Tarbiyah

“The foundation of every state is the education of its youth.”  Diogenes of Sinope

Seperti kebanyakan orang di negri ini, saya terlahir sebagai Muhammadiyah, tapi sebagian besar masa dewasa saya banyak dipengaruhi oleh gerakan baru yang disebut “Tarbiyah”

Tarbiyah adalah gerakan baru pada era 80an yang terinspirasi dari “Ikhwanul Muslimin” dari Mesir, yang berfokus pada pendidikan umat, namun pada akhirnya gerakan ini ikut terjebak dalam arus politik.

Kali ini saya hanya ingin menjelaskan apa pengaruh gerakan ini menurut segi pandang saya pribadi, baik dari segi positif maupun negatifnya,

Segi Positif :

Pertama, Tarbiyah sangat mensupport wanita untuk banyak memberikan kontribusi, maka tidak heran pada masa ini ada beberapa tokoh wanita muslim yang muncul seperti penulis Helvi Tiana Rosa dan Asma Nadia

Wanita yang besar di era ini rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi, dan tidak jarang mereka banyak yang sekolah ke luar negri. Para akhwat masih bebas bepergian tanpa mahram jika niat untuk bepergian adalah untuk hal-hal yang baik.

Hal ini sangat bertolakbelakangan dengan gerakan yang “lebih konservatif” , dimana wanita dilarang keras untuk keluar rumah tanpa mahram – tanpa kompromi.

Kedua ; Interaksi antar wanita dan pria yang terbatas, seperti tidak boleh berjabat tangan, pemisahan ruangan antara pria dan wanita, pacaran dsb, menurut saya ini poin yang cukup masuk akal karena dengan dibatasinya interaksi antar wanita dan pria maka masing-masing pihak akan menjalin hubungan yang sehat tanpa harus terjebak dalam urusan yang sia-sia seperti pacaran.

Pacaran sendiripun adalah hal yang absurd, dan tidak dilakukan oleh generasi di masa lalu, dengan tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna ini, masa muda saya terselamatkan dan saya bisa lebih fokus untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Ketiga ; Tarbiyah tidak pernah secara eksplisit mendiktekan pada wanita seberapa panjang kerudung yang harus digunakan, mungkin karena pada masa itu untuk bisa memakai kerudung adalah hal yang cukup sulit, kebanyakan akhwat masih dilarang memakai jilbab oleh keluarga, sekolah atau tempat kerjanya, jadi kerudung yang dipakai beragam dan modelnya alakadarnya saja, bahkan saya pernah melihat beberapa akhwat datang ke pengajian belum memakai kerudung.

Keempat ; Tarbiyah tidak pernah secara tegas melarang musik dan lukisan, dalam beberapa kondisi, musik dan lukisan jika tidak bertentangan dengan agama masih diperbolehkan,

tidak seperti gerakan agama lain yang “lebih konservatif” yang sangat melarang kedua hal ini tanpa kompromi sedikitpun.

Maka jika kita lihat di sekolah-sekolah yang berbasis Tarbiyah seperti Sekolah Islam Terpadu masih terdapat ajaran musik dan melukis, ini sangat baik untuk memupuk bakat dan kreatifitas anak-anak.

Segi Negatif :

imbauan untuk cepat menikah, pada masa itu banyak kejadian pernikahan dini yang dilakukan oleh ikhwan dan akhwat yang secara mental dan finansial belum siap, menurut saya pernikahan dini ini seharusnya tidak di-encourage , dan sebaiknya para akhwat dan ikhwan dibekali dengan ilmu berumahtangga menurut ajaran Rasulullah SAW sebelum menikah.

Terlibat dalam politik, walaupun tidak semua aktifis Tarbiyah setuju ketika mereka maju ke arena politik, bagaimanapun keputusan untuk tampil ke politik ini adalah hal yang prematur dan sangat merugikan gerakan ini.

