Single Parent dan stigmanya dalam masyarakat kita

“Orang tua tunggal ? kasihan anak-anaknya dong…. bagaimana masa depan mereka nanti ? biasanya kalau besar nanti mereka jadi anak nakal lho !”

Begitulah komentar yang sering kita dengar dari orang awam mengenai orang tua tunggal. entah siapa yang membuat teori bahwa anak yang berasal dari orang tua tunggal adalah anak yang tidak beres, suka bikin onar, dan membuat masalah, tidak berprestasi dalam pelajarannya, dan sebagainya.

Dalam upaya menambah pengetahuan saya tentang orang tua tunggal, berbagai macam artikel saya kumpulkan, dan juga saya membaca beberapa blog tentang single parent, pada awalnya saya cukup terkejut dengan beberapa komentar miring yang diposting dalam blog tersebut, beberapa diantaranya bahkan terang-terangan tidak menyetujui dengan prinsip orang tua tunggal, seakan-akan rumah tangga yang ditompang hanya dengan satu orang tua tidak akan bisa membina anggota keluarganya, dalam hal ini adalah anak-anak, dengan baik.

Pada saat pertama kali seseorang memutuskan untuk menjadi orang tua tunggal bagi anak-anaknya, berbagai macam komentar reaksi yang tidak mendukung akan dia terima dari beberapa anggota keluarganya, bahkan oleh keluarganya sendiri. mereka akan sangat khawatir dengan perkembangan kejiwaan anak-anak dari orang tua single parents, mengingat hanya satu orang tua saja yang akan membimbing mereka.  Ini adalah reaksi umum yang terjadi dalam masyarakat kita, pada saat seorang orang tua tunggal justru membutuhkan support dari lingkungannya, ternyata keluarga dan lingkungannya malah berbalik merendahkannya.

Pada kenyatannya menjadi orang tua tunggal bukanlah pilihan dari orang tersebut, namun lebih merupakan suatu keputusan yang dibuat dengan terpaksa karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk membina suatu keluarga yang utuh lengkap dengan seluruh angggota keluarganya.

Ada beberapa kondisi yang membuat seseorang menjadi orang tua tunggal, misalnya perceraian atau pasangannya meninggal, ada juga yang menjadi orang tua tunggal karena hamil diluar nikah, namun ada juga yang masuk sebagai kategori semi-single parent, karena sering absennya salah satu orang tua hingga membuat salah satu dari mereka mengambil peran ganda dalam mengurus anak ; sebagai contohnya yaitu istri prajurit yang ditinggal ke medan perang oleh sang suami.

Berbeda dengan di indonesia, di negara yang liberal seperti amerika, menjadi orang tua tunggal sudah bukan hal yang aneh, bahkan telah menjadi semacam pilihan hidup. Mengapa ? karena mereka yakin bahwa walaupun hanya dengan satu orang tua saja, anak-anak tetap dapat berkembang dengan bahagia dalam keluarga yang tidak utuh tersebut.

Saya tidak tahu data statistik dari orang tua tunggal di negeri ini, namun saya pernah membaca beberapa kisah orang tua tunggal yang bisa sukses mendidik anak-anaknya, beberapa diantara mereka bahkan kaum lelaki, saya tidak dapat membayangkan betapa beratnya beban yang mereka tanggung demi anak-anaknya, belum lagi tekanan dari lingkungan sekitar yang kurang mendukung.

Apa memang benar bahwa masyarakat kita tidak mendukung orang tua tunggal ? Cobalah anda datang sendirian , betul-betul seorang diri, ke sebuah resepsi pernikahan, maka persiapkan diri anda untuk menerima bombardiran pertanyaan yang serba aneh dari tamu-tamu pesta tersebut, jika anda masih lajang maka anda akan ditanya kapan anda akan menikah, jika anda sudah menikah maka anda akan ditanya dimana pasangan anda dan mengapa tidak hadir dalam pesta itu, jika anda belum punya anak maka tentu saja anda akan ditanya kapan akan punya anak. Suatu hal yang sangat lazim dalam budaya kita namun sebetulnya hal tersebut cukup mengganggu.

Ternyata lingkungan di sekolah anak saya cukup memahami kondisi orang tua yang menjadi single parents, hingga sejauh ini anak-anak mereka tidak menerima tekanan baik dari gurunya maupun dari teman-temannya. Oleh karena itu, bagi kepada orang tua yang masih sedang mencari sekolah untuk buah hatinya, coba perhatikan apakah pihak sekolah cukup perhatian dengan kondisi perkembangan mental anak-anak anda ? Pihak sekolah yang bijak tidak akan menyalahkan anda dalam kondisi anda yang telah memilih menjadi orang tua tunggal, mereka dengan rendah hati akan mengambil posisi netral dan lebih fokus kepada perkembangan jiwa anak-anak anda.

Pada intinya memang menjadi orang tua tunggal adalah suatu pilihan dari orang tersebut, namun perlu diingat kembali bahwa jika bisa memilih maka sesungguhnya setiap orang tua tunggal pun mendambakan kehidupan rumah tangga yang lengkap dengan seluruh anggota keluarganya, dan dapat dengan tenang mengasuh anak-anaknya tanpa kekhawatiran dan tekanan. Hingga saya hanya berharap bahwa suatu saat menjadi orang tua tunggal akan menjadi suatu hal yang mulia dan inspiratif, karena pada dasarnya setiap orang tua tunggal selalu berjuang untuk kebahagiaan anak-anaknya dan dirinya sendiri.

Advertisements