikitpun pada tekanan dan cobaan yang terjadi.

Periode Madinah sangat berbeda dengan periode Mekkah dimana Nabi dan umatnya sangat aktif dalam kegiatan dakwah, semua hal dilakukan secara publik, bahkan sering sangat progresif saat melakukan ekspedisi (ghazwul) untuk menaklukkan dan mempersatukan suku-suku Arab,

Setelah wafatnya Nabi, para penerusnya juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Nabi yaitu bersikap progresif dalam menumpas pemberontakan, dan juga melebarkan sayap ke timur dan barat, mereka sama sekali tidak bersikap pasif dan hanya duduk menunggu keajaiban dari langit.

Khalifah pertama yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq pada pidato pelantikannya menyuruh umat agar memberikan koreksi dan masukan jika ia melakukan kesalahan, demikian juga dengan ketiga khalifah lainnya (Khulafa Rausyidin) karena mereka tanpa harus mempelajari ilmu tata negara, mereka sudah paham bahwa negara yang berdiri ini bukan monarki namun berdasarkan demokrasi yang dimana suara masing-masing individu memiliki status yang sama.

dalam pemerintahan ini, terdapat susunan organisasi yang rapi, terutama Khalifah memiliki semacam dewan penasehat yang berasal dari sahabat paling senior yaitu “Ashara Mubashara”, bahkan saat khalifah wafat, salah satu anggota dewan ini yaitu Abdurrahman bin Auf melakukan semacam pengumpulan suara ke seluruh kota Madinah untuk menanyakan siapakah khalifah yang pantas untuk jadi pengganti.

Kemudian situasi berubah setelah wafatnya Khulafa Rausyidin terakhir yaitu Ali bin Abi Thalib, ketika penerusnya yaitu Muawiyyah bin Abu Sufyan menjadi Khalifah, seketika saja bentuk pemerintahan menjadi monarki, dimana perpindahan kekuasaan berdasarkan hubungan kerabat dan keluarga,

disini sikap para ulama mulai berubah, secara otomatis mereka kembali ke periode Mekkah dimana mereka menjauh dari istana dan tetap berfokus pada dakwah, sikap para ulama yang menjadi pasif ini ternyata bermanfaat untuk kelangsungan dakwah dan terutama dalam menjaga Quran dan Sunnah di muka bumi.

sikap pasif ini yang kemudian ditiru oleh dunia barat, saat mereka ingin maju maka mereka membuat fungsi gereja menjadi terpisahkan dari istana (yang kemudian menjadi paham sekuler) namun dalam Islam memiliki tujuan yang berbeda dengan barat ; pemisahan itu dilakukan dengan tujuan untuk menjaga agama dari pemerintah yang zalim.

puncak terpisahnya agama dari negara ini terjadi saat masa Khalifah Al-Makmun dimana ia berusaha mengubah Quran dengan ilmu filsafat yang dimodifikasi, dan satu-satunya imam yang berupaya mencegahnya adalah Imam Hambali, yang kemudian dikenal sebagai mendiri Mahzab Hambali.

sayangnya mahzab ini kemudian dimodifikasi menjadi suatu aliran yang mengaku memiliki ajaran paling murni yaitu Wahabi, pendirinya adalah Ibnu Wahab yang bersama Ibn Saud (pendiri dinasti Saudi) melakukan pemberontakan kepada kekhalifahan Turki Ottoman dengan menghancurkan kuburan imam Syiah dan melakukan pembantaian pada kaum syiah, menduduki kota Mekah dan Madinah, maka Turki sebagai pemegang otoritas pemerintahan tertinggi memerangi Ibn Saud hingga menjatuhkan hukuman mati atas perbuatannya itu.

Namun ajaran Wahabi masih disimpan oleh para penerus Ibnu Saud dan ketika agen rahasia dari Inggris, Hemper datang dan menyamar sebagai muslim, ia membangkitkan lagi aliran wahabi ini dan para agen penerusnya ; Lawrence of Arabia dan Getrude Bell membantu pemberontakan di jazirah Arab hingga dinasti Saudi terbentuk hingga saat ini.

Saudi Arabia dan aliran Wahabi-salafi adalah monarki terbesar muslim terbesar saat ini, dan tidak bisa dipungkiri bahwa ajarannya telah tersebar ke seluruh dunia, intinya ajaran ini membuat umat menjadi pasif dan tidak terlibat dalam politik sama sekali, pelarangan ilmu filsafat membuat umat jadi tidak bisa berpikir dan mudah diberikan ajaran doktrinisasi.

Apakah ajaran salafi ini sepenuhnya salah ?

kita tetap harus memiliki pemikiran positif, dengan adanya petromonarki Saudi ini maka sampai hari ini dua kota suci Mekkah dan Madinah jadi terjaga dari hiruk-pikuk dan gejolak di timur tengah.

namun disatu sisi hal ini membuat umat bisa dengan mudah dikendalikan dan masuk lagi ke dalam masa kolonialisasi, walaupun secara harfiah telah merdeka namun kedaulatan tidak sepenuhnya dimiliki, seperti kondisi saat ini.

jadi apakah yang lebih baik ? Islam Progresif atau Islam Ortodoks ?

Saya lama memikirkan hal ini, karena jika kita menjadi progresif pada saat yang tidak tepat juga tidak akan menguntungkan, bahkan menjadi terlalu progresif itu terlalu beresiko dan bisa dimanfaatkan oleh lawan kita……namun selalu menjadi pasif pun tidak bisa dibenarkan juga karena Tuhan tidak kan mengubah nasib kaum kecuali jika kaum itu mengubah nasibnya.

yang saat ini bisa saya pikirkan adalah bagaimana kita bisa mengetahui apakah tujuan kita menjadi progresif atau pasif itu untuk Allah dan Rasul-Nya, bukan untuk kita dan dunia ini.

karena jika kita menetapkan hati ini untuk kepada Tuhan saja, maka secara otomatis niat kita akan menjadi ikhlas, kalaupun kita memisahkan diri dari jamaah itu karena Allah, dan kalaupun kita bergabung dengan jamaah itupun karena untuk Allah semata.

saya percaya, mau dibuatkan teori yang ilmiah bagaimanapun akhirnya kembali lagi ke kondisi hati kita masing-masing, dan menyisakan pertanyaan dalam lubuk sanubari kita;

apakah yang kita lakukan di dunia ini bertujuan satu kepada Tuhan semata……

wallahualam bishowab

 

 

 

Tarbiyah

“The foundation of every state is the education of its youth.”  Diogenes of Sinope

Seperti kebanyakan orang di negri ini, saya terlahir sebagai Muhammadiyah, tapi sebagian besar masa dewasa saya banyak dipengaruhi oleh gerakan baru yang disebut “Tarbiyah”

Tarbiyah adalah gerakan baru pada era 80an yang terinspirasi dari “Ikhwanul Muslimin” dari Mesir, yang berfokus pada pendidikan umat, namun pada akhirnya gerakan ini ikut terjebak dalam arus politik.

