Tarbiyah

“The foundation of every state is the education of its youth.”  Diogenes of Sinope

Seperti kebanyakan orang di negri ini, saya terlahir sebagai Muhammadiyah, tapi sebagian besar masa dewasa saya banyak dipengaruhi oleh gerakan baru yang disebut “Tarbiyah”

Tarbiyah adalah gerakan baru pada era 80an yang terinspirasi dari “Ikhwanul Muslimin” dari Mesir, yang berfokus pada pendidikan umat, namun pada akhirnya gerakan ini ikut terjebak dalam arus politik.

Kali ini saya hanya ingin menjelaskan apa pengaruh gerakan ini menurut segi pandang saya pribadi, baik dari segi positif maupun negatifnya,

Segi Positif :

Pertama, Tarbiyah sangat mensupport wanita untuk banyak memberikan kontribusi, maka tidak heran pada masa ini ada beberapa tokoh wanita muslim yang muncul seperti penulis Helvi Tiana Rosa dan Asma Nadia

Wanita yang besar di era ini rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi, dan tidak jarang mereka banyak yang sekolah ke luar negri. Para akhwat masih bebas bepergian tanpa mahram jika niat untuk bepergian adalah untuk hal-hal yang baik.

Hal ini sangat bertolakbelakangan dengan gerakan yang “lebih konservatif” , dimana wanita dilarang keras untuk keluar rumah tanpa mahram – tanpa kompromi.

Kedua ; Interaksi antar wanita dan pria yang terbatas, seperti tidak boleh berjabat tangan, pemisahan ruangan antara pria dan wanita, pacaran dsb, menurut saya ini poin yang cukup masuk akal karena dengan dibatasinya interaksi antar wanita dan pria maka masing-masing pihak akan menjalin hubungan yang sehat tanpa harus terjebak dalam urusan yang sia-sia seperti pacaran.

Pacaran sendiripun adalah hal yang absurd, dan tidak dilakukan oleh generasi di masa lalu, dengan tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna ini, masa muda saya terselamatkan dan saya bisa lebih fokus untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Ketiga ; Tarbiyah tidak pernah secara eksplisit mendiktekan pada wanita seberapa panjang kerudung yang harus digunakan, mungkin karena pada masa itu untuk bisa memakai kerudung adalah hal yang cukup sulit, kebanyakan akhwat masih dilarang memakai jilbab oleh keluarga, sekolah atau tempat kerjanya, jadi kerudung yang dipakai beragam dan modelnya alakadarnya saja, bahkan saya pernah melihat beberapa akhwat datang ke pengajian belum memakai kerudung.

Keempat ; Tarbiyah tidak pernah secara tegas melarang musik dan lukisan, dalam beberapa kondisi, musik dan lukisan jika tidak bertentangan dengan agama masih diperbolehkan,

tidak seperti gerakan agama lain yang “lebih konservatif” yang sangat melarang kedua hal ini tanpa kompromi sedikitpun.

Maka jika kita lihat di sekolah-sekolah yang berbasis Tarbiyah seperti Sekolah Islam Terpadu masih terdapat ajaran musik dan melukis, ini sangat baik untuk memupuk bakat dan kreatifitas anak-anak.

Segi Negatif :

imbauan untuk cepat menikah, pada masa itu banyak kejadian pernikahan dini yang dilakukan oleh ikhwan dan akhwat yang secara mental dan finansial belum siap, menurut saya pernikahan dini ini seharusnya tidak di-encourage , dan sebaiknya para akhwat dan ikhwan dibekali dengan ilmu berumahtangga menurut ajaran Rasulullah SAW sebelum menikah.

Terlibat dalam politik, walaupun tidak semua aktifis Tarbiyah setuju ketika mereka maju ke arena politik, bagaimanapun keputusan untuk tampil ke politik ini adalah hal yang prematur dan sangat merugikan gerakan ini.

