book review : Street Lawyer (edited)

“You don’t work for money, you work for your soul”

“I’m a human first, then a Lawyer”

– Mordecai Greens

Pengacara yang memiliki hati nurani ? Gelandangan yang membawa pesan ? Kantor firma besar dan kantor bantuan hukum untuk kaum miskin ? Street Lawyer, sebuah novel John Grisham yang sarat dengan drama  yang menggambarkan kehidupan kaum “homeless” yang dimarginalkan dan juga pertempuran antara kantor bantuan hukum bagi kaum miskin melawan “The Big Firm”

Sebetulnya novel ini sudah pernah saya buatkan reviewnya di blog saya yang lama, namun saya merasa perlu mengedit dan merevisinya kembali didalam blog ini, selain itu saya pun sedang membaca novel Grisham lainnya yang sebetulnya menurut saya adalah merupakan versi dari Street Lawyer yang jauh lebih baik.

Plot dari novel ini cukup sederhana, Micheal Brock seorang pengacara muda yang sedang meniti kariernya yang cemerlang di kantor hukum bonafid, Drake & Sweeney, secara tidak sengaja terlibat dalam insiden penyanderaan oleh “Mister” seorang gelandangan yang menyelinap ke kantor hukum itu, Brock terheran dengan motivasi Mister yang dengan berani menghadang nyawanya hanya untuk mencari fakta berapa dari jutaan dolar yang dihasilkan oleh kantor hukumnya yang diberikan kepada kaum miskin.

Rasa ingin tahu Brock mengantarkannya menemui Mordecai Greens, advokat yang bekerja pada kantor bantuan hukum untuk para kaum “homeless”  selama 30 tahun membela kaum miskin. Plot cerita mulai menarik saat Brock mantap memutuskan untuk meninggalkan kantor hukumnya dan bergabung dengan Greens menjadi Street lawyer, namun secara tidak sengaja Brock membuat kesalahan karena mencuri file dari kantor lamanya tentang pengusuran ilegal yang membuat Brock dilaporkan ke polisi oleh Drake & Sweeney, hingga Brock dan Greens dihadapi dilema antara harus menghentikan kasus penggusuran ilegal itu atau saling bertarung di pengadilan menghadapi Drake & Sweeney.

Sejujurnya plot Street Lawyer memang datar dan terlalu mudah ditebak, apalagi jika dibandingkan dengan novel-novel Grisham lainnya, namun satu hal yang patut diperhatikan adalah pada novel ini menjelaskan secara detail bagaimana kehidupan para Street Lawyer, dan juga secara sengaja membandingkan perbedaan cara pandang, pola pikir dan gaya hidup pengacara korporat dengan pengacara pro bono. Alur ceritanya yang cenderung lambat namun dapat menjabarkan secara utuh kehidupan pengacara jalanan dan diakhiri dengan ending yang cukup pantas dan tidak berlebihan.

Ada novel yang seperti diciptakan penulisnya untuk menjabarkan suatu profesi dengan benar, jika ingin memahami profesi Bond Trader maka tidak ada yang lebih baik dibandingkan dengan novel Michael Lewis’s Liar’s Poker . Dan jika ingin memahami bagaimana profesi Pro Bono maka tidak ada novel yang lebih detail mendeskripsikannya selain Street Lawyer .

Dan ya tentu saja novel ini masuk dalam daftar buku “must read” di akun goodreads.com saya.

“….and when the trust dried up, we all could hit the street, just like our clients, Homeless lawyers” – Mordecai Greens

Majelis ~ John Grisham (Book Review)

Waktu sedang jalan2 ke toko buku, saya melihat salah satu novel John Grisham yang sepertinya belum pernah saya baca, Majelis, ya mumpung karena saya sedang tidak ada bacaan akhirnya buku itu saya beli juga, memang dari tanggal terbitnya novel ini sudah lama dirilis, sekitar tahun 2000-an, dan juga kelihatannya bukan termasuk koleksi novel best-sellernya JG.