Kali ini saya hanya ingin menjelaskan apa pengaruh gerakan ini menurut segi pandang saya pribadi, baik dari segi positif maupun negatifnya,

Segi Positif :

Pertama, Tarbiyah sangat mensupport wanita untuk banyak memberikan kontribusi, maka tidak heran pada masa ini ada beberapa tokoh wanita muslim yang muncul seperti penulis Helvi Tiana Rosa dan Asma Nadia

Wanita yang besar di era ini rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi, dan tidak jarang mereka banyak yang sekolah ke luar negri. Para akhwat masih bebas bepergian tanpa mahram jika niat untuk bepergian adalah untuk hal-hal yang baik.

Hal ini sangat bertolakbelakangan dengan gerakan yang “lebih konservatif” , dimana wanita dilarang keras untuk keluar rumah tanpa mahram – tanpa kompromi.

Kedua ; Interaksi antar wanita dan pria yang terbatas, seperti tidak boleh berjabat tangan, pemisahan ruangan antara pria dan wanita, pacaran dsb, menurut saya ini poin yang cukup masuk akal karena dengan dibatasinya interaksi antar wanita dan pria maka masing-masing pihak akan menjalin hubungan yang sehat tanpa harus terjebak dalam urusan yang sia-sia seperti pacaran.

Pacaran sendiripun adalah hal yang absurd, dan tidak dilakukan oleh generasi di masa lalu, dengan tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna ini, masa muda saya terselamatkan dan saya bisa lebih fokus untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Ketiga ; Tarbiyah tidak pernah secara eksplisit mendiktekan pada wanita seberapa panjang kerudung yang harus digunakan, mungkin karena pada masa itu untuk bisa memakai kerudung adalah hal yang cukup sulit, kebanyakan akhwat masih dilarang memakai jilbab oleh keluarga, sekolah atau tempat kerjanya, jadi kerudung yang dipakai beragam dan modelnya alakadarnya saja, bahkan saya pernah melihat beberapa akhwat datang ke pengajian belum memakai kerudung.

Keempat ; Tarbiyah tidak pernah secara tegas melarang musik dan lukisan, dalam beberapa kondisi, musik dan lukisan jika tidak bertentangan dengan agama masih diperbolehkan,

tidak seperti gerakan agama lain yang “lebih konservatif” yang sangat melarang kedua hal ini tanpa kompromi sedikitpun.

Maka jika kita lihat di sekolah-sekolah yang berbasis Tarbiyah seperti Sekolah Islam Terpadu masih terdapat ajaran musik dan melukis, ini sangat baik untuk memupuk bakat dan kreatifitas anak-anak.

Segi Negatif :

imbauan untuk cepat menikah, pada masa itu banyak kejadian pernikahan dini yang dilakukan oleh ikhwan dan akhwat yang secara mental dan finansial belum siap, menurut saya pernikahan dini ini seharusnya tidak di-encourage , dan sebaiknya para akhwat dan ikhwan dibekali dengan ilmu berumahtangga menurut ajaran Rasulullah SAW sebelum menikah.

Terlibat dalam politik, walaupun tidak semua aktifis Tarbiyah setuju ketika mereka maju ke arena politik, bagaimanapun keputusan untuk tampil ke politik ini adalah hal yang prematur dan sangat merugikan gerakan ini.

Hingga akhirnya kita lihat saat ini gerakan Tarbiyah seperti kehilangan ruh karena ditinggal oleh sebagian besar pengikutnya yang beralih ke gerakan yang “lebih konservatif” itu.

Pengaruh dari gerakan ini dalam kehidupan saya cukup banyak ; karena dari pengajian Tarbiyah saya mengetahui kewajiban memakai jilbab dan berkat hidayah-Nya pada masa sulit itu saya bisa mengenakan jilbab, saya mengambil kursus bimbel yang didirikan oleh pengikut gerakan ini (Nurul Fikri) dan pada waktu kuliah pun kampus saya adalah markas besar dari gerakan ini. bahkan lembaga-lembaga pendidikan yang terlibat dalam kehidupan saya adalah berasal dari gerakan ini.

Hari ini saya baru sadar betapa banyaknya manfaat dan hidayah yang saya dapatkan dari gerakan yang berfokus pada pendidikan ini,

walaupun sekarang ini gairah gerakan ini sudah meredup, para ulamanya sudah menua dan regenerasi hampir tidak ada, namun simpati dan hati saya tetap pada mereka – yang dulu sudah pernah mengorbankan waktu, harta, pemikiran, tenaga untuk kebaikan dan kemajuan pendidikan umat.

Semoga Allah SWT memberikan kita hidayah-Nya dan mengumpulkan kita di Maqam al-Mahmudah

 

 

 

 

 

 

 

Makkiyah, Madaniyah dan Ali bin Abi Thalib

Secara garis besar, sejarah penting dalam Islam terbagi menjadi tiga periode : Makkiyah, Madaniyah dan masa-masa fitnah di kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

kenapa saya menuliskan ini dan apa manfaatnya yang bisa kita ambil dari tiga periode ini, adalah tidak lain karena kita hidup pada masa-masa penuh fitnah, adu domba, perpecahan, dsb.

maka dengan mempelajari tiga periode ini mudah-mudahan kita bisa mendapat hikmahnya,

Periode Makkiyah

pada masa ini umat Islam mendapatkan cobaan dari kaum kafir (non muslim) yang dimana mereka secara terang-terangan menyerang secara verbal dan fisik, dan apa yang diperintahkan oleh Allah kepada Rasulullah dan umat Islam adalah sama seperti yang dilakukan Nabi Isa Al-Masih di Jerusalem, mereka sama sekali tidak memberikan perlawanan, bahkan membalas celaan dan makian pun tidak diperbolehkan.

“If anyone slaps you on the right cheek, turn to them the other cheek also”

di surat al-Mukminun ayat 96 – 97 dijelaskan bahwa kita harus menahan diri dari membalas perbuatan buruk itu, jangan merendahkan diri kita dengan cacian dan makian, dan jika kita tergoda oleh setan untuk melakukan hal itu maka kita harus berdoa “ya Tuhan, aku berlindung dari bisikan-bisikan setan”

Apakah sulit untuk menahan diri ? apakah kita tidak sakit hati dan bersedih dengan penghinaan itu ?

tentu saja, bahkan di awal surat Al-Kahfi dijelaskan bahwa Rasulullah sendiri merasa sangat sedih bahkan kesedihannya itu setara dengan depresi seorang yang hendak bunuh diri (tentunya bukan berarti Rasulullah akan melakukan hal itu) juga di surat al-Hijr yang menjelaskan bahwa Allah sungguh-sungguh mengetahui kesakitan yang kita rasakan akibat ucapan kaum kafir itu.

dan apa yang diperintahkan Allah kepada kita ?

