Tarbiyah

“The foundation of every state is the education of its youth.”  Diogenes of Sinope

Seperti kebanyakan orang di negri ini, saya terlahir sebagai Muhammadiyah, tapi sebagian besar masa dewasa saya banyak dipengaruhi oleh gerakan baru yang disebut “Tarbiyah”

Tarbiyah adalah gerakan baru pada era 80an yang terinspirasi dari “Ikhwanul Muslimin” dari Mesir, yang berfokus pada pendidikan umat, namun pada akhirnya gerakan ini ikut terjebak dalam arus politik.

Kali ini saya hanya ingin menjelaskan apa pengaruh gerakan ini menurut segi pandang saya pribadi, baik dari segi positif maupun negatifnya,

Segi Positif :

Pertama, Tarbiyah sangat mensupport wanita untuk banyak memberikan kontribusi, maka tidak heran pada masa ini ada beberapa tokoh wanita muslim yang muncul seperti penulis Helvi Tiana Rosa dan Asma Nadia

Wanita yang besar di era ini rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi, dan tidak jarang mereka banyak yang sekolah ke luar negri. Para akhwat masih bebas bepergian tanpa mahram jika niat untuk bepergian adalah untuk hal-hal yang baik.

Hal ini sangat bertolakbelakangan dengan gerakan yang “lebih konservatif” , dimana wanita dilarang keras untuk keluar rumah tanpa mahram – tanpa kompromi.

Kedua ; Interaksi antar wanita dan pria yang terbatas, seperti tidak boleh berjabat tangan, pemisahan ruangan antara pria dan wanita, pacaran dsb, menurut saya ini poin yang cukup masuk akal karena dengan dibatasinya interaksi antar wanita dan pria maka masing-masing pihak akan menjalin hubungan yang sehat tanpa harus terjebak dalam urusan yang sia-sia seperti pacaran.

Pacaran sendiripun adalah hal yang absurd, dan tidak dilakukan oleh generasi di masa lalu, dengan tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna ini, masa muda saya terselamatkan dan saya bisa lebih fokus untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Ketiga ; Tarbiyah tidak pernah secara eksplisit mendiktekan pada wanita seberapa panjang kerudung yang harus digunakan, mungkin karena pada masa itu untuk bisa memakai kerudung adalah hal yang cukup sulit, kebanyakan akhwat masih dilarang memakai jilbab oleh keluarga, sekolah atau tempat kerjanya, jadi kerudung yang dipakai beragam dan modelnya alakadarnya saja, bahkan saya pernah melihat beberapa akhwat datang ke pengajian belum memakai kerudung.

Keempat ; Tarbiyah tidak pernah secara tegas melarang musik dan lukisan, dalam beberapa kondisi, musik dan lukisan jika tidak bertentangan dengan agama masih diperbolehkan,

tidak seperti gerakan agama lain yang “lebih konservatif” yang sangat melarang kedua hal ini tanpa kompromi sedikitpun.

Maka jika kita lihat di sekolah-sekolah yang berbasis Tarbiyah seperti Sekolah Islam Terpadu masih terdapat ajaran musik dan melukis, ini sangat baik untuk memupuk bakat dan kreatifitas anak-anak.

Segi Negatif :

imbauan untuk cepat menikah, pada masa itu banyak kejadian pernikahan dini yang dilakukan oleh ikhwan dan akhwat yang secara mental dan finansial belum siap, menurut saya pernikahan dini ini seharusnya tidak di-encourage , dan sebaiknya para akhwat dan ikhwan dibekali dengan ilmu berumahtangga menurut ajaran Rasulullah SAW sebelum menikah.

Terlibat dalam politik, walaupun tidak semua aktifis Tarbiyah setuju ketika mereka maju ke arena politik, bagaimanapun keputusan untuk tampil ke politik ini adalah hal yang prematur dan sangat merugikan gerakan ini.

Hingga akhirnya kita lihat saat ini gerakan Tarbiyah seperti kehilangan ruh karena ditinggal oleh sebagian besar pengikutnya yang beralih ke gerakan yang “lebih konservatif” itu.

Pengaruh dari gerakan ini dalam kehidupan saya cukup banyak ; karena dari pengajian Tarbiyah saya mengetahui kewajiban memakai jilbab dan berkat hidayah-Nya pada masa sulit itu saya bisa mengenakan jilbab, saya mengambil kursus bimbel yang didirikan oleh pengikut gerakan ini (Nurul Fikri) dan pada waktu kuliah pun kampus saya adalah markas besar dari gerakan ini. bahkan lembaga-lembaga pendidikan yang terlibat dalam kehidupan saya adalah berasal dari gerakan ini.

Hari ini saya baru sadar betapa banyaknya manfaat dan hidayah yang saya dapatkan dari gerakan yang berfokus pada pendidikan ini,

walaupun sekarang ini gairah gerakan ini sudah meredup, para ulamanya sudah menua dan regenerasi hampir tidak ada, namun simpati dan hati saya tetap pada mereka – yang dulu sudah pernah mengorbankan waktu, harta, pemikiran, tenaga untuk kebaikan dan kemajuan pendidikan umat.

Semoga Allah SWT memberikan kita hidayah-Nya dan mengumpulkan kita di Maqam al-Mahmudah

 

 

 

 

 

 

 

Pengalaman pertama mengajar di SD

Berkat hobi mengutak-atik software FOSS ini, beberapa kali saya diundang untuk mengisi acara-acara yang berhubungan dengan software yang saya gunakan, tapi belum pernah saya diajak menjadi tenaga pengajar, sampai Kang Yahyo (Riyogarta) salah satu aktifis opensource mengajak saya mengajar di sekolah anaknya.