Hingga akhirnya kita lihat saat ini gerakan Tarbiyah seperti kehilangan ruh karena ditinggal oleh sebagian besar pengikutnya yang beralih ke gerakan yang “lebih konservatif” itu.

Pengaruh dari gerakan ini dalam kehidupan saya cukup banyak ; karena dari pengajian Tarbiyah saya mengetahui kewajiban memakai jilbab dan berkat hidayah-Nya pada masa sulit itu saya bisa mengenakan jilbab, saya mengambil kursus bimbel yang didirikan oleh pengikut gerakan ini (Nurul Fikri) dan pada waktu kuliah pun kampus saya adalah markas besar dari gerakan ini. bahkan lembaga-lembaga pendidikan yang terlibat dalam kehidupan saya adalah berasal dari gerakan ini.

Hari ini saya baru sadar betapa banyaknya manfaat dan hidayah yang saya dapatkan dari gerakan yang berfokus pada pendidikan ini,

walaupun sekarang ini gairah gerakan ini sudah meredup, para ulamanya sudah menua dan regenerasi hampir tidak ada, namun simpati dan hati saya tetap pada mereka – yang dulu sudah pernah mengorbankan waktu, harta, pemikiran, tenaga untuk kebaikan dan kemajuan pendidikan umat.

Semoga Allah SWT memberikan kita hidayah-Nya dan mengumpulkan kita di Maqam al-Mahmudah

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Makkiyah, Madaniyah dan Ali bin Abi Thalib

Secara garis besar, sejarah penting dalam Islam terbagi menjadi tiga periode : Makkiyah, Madaniyah dan masa-masa fitnah di kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

kenapa saya menuliskan ini dan apa manfaatnya yang bisa kita ambil dari tiga periode ini, adalah tidak lain karena kita hidup pada masa-masa penuh fitnah, adu domba, perpecahan, dsb.

maka dengan mempelajari tiga periode ini mudah-mudahan kita bisa mendapat hikmahnya,

Periode Makkiyah

pada masa ini umat Islam mendapatkan cobaan dari kaum kafir (non muslim) yang dimana mereka secara terang-terangan menyerang secara verbal dan fisik, dan apa yang diperintahkan oleh Allah kepada Rasulullah dan umat Islam adalah sama seperti yang dilakukan Nabi Isa Al-Masih di Jerusalem, mereka sama sekali tidak memberikan perlawanan, bahkan membalas celaan dan makian pun tidak diperbolehkan.

“If anyone slaps you on the right cheek, turn to them the other cheek also”

di surat al-Mukminun ayat 96 – 97 dijelaskan bahwa kita harus menahan diri dari membalas perbuatan buruk itu, jangan merendahkan diri kita dengan cacian dan makian, dan jika kita tergoda oleh setan untuk melakukan hal itu maka kita harus berdoa “ya Tuhan, aku berlindung dari bisikan-bisikan setan”

Apakah sulit untuk menahan diri ? apakah kita tidak sakit hati dan bersedih dengan penghinaan itu ?

tentu saja, bahkan di awal surat Al-Kahfi dijelaskan bahwa Rasulullah sendiri merasa sangat sedih bahkan kesedihannya itu setara dengan depresi seorang yang hendak bunuh diri (tentunya bukan berarti Rasulullah akan melakukan hal itu) juga di surat al-Hijr yang menjelaskan bahwa Allah sungguh-sungguh mengetahui kesakitan yang kita rasakan akibat ucapan kaum kafir itu.

dan apa yang diperintahkan Allah kepada kita ?

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadikan kamu diantara orang-orang yang bersujud”

Karena dengan mendekatkan diri kepada Tuhan maka semua kesakitan yang kita rasakan itu bisa tergantikan oleh perasaan tenang yang disebut “Sakinah”

Periode Madaniyah

biang keladi pada masa ini adalah kaum munafik, dan puncak masalah yang mereka berhasil buat adalah tuduhan keji kepada Aisyah, istri Rasulullah, dan karena kaum munafik ini secara kontinu memanasi isu ini maka akhirnya kaum muslim pun ikutan terbawa fitnah ini,

Abu Ayyub al-Anshori ketika dihampiri oleh istrinya dan istrinya berkata ; “Apakah kau sudah mendengar berita tentang Aisyah yang sedang ramai dibicarakan oleh semua orang ?”