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadikan kamu diantara orang-orang yang bersujud”

Karena dengan mendekatkan diri kepada Tuhan maka semua kesakitan yang kita rasakan itu bisa tergantikan oleh perasaan tenang yang disebut “Sakinah”

Periode Madaniyah

biang keladi pada masa ini adalah kaum munafik, dan puncak masalah yang mereka berhasil buat adalah tuduhan keji kepada Aisyah, istri Rasulullah, dan karena kaum munafik ini secara kontinu memanasi isu ini maka akhirnya kaum muslim pun ikutan terbawa fitnah ini,

Abu Ayyub al-Anshori ketika dihampiri oleh istrinya dan istrinya berkata ; “Apakah kau sudah mendengar berita tentang Aisyah yang sedang ramai dibicarakan oleh semua orang ?”

Abu Ayyub langsung bertanya “Apakah kau merasa bahwa kau lebih baik daripada Aisyah ?” tidak jawab istrinya

“Maka jangan kamu sebarkan berita itu lagi !” kata Abu Ayyub.

Gosip, ghibah, namimah adalah perbuatan sangat tercela dan tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim,

Kita harus menjaga diri agar tidak melakukan hal ini, dan jika ada muslim berbuat seperti itu harus kita nasihati dengan baik, namun jika kita tidak bisa melakukan itu maka sebaiknya kita menghindar dan jangan ikutan mendengar berita-berita tercela seperti itu.

“dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.”

Periode Ali bin Abi Thalib

ini menurut saya adalah masa-masa yang paling sulit dalam sejarah, karena pada masa-masa ini umat Islam di adu domba dengan yang lainnya, semua makar dan propaganda dilakukan untuk memecahbelah umat, hubungan pertemanan dan kekeluargaan menjadi pecah, silaturahmi terhenti akibat cobaan yang berat ini.

Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil).’ (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

pada masa ini hampir mustahil bagi muslim untuk menghindarinya, jadi sebisa mungkin kita menjauh dari semua akses fitnah tersebut, beberapa sahabat bisa melakukan hal itu seperti Ibnu Abbas, namun sebagian besar sahabat lainnya terjebak dalam situasi yang lose-lose itu.

Bahkan dua kubu yang punya satu tujuan pun bisa berperang, seperti pada peperangan Jamal (Perang Unta) dimana kubu Ali bin Abi Thalib bertemu dengan kubu Aisyah dengan tujuan hendak berunding mengenai insiden pembunuhan Ustman bin Affan, namun akibat ulah para provokator seketika saja kaum muslim terjebak dalam situasi peperangan.

demikianlah tiga periode penuh cobaan ini, tujuan saya menuliskan ini sebenarnya untuk catatan pribadi agar saya sendiri pun bisa sabar dalam menghadapi bermacam-macam situasi yang terjadi belakangan ini,

semoga kita semua bisa terhindar dari semua fitnah ini, aamiin

 

 

 

 

 

 

Printing Press, Ibrahim Muteferrika dan kejatuhan Islam

Dulu saya selalu beranggapan bahwa awal kejatuhan Islam adalah pada masa setelah Perang Dunia pertama,

ternyata masa kegelapan itu mulai dari jauh sebelumnya yaitu pada masa kekhalifahan Turki Ustmaniyah di abad ke 15

Sebelumnya, Islam selalu menjadi pioner dalam kemajuan teknologi, dari masa para sahabat dan tabi’in hingga beberapa generasi berikutnya mereka selalu cepat dalam menyerap ilmu duniawi, hingga Islam pada beberapa abad itu menjadi puncak kemajuan ilmu dan budaya.

Nah, apa hubungannya Printing Press dengan kejatuhan Islam ?

sebelum itu, kita lihat dulu bagaimana Islam pada masa pra-kertas, semua tulisan ditulis pada daun kurma, tulang unta, kulit binatang ,dsb. kemudian akhirnya mereka menemukan teknologi pembuatan kertas dari cina, hingga khalifah Al-Makmun dari dinasti Abbasiyah memutuskan untuk menggunakan kertas untuk segala keperluan adminitrasi negara dan semua aktifitas keilmuan, hal yang saat itu belum dilakukan oleh cina, karena mereka hanya menggunakan kertas untuk hasil karya seni.

hingga tidak berlebihan jika kita berpendapat bahwa buku adalah penemuan Islam, karena setelah mereka menulis banyak kertas dan mengumpulkannya, dan menjilid menjadi buku yang lengkap dengan sampulnya.

maju tiga abad setelah itu, ketika Gutenberg menemukan Printing Press, sikap Islam berbeda dengan generasi sebelumnya ; mereka menutupdiri dari teknologi itu, bahkan khalifah Bayezid II membuat fatwa bahwa Printing Press hukumnya haram dan pemakaianya adalah kafir dan pantas mendapatkan hukuman mati !

apa yang terjadi berikut adalah mulainya kemajuan renaissance yang dipicu dari penyebaran printing press di seluruh eropa, hingga pada saat Colombus melakukan ekspedisi ke amerika, mereka juga membawa mesin printing press yang kemudian percetakannya diletakkan di kota meksiko.

Kita pasti bertanya ; kenapa Islam sebegitunya menutup diri dengan kemajuan teknologi ?

Jawabannya seperti biasa adalah ; karena pada ulama yang disekitar khalifah saat itu tidak menginginkan ilmu menyebar keseluruh masyarakat, mereka ingin agar ilmu tetap menjadi eksklusif hanya untuk segelintiran kalangan saja, dengan monopoli ilmu maka orang yang ingin belajar harus datang sendiri kepada mereka untuk menimba ilmu.

Akhirnya salah satu ulama berkebangsaan hungaria yaitu Ibrahim Muteferrika mengajukan petisi kepada khalifah untuk memperbolehkan penggunaan printing press, akhirnya khalifah menyetujui dengan sejumlah daftar larangan kitab-kitab yang tidak boleh dicetak dengan printing press.

namun usaha Ibrahim Muteferrika ini terlambat, karena pada saat itu eropa telah dapat mendahului Islam dari segi ilmu dan teknologi, berkat Printing Press.

Sementara itu, pada saat invasi Napoleon Bonaparte ke Mesir, walaupun Napoleon kalah dalam perang tersebut, dan mengakhiri periode dinasti Mamluk (yang dulu mereka pernah menang dari invasi mongol ) ternyata memberikan angin segar bagi Islam : munculnya percetakan Islam pertama “Bulaq” , berkat jasa Napoleon yang membawa mesin printing press ke mesir.

Bagaimanapun usaha Islam mengejar ketinggalannya dengan dunia barat, mereka telah tertinggal hingga akhirnya Islam benar-benar terkalahkan setelah perang dunia pertama yang akhirnya mengakibatkan berakhirnya kekhalifahan terakhir yang pernah ada di dunia ini.