Ternyata novel ini cukup menarik dan agak beda dibandingkan dengan novel2 JG sebelumya, malah bisa dikategorikan sebagai “dark novel” karena disini saya tidak menemukan tokoh yang pintar-muda-pembela-kebenaran-ganteng-heroik ataupun tokoh wanita yang cantik-agak-lemot-lemah-dan-harus-diselamatkan…..lho ? jadi dimana letak poin2 yang menarik dari novel ini ?

Ada dua plot dalam novel ini, pertama yaitu plot yang mengambil setting di penjara federal trumble, dimana ada tiga tokoh utama, yang mereka adalah mantan hakim yang sedang sial berurusan dengan hukum hingga harus mendekam dalam penjara federal itu, ketiganya sudah berumur dan sedang mengalami krisis paruh-baya, (berarti udah gak ganteng, tua dan miskin…eh, dipenjara lagi!) namun ketiganya masih cukup pintar, dan menangani kasus2 para penghuni penjara lainnya, secara ilegal, sementara itu mereka bertiga menyewa seorang lawyer kelas teri yang setia datang mengunjungi mereka setiap minggu ke penjara itu.

Dan plot yang kedua adalah hiruk-pikuk pencalonan kandidat presiden amrik, Aaron Lake, ganteng, belum terlalu tua, single, pintar dan bersih, anggota kongres dari arizona adalah kandidat yang diharapkan untuk menjadi presiden berikutnya, agak aneh juga sih karena situasi pada saat itu (sebelum perang irak dan afganistan ) amrik sedang bersemangatnya untuk berperang, hingga slogannya si Lake ini selalu tentang perang, bahkan ada satu bab yang menceritakan tentang pemboman di kedutaan besar amrik di mesir, dan seakan2 CIA telah mengetahui pemboman itu, namun membiarkannya saja, demi untuk suatu tujuan tertentu…..hihiii

Nah, jadi si Lake ini memanfatkan momentum ini untuk mengkampanyekan slogan2 perang, ya apalagi kalau bukan demi untuk menaikkan ratingnya, sementara itu Teddy Maynard, bosnya CIA, memantau Aaron Lake, menantikan apakah ada satu titik kelemahannya yang bisa dia pakai untuk mengontrol si calon presiden ini.

Lalu, apa hubungannya ketiga mantan hakim tua itu dengan Lake yang ganteng dan akan jadi presiden ? jauh banget kali yaaa……ternyata titik temunya adalah saat Lake terkena jebakan betmen ketiga mantan hakim itu ! Woaaa………..diam2 ketiga hakim itu memasang iklan “cari jodoh” dimajalah gay, dan memeras para “sahabat pena”nya dengan black mail, dan lawyer looser yang mereka sewa itu adalah perantara mereka dan mengurusi rekening gendut mereka di bahama.

Begitu Lake dikirimi surat hitam oleh ketiga mantan hakim itu, CIA langsung turun tangan, mencari tahu siapa tokoh palsu dalam surat2 itu, hingga akhirnya si lawyer bego itu jadi perantara CIA untuk menghubungkan mereka dengan ketiga hakim, tapi ternyata ketiga hakim itu gak bego2 amat, mereka cukup pintar untuk menyusun strategi baru yang bisa mengancam si calon presiden itu.

Menurut saya si John Grisham sudah bosan dengan tema novelnya yang heroik, dan baru kali ini saya baca novelnya yang satir, dan agak gelap, dimana para tokohnya bukan pembela kebenaran, namun bertindak atas motivasi untuk bertahan hidup dan mementingkan ego masing2, suatu hal yang sangat dekat dengan realita dalam kehidupan nyata.

Jadi apakah Novel Majelis ini pantas dibaca ? rating saya adalah tujuh dari sepuluh, karena novel ini bisa membuat saya suka dan sebal dalam waktu yang bersamaan. walaupun temanya cukup menarik.

Dan akhirnya ending novel ini cukup lumayan, setidaknya everybody happy lah…..heheee

btw, saya juga sedang iseng aja nulis review ini, just for killing time gituuu 😛