Abu Ayyub langsung bertanya “Apakah kau merasa bahwa kau lebih baik daripada Aisyah ?” tidak jawab istrinya

“Maka jangan kamu sebarkan berita itu lagi !” kata Abu Ayyub.

Gosip, ghibah, namimah adalah perbuatan sangat tercela dan tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim,

Kita harus menjaga diri agar tidak melakukan hal ini, dan jika ada muslim berbuat seperti itu harus kita nasihati dengan baik, namun jika kita tidak bisa melakukan itu maka sebaiknya kita menghindar dan jangan ikutan mendengar berita-berita tercela seperti itu.

“dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.”

Periode Ali bin Abi Thalib

ini menurut saya adalah masa-masa yang paling sulit dalam sejarah, karena pada masa-masa ini umat Islam di adu domba dengan yang lainnya, semua makar dan propaganda dilakukan untuk memecahbelah umat, hubungan pertemanan dan kekeluargaan menjadi pecah, silaturahmi terhenti akibat cobaan yang berat ini.

Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil).’ (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

pada masa ini hampir mustahil bagi muslim untuk menghindarinya, jadi sebisa mungkin kita menjauh dari semua akses fitnah tersebut, beberapa sahabat bisa melakukan hal itu seperti Ibnu Abbas, namun sebagian besar sahabat lainnya terjebak dalam situasi yang lose-lose itu.

Bahkan dua kubu yang punya satu tujuan pun bisa berperang, seperti pada peperangan Jamal (Perang Unta) dimana kubu Ali bin Abi Thalib bertemu dengan kubu Aisyah dengan tujuan hendak berunding mengenai insiden pembunuhan Ustman bin Affan, namun akibat ulah para provokator seketika saja kaum muslim terjebak dalam situasi peperangan.

demikianlah tiga periode penuh cobaan ini, tujuan saya menuliskan ini sebenarnya untuk catatan pribadi agar saya sendiri pun bisa sabar dalam menghadapi bermacam-macam situasi yang terjadi belakangan ini,

semoga kita semua bisa terhindar dari semua fitnah ini, aamiin

 

 

 

 

 

 

Printing Press, Ibrahim Muteferrika dan kejatuhan Islam

Dulu saya selalu beranggapan bahwa awal kejatuhan Islam adalah pada masa setelah Perang Dunia pertama,

ternyata masa kegelapan itu mulai dari jauh sebelumnya yaitu pada masa kekhalifahan Turki Ustmaniyah di abad ke 15

Sebelumnya, Islam selalu menjadi pioner dalam kemajuan teknologi, dari masa para sahabat dan tabi’in hingga beberapa generasi berikutnya mereka selalu cepat dalam menyerap ilmu duniawi, hingga Islam pada beberapa abad itu menjadi puncak kemajuan ilmu dan budaya.

Nah, apa hubungannya Printing Press dengan kejatuhan Islam ?

sebelum itu, kita lihat dulu bagaimana Islam pada masa pra-kertas, semua tulisan ditulis pada daun kurma, tulang unta, kulit binatang ,dsb. kemudian akhirnya mereka menemukan teknologi pembuatan kertas dari cina, hingga khalifah Al-Makmun dari dinasti Abbasiyah memutuskan untuk menggunakan kertas untuk segala keperluan adminitrasi negara dan semua aktifitas keilmuan, hal yang saat itu belum dilakukan oleh cina, karena mereka hanya menggunakan kertas untuk hasil karya seni.

hingga tidak berlebihan jika kita berpendapat bahwa buku adalah penemuan Islam, karena setelah mereka menulis banyak kertas dan mengumpulkannya, dan menjilid menjadi buku yang lengkap dengan sampulnya.