Sekarang pertanyaannya adalah ;

Apakah kita akan bersikap seperti khalifah Bayezid II dan para ulama saat itu yang bertahan dengan sikap mereka yang memperlakukan ilmu sebagai hal yang eksklusif hanya untuk kalangan tertentu saja ?

Atau kita seperti Ibrahim Muteferrika, si ilmuan hungarian yang dulunya penganut agama nasrani yang menjadi muslim dan berusaha agar ilmu menjadi maju dan tersebar keseluruh lapisan masyarakat

Uprising_in_Cairo

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber :

https://en.wikipedia.org/wiki/Global_spread_of_the_printing_press

https://en.wikipedia.org/wiki/Printing_press

https://en.wikipedia.org/wiki/Johannes_Gutenberg

https://en.wikipedia.org/wiki/Ibrahim_Muteferrika

https://en.wikipedia.org/wiki/French_campaign_in_Egypt_and_Syria#The_printing_press

 

Hidup tanpa Kantung Empedu : Spiritual Healing

“Dan Kami turunkan AL-Quran sebagai Penyembuh dan Rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Al-Isra : 82)

Sudah lama terakhir kali saya menulis tentang penyakit batu empedu, namun sampai hari ini masih ada yang mengirim email kepada saya menanyakan tentang hal ini, seakan-akan posting-posting saya yang sebelumnya tidak cukup menberikan informasi tentang penyakit ini.

Kali ini saya tidak akan menuliskan tentang cara penyembuhan lain, karena semua yang saya ketahui sudah saya tulis pada posting-posting sebelumnya, dan pada posting ini saya akan menceritakan asal muasal kenapa saya mendapatkan penyakit ini hingga kondisi saya saat ini.

Awalnya saya mendapat diagnosa penyakit ini pada sekitar tahun 1999, pada saat itu dokter sudah menyuruh saya untuk mengambil tindakan operasi – karena batu sudah terlalu banyak dan terjadi peradangan, namun saya mencoba memakai obat herbal “Pusaka Ambon” dan semua batu di kantung empedu saya berhasil hilang

Pada tahun 2002 saya merasakan peradangan yang lebih parah dari sebelumnya dan berkali-kali saya masuk ke UGD, hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tindakan operasi, ada dua alasan kenapa saya mengambil tindakan itu :

  1. Saya tidak tahu adanya efek samping setelah kantung empedu hilang,
  2. kondisi fisik dan mental saya saat itu sangat lemah, hingga saya memerlukan tindakan yang cepat untuk penyembuhan

Jadi setelah operasi, selama beberapa tahun saya merasakan perubahan kondisi fisik yang sangat jelas seperti sering mual dan kembung, cepat lelah dan pusing.

Namun kondisi sekitar saya sangat tidak mendukung pada saat itu, hingga saya mengabaikan semua gejala tersebut. Hingga alhamdulillah pada tahun 2010 saya kembali kepada keluarga saya yang sangat memperhatikan dan menyayangi saya, dan mulai saat itu saya dapat lebih memperhatikan kondisi kesehatan saya dan menemukan sebab semua gejala itu adalah akibat dari hilangnya kantung empedu.

Dan kondisi saya saat ini sebenarnya belum benar pulih seperti sebelumya, namun berkat keluarga saya yang sangat perhatian pada saya hingga saya dapat menjaga pola makan dan lebih memperhatikan kondisi fisik saya.

Pada posting2 sebelumnya saya sudah menjelaskan dua cara pengobatan penyakit ini yaitu pengobatan herbal dan pengobatan modern, dan saya sudah menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda hingga saya TIDAK bisa merekomendasikan pilihan pengobatan yang terbaik.

Namun ada cara lain yang setidaknya bisa membantu dan bisa dilakukan semua orang yaitu pengobatan spiritual,

Pengobatan spiritual yang saya lakukan tentunya berdasarkan dari ajaran agama yang saya anut, dan ternyata hal ini sangat membantu dalam proses penyembuhan saya, dan membuat saya menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya,

Berikut beberapa hal yang saya lakukan untuk mencapai kesehatan rohani :

  • Menambah ilmu agama, saya paham bahwa saya harus mengenal siapa Tuhan yang menciptakan saya, mengapa saya harus beribadah hanya kepada-Nya, mengapa saya harus mencintai-Nya, mengapa saya diberikan penyakit ini, semua pertanyaan itu hanya saya dapatkan setelah saya mengenal Tuhan saya dengan membaca banyak buku-buku agama dan menghadiri pengajian.
  • Memahami bahwa setiap manusia (dan saya juga) tidak diciptakan secara sia-sia, setiap insan memiliki tugas masing-masing, dan kita mempunyai pilihan untuk menjadi manusia yang baik
  • Dimanapun, kapanpun saya berada, saya harus memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, jadi bukan hanya ketika sedang beribadah saja, namun setiap waktu saya usahakan untuk terus mengingat-Nya
  • Satu-satunya senjata yang paling ampuh yang saya miliki adalah doa, maka saya akan terus berdoa kepada Tuhan, agar saya bisa terus mensyukuri semua nikmat yang ada dalam hidup ini
  • Setiap kali saya merasa kesakitan dan kelelahan, saya berusaha untuk tidak mengeluh dan mengucapkan syukur kepada Tuhan serta memanjatkan doa untuk kebaikan dari penyakit ini.
  • Keberadaan saya di dunia ini hanyalah sementara, saya berasal dari-Nya dan saya akan kembali kepada-Nya, maka tujuan hidup saya di dunia ini adalah agar saya dapat kembali kepada-Nya
  • Menyadari bahwa kesembuhan rohani ini hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman, maka saya akan terus memanjatkan doa agar keimanan saya tetap terjaga hingga akhir hidup saya ini.

 

Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi tempat singgah untuk anak-anak yang memiliki penyakit parah – kanker, leukimia, dsb. mereka adalah anak-anak yang sudah tidak memiliki harapan untuk sembuh, namun kesabaran dan semangat mereka untuk hidup tetap terpancar, hingga membuat saya malu dengan kondisi saya yang masih sehat.

Dengan bersyukur dan berbagi kepada yang lain juga akan menumbuhkan semangat dalam hidup, kita perlu berada disekitar orang-orang yang memiliki aura positif untuk memberikan pengaruh yang baik kepada kita.

Dan yang terpenting adalah kita harus memiliki kesabaran, satu-satunya cara untuk meraih kesabaran adalah dengan memohon kepada Tuhan agar diberikan kesabaran, karena Tuhan adalah yang bersama orang-orang sabar ; wallahu ma’ashobirin

La tahzan, innallaha ma’as sobirin

 

 

 

Al-Baqiyatush-Shalihat

“To be doing good deeds is man’s most glorious task” – Sophocles

Dua minggu belakangan ini nenek kami yang hampir berusia 90 tahun mengalami masa krisisnya, tubuhnya yang sudah menua mulai tidak bisa berfungsi seperti dulu lagi, kemudian beberapa kali beliau mengalami masa-masa koma dan kehilangan kesadarannya

diantara masa-masa sulit itu nenek beberapa mengucapkan hal-hal yang aneh, salah satu ucapan nenek yang sangat saya ingat yaitu nenek berkata bahwa :

“harta itu tidak akan bermanfaat, tidak ada gunanya memperebutkan harta, yang akan kita bawa nantinya hanya amalan, Amalan itu yang akan abadi.”