Hingga akhirnya kita lihat saat ini gerakan Tarbiyah seperti kehilangan ruh karena ditinggal oleh sebagian besar pengikutnya yang beralih ke gerakan yang “lebih konservatif” itu.

Pengaruh dari gerakan ini dalam kehidupan saya cukup banyak ; karena dari pengajian Tarbiyah saya mengetahui kewajiban memakai jilbab dan berkat hidayah-Nya pada masa sulit itu saya bisa mengenakan jilbab, saya mengambil kursus bimbel yang didirikan oleh pengikut gerakan ini (Nurul Fikri) dan pada waktu kuliah pun kampus saya adalah markas besar dari gerakan ini. bahkan lembaga-lembaga pendidikan yang terlibat dalam kehidupan saya adalah berasal dari gerakan ini.

Hari ini saya baru sadar betapa banyaknya manfaat dan hidayah yang saya dapatkan dari gerakan yang berfokus pada pendidikan ini,

walaupun sekarang ini gairah gerakan ini sudah meredup, para ulamanya sudah menua dan regenerasi hampir tidak ada, namun simpati dan hati saya tetap pada mereka – yang dulu sudah pernah mengorbankan waktu, harta, pemikiran, tenaga untuk kebaikan dan kemajuan pendidikan umat.

Semoga Allah SWT memberikan kita hidayah-Nya dan mengumpulkan kita di Maqam al-Mahmudah

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Pengalaman pertama mengajar di SD

Berkat hobi mengutak-atik software FOSS ini, beberapa kali saya diundang untuk mengisi acara-acara yang berhubungan dengan software yang saya gunakan, tapi belum pernah saya diajak menjadi tenaga pengajar, sampai Kang Yahyo (Riyogarta) salah satu aktifis opensource mengajak saya mengajar di sekolah anaknya.

Pertama, saya tidak yakin apa saya bisa melakukannya, tapi kang Yahyo terus meyakinkan saya, hingga akhirnya saya mencoba untuk mengirim surat lamaran ke sekolah Tanah Tingal di Ciputat, dan saya pun masuk dalam seleksi guru pengajar ekskul.

14232417_10209144575644106_4805310141128216215_n

Walaupun begitu saya masih belum yakin dengan kemampuan saya, hingga beberapa teman pun memberikan semangat agar saya terus mencobanya 🙂

Akhirnya saya pun mengajar, pada pertemuan pertama saya sangat nervous dan panik, karena semua anak-anak sekolah dasar itu sangat aktif dan luarbiasa banyak bertanya ! sementara saya masih berusaha bersikap perfeksionis agar semua materi pelajaran yang sudah saya siapkan bisa dimengerti oleh semua anak-anak 😮

foto6

Pada beberapa pertemuan berikutnya saya masih kewalahan dan panik, hingga pernah terbesit pikiran untuk berhenti, karena toh ini hanya ekskul saja, dan saya tidak memiliki keterikatan dengan pihak sekolah, saya bisa berhenti kapan saya mau 😐

Tapi walaupun demikian, saya tetap terus mencoba mengajar, hingga akhirnya sampai pada bulan kedua saya mulai merasa tenang dan bisa mengontrol kelas, tidak disangka kalau saya bisa menikmati menjadi guru untuk anak-anak SD 😀

Ternyata perasaan tenang yang saya rasakan pada saat di kelas itu berasal dari saya sendiri, jika saya membuang sikap perfeksionis dan mencoba menikmati proses belajar tersebut maka saya bisa merasakan ada hubungan antara saya dan anak-anak,

lucu juga anak-anak ini, selain pintar mereka juga cepat menerima materi, yang jadi tantangan buat saya adalah agar mereka bisa mengerti kenapa ilmu yang saya ajarkan ini bisa berguna untuk mereka nantinya 😛

foto3

Pada akhirnya toh saya bisa memahami bahwa proses belajar bukan tentang siapa yang mengajar atau apa yang diajarkan, tapi lebih dari itu, karena kita tidak tahu apa anak-anak itu akan bisa mengingat apa yang pernah kita ajarkan,

Tapi yang terpenting adalah semangat dalam memperoleh ilmu tersebut, proses yang harus dilalui tidak mudah dan butuh kesabaran, oleh karena itu hasilnya akan terasa manis dikemudian hari nanti.

InsyaAllah saya akan mencoba terus mengajar setidaknya sampai akhir tahun ini 🙂

dan untuk yang tertarik dengan materi yang saya ajarkan bisa mengunduhnya di link di bawah ini, disitu terdapat materi Gimp yang sudah saya berikan kepada anak-anak.

dan bulan depan saya berencana untuk mulai materi baru yaitu Inkscape 😉

Materi Ekskul Desain Grafis dengan Gimp

 

 

Gimp Book for Kids

Alhamdulillah,

 

akhirnya saya berhasil menulis kembali ebook terbaru : Belajar Gimp untuk anak-anak

cover

 

Dengan Fossy si Kucing Linux sebagai instrukturnya 🙂

fossy3

Ebook ini ditujukan untuk anak-anak diusia dini (sekitar 4 tahun) dengan dilengkapi latihan-latihan yang dapat diprint,

Instruksi di dalam ebook ini segaja saya buat dengan sangat sederhana karena memang ditujukan untuk anak-anak diusia dini, dan tentunya hanya beberapa fungsi dari Gimp yang saya gunakan dalam ebook ini,

contoh latihan :

latihan3_1

 

Demikian ebook ini saya sampaikan,

dan tentunya saya akan mempersiapkan ebook-ebook lain yang ditujukan untuk memperkenalkan software free and open source kepada anak-anak 😀

(untuk latihan, dapat diunduh dengan cara klik  pada gambar di galery, klik mouse kanan dan save image)

Selamat mengunduh ! 🙂

Gimp_for_kids

 

Memilih sekolah terbaik untuk anak

Tidak terasa kita sudah sampai di penghujung tahun, dan bagi beberapa orang tua yang memiliki anak-anak diusia sekolah berarti ini adalah saatnya untuk hunting sekolah baru bagi buah hati tercinta.

Memilih sekolah yang terbaik merupakan perjuangan juga lho, memang tidak ada yang sekolah yang sempurna, namun paling tidak ada sekolah yang cocok dengan kebutuhan anak-anak kita.

Nah, saya sebenarnya orang tua yang termasuk pemalas soal hunting sekolah gini, gak mungkin dong saya keliling ke semua sekolah unggulan untuk mencaritahu tentang info sekolah tersebut ? jadi saya pakai beberapa trik untuk menghemat mencari sekolah terbaik untuk anak saya :

  • Search Google , iya ini langkah yang paling gampang dan cukup bisa dihandalkan, tinggal ketik keywords yang anda inginkan misalnya “Sekolah SD terbaik sejakarta”
  • Bertanya di grup atau forum parenting yang banyak terdapat dimana-mana
  • mencari info dari teman, tetangga, saudara yang sudah memiliki anak yang bersekolah disekolah tujuan
  • mendatangi sekolah tujuan, jika sudah cukup yakin saja sih ya, untuk menghemat waktu dan tenaga juga.

Biasanya setelah melakukan langkah2 tersebut, saya membuat beberapa kategori sekolah yang akan menjadi tujuan untuk anak saya, kategori itu biasanya berdasarkan :

  1. Lokasi, lokasi, lokasi !! mau gimana keren dan bergengsinya suatu sekolah, tetap saja lokasi yang terpenting, idealnya jarak dari rumah ke sekolah tidak memakan waktu lebih dari 30menit,  karena jika lebih dari itu ya akan banyak hal-hal yang membebani si kecil, tentunya kita tidak mau dia jadi kecapean dijalan kan ?
  2. Kurikulum ; kurikulum adalah amunisi dari sekolah, jika amunisinya kopong dan dodol, jangan harap si kecil bisa berkembang jadi karakter yang handal. sekolah yang baik akan memaparkan dengan jelas kepada calon orang tua tentang kurikulum yang digunakan di sekolah tersebut, jangan mudah terpancing dengan istilah-istilah keren dan berbau bahasa inggris, karena belum tentu kurikulum yang canggih itu akan bermanfaat bagi si kecil. Bagi beberapa orang tua, kurikulum berbau internasional sangat penting, namun sekali lagi pertimbangkan apa benar kurikulum bergengsi itu bermanfaat bagi si kecil ?
  3. Guru, Guru, dan Guru ! lupakan fasilitas mewah dan nama besar sekolah, jika sekolah tersebut tidak memiliki guru yang berkualitas maka tinggalkan saja, bagaimana kita bisa tahu jika sekolah tersebut memiliki guru yang berkualitas ? perhatikan saja bagaimana para guru berinteraksi dengan muridnya, interaksi yang ideal adalah adanya komunikasi yang terbuka antara guru dan muridnya, jadi guru bersedia juga mendengar masukan dari para murid, dan tidak tersinggung jika mendapat kritikan dari murid.  Selain itu caritahu juga apakah sekolah memberikan training secara berkala kepada para gurunya yang bertujuan untuk meningkatkan skill para guru. juga cari tahu latar belakang pendidikan para guru, saat ini di jakarta saja untuk menjadi guru taman kanak-kanak harus yang lulusan S1
  4. Dana, ini juga merupakan faktor penting dalam memilih sekolah, kalau kita punya dana yang tidak terbatas ya resikonya pilihan sekolah menjadi lebih banyak, hehehe :mrgreen: kalau memiliki dana yang terbatas makan tentunya pilihan sekolah harus dibuat lebih sedikit
  5. Fasilitas, apakah kelasnya cukup nyaman ? apakah kamar mandinya cukup bersih ? apakah lapangan sekolah cukup luas ? adakah tempat parkir yang memadai ? apakah tersedia fasilitas antar-jemput ?
  6. Akses ke jenjang pendidikan berikutnya, idealnya sekolah yang baik dan bermutu sudah memiliki akses ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ini sangat membantu bagi orang tua, karena saat ini banyak sekolah baru yang bermunculan dengan kualitas yang bagus namun tidak memiliki akses untuk ke jenjang berikutnya.
  7. Kegiatan Ekstra Kurikuler ; sekolah yang baik tentunya memiliki berbagaimacam kegiatan non-kurikulum atau ekstra kurikuler yang dapat menampung minat dan bakat si kecil, hal ini bisa menjadi pertimbangan khusus juga dalam memilih sekolah bagi si kecil.

Ada juga beberapa pertimbangan lainnya seperti apakah sekolah tersebut bilingual atau tidak, buat saya pribadi sih bilingual tidak terlalu penting ya, tapi hal itu kan berbeda, beberapa teman saya memandang sekolah bilingual dengan pengantar bahasa inggris itu sangat penting, tentunya hal itu berpulang pada pertimbangan masing-masing.

Demikian artikel tentang memilih sekolah idaman untuk si kecil, memang tidak ada sekolah yang 100% sempurna bagi buah hati kita, namun sebaiknya kita berusaha memberikan yang terbaik bagi si kecil. Selamat hunting sekolah ! 😉

Kids-going-back-to-school

Single Parenting – Kutipan kultwit Bang Winner

Dini hari 22sept, akun twitter bang winner @winnerku tiba-tiba saja kultwit tentang janda dan dan problematikanya paska perceraian.

Karena akun bang winner ini digembok (kenapa belakangan ini makin banyak orang menggembok akun twitternya ?? 🙄 ), jadi saya minta izin untuk mengkopasnya ke dalam blog saya ini, berikut kutipan dari twit2nya :

  • Memang dilema seorang janda yg punya anak adalah: punya perasaan tapi harus lebih rasional. Not easy. Denying feeling demi masa depan anak.
  • Maka nasihat saya: “pikirkan baik-baik. Kamu bisa jalan sendiri tanpa suami. Selama ini juga bisa. Jangan ciptakan neraka bagi anakmu”
  • Ketika anda bercerai dan menikah lagi lalu keliru pilih pasangan, anakmu kecewa dua kali. Pertama krn bercerai, kedua karena kawin lagi
  • Anak kecewa krn dia merasa baik perceraian maupun perkawinan kedua dilakukan dengan MENGABAIKAN kepentingan dia. Dia anggap ortunya egois.
  • Saya percaya hasil penelitian yg menyatakan bahwa s*x bagi wanita itu tidak sepenting bagi pria. Jadi ga ada masalah besar dengan itu
  • Maka, bagi kalian yang ada niat menikah dengan janda, pastikan kamu mencintai anaknya. Otherwise, lu bikin neraka bagi anak yatim.
  • Karena bagi anak, sehebat2nya lu berlaku baik, kalo itu dibuat2, dia akan ngerasa. Anak itu peka thd penolakan.
  • Buat para janda, bener yang dibilang litaceria tadi. Fokus ke masa depan, cari uang. Ga usah pikirin pasangan hidup.
  • Menjadi janda itu complicated. Sangat complicated. Personally, socially, in the circle of family. Jadi jangan nambah masalah dg menikah lagi
  • Begitu kira-kira pembahasan saya soal #janda dan problematika nya. Being single parent is close to be like God, you know.

Sudah bukan rahasia lagi kalau hari ini makin banyak single parent, dari teman saya yang jadi guru di sekolah bertaraf bonafide saja pernah cerita bahwa sekitar 20 – 30 % status orang tua dari anak-anak adalah sudah bercerai atau berpisah, bahkan barusan ini saya dengar dari seorang pengajar disebuah sekolah internasional bahwa makin banyak lagi (lebih dari separuh) anak didiknya yang memiliki orang tua yang berpisah – entah statusnya sudah bercerai atau berpisah.

Bang Winner benar, bahwa yang harus dipikirkan diperhatikan adalah kepentingan anak-anak dari perceraian atau perpisahan itu, saya tidak mau menyebutkan siapa-siapa saja yang saya kenal sudah berpisah atau bercerai, itu tidak penting, karena selain itu selama ini justru para single parent itu sendiri berusaha menyembunyikan statusnya untuk menghindari tekanan sosial.

jadi mungkin ini sudah saatnya bagi kita untuk saling membantu dan mendukung para single parent itu, bukannya malah justru menambah beban mereka, jika anda mengenal atau mengetahui single parent disekitar anda, tolong jangan iseng ngegosipin mereka, atau memberi cap yang negatif, stay away from them, mind your own business, itu sudah cukup menolong mereka, beri bantuan pada mereka jika mereka meminta saja, kalau tidak ya gak usah sok kepinteran pengen jadi superhero bantuin mereka.

Sekali lagi terima kasih banyak pada Bang Winner untuk pencerahannya 🙂

 

Bagaimana anak-anak anda mempengaruhi kualitas hidup orang tuanya

Menjadi orang tua adalah merupakan salah satu hal yang paling mengubah hidup siapa saja.

Saya beruntung memiliki kedua orang tua yang menyayangi anak-anaknya, dan senantiasa berusaha meluangkan waktu untuk bermain bersama kami disela-sela kesibukan mereka.  Dan kini setelah saya menjadi orang tua atas kedua anak saya, saya baru memahami bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.  intinya, menjadi orang tua adalah proses pembelajaran tanpa henti, dan dibawah alam sadar kita, pola asuh dari orang tua kita akan menentukan bagaimana kita berinteraksi dengan anak-anak kita kelak.

Jadi seberapa besar pengaruh keberadaan anak-anak dalam kehidupan seseorang ?

  • Rutinitas anda akan lebih terkontrol.  Percaya atau tidak, kehadiran anak-anak justru akan membuat kita lebih mengontrol rutinitas kita sehari-hari, walaupun kita sendiri telah memiliki rutinitas, namun kita sebagai orang tua akan berusaha untuk menyesuaikan dengan pola rutinitas anak kita, misalnya karena rutinitas tidur anak-anak yang cepat, sekitar jam 8 atau jam 9 malam, tentu saja kita akan berusaha untuk telah hadir disamping mereka untuk menemani mereka tidur, jadi mungkin dulunya kita terbiasa tidur larut malam karena lembur, maka dengan kehadiran anak-anak, kita akan membatasi diri, dengan mengikuti pola tidur mereka yang cepat dan juga bangun lebih awal di pagi hari dan tentunya kebiasaan ini akan memberikan dampak yang baik bagi kesehatan kita.
  • Mempelajari banyak hal yang baru, banyak yang tidak menyadari bahwa menjadi orang tua kita akan mempelajari berbagaimacam hal yang dulunya tidak pernah kita ketahui, mulai dari cara mengurus anak, memilih dokter dan rumah sakit yang memadai saat anak sedang sakit, melakukan berbagaimacam aktifitas dengan anak-anak, menjadi guru pertama bagi anak-anak, memilih sekolah yang tepat bagi anak-anak, dan sebagainya.  Semua hal tersebut tidak akan kita peroleh jika kita tidak menjadi orang tua. Demi untuk kepentingan anak-anak, kita mempelajari hal-hal tersebut, sumbernya bisa beragam, mulai dari majalah, internet, forum parenting dan sebagainya.  Bagi saya, sering kali informasi dari antar orang tua sangat bisa dihandalkan, jadi sangat penting bagi orang tua untuk berada dalam komunitas antar sesama orang tua.
  • Mengulang kembali masa kecil anda, adakalanya setelah kehadiran anak-anak, anda terbersit untuk mengulang kembali momen-momen saat anda masih kecil dulu, mungkin dulu anda sering bertamasya bersama keluarga, atau pergi memancing bersama ayah anda, atau bisa saja dulu anda sering diajak memasak bersama ibu anda.  Semua kegiatan yang sedernaha namun berkesan dalam memori anda akan muncul kembali saat anak-anak telah hadir dalam kehidupan anda, dan tentunya anda akan mengulang kembali momen-momen yang indah tersebut bersama anak-anak yang anda sayangi.  Kegiatan yang bermanfaat bagi keharmonisan keluarga anda ini bukan saja bermanfaat bagi anak-anak, namun juga bagi kita sebagai orang tua yang akan membuat kita lebih dekat dengan mereka.
  • Lebih memikirkan masa depan, mungkin dulunya anda adalah seorang petualang, yang suka seenaknya melakukan apa saja yang anda inginkan tanpa peduli akan akibatnya bagi kehidupan anda, namun dengan kehadiran anak-anak dalam kehidupan anda, anda akan berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu yang beresiko tinggi, karena tentu saja masa depan anak-anak anda bergantung pada anda, jika anda tiba-tiba jatuh sakit atau kehilangan pekerjaan anda, maka tentu saja masa depan anak anda akan berubah juga.  Oleh karena itu banyak orang tua yang menjadi lebih giat bekerja, menggunakan jasa asuransi atau berinvestasi untuk masa depannya setelah memiliki anak-anak.  Kehadiran anak-anak dalam hidup anda akan membuat anda lebih bertanggungjawab atas kestabilan masa depan anda.
Tanpa bermaksud untuk mengesampingkan siapa pun yang saat ini belum memiliki anak, tujuan saya menuliskan artikel ini adalah untuk melihat pengaruh anak-anak dalam kehidupan kita sebagai orang tuanya, dan sebetulnya masih banyak lagi hal-hal positif yang terdapat dalam kehidupan kita sebagai orang tua, dan saya percaya bahwa hal tersebut akan dapat kita rasakan apabila tujuan kita untuk menjadi orang tua yang baik adalah demi untuk kebaikan anak-anak kita.