maju tiga abad setelah itu, ketika Gutenberg menemukan Printing Press, sikap Islam berbeda dengan generasi sebelumnya ; mereka menutupdiri dari teknologi itu, bahkan khalifah Bayezid II membuat fatwa bahwa Printing Press hukumnya haram dan pemakaianya adalah kafir dan pantas mendapatkan hukuman mati !

apa yang terjadi berikut adalah mulainya kemajuan renaissance yang dipicu dari penyebaran printing press di seluruh eropa, hingga pada saat Colombus melakukan ekspedisi ke amerika, mereka juga membawa mesin printing press yang kemudian percetakannya diletakkan di kota meksiko.

Kita pasti bertanya ; kenapa Islam sebegitunya menutup diri dengan kemajuan teknologi ?

Jawabannya seperti biasa adalah ; karena pada ulama yang disekitar khalifah saat itu tidak menginginkan ilmu menyebar keseluruh masyarakat, mereka ingin agar ilmu tetap menjadi eksklusif hanya untuk segelintiran kalangan saja, dengan monopoli ilmu maka orang yang ingin belajar harus datang sendiri kepada mereka untuk menimba ilmu.

Akhirnya salah satu ulama berkebangsaan hungaria yaitu Ibrahim Muteferrika mengajukan petisi kepada khalifah untuk memperbolehkan penggunaan printing press, akhirnya khalifah menyetujui dengan sejumlah daftar larangan kitab-kitab yang tidak boleh dicetak dengan printing press.

namun usaha Ibrahim Muteferrika ini terlambat, karena pada saat itu eropa telah dapat mendahului Islam dari segi ilmu dan teknologi, berkat Printing Press.

Sementara itu, pada saat invasi Napoleon Bonaparte ke Mesir, walaupun Napoleon kalah dalam perang tersebut, dan mengakhiri periode dinasti Mamluk (yang dulu mereka pernah menang dari invasi mongol ) ternyata memberikan angin segar bagi Islam : munculnya percetakan Islam pertama “Bulaq” , berkat jasa Napoleon yang membawa mesin printing press ke mesir.

Bagaimanapun usaha Islam mengejar ketinggalannya dengan dunia barat, mereka telah tertinggal hingga akhirnya Islam benar-benar terkalahkan setelah perang dunia pertama yang akhirnya mengakibatkan berakhirnya kekhalifahan terakhir yang pernah ada di dunia ini.

Sekarang pertanyaannya adalah ;

Apakah kita akan bersikap seperti khalifah Bayezid II dan para ulama saat itu yang bertahan dengan sikap mereka yang memperlakukan ilmu sebagai hal yang eksklusif hanya untuk kalangan tertentu saja ?

Atau kita seperti Ibrahim Muteferrika, si ilmuan hungarian yang dulunya penganut agama nasrani yang menjadi muslim dan berusaha agar ilmu menjadi maju dan tersebar keseluruh lapisan masyarakat

Uprising_in_Cairo

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber :

https://en.wikipedia.org/wiki/Global_spread_of_the_printing_press

https://en.wikipedia.org/wiki/Printing_press

https://en.wikipedia.org/wiki/Johannes_Gutenberg

https://en.wikipedia.org/wiki/Ibrahim_Muteferrika

https://en.wikipedia.org/wiki/French_campaign_in_Egypt_and_Syria#The_printing_press

 

Hidup tanpa Kantung Empedu : Spiritual Healing

“Dan Kami turunkan AL-Quran sebagai Penyembuh dan Rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Al-Isra : 82)

Sudah lama terakhir kali saya menulis tentang penyakit batu empedu, namun sampai hari ini masih ada yang mengirim email kepada saya menanyakan tentang hal ini, seakan-akan posting-posting saya yang sebelumnya tidak cukup menberikan informasi tentang penyakit ini.

Kali ini saya tidak akan menuliskan tentang cara penyembuhