Susu ~ empat sehat, lima tidak sempurna ?

Pada 1 Juni adalah World Milk Day, yang juga bertepatan dengan hari Pancasila. Disini hari susu dirayakan dengan mempromosikan kepada masyarakat untuk lebih banyak minum susu karena tingkat konsumsi susu kita masih jauh dari standar yang ditetapkan.

Namun pertanyaannya, siapa yang menerapkan standar bahwa kita harus setidaknya minum susu dua gelas seharinya ? Apa memang betul manfaat susu sehebat yang selama ini kita ketahui ?

Memang seharusnya susu adalah minuman yang menyehatkan karena nabi kita sendiri pun juga meminumnya, namun susu seperti apa yang sehat untuk kita ?

Susu yang sehat bagi tubuh kita adalah susu yang “raw and unprocessed” juga sapinya diberi makan “organik” dalam kata lain si sapi ini dilepas dipadang rumput dan mencari makannya sendiri.

Kenyataannya, susu yang telah beredar telah melalui berbagaimacam proses dan hal ini telah menghilangkan enzim-enzim yang bermanfaat untuk tubuh kita, salah satunya adalah proses pasteurisasi, belum lagi para sapi diberi makan yang mengandung banyak bahan kimiawi juga mereka diberi antibiotik berdosis tinggi, bahkan anak sapi yang baru lahir tidak disusui oleh induknya, demi menjaga produktifitas susu dari sapi tersebut.

Fakta tentang susu :

  • Susu penyebab tingginya kadar kolesterol, pemicu diabetes dan berbagai penyakit lainnya
  • Susu pemicu asma, dan berbagai penyakit alergi
  • Susu adalah penyebab obesitas, bahkan yang non-fat sekalipun
  • Susu adalah pemicu osteoporosis, bukan pencegahnya.

Setiap hari kita dibombardir oleh iklan susu, sehingga dibawah alam sadar kita telah terpatri bahwa tanpa meminum susu maka kita tidak akan sehat dan lebih parah lagi, dihari tua nanti kita akan terbungkuk-bungkuk karena menderita osteoporosis. Sebetulnya apakah osteoporosis itu ? Ternyata osteoporosis adalah penyakit degradasi sel-sel tulang yang alami alias natural, sama halnya seperti kulit kita yang jadi keriput atau penyakit pikun, intinya sel-sel tulang kita tidak akan sama dengan saat kita berusia 20 tahun dengan saat kita berusia 70 tahun.

Namun dengan mengkonsumsi susu maka kita justru akan memperparah penyakit osteoporosis ini, karena kandungan kalsium susu yang tinggi tidak dapat diserap oleh tulang dan mengakibatkan tingginya kadar kalsium dalam darah, hingga ginjal harus bekerja keras untuk mengeksresikan kalsium ini.

Saya sendiri pun dulu adalah mengkonsumsi susu yang setia, sedari saya kecil selalu minum susu, untung saja keluarga saya berkecukupan untuk menyediakan susu, kebiasaan ini berlanjut hingga saya dewasa, namun anehnya kadar kolesterol saya selalu tinggi, padahal saya jarang makan makanan yang terlalu banyak lemaknya. Juga saya mengidap penyakit maag yang sering kumat.

Saat saya kuliah, penyakit maag saya bertambah parah, hingga akhirnya saya berobat ke dokter yang sudah senior, dan dari dialah saya tahu bahwa saya mengidap penyakit batu empedu, jadi sakit yang selama ini saya sangka adalah berasal dari maag ternyata akibat dari radang batu empedu, saya bertanya kepadanya apa penyebabnya, namun dia tidak bisa memberikan jawaban yang pasti.

Sempat saya berobat dengan obat-obatan herbal, namun penyakit batu empedu itu terus-menerus kumat, hingga akhirnya pada tahun 2003, setelah saya melahirkan anak saya yang pertama, saya menjalani operasi pengangkatan batu empedu juga beserta kantung empedunya, setelah operasi saya bertanya kepada dokter bedah yang mengoperasi saya, apa penyebab terjadinya batu empedu ? Namun seperti dokter yang lainnya dia tidak bisa memberikan jawaban yang pasti, mungkin karena kadar kolesterol saya yang tinggi, atau mungkin karena saya berbakat diabetes, dan sebagainya, dan akhirnya dia memberi tahu saya bahwa belakangan ini kasus batu empedu semakin bertambah, dulunya hanya terjadi pada orang yang telah lanjut usia saja, namun belakangan ini hampir terjadi disegala usia. Bahkan dalam satu hari dokter ini bisa mengoperasi tiga pengangkatan kantung empedu, dan dalam sebulannya dia bisa melakukan sekitar tiga puluh operasi pengangkatan kantung empedu !

Jadi apakah penyakit batu empedu saya ini akibat kebiasaan minum susu saya ? Apakah kadar kolesterol saya yang terus tinggi juga akibat susu ? Sampai saat ini saya tidak berani menyimpulkannya, namun setelah operasi tersebut saya lebih aware terhadap kesehatan saya.

Sebelum saya hamil untuk yang kedua kalinya, saya mencari tahu tentang bagaimana pola makan yang sehat itu, berbagai macam buku dan artikel saya baca, hingga akhirnya saya menemukan satu buku tentang pola makan untuk ibu hamil yang menarik (saya lupa judulnya) didalam buku itu satu hal yang ditekankan adalah harus hindari susu dan produk-produknya (keju, es krim, yogurt), saya sangat terkejut karena ini sangat bertolak belakang dengan pemahaman yang selama ini saya percayai, dulu saat hamil anak yang pertama saya senantiasa minum susu untuk ibu hamil, dan diteruskan dengan meminum susu untuk ibu menyusui. Namun kemudian saya berniat mempraktekan teori dari buku ini, padahal semua orang disekitar saya memprotes saya karena saya tidak mau lagi minum susu saat hamil yang kedua ini. ( ini saya lakukan jauh sebelum si dokter Tan itu jadi beken dengan teori pola makan sehatnya )

Dan hasilnya ternyata terlihat dari kedua anak saya, anak yang pertama dari kecil sering sakit-sakitan, bisa dalam bulan dia terjangkit beberapa penyakit sekaligus, sedangkan anak yang kedua sangat jarang sakit, bahkan jika dia mulai kena gejala penyakit, kadang kala bisa sembuh dengan sendirinya, tanpa harus dibawa ke dokter.

Pada saat hamil anak yang pertama berat badan saya bertambah lebih dari 20 kilo (waduh!) dan anak pertama saya lahir dengan berat 3,2 kg, kemudian pada saat hamil yang kedua berat badan saya bertambah sekitar 12 – 13 kg dan anak kedua saya lahir dengan berat 3,4 kg.

Intinya adalah saya bukan anti susu, occasionally saya masih mengkonsumsi susu dan produk-produknya, namun tidak rutin seperti dulu, dan jika saja saya bisa memperoleh susu yang “raw and unprocessed” tentunya saya akan mengkomsumsinya secara rutin. Namun dengan bombardir iklan susu yang sangat progresif ini sering kali membuat saya lupa dengan dampak negatif dari susu.

Dan bagaimana dengan kebutuhan kalsium saya jika saya tidak mengkonsumsi susu ? Ternyata kebutuhan kalsium sudah cukup terpenuhi jika kita menerapkan pola makan sehat dan seimbang, jadi saya tidak perlu cemas lagi memikirkan kebutuhan kalsium saya.

Jadi pada dasarnya kita harus aware terhadap kesehatan kita karena kesehatan adalah harta yang tak ternilai, jika masih belum percaya dengan apa yang sudah saya alami ini ya terserah saja, menurut saya tidak ada salahnya jika kita mencoba suatu hal yang baru dan diluar main stream. Sekali lagi saya tekankan bahwa saya bukan anti susu, namun saya hanya lebih peduli dengan kesehatan saya sendiri.

sumber :

http://www.google.co.id/search?aq=0&oq=milk+causes+osteo&sourceid=chrome&ie=UTF-8&q=milk+causes+osteoporosis

http://www.google.co.id/search?aq=f&sourceid=chrome&ie=UTF-8&q=hiromi+shinya

Advertisements