Pertama, saya tidak yakin apa saya bisa melakukannya, tapi kang Yahyo terus meyakinkan saya, hingga akhirnya saya mencoba untuk mengirim surat lamaran ke sekolah Tanah Tingal di Ciputat, dan saya pun masuk dalam seleksi guru pengajar ekskul.

14232417_10209144575644106_4805310141128216215_n

Walaupun begitu saya masih belum yakin dengan kemampuan saya, hingga beberapa teman pun memberikan semangat agar saya terus mencobanya 🙂

Akhirnya saya pun mengajar, pada pertemuan pertama saya sangat nervous dan panik, karena semua anak-anak sekolah dasar itu sangat aktif dan luarbiasa banyak bertanya ! sementara saya masih berusaha bersikap perfeksionis agar semua materi pelajaran yang sudah saya siapkan bisa dimengerti oleh semua anak-anak 😮

foto6

Pada beberapa pertemuan berikutnya saya masih kewalahan dan panik, hingga pernah terbesit pikiran untuk berhenti, karena toh ini hanya ekskul saja, dan saya tidak memiliki keterikatan dengan pihak sekolah, saya bisa berhenti kapan saya mau 😐

Tapi walaupun demikian, saya tetap terus mencoba mengajar, hingga akhirnya sampai pada bulan kedua saya mulai merasa tenang dan bisa mengontrol kelas, tidak disangka kalau saya bisa menikmati menjadi guru untuk anak-anak SD 😀

Ternyata perasaan tenang yang saya rasakan pada saat di kelas itu berasal dari saya sendiri, jika saya membuang sikap perfeksionis dan mencoba menikmati proses belajar tersebut maka saya bisa merasakan ada hubungan antara saya dan anak-anak,

lucu juga anak-anak ini, selain pintar mereka juga cepat menerima materi, yang jadi tantangan buat saya adalah agar mereka bisa mengerti kenapa ilmu yang saya ajarkan ini bisa berguna untuk mereka nantinya 😛

foto3

Pada akhirnya toh saya bisa memahami bahwa proses belajar bukan tentang siapa yang mengajar atau apa yang diajarkan, tapi lebih dari itu, karena kita tidak tahu apa anak-anak itu akan bisa mengingat apa yang pernah kita ajarkan,

Tapi yang terpenting adalah semangat dalam memperoleh ilmu tersebut, proses yang harus dilalui tidak mudah dan butuh kesabaran, oleh karena itu hasilnya akan terasa manis dikemudian hari nanti.

InsyaAllah saya akan mencoba terus mengajar setidaknya sampai akhir tahun ini 🙂

dan untuk yang tertarik dengan materi yang saya ajarkan bisa mengunduhnya di link di bawah ini, disitu terdapat materi Gimp yang sudah saya berikan kepada anak-anak.

dan bulan depan saya berencana untuk mulai materi baru yaitu Inkscape 😉

Materi Ekskul Desain Grafis dengan Gimp

 

 

Gimp Book for Kids

Alhamdulillah,

 

akhirnya saya berhasil menulis kembali ebook terbaru : Belajar Gimp untuk anak-anak

cover

 

Dengan Fossy si Kucing Linux sebagai instrukturnya 🙂

fossy3

Ebook ini ditujukan untuk anak-anak diusia dini (sekitar 4 tahun) dengan dilengkapi latihan-latihan yang dapat diprint,

Instruksi di dalam ebook ini segaja saya buat dengan sangat sederhana karena memang ditujukan untuk anak-anak diusia dini, dan tentunya hanya beberapa fungsi dari Gimp yang saya gunakan dalam ebook ini,

contoh latihan :

latihan3_1

 

Demikian ebook ini saya sampaikan,

dan tentunya saya akan mempersiapkan ebook-ebook lain yang ditujukan untuk memperkenalkan software free and open source kepada anak-anak 😀

(untuk latihan, dapat diunduh dengan cara klik  pada gambar di galery, klik mouse kanan dan save image)

Selamat mengunduh ! 🙂

Gimp_for_kids

 

Memilih sekolah terbaik untuk anak

Tidak terasa kita sudah sampai di penghujung tahun, dan bagi beberapa orang tua yang memiliki anak-anak diusia sekolah berarti ini adalah saatnya untuk hunting sekolah baru bagi buah hati tercinta.

Memilih sekolah yang terbaik merupakan perjuangan juga lho, memang tidak ada yang sekolah yang sempurna, namun paling tidak ada sekolah yang cocok dengan kebutuhan anak-anak kita.

Nah, saya sebenarnya orang tua yang termasuk pemalas soal hunting sekolah gini, gak mungkin dong saya keliling ke semua sekolah unggulan untuk mencaritahu tentang info sekolah tersebut ? jadi saya pakai beberapa trik untuk menghemat mencari sekolah terbaik untuk anak saya :

  • Search Google , iya ini langkah yang paling gampang dan cukup bisa dihandalkan, tinggal ketik keywords yang anda inginkan misalnya “Sekolah SD terbaik sejakarta”
  • Bertanya di grup atau forum parenting yang banyak terdapat dimana-mana
  • mencari info dari teman, tetangga, saudara yang sudah memiliki anak yang bersekolah disekolah tujuan
  • mendatangi sekolah tujuan, jika sudah cukup yakin saja sih ya, untuk menghemat waktu dan tenaga juga.