Berkomunikasi yang Asertif dengan Anak

Bagaimana cara kita berkomunikasi dengan anak akan menentukan pola perilaku sang anak itu kelak.

Pernah suatu hari anak saya bercerita tentang kehebatan seseorang yang bisa “memelintirkan” peraturan di negara ini dengan cara yang salah, dan saya tidak menyadari bahwa ada rasa terbersit kagum dari anak saya terhadap orang itu, dan tanpa basa-basi saya langsung memberi komen bahwa orang itu sangat salah karena telah melanggar hukum yang ada di negara ini.

Langsung saja anak saya terdiam, karena pendapat saya sangat menohok rasa salutnya terhadap orang tersebut, seketika saya merasa bersalah, maksud saya seandainya saya tidak langsung mencetuskan komentar seperti itu, mungkin saya tidak akan menyinggung perasaannya.

Jadi bagaimana cara berkomunikasi yang efektif dengan anak ?

Mengetahui bahwa anak saya yang sulung ini memiliki perasaan yang lebih peka, saya harus lebih berhati-hati, terutama dalam mengutarakan pendapat saya, dan sejauh ini saya selalu berupaya memancingnya agar lebih berani untuk mengutarakan pendapatnya, tanpa perlu merasa khawatir dengan pendapat saya atau yang lainnya.

Ternyata caranya tidaklah terlalu sulit, seperti biasa kita sebagai orang tua harus tetap berupaya untuk menjadi Pendengar yang Baik.

Pendengar yang Baik tidak hanya cukup mendengarkan saja, tanpa berusaha memahami apa perasaan dan point of view sang pembicara, menjadi pendengar yang baik adalah mendengarkan dengan sepenuh hati dan pikiran, dan tentu saja dengan memberikan perhatian penuh terhadap apa yang dibicarakan yang bersangkutan.

Jadi kemudian saya berusaha untuk mengubah cara saya ketika berbicara dengan anak saya, dengan berusaha untuk memancing pendapatnya, dan menahan diri untuk tidak menimpalinya dengan pendapat dari sisi saya.  Untuk memancingnya agar bisa mengutarakan pendapatnya yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan ; Bagaimana pendapatnya ? Apa menurutnya yang harus ia lakukan ? Apakah menurutnya hal tersebut benar atau salah ? Jika memang hal itu salah, bagaimana menurutnya yang sebaiknya dilakukan ?

Tentu saja setelah sang anak mengutarakan pendapatnya hingga tuntas, jika memang hal itu salah, barulah kita menjelaskan mengapa hal tersebut tidak benar, dan juga jelaskan akibatnya yang akan terjadi bila hal itu tetap terus dilakukan, juga kerugiannya bila hal yang salah itu dibiarkan.  Kemudian setelah mengutarakan pendapat kita, kembali tanyakan bagaimana pendapatnya setelah itu, apakah menurutnya bahwa hal itu benar atau salah.

Berkomunikasi yang asertif adalah seni bagaimana bisa membuat lawan bicara kita mengutarakan pendapatnya dengan bebas, berani, tegas, jujur dan penuh percaya diri tanpa perlu merasa takut atau khawatir akan apa yang akan terjadi.  Dengan memupuk upaya berkomunikasi yang asertif maka akan membangun rasa percaya diri sang anak.

When dealing with people, remember you are not dealing with creatures of logic, but creatures of emotion. ~ Dale Carnegie.

Saya harap semoga untuk kedepannya saya akan lebih bijak lagi dalam berkomunikasi, bukan saja dengan anak-anak saya, namun dengan siapa saja, terutama orang-orang terdekat saya….. amien, God bless us all 🙂