Saya teringat akan satu ayat yang serupa di Al-Quran surat Al-Kahfi ayat 46 yang bunyinya :

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia. tetapi Amalan baik yang abadi (Al-Baqiyatush-Shalihat) itulah yang lebih baik disisi Tuhanmu dari segi balasannya dan lebih baik untuk menjadi harapan.”

Al-Baqiyatush-Shalihat, amalan-amalan baik yang abadi,

jika kita melihat terjemahan maka Al-Baqiyatush-Shalihat diartikan menjadi “Amalan kekal yang baik”, ini jadi aneh karena terjemahan hanya mengartikan Al-Quran dari kata-perkata tanpa mampu menjabarkan makna yang tersirat

Saya pernah dengar seorang ustad yang mengatakan bahwa membaca terjemahan itu hampir sama saja dengan TIDAK membaca Al-Quran, karena sering kali terjemahan tidak mampu menjelaskan tata bahasa Al-Quran yang luarbiasa indahnya

Untuk memahami makna Al-Baqiyatush-Shalihat, saya mengambil rujukan dari tafsir Al-Quran, biasanya tafsir yang saya gunakan adalah Ibnu Katsir dan Buya Hamka,

Jadi seharusnya amalan yang baik yang abadi disebut “As-Shalihatul Baqiyaat”, namun Allah Subhanawata’ala membaliknya menjadi Al-Baqiyatush-Shalihat untuk memberi penekanan bahwa amalan-amalan yang baik itu sangat abadi dan menjadi harapan kita setelah kita meninggalkan dunia yang sementara ini.

Buya Hamka menerjemahkan Al-Baqiyatush-Shalihat sebagai “Jejak yang baik” dan “Bekas yang Indah”

karena setelah kita meninggalkan dunia ini maka amalan-amalan yang baik itu menjadi “jejak-jejak” yang baik hingga bisa ditiru oleh orang-orang yang masih hidup agar mereka juga dapat memetik manfaat dari amalan-amalan tersebut untuk hidup mereka.

Ibnu Abbas mengartikan Al-Baqiyatush-Shalihat sebagai sholat lima waktu dan dzikir kepada Allah, Abdur-Rahman bin Zaid mengartikan Al-Baqiyatush-Shalihat sebagai semua amalan ibadah yaitu sholat, zakat, puasa, sedekah dan sebagainya.

sebelumnya disebutkan bahwa “Harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia” karena dua hal ini yang biasanya menjadi tujuan hidup kita, terutama harta, kita menghabiskan waktu kita untuk mencari harta, dan seringkali urusan anak-anak terlalu menyita perhatian kita, padahal ini hanya perhiasan dunia yang membuat kita dapat menikmati hidup kita di dunia.

Ya tentu saja kita tidak dilarang untuk mengejar dunia namun tujuan utama hidup kita tetap pada Al-Baqiyatush-Shalihat

Setelah dua minggu nenek mengalami masa krisisnya, akhirnya nenek kembali kepada Sang Pencipta dengan tenang dan damai, tidak ada sedikitpun tampak kesakitan saat nenek menghembuskan nafas terakhirnya, Allah Subhanawata’ala telah mengambil nenek dengan cara yang paling lembut dan paling indah,

Kami hanya bisa berdoa untuk kebaikan beliau, dan berdoa agar beliau dimaafkan segala dosa-dosanya, dan dilapangkan kuburnya, juga bersyukur karena nenek masih diberikan kesempatan untuk menitipkan wasiatnya pada kami agar memperbanyak amalan-amalan baik

Terima kasih, Nenek

miss u so much…..

 

IMG-20160116-WA0030

 

Heraclius

Perang antara Romawi Byzantium dengan Persia-Sassanid pada 502 – 628 adalah peperangan antara dua negara adidaya saat itu yang panjang dan menguras sumberdaya kedua negara tersebut, diakhir peperangan itu Byzantium Empire hampir kehilangan seluruh wilayahnya, kekaisaran kehilangan banyak wilayahnya terutama di Syria, Palestina dan Mesir dan hanya menyisakan ibukotanya yaitu Konstantinopel yang dilindungi oleh beberapa lapis tembok yang besar.

Akibat peperangan yang lama dan memakan banyak sumberdaya, Kekaisaran diambang kehancuran dan kebangkrutan, hanya satu langkah lagi yaitu penaklukan kota Konstantinopel, maka Persia-Sassanid berhasil menghapus Kekaisaran Romawi Byzantium dari sejarah.

Adalah Kaisar Heraclius yang menyelinap keluar dari tembok Konstantinopel untuk menggalang pasukan-pasukan romawi yang sudah tercerai-berai akibat serangan Persia-Sassanid, sebelumnya Heraclius berpamitan pada rakyat Konstantinopel dan menjanjikan kemenangan untuk mereka.

Karena uang kas negara sudah kosong, maka Heraclius menggalang dana dari rakyat dan pemuka agama untuk membiayai perang dan menyogok bangsa-bangsa barbar Avars disekitar yang telah membelot ke Persia, sebelumnya Heraclius sudah mendalami berbagai ilmu dan taktik perang, hingga ia bisa menyusun kembali formasi baru pasukan-pasukan militer yang akan diterjunkan pada perang melawan Persia.

Berita tentang Kekaisaran Romawi-Byzantium yang hampir punah oleh Persia tersebut sampai juga ke Mekah, saat itu Rasullah dan pengikutnya berpihak pada Romawi, karena mereka masih satu rumpun agama monotheis (Ahlul Kitab) dengan bangsa Romawi yang telah menjadikan Nasrani sebagai agama resminya, sedangkan mayoritas penduduk Mekah yang masih Pagan itu mendukung Persia.

Kemudian diturunkan Surat Ar-Ruum (QS 30, ayat 1 -4 ) yang memprediksikan kemenangan Romawi atas Persia, tentu saja hampir seluruh penduduk Mekah tidak mempercayainya, karena bangsa Romawi telah kehilangan hampir seluruh wilayah kekuasaannya.

Perlahan namun pasti, dengan berbagai serangkaian peperangan, pasukan Romawi mulai dapat memukul mundur pasukan Persia dari wilayah mereka, kemudian wilayah-wilayah yang pernah dikuasai Persia yaitu Mesir, Syria, Palestina berhasil ditaklukkan kembali oleh Romawi, dipenghujung serangkaian peperangan yang dimenangkan oleh Romawi, kondisi politik Persia semakin tidak stabil dan terjadi revolusi yang berhujung pada gencatan senjata antara Romawi dan Persia.

Kemenangan Romawi atas Persia ini diriwayatkan bertepatan dengan Perang Badar, yaitu perang pertama antara pasukan muslim dari Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah dengan pasukan Quraisy dari Mekah.

Setelah Perjanjian Hubadiyyah antara umat muslim di Madinah dan kaum Quraisy Mekah yang intinya adalah gencatan senjata, Rasulullah mulai mengirim surat diplomasi kepada beberapa penguasa di sekitar termasuk kepada kaisar Heraclius.  Saat surat itu sampai kepada Heraclius di Yerusalem, takdir mempertemukan Heraclius dengan Abu Sufyan yang sedang dalam perjalanannya untuk berniaga ke negri Syam.

Abu Sufyan – yang saat itu masih belum masuk Islam, bersama rombongannya dipanggil menghadap Heraclius, terjadi percakapan interogasi yang cukup panjang antara Heraclius dan Abu Sufyan yang diriwayatkan oleh Sahih Bukhari, pada akhir interogasi itu, Heraclius mengakui bahwasanya dia telah memprediksi akan adanya utusan terakhir tersebut namun dia tidak menyangkan bahwa utusan itu akan berasal dari bangsanya Abu Sufyan.

Heraclius memutuskan untuk tidak merespon surat dari Rasulullah tersebut dan tetap berpihak pada rakyat Romawi, namun kemudian terjadi insiden pembunuhan utusan kaum muslim di wilayah Yordania yang berujung pada Perang Mu’tah, Heraclius berusaha untuk menghalangi ekspansi muslim dengan mengirimkan pasukan bantuan.

Setelah perang Mu’tah yang merupakan peperangan pertama antara pasukan muslim dan pasukan romawi, Rasulullah menghimpun pasukan terbesar dalam pernah ada dalam masa kenabiannya yang kemudian dikenal sebagai Perang Tabuk, dimana pasukan muslim saat itu berjumlah 30.000 orang menuju ke padang Tabuk di musim panas yang menyengat, namun Heraclius dan pasukannya tidak datang ke Tabuk, berbagai spekulasi mengenai absennya Heraclius di Tabuk, antara lain yaitu Heraclius enggan berhadapan dengan Rasulullah, selain itu ia tidak mau terlibat dengan perang ini yang disulut oleh kaum munafik dari Madinah.

Setelah Rasulullah wafat, ekspansi muslim tidak dapat dibendung lagi, dalam kurun waktu 10 tahun Kekaisaran Romawi Byzantium kehilangan sebagian besar wilayahnya di Palestina, Syria, Mesir untuk selama-lamanya. Romawi Byzantium menderita kekalahan besar pada Perang Yarmuk yang dipimpin oleh Khalid bin Walid.

Kaisar Heraclius dikenang oleh bangsa romawi sebagai raja yang menyelamatkan Byzantium dari Persia, terutama karena ia berhasil membawa Salib Asli “True Cross” (yang sebelumnya ditelah direbut oleh Persia) kembali ke Yerusalem dengan upacara yang megah.

Bukan saja mendapatkan gelar “King of Kings”, Heraclius adalah seorang terpelajar yang juga menguasai berbagai ilmu taktik perang, ilmu Falak (astronomi dan bintang), sejarah, tata negara dan militer. Heraclius dicintai rakyatnya dan ia tetap setia kepada rakyatnya hingga akhir hayatnya.

 

 

 

 

Abdurrahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Dermawan

Salah satu keutamaan Abdurrahman bin Auf (selain beliau adalah sahabat yang masuk dalam kelompok yang dijamin masuk surga) adalah beliau pernah menjadi imamnya Nabi Muhammad SAW saat sedang sholat berjamaah.

Dalam masa hidup Nabi SAW, hanya dua orang sahabat yang pernah menjadi imam sholatnya, yaitu Abu Bakar as-Shiddiq dan Abdurrahman bin Auf.

Abu Bakar menjadi imam ketika Nabi SAW sedang sakit dan tidak bisa mengimami sholat, sedangkan Abdurrahman bin Auf pernah menjadi imamnya saat sedang Perang Tabuk, ketika sholat subuh dan Nabi SAW sedang pergi untuk membuang hajat, maka para sahabat menunjuk Abdurrahman untuk menjadi imam, dan ketika Nabi SAW kembali, ia mengikuti Abdurrahman pada rokaat kedua.

Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ Al-Anshari, salah seorang penduduk kaya yang pemurah di Madinah. Abdurrahman pernah ditawari Sa’ad untuk memilih salah satu dari dua kebun kurmanya yang luas. Tapi, Abdurrahman menolaknya. Ia hanya minta kepada Sa’ad ditunjuki lokasi pasar di Madinah.

Sejak itu, Abdurahman bin Auf berprofesi sebagai pedagang dan memperoleh keuntungan yang cukup besar. Omset dagangannya pun makin besar, sehingga ia dikenal sebagai pedagang yang sukses.

Apa yang menjadi rahasia kesuksesan Abdurrahman bin auf dalam berniaga ? padahal dia tidak memiliki harta saat memulai usahanya ?

Tidak lain karena Abdurrahman bin Auf memiliki sifat amanah dan jujur, kedua sifat ini adalah modal utama dalam berbisnis dan rahasia kesuksesan dalam setiap usaha.

Ketika Rasulullah membutuhkan banyak dana untuk menghadapi tentara Rum (Romawi) dalam Perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu pelopor dalam menyumbangkan dana. Ia menyerahkan dua ratus uqiyah emas. Melihat hal itu, Umar bin Khathab berbisik kepada Rasulullah , “Agaknya Abdurrahman berdosa, dia tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk keluarganya.”

(Perlu kita pahami bahwa Perang Tabuk adalah merupakan perang yang berlokasi sangat jauh dan melibatkan tentara dalam jumlah yang sangat besar, karena pada saat itu hampir semua suku-suku di jazirah Arabia sudah bersatu dalam panji Islam, oleh karena itu Nabi membuat pengumuman kepada para umatnya untuk mensedekahkan hartanya yang akan digunakan sebagai perbekalan selama perjalanan, namun Nabi SAW tetap mengingatkan umatnya untuk meninggalkan harta untuk keluarga yang ditinggalkan)

Maka, Rasulullah pun bertanya kepada Abdurrahman, “Adakah engkau tinggalkan uang belanja untuk keluargamu?” Abdurrahman menjawab, “Ada, ya Rasulullah. Mereka saya tinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripda yang saya sumbangkan.” “Berapa?” Tanya Rasulullah.

Abdurrahman menjawab, “Sebanyak rizki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah.” Subhanallah.

Sejak itu, rizki yang dijanjikan Allah terus mengalir bagaikan aliran sungai yang deras. Abdurrahman bin Auf kini telah menjadi orang terkaya di Madinah.

Menjelang akhir hayatnya, Abdurrahman pernah disuguhi makanan oleh seseorang — padahal ia sedang berpuasa. Sambil melihat makanan itu, ia berkata, “Mush’ab bin Umair syahid di medan perang. Dia lebih baik daripada saya. Waktu dikafan, jika kepalanya ditutup, makakakinya terbuka. Dan jika kakinya ditutup, kepalanya terbuka. Kemudian Allah membentangkan dunia ini bagi kita seluas-luasnya. Sungguh, saya amat takut kalau-kalau pahala untuk kita disegerakan Allah di dunia ini.” Setelah itu, ia menangis tersedu-sedu.

Abdurrahman bin Auf wafat dengan membawa amalnya yang banyak. Saat pemakamannya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Anda telah mendapat kasih sayang Allah, dan anda telah berhasil menundukan kepalsuan dunia. Semoga Allah senantiasa merahmati anda. Amin.”

 

Perang Uhud (bagian 1) – munculnya Pahlawan Quraisy : Khalid bin Walid

Alih-alih menjadi Agama damai yang “memberikan pipi lain”, Islam memerangi Tirani dan Ketidakadilan

salah satu Perang dalam sejarah Islam yang diabadikan dalam Al-Quran adalah Perang Uhud yang terjadi setahun setelah Perang Badar di bukit Uhud, di dekat kota Madinah.

Perang Uhud secara eksplisit dijelaskan dalam Al-Quran surat Ali-Imran 140 – 179

Setelah kekalahan di Badar, para pemimpin Quraisy yaitu Ikrimah, Shafwan dan Abu Sufyan mengumpulkan kekuatan untuk menyerang kaum muslim lagi, mereka berhasil menghimpun 3000 pasukan infanteri dan 200 kavaleri (berkuda), secara garis besar jumlah mereka lebih besar tiga kali lipat dibandingkan dengan Badar.

Berita penyerangan kaum Quraisy sampai ke Nabi SAW melalui surat dari pamannya, Al-Abbas yang masih tinggal di Mekah, Nabi SAW mengadakan rapat darurat dan memutuskan untuk berperang.

Jumlah pasukan muslim yang dikumpulkan pada awalnya sekitar 1000 orang infanteri dengan sedikit pasukan kavaleri, namun jumlah ini berkurang akibat hasutan Abdullah bin Ubay, si Munafiqun yang memprovokasi agar mereka tetap tinggal di Madinah saja.

Akhirnya pasukan muslim berangkat menuju bukit Uhud dengan 700 pasukan infanteri dan sekitar 50 pasukan kavaleri. riwayat lain menyebutkan pasukan muslim tidak memiliki pasukan kavaleri sama sekali.

Nabi SAW yang memahami kondisi pasukan muslim yang jumlahnya sangat tidak seimbang dibandingkan dengan musuh, memilih bukit Uhud sebagai medan perang dengan berbagai pertimbangan, salah satunya karena ada celah diantara bukit Uhud yang bisa mendesak pasukan musuh dan memperkuat serangan kaum muslim, juga Nabi SAW menempatkan pasukan pemanah yang berjumlah 50 orang di atas bukit untuk melindungi kaum muslim yang berada dibawahnya.

Pesan Nabi SAW pada pasukan pemanah : Jangan tinggalkan posisi kalian dalam kondisi apapun! Lindungi punggung-punggung kami dengan panah-panah kalian! Jangan bantu kami sekalipun kami terbunuh! Dan jangan bergabung bersama kami sekalipun kami mendapat rampasan perang!  Dalam riwayat Bukhari : Jangan tinggalkan posisi kalian sekalipun kalian melihat burung-burung telah menyambar kami sampai datang utusanku kepada kalian

Perang dimulai dengan duel satu-lawan-satu, diantara yang tampil dalam duel adalah Hamzah, paman Nabi SAW, dan Ali bin Abi Thalib, yang keduanya mendapatkan kemenangan seperti yang pernah mereka berdua lakukan pada peran Badar.

Serangan pertama dari pasukan muslim mulai saat duel berakhir, berkat kejeniusan Nabi SAW mengatur posisi pasukannya dan penempatan pasukan pemanah dipuncak bukit memperkuat serangan, pasukan Quraisy pada momen ini tidak berdaya dan terpecah kucar-kacir dalam waktu yang singkat. mereka lari meninggalkan senjata dan baju zirahnya.

Dalam perang zaman medieval, perlu dipahami bahwa setiap orang memanggul beban yang cukup berat, diantaranya baju zirah dan pedang dan peralatan lainnya, maka mereka harus meninggalkannya jika mereka ingin pergi dari medan perang.

Senjata dan Baju Zirah merupakan harta rampasan perang yang paling berharga bagi bangsa arabia, karena mereka tidak bisa memproduksi sendiri persenjataan itu dan harus mengimportnya dari negara lain, maka saat kaum Quraisy lari meninggalkannya, kaum muslim mulai membuka baju zirahnya dan melemparkan pedangnya untuk mengumpulkan harta rampasan perang yang tergeletak di medan perang itu.

Salah satu yang ikut dalam pengumpulan harta perang itu adalah pasukan pemanah, padahal mereka tidak diperbolehkan meninggalkan posnya oleh Nabi SAW, Komando pasukan pemanah, Abdullah bin Jubair berteriak pada pasukannya yang pergi itu : “Lupakah kalian dengan wasiat Rasullulah ?”

Pada saat kaum muslim lengah dan menyangka mereka telah memenangkan peperangan, salah satu panglima muda dari Quraisy, Khalid bin Walid, menemukan celah diantara bukit Uhud, kemudian menghimpun pasukan Quraisy untuk menyerang kaum muslim yang sedang lengah itu.

Tidak ada satupun kaum muslim yang melihat pasukan Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid akan memberikan serangan baru ditengah-tengah kaum muslim yang lengah kecuali Nabi SAW yang tetap siaga memantau medan perang dari puncak bukit.

Khalid bin Walid, panglima muda yang jenius ini kelak akan menjadi mualaf dan akan menyandang gelar “Pedang Allah”, setelah wafatnya Nabi SAW dan dibawah kepemimpinan Umar bin Khattab, Khalid bin Walid memimpin berbagai peperangan besar melawan Romawi dan Persia.

“kaum muslim harus menyalahkan diri mereka sendiri, mereka tidak disiplin di medan perang, Perang Uhud memiliki makna sendiri : membedakan muslim sejati dan pembelot Abdullah bin Ubay” – Karen Armstrong

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. – (Ali Imran Ayat: 165)

 

 

 

 

Perang Badar (bagian 2)

ada beberapa kisah penting dan menarik yang terjadi pada saat Perang Badar, mengingat perang ini adalah perang yang pertama dalam sejarah Islam tentunya memiliki pengaruh yang besar pada seluruh kehidupan di jazirah arabia.

Kisah Cinta Zainab binti Muhammad dan Abil Ash

Zainab adalah putri dari Nabi SAW dari pernikahannya dengan Khadijah, dan Zainab menikah dengan sepupunya, Abil Ash yang masih keponakan dari Khadijah. pernikahan ini terjadi sebelum Muhammad diangkat menjadi nabi, dan setelah Muhammad hijrah ke Madinah, Zainab masih bersama dengan suaminya yang masih menganut agama lama, sedangkan Zainab sudah masuk Islam.

perbedaan agama diantara mereka tidak menghilangkan rasa kasih sayang yang sudah terjalin, Abil Ash enggan memberikan Zainab kepada ayahnya karena mereka masih saling mencintai, “Jika agama memisahkan antara kedua jasad mereka, maka cinta mereka akan tetap ada hingga keduanya dipersatukan oleh sebuah agama.”

pada perang badar, Abil Ash tertangkap dan menjadi tawanan, Zainab kemudian mengumpulkan uang tembusan untuknya, salah satunya adalah kalung pemberian ibunya yang dulu adalah hadiah perkawinannya, saat Nabi SAW menerima tembusan itu dan memandang kalung milik Khadijah, wajahnya berubah sendu dan teringat akan mendiang istrinya, akhirnya Abil Ash dilepaskan tanpa tebusan, kalung itu diberikan kembali kepada Zainab, dan Nabi SAW berpesan agar Zainab dikembalikan kepadanya ke Madinah.

terjadi insiden saat Zainab diantar keluar kota Mekah, beberapa orang Quraish mencegatnya dan membuat untanya melompat hingga Zainab terjatuh dari untanya, kecelakaan ini menyebabkan Zainab yang saat itu sedang hamil mengalami keguguran dan menderita luka yang parah.

setelah kepergian Zainab, beberapa tahun kemudian Abil Ash diam-diam menyusul ke Madinah dan menyusup ke kota itu saat malam hari menemui istrinya, pada siang harinya Zainab mengumumkan bahwa Abil Ash dalam perlindungannya dan Abil Ash kemudian mengucapkan syahadat dan memeluk Islam.

Asy-Sya’bi berkata : “Zainab masuk Islam dan hijrah, kemudian Abil Ash masuk Islam sesudah itu, dan Islam tidak memisahkan antara keduanya”

Zainab wafat tidak lama setelah itu karena luka yang dideritanya ketika terjatuh dari unta dulu, Nabi SAW pernah berkata “dia putri terbaikku “. Zainab adalah contoh kesetiaan seorang istri dan keikhlasan iman, suaminya Abil Ash berkata “Puteri Al-Amin, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan setiap suami akan memuji sesuai dengan yang diketahuinya.”

Kisah Ukasyah bin Mihshan dan pedang Al-‘Aun

Salah satu pahlawan yang lahir di medan perang Badar ini adalah Ukasyah bin Mihshan bin Harsan Al-Asadi. saat ia bertempur, pedangnya pun patah. karena pasukan muslim berperang dengan kondisi yang serba kekurangan, mereka tidak membawa senjata cadangan

Ukasyah menghampiri Nabi SAW dan berkata “Ya Rasulullah, pedangku sudah patah”, Ukasyah sendiri paham bahwa satu-satunya opsinya adalah berperang dengan tangan kosong dan berharap bisa merebut pedang musuh.

Rasulullah SAW menghampiri Ukasyah sambil membawa sebuah ranting pohon, sambil bersabda, “Berperanglah dengan ini wahai Ukasyah.”

Tanpa keraguan sedikitpun, Ukasyah mengambil ranting itu dan kembali ke medan perang, saat ia mengayunkan ranting pohon ke arah musuh, tiba-tiba ranting itupun berubah menjadi sebuah pedang yang panjang, kuat, mengkilat dan tajam. Ukasyah meneruskan pertempurannya dengan pedang barunya hingga Allah memberikan kemenangan pada umat Islam.

Pedang yang kemudian diberi nama “Al ‘Aun” menjadi senjata andalan Ukasyah dalam setiap pertempuran yang diikutinya, baik bersama atau tanpa Rasulullah SAW. Begitupun ketika Ukasyah menjemput syahidnya di Perang Riddah (pada masa khalifiyah Abu Bakar), pedang dari ranting pemberian Nabi SAW setia menemaninya.

Ukasyah bin Mihshan dikuburkan bersama pedangnya Al-‘Aun, Nabi SAW pernah mendoakannya akan masuk dalam golongan yang masuk ke surga tanpa dihisab dan berwajah indah seperti rembulan, dari kisah Ukasyah kita bisa memahami esensi dari keteguhan iman.

Kematian Umayyah bin Khalaf, mantan majikan Bilal bin Rabah

salah satu pemimpin Quraish yang ikut dalam perang badar adalah Umayyah bin Khalaf, dia adalah orang yang dulu sering menganggu Rasullulah dan umat Islam di Mekkah dan menyiksa budaknya, Bilal bin Rabah, hingga Bilal hampir saja mati jika tidak ditolong oleh Abu Bakar yang menghentikan Umayyah.

Setelah perang badar selesai dan Umayyah tertangkap oleh Abdu Amr yang sebelumnya sudah terikat dengan perjanjian agar melindungi Umayyah, saat Abdu Amr membawa Umayyah sebagai tawanannya, mereka melewati Bilal yang sangat terkejut melihat Umayyah, mantan majikannya itu.

Bilal, si Muadzin pertama dalam sejarah Islam itu, berteriak “Ini Umayyah bin Khalaf, si pemimpin Quraish ! saya tidak akan selamat jika dia selamat !”

beberapa orang Anshor langsung menghampir mereka, tentu saja mereka semua sudah mengetahui bagaimana kisah kebengisan Umayyah ketika dulu menyiksa Bilal, para Anshori itu kemudian mencoba membunuh Umayyah walaupun dicegah oleh Abdu Amr.

dan Umayyah pun terbunuh oleh para Anshor, jasadnya terbaring diatas tumpukan kerikil, sama seperti dulu ketika dia menyiksa Bilal dengan membaringkannya diatas tumpukan kerikil panas, dan pada saat kaum muslim mencoba mengangkat jasadnya untuk dikuburkan, tubuh Umayyah tidak dapat diangkat karena setiap kali mereka mencoba mengangkatnya, badan Umayyah hancur. akhirnya mereka membiarkan jasad Umayyah terbaring diatas kerikil.

Abdu Amr, yang kemudian dikenal sebagai Abdurrahman bin Auf, mengucapkan selamat kepada Bilal atas matinya Umayyah, walau dia terkena luka saat mencoba melindungi Umayyah dari serangan para Anshori. dan Abu Bakar pun juga memberikan selamat kepada Bilal atas kematian mantan majikannya itu disertai dengan doa dan pujian bagi Bilal.

Demikian beberapa kisah dari Perang Badar, semoga bermanfaat.