Biasanya setelah melakukan langkah2 tersebut, saya membuat beberapa kategori sekolah yang akan menjadi tujuan untuk anak saya, kategori itu biasanya berdasarkan :

  1. Lokasi, lokasi, lokasi !! mau gimana keren dan bergengsinya suatu sekolah, tetap saja lokasi yang terpenting, idealnya jarak dari rumah ke sekolah tidak memakan waktu lebih dari 30menit,  karena jika lebih dari itu ya akan banyak hal-hal yang membebani si kecil, tentunya kita tidak mau dia jadi kecapean dijalan kan ?
  2. Kurikulum ; kurikulum adalah amunisi dari sekolah, jika amunisinya kopong dan dodol, jangan harap si kecil bisa berkembang jadi karakter yang handal. sekolah yang baik akan memaparkan dengan jelas kepada calon orang tua tentang kurikulum yang digunakan di sekolah tersebut, jangan mudah terpancing dengan istilah-istilah keren dan berbau bahasa inggris, karena belum tentu kurikulum yang canggih itu akan bermanfaat bagi si kecil. Bagi beberapa orang tua, kurikulum berbau internasional sangat penting, namun sekali lagi pertimbangkan apa benar kurikulum bergengsi itu bermanfaat bagi si kecil ?
  3. Guru, Guru, dan Guru ! lupakan fasilitas mewah dan nama besar sekolah, jika sekolah tersebut tidak memiliki guru yang berkualitas maka tinggalkan saja, bagaimana kita bisa tahu jika sekolah tersebut memiliki guru yang berkualitas ? perhatikan saja bagaimana para guru berinteraksi dengan muridnya, interaksi yang ideal adalah adanya komunikasi yang terbuka antara guru dan muridnya, jadi guru bersedia juga mendengar masukan dari para murid, dan tidak tersinggung jika mendapat kritikan dari murid.  Selain itu caritahu juga apakah sekolah memberikan training secara berkala kepada para gurunya yang bertujuan untuk meningkatkan skill para guru. juga cari tahu latar belakang pendidikan para guru, saat ini di jakarta saja untuk menjadi guru taman kanak-kanak harus yang lulusan S1
  4. Dana, ini juga merupakan faktor penting dalam memilih sekolah, kalau kita punya dana yang tidak terbatas ya resikonya pilihan sekolah menjadi lebih banyak, hehehe :mrgreen: kalau memiliki dana yang terbatas makan tentunya pilihan sekolah harus dibuat lebih sedikit
  5. Fasilitas, apakah kelasnya cukup nyaman ? apakah kamar mandinya cukup bersih ? apakah lapangan sekolah cukup luas ? adakah tempat parkir yang memadai ? apakah tersedia fasilitas antar-jemput ?
  6. Akses ke jenjang pendidikan berikutnya, idealnya sekolah yang baik dan bermutu sudah memiliki akses ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ini sangat membantu bagi orang tua, karena saat ini banyak sekolah baru yang bermunculan dengan kualitas yang bagus namun tidak memiliki akses untuk ke jenjang berikutnya.
  7. Kegiatan Ekstra Kurikuler ; sekolah yang baik tentunya memiliki berbagaimacam kegiatan non-kurikulum atau ekstra kurikuler yang dapat menampung minat dan bakat si kecil, hal ini bisa menjadi pertimbangan khusus juga dalam memilih sekolah bagi si kecil.

Ada juga beberapa pertimbangan lainnya seperti apakah sekolah tersebut bilingual atau tidak, buat saya pribadi sih bilingual tidak terlalu penting ya, tapi hal itu kan berbeda, beberapa teman saya memandang sekolah bilingual dengan pengantar bahasa inggris itu sangat penting, tentunya hal itu berpulang pada pertimbangan masing-masing.

Demikian artikel tentang memilih sekolah idaman untuk si kecil, memang tidak ada sekolah yang 100% sempurna bagi buah hati kita, namun sebaiknya kita berusaha memberikan yang terbaik bagi si kecil. Selamat hunting sekolah ! 😉

Kids-going-back-to-school

Single Parenting – Kutipan kultwit Bang Winner

Dini hari 22sept, akun twitter bang winner @winnerku tiba-tiba saja kultwit tentang janda dan dan problematikanya paska perceraian.

Karena akun bang winner ini digembok (kenapa belakangan ini makin banyak orang menggembok akun twitternya ?? 🙄 ), jadi saya minta izin untuk mengkopasnya ke dalam blog saya ini, berikut kutipan dari twit2nya :

  • Memang dilema seorang janda yg punya anak adalah: punya perasaan tapi harus lebih rasional. Not easy. Denying feeling demi masa depan anak.
  • Maka nasihat saya: “pikirkan baik-baik. Kamu bisa jalan sendiri tanpa suami. Selama ini juga bisa. Jangan ciptakan neraka bagi anakmu”
  • Ketika anda bercerai dan menikah lagi lalu keliru pilih pasangan, anakmu kecewa dua kali. Pertama krn bercerai, kedua karena kawin lagi
  • Anak kecewa krn dia merasa baik perceraian maupun perkawinan kedua dilakukan dengan MENGABAIKAN kepentingan dia. Dia anggap ortunya egois.
  • Saya percaya hasil penelitian yg menyatakan bahwa s*x bagi wanita itu tidak sepenting bagi pria. Jadi ga ada masalah besar dengan itu
  • Maka, bagi kalian yang ada niat menikah dengan janda, pastikan kamu mencintai anaknya. Otherwise, lu bikin neraka bagi anak yatim.
  • Karena bagi anak, sehebat2nya lu berlaku baik, kalo itu dibuat2, dia akan ngerasa. Anak itu peka thd penolakan.
  • Buat para janda, bener yang dibilang litaceria tadi. Fokus ke masa depan, cari uang. Ga usah pikirin pasangan hidup.
  • Menjadi janda itu complicated. Sangat complicated. Personally, socially, in the circle of family. Jadi jangan nambah masalah dg menikah lagi
  • Begitu kira-kira pembahasan saya soal #janda dan problematika nya. Being single parent is close to be like God, you know.

Sudah bukan rahasia lagi kalau hari ini makin banyak single parent, dari teman saya yang jadi guru di sekolah bertaraf bonafide saja pernah cerita bahwa sekitar 20 – 30 % status orang tua dari anak-anak adalah sudah bercerai atau berpisah, bahkan barusan ini saya dengar dari seorang pengajar disebuah sekolah internasional bahwa makin banyak lagi (lebih dari separuh) anak didiknya yang memiliki orang tua yang berpisah – entah statusnya sudah bercerai atau berpisah.

Bang Winner benar, bahwa yang harus dipikirkan diperhatikan adalah kepentingan anak-anak dari perceraian atau perpisahan itu, saya tidak mau menyebutkan siapa-siapa saja yang saya kenal sudah berpisah atau bercerai, itu tidak penting, karena selain itu selama ini justru para single parent itu sendiri berusaha menyembunyikan statusnya untuk menghindari tekanan sosial.

jadi mungkin ini sudah saatnya bagi kita untuk saling membantu dan mendukung para single parent itu, bukannya malah justru menambah beban mereka, jika anda mengenal atau mengetahui single parent disekitar anda, tolong jangan iseng ngegosipin mereka, atau memberi cap yang negatif, stay away from them, mind your own business, itu sudah cukup menolong mereka, beri bantuan pada mereka jika mereka meminta saja, kalau tidak ya gak usah sok kepinteran pengen jadi superhero bantuin mereka.

Sekali lagi terima kasih banyak pada Bang Winner untuk pencerahannya 🙂

 

Bagaimana anak-anak anda mempengaruhi kualitas hidup orang tuanya

Menjadi orang tua adalah merupakan salah satu hal yang paling mengubah hidup siapa saja.

Saya beruntung memiliki kedua orang tua yang menyayangi anak-anaknya, dan senantiasa berusaha meluangkan waktu untuk bermain bersama kami disela-sela kesibukan mereka.  Dan kini setelah saya menjadi orang tua atas kedua anak saya, saya baru memahami bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.  intinya, menjadi orang tua adalah proses pembelajaran tanpa henti, dan dibawah alam sadar kita, pola asuh dari orang tua kita akan menentukan bagaimana kita berinteraksi dengan anak-anak kita kelak.

Jadi seberapa besar pengaruh keberadaan anak-anak dalam kehidupan seseorang ?

  • Rutinitas anda akan lebih terkontrol.  Percaya atau tidak, kehadiran anak-anak justru akan membuat kita lebih mengontrol rutinitas kita sehari-hari, walaupun kita sendiri telah memiliki rutinitas, namun kita sebagai orang tua akan berusaha untuk menyesuaikan dengan pola rutinitas anak kita, misalnya karena rutinitas tidur anak-anak yang cepat, sekitar jam 8 atau jam 9 malam, tentu saja kita akan berusaha untuk telah hadir disamping mereka untuk menemani mereka tidur, jadi mungkin dulunya kita terbiasa tidur larut malam karena lembur, maka dengan kehadiran anak-anak, kita akan membatasi diri, dengan mengikuti pola tidur mereka yang cepat dan juga bangun lebih awal di pagi hari dan tentunya kebiasaan ini akan memberikan dampak yang baik bagi kesehatan kita.
  • Mempelajari banyak hal yang baru, banyak yang tidak menyadari bahwa menjadi orang tua kita akan mempelajari berbagaimacam hal yang dulunya tidak pernah kita ketahui, mulai dari cara mengurus anak, memilih dokter dan rumah sakit yang memadai saat anak sedang sakit, melakukan berbagaimacam aktifitas dengan anak-anak, menjadi guru pertama bagi anak-anak, memilih sekolah yang tepat bagi anak-anak, dan sebagainya.  Semua hal tersebut tidak akan kita peroleh jika kita tidak menjadi orang tua. Demi untuk kepentingan anak-anak, kita mempelajari hal-hal tersebut, sumbernya bisa beragam, mulai dari majalah, internet, forum parenting dan sebagainya.  Bagi saya, sering kali informasi dari antar orang tua sangat bisa dihandalkan, jadi sangat penting bagi orang tua untuk berada dalam komunitas antar sesama orang tua.
  • Mengulang kembali masa kecil anda, adakalanya setelah kehadiran anak-anak, anda terbersit untuk mengulang kembali momen-momen saat anda masih kecil dulu, mungkin dulu anda sering bertamasya bersama keluarga, atau pergi memancing bersama ayah anda, atau bisa saja dulu anda sering diajak memasak bersama ibu anda.  Semua kegiatan yang sedernaha namun berkesan dalam memori anda akan muncul kembali saat anak-anak telah hadir dalam kehidupan anda, dan tentunya anda akan mengulang kembali momen-momen yang indah tersebut bersama anak-anak yang anda sayangi.  Kegiatan yang bermanfaat bagi keharmonisan keluarga anda ini bukan saja bermanfaat bagi anak-anak, namun juga bagi kita sebagai orang tua yang akan membuat kita lebih dekat dengan mereka.
  • Lebih memikirkan masa depan, mungkin dulunya anda adalah seorang petualang, yang suka seenaknya melakukan apa saja yang anda inginkan tanpa peduli akan akibatnya bagi kehidupan anda, namun dengan kehadiran anak-anak dalam kehidupan anda, anda akan berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu yang beresiko tinggi, karena tentu saja masa depan anak-anak anda bergantung pada anda, jika anda tiba-tiba jatuh sakit atau kehilangan pekerjaan anda, maka tentu saja masa depan anak anda akan berubah juga.  Oleh karena itu banyak orang tua yang menjadi lebih giat bekerja, menggunakan jasa asuransi atau berinvestasi untuk masa depannya setelah memiliki anak-anak.  Kehadiran anak-anak dalam hidup anda akan membuat anda lebih bertanggungjawab atas kestabilan masa depan anda.
Tanpa bermaksud untuk mengesampingkan siapa pun yang saat ini belum memiliki anak, tujuan saya menuliskan artikel ini adalah untuk melihat pengaruh anak-anak dalam kehidupan kita sebagai orang tuanya, dan sebetulnya masih banyak lagi hal-hal positif yang terdapat dalam kehidupan kita sebagai orang tua, dan saya percaya bahwa hal tersebut akan dapat kita rasakan apabila tujuan kita untuk menjadi orang tua yang baik adalah demi untuk kebaikan anak-anak kita.

Berkomunikasi yang Asertif dengan Anak

Bagaimana cara kita berkomunikasi dengan anak akan menentukan pola perilaku sang anak itu kelak.

Pernah suatu hari anak saya bercerita tentang kehebatan seseorang yang bisa “memelintirkan” peraturan di negara ini dengan cara yang salah, dan saya tidak menyadari bahwa ada rasa terbersit kagum dari anak saya terhadap orang itu, dan tanpa basa-basi saya langsung memberi komen bahwa orang itu sangat salah karena telah melanggar hukum yang ada di negara ini.

Langsung saja anak saya terdiam, karena pendapat saya sangat menohok rasa salutnya terhadap orang tersebut, seketika saya merasa bersalah, maksud saya seandainya saya tidak langsung mencetuskan komentar seperti itu, mungkin saya tidak akan menyinggung perasaannya.

Jadi bagaimana cara berkomunikasi yang efektif dengan anak ?

Mengetahui bahwa anak saya yang sulung ini memiliki perasaan yang lebih peka, saya harus lebih berhati-hati, terutama dalam mengutarakan pendapat saya, dan sejauh ini saya selalu berupaya memancingnya agar lebih berani untuk mengutarakan pendapatnya, tanpa perlu merasa khawatir dengan pendapat saya atau yang lainnya.

Ternyata caranya tidaklah terlalu sulit, seperti biasa kita sebagai orang tua harus tetap berupaya untuk menjadi Pendengar yang Baik.

Pendengar yang Baik tidak hanya cukup mendengarkan saja, tanpa berusaha memahami apa perasaan dan point of view sang pembicara, menjadi pendengar yang baik adalah mendengarkan dengan sepenuh hati dan pikiran, dan tentu saja dengan memberikan perhatian penuh terhadap apa yang dibicarakan yang bersangkutan.

Jadi kemudian saya berusaha untuk mengubah cara saya ketika berbicara dengan anak saya, dengan berusaha untuk memancing pendapatnya, dan menahan diri untuk tidak menimpalinya dengan pendapat dari sisi saya.  Untuk memancingnya agar bisa mengutarakan pendapatnya yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan ; Bagaimana pendapatnya ? Apa menurutnya yang harus ia lakukan ? Apakah menurutnya hal tersebut benar atau salah ? Jika memang hal itu salah, bagaimana menurutnya yang sebaiknya dilakukan ?

Tentu saja setelah sang anak mengutarakan pendapatnya hingga tuntas, jika memang hal itu salah, barulah kita menjelaskan mengapa hal tersebut tidak benar, dan juga jelaskan akibatnya yang akan terjadi bila hal itu tetap terus dilakukan, juga kerugiannya bila hal yang salah itu dibiarkan.  Kemudian setelah mengutarakan pendapat kita, kembali tanyakan bagaimana pendapatnya setelah itu, apakah menurutnya bahwa hal itu benar atau salah.

Berkomunikasi yang asertif adalah seni bagaimana bisa membuat lawan bicara kita mengutarakan pendapatnya dengan bebas, berani, tegas, jujur dan penuh percaya diri tanpa perlu merasa takut atau khawatir akan apa yang akan terjadi.  Dengan memupuk upaya berkomunikasi yang asertif maka akan membangun rasa percaya diri sang anak.

When dealing with people, remember you are not dealing with creatures of logic, but creatures of emotion. ~ Dale Carnegie.

Saya harap semoga untuk kedepannya saya akan lebih bijak lagi dalam berkomunikasi, bukan saja dengan anak-anak saya, namun dengan siapa saja, terutama orang-orang terdekat saya….. amien, God bless us all 🙂

Pesan Moral dari Junior Master Chef

Setelah memasang tv kabel, kami lebih memiliki banyak pilihan tontonan dibandingkan dulu saat hanya punya pilihan tv lokal, biasanya setelah makan malam saya tidak memperbolehkan anak2 menonton tv, namun sekarang waktu setelah makan malam bisa menjadi acara menonton bersama keluarga yang menyenangkan, maka channel favorit pilihan kami adalah natgeo, discovery, dan sesekali starworld.

Acara reality show Junior master chef mulai dari tayangan perdananya telah menjadi acara favorit kami, bukan saja karena kami terkagum-kagum dengan kepiawaian para peserta yang masih belia namun sudah mahir memasak ala chef, juga karena harus saya akui bahwa saya sendiri belum tentu bisa seperti itu.

Banyak moral yang bisa saya petik dari acara reality show itu, pertama di barat sana, anak kecil sudah diajarkan mandiri, juga dalam hal memasak, jika mereka diusia dini sudah diajari keterampilan memasak, maka secara otomatis mereka sudah siap untuk mengurusi dirinya sendiri dan belajar tidak bergantung kepada orang lain, terutama dalam urusan makanan sehari-hari. sementara di sini anak-anak sangat bergantung kepada orang tuanya atau pembantu dalam hal makanan, dan jika suatu saat mereka harus mandiri atau keluar dari rumah, tentunya mereka akan mengalami syok karena tiba-tiba saja mereka harus mengurusi dirinya sendiri.

Ada beberapa episode dimana tiap peserta dibagi menjadi dua tim, dan disini kita bisa melihat bagaimana mereka bekerjasama dalam suatu tim yang kompak, dan satu hal yang membuat saya sangat salut, adalah sportifitas antara tiap peserta, jika ada tim atau peserta yang kalah tidak diejek atau dicaci maki oleh tim yang menang, malah justru mereka saling berpelukan dan saling memuji satu sama lainnya. diusia yang sangat dini itu mereka sudah belajar bahwa menang atau kalah bukanlah tujuan, poin yang terpenting adalah mereka melakukan yang terbaik, dan saling menghargai satu sama lainnya.

Saya teringat akan pesan dari salah satu teman senior dalam suatu ajang kompetisi, inti dari pesannya adalah menjadi pemenang bukanlah tujuan akhir, baik pemenang maupun yang kalah harus tetap terus berjuang bahkan setelah ajang kompetisi berakhir, dan sesungguhnya sang pemenang pun juga harus menghargai yang kalah, karena sang pemenang bisa meraih prestasinya berkat keberadaan peserta yang kalah itu. Jadi para peserta yang kalah adalah sosok yang me-reshaping sang pemenang tersebut, hingga tidak berlebihan jika sang pemenang harus memberi penghormatannya atas usaha peserta yang kalah itu.

Dulu anak sulung saya sangat takut dengan hal-hal yang berbau kompetisi atau lomba, hingga ia tidak mau mengikuti beberapa perlombaan yang sebetulnya ia memiliki kemampuan dan bakat di bidang tersebut, namun belakangan ini ia malah lebih antusias mengikuti ajang perlombaan, tentu saja saya senang dengan perkembangannya ini, saya pun juga paham bahwa hal yang mengubah pandangannya terhadap kompetisi adalah karena kini ia memandang kompetisi bukan sebagai ajang perbandingan dengan anak-anak yang lain, namun sebagai ajang untuk mengasah kemampuan dan tekad untuk berprestasi.

The most excellent jihad (battle) is that for the Conquest of self ~ Prophet Muhammad

Andai saja hal tersebut dapat kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di lingkungan sekitar kita maupun dalam lingkungan kerja, tentunya pada akhirnya kita akan bisa saling membantu dan maju bersama, kompetisi itu adalah suatu hal yang normal, karena tujuan kita adalah untuk berusaha untuk memberikan yang terbaik,

ketika “Jam Biologis” berbunyi…

Dipertengahan 30-an ini, saya tidak akan mengakui bahwa saya lebih bijak dibandingkan dengan saat saya 20-an, namun adakalanya saya memaksakan diri untuk lebih baik hati saat menjumpai beberapa teman yang masih single ataupun yang belum dikaruniai anak.

Saya sama sekali tidak setuju jika ada yang memberi mereka label “kurang beruntung” atau “sudah nasibnya begitu“, karena jika saya melihat dari point of view mereka, sangat sulit untuk tetap berusaha bersikap biasa saja dan tetap terus menjalani hidup mereka.

“Saya pengen banget punya anak….tapi cari calon papanya kok hari ini susah banget…”

“Gak usah ditanya deh gimana ortu bawel nanya melulu soal cucu, gue udah pusing deh….”

Atau yang lebih gak enak lagi ; “Loe udah beruntung udah punya anak sih…”

Pada usia pertengahan 20an, berbondong-bondong kaum wanita mengejar target menikahnya, dan sebagian tetap fokus pada karir atau meneruskan pendidikannya, lalu setelah melewati usia 30an, tekanan dari lingkungan untuk mengejar target nikah semakin tinggi, sebetulnya tekanan lebih besar dari pihak ortu, ini harus kita pahami juga, mereka para orang tua kita pun juga menerima tekanan dari lingkungan mereka, bayangkan di setiap pertemuan keluarga, ortu kita senantiasa dibombardir dengan pertanyaan “Kapan nih bawa cucunya ?”

Di negri tercinta ini Gap antara generasi ortu dan kita cukup besar, sementara kita sudah memandang bahwa “pernikahan” dan “punya anak” adalah PILIHAN, bukan kewajiban lagi, namun tidak demikian dengan generasi ortu kita, mungkin ada beberapa yang beruntung memiliki ortu yang lebih moderat, namun tekanan dari lingkungan ortu akan tetap selalu ada.

Kepada para sahabat saya yang masih single atau yang belum dikaruniai anak, saya ingin sekali berteriak kepada mereka; “kami sebetulnya sangat jelaous sama kamu !, kalian tidak terikat dan bisa ngapain aja seenaknya !” tentu ini gampang saja saya ucapkan karena saya pun juga tidak merasakan bagaimana menjadi single, mungkin jika saya single dan tidak punya anak, saya akan takut berjalan sendirian ke mal, karena di mal penuh dengan para pasangan yang bermesraan sambil membawa anak-anaknya….dan jika melihat gambaran itu, saya lebih baik mengurung diri dikamar, meratapi nasib saya yang malang.

Menikah dan punya anak bukanlah tujuan hidup, IMO

Then, why the hell I ended up marriage ? I dunno…….

Tapi satu hal yang saya yakini bahwa menikah dan punya anak tidak akan menyelesaikan permasalahan dalam hidup, justru akan menambah masalah-masalah yang lainnya, seketika setelah saya menikah, saya langsung terikat dengan suami, dan saat saya melahirkan anak yang pertama, saya sama sekali tidak bisa berbuat apapun.

Mungkin salah saya adalah saya mempunyai anak terlalu cepat, secara mental saya belum siap, padahal saya sudah mempersiapkan diri dengan sebaik2nya, pengalaman mengasuh adik saya dan berbagai pengetahuan tentang parenting dari buku dan majalah….semua tidak menjadikan saya expert dalam hal parenting, nonsense ! parenting is not a theory, you have to do it by yourself !

Seketika sehabis melahirkan anak yang pertama, saya menyadari hal itu, namun sudah terlambat, dan parahnya lagi saya mendapat serangan “Baby Blues“, dan sialnya saya sama sekali tidak siap secara mental untuk hal yang menyakitkan ini, dan hasilnya selama 3 hari pertama saya hanya bisa menangis dan hampir tidak bisa menyentuh anak saya sendiri, dan entah mengapa pengalaman ini menjadi trauma yang mendalam bagi saya, hingga saya berusaha keras untuk mencari akar permasalahannya, dan syukurnya saya bisa menciptakan kondisi yang nyaman untuk saya sendiri saat saya melahirkan anak yang kedua.

Mungkin bagi orang awam, kontak batin antara orang tua dan anak terjadi dengan sendirinya, ini adalah anggapan yang sangat salah !

Anda tidak langsung serta merta memiliki hubungan batin dengan anak kandung anda sendiri hanya karena anda mengandung dan melahirkannya, hal itu terbentuk setelah bertahun-tahun anda menjadi orang tua dan mengasuhnya dengan penuh perhatian, it takes a lot of time to build the connection between your offspring, and if you miss it just for a while, then you have to start it over again.

Dan lalu jika menikah dan punya anak adalah pilihan, mengapa kita masih merasa perlu melakukannya ?

Saya pun juga senantiasa mempertanyakan hal ini, Apa tujuan sebetulnya kita memiliki keluarga ? untuk kebutuhan biologis saja ? untuk status sosial ? kemudian saya teringat pada buku parenting yang sudah jadul, intinya adalah sesungguhnya orang tua-lah yang lebih membutuhkan anak-anaknya, bukan anak yang butuh orang tua.

Kita-lah yang memulai suatu hubungan, dan berlanjut hingga melahirkan anak-anak kita, ya saya setuju sekali bahwa kita yang lebih memerlukan anak, karena jauh didalam sana, setiap insan manusia memerlukan sosok dalam hidupnya yang dapat membuatnya merasa memiliki suatu koneksi yang lebih dalam, dan hubungan kekeluargaan yang bisa memenuhi hal itu.

All and All, kepada para pasutri yang sudah mapan, saya harap sesekali luangkan waktu hang out bersama dengan para lajangers, mereka sesungguhnya juga perlu perhatian kita, hanya saja mereka takut mengganggu waktu weekend kita, jadi kita-lah yang memulai untuk meluangkan waktu dengan mereka lagi, tentunya setelah kita meluangkan waktu bersama keluarga tercinta.

Dan tentu saja kepada para lajangers atau jomblo, bisa memetik pelajaran dari para pasutri bahwa kehidupan rumah tangga itu sangat sulit dan tidak selalu kelihatan seindah luarnya, karena apa yang tampak dari luar belum tentu sebagus apa yang didalamnya.

Satu hal lagi, entah mengapa para lajangers yang disekitar saya ada beberapa yang rada paranoid dengan jam biologisnya, hingga menyebabkan beberapa diantara mereka “menebar pesona” atau flirting kesegala arah, ini mungkin jika masih dalam batas-batas norma masih tidak masalah, namun kadang kala kebiasaan ini menjadi habit yang akan sulit dihilangkan ketika sang lajangers menjalin hubungan yang serius dengan seseorang, dan ini bisa merugikannya sendiri kelak.  Saya harap para lajanger lebih mawas diri dan lebih bersikap ‘cool’ sampai suatu saat jodohnya datang dengan sendirinya.

Dengan saling memahami seperti ini, maka kita harapkan “gap” antara para pasutri mapan dan lajangers akan terjembatani, juga kepada para lajangers dan jomblo, semoga tetap bisa senantiasa optimis dan terus positif dalam pencarian jodohnya masing-masing……….amin 🙂

When an Old Dog met a Single Mom

You can’t teach an old dog a new trick

hari pertama 2011 saya dan keluarga besar meluangkan waktu dengan menonton film Old Dogs di salah satu channel di tivi kabel, memang seperti film produksi disney yang lainnya tentu saja old dogs adalah film keluarga yang lucu dan dapat dinikmati oleh semua umur, kami semua LMAO ROFL dari awal sampai akhir film itu.

Namun setelah selesai menonton film itu, saya merasa ada yang sangat janggal dan akhirnya membuat saya muak dan menjadi “What the Heck ?!?!?!” seluruh film itu sangat absurd dan tidak logis, tentu saja semua exaggeration bertujuan untuk membuat film itu jadi lucu, namun saya saja yang terlalu berlebihan memikirkannya hingga jadi sakit kepala seperti ini !

well, ini kebiasaan jelek saya, harusnya saya tahu ada beberapa film yang harus ditonton tanpa menggunakan otak untuk menikmatinya !

Intinya begini, seorang cowok tua yang melajang-benci-dengan-anak-kecil bertemu dengan seorang wanita yang menarik, setelah berkencan tiba-tiba saja si wanita yang menarik itu memberikan kejutan lucu…. ternyata dia adalah single mother of two lovely-annoying bastards kids, dan besok dia harus pergi dan meninggalkan kedua anaknya kepada pacarnya yang malang beruntung itu

Satu hal yang saya kagum dengan si singel mom ini adalah, bagaimana dia bisa terjebak dalam stereotip “fairy-tales-princess” dan “happily-ever-after”, maksud saya andai saja si mommy itu masih berusia 20 tahunan maka saya bisa memakluminya, namun kenyataannya dia berusia 40 tahun dan memiliki dua anak, namun For God’s Sake dia masih berharap ada prince charming yang selalu siap sedia menyelamatkannya dan juga kedua anaknya !

Untung saja si lelaki malang baik hati ini berusaha sekuat tenaganya mati-matian mengorbankan segalanya bahkan juga pekerjaannya untuk bisa menjadi “ayah” yang baik bagi kedua anak si single mom itu.

Bagi saya ini adalah contoh yang tidak baik dari seorang single mother, dan dalam kenyataannya saya percaya tidak akan ada single mother yang akan berbuat sebegitu bodohnya kepada kedua anaknya dan pacarnya.

Pertama, memperkenalkan pacar barunya kepada anaknya sebelum hubungan mereka benar-benar serius, ini adalah Big No-No, maksud saya bagaimana jika ternyata si pacar itu adalah Child Abuser ? atau bahkan Pedophilia ? ini sama saja dengan memberikan anak anda kepada seorang total stranger yang anda sendiri belum kenal dengan baik. Apa yang akan diharapkan ? si pacar dalam waktu yang singkat tiba-tiba menjadi ayah yang sempurna bagi sang anak ? saya betul-betul yakin si single mom ini hidup dalam dunia fantasinya !

Jadi dalam reality, kapan waktu yang tepat untuk memperkenalkan pacar baru kepada sang anak ? tidak ada yang pernah tahu, karena tidak ada waktu yang benar-benar tepat, namun setidaknya anda harus yakin dahulu bahwa hubungan anda dengan sang kekasih sudah betul-betul memasuki tahap yang stabil dan yakin bahwa hubungan ini memiliki masa depan yang jelas, barulah si pacar dikenalkan kepada sang anak, tentunya tanpa berharap bahwa si pacar akan seketika berubah menjadi pahlawan kesiangan bagi sang anak.

memang sering kali saya menemui artikel tentang single parents in relationship, can’t love my kids then can’t love me either, wow…. menurut saya ini terlalu berlebihan namun ada betulnya juga karena menjadi single parents berarti anda datang dengan satu paket lengkap bersama anak-anak anda dari perkawinan sebelumnya.  Namun sebetulnya apa yang anda cari ? pasangan ideal atau orang tua baru bagi anak-anak anda ? tidak ada pasangan yang sempurna dan begitu pula dengan anda sendiri, so you can’t have both of them, dan jikapun anda mendapatkannya keduanya berarti anda sangat beruntung.

Memperkenalkan pasangan kepada sang anak saat hubungan sudah serius adalah sangat penting, coba bayangkan jika anda terlalu cepat memperkenalkan anak dengan pasangan, kemudian dengan berjalannya waktu mereka sudah menjalin hubungan yang harmonis, dan tiba-tiba saja anda putus dengan sang pacar, maka tanpa anda sadari sebetulnya anak anda juga kehilangan sosok sang pacar dan ini tentu akan memberi dampak yang tidak baik baginya.

Sering kali saya berpikir, sebetulnya apa sih kelebihan seorang single parents dibandingkan dengan seorang lajang ? seriously, pernahkah anda bertanya mengapa dia memilih anda, padahal diluar sana masih banyak possible candidates yang jauh lebih muda dan tidak punya anak ??!! tentunya harus ada satu poin penting yang membedakan anda dengan para lajang itu, hingga kekasih anda memilih anda daripada si lajang !

Intinya semua kunci keberhasilannya ada ditangan si single parent, jika dia berhasil membina hubungan yang baik dengan kekasihnya, menjadi penengah bagi si pacar dan anaknya, menyadari bahwa semuanya memiliki proses masing-masing yang tidak dapat dipaksakan harus terbina dalam waktu yang singkat, maka saya percaya semua orang yang terlibat dalam hubungan ini akan merasakan manfaat dari hubungan yang indah ini suatu hari kelak.

So to all single parents, now it’s up to you whether you could be a good communicator between your partner and kids.

Dan kembali ke film yang tidak penting itu, tentu saja as usual the ending is suck but predictable….. si single mom hidup bahagia dengan pacarnya dan kedua anaknya, sedangkan si pacar tentu saja kehilangan singlehood-nya dan juga pekerjaannya, oh well, setidaknya dia mendapatkan si single mom dan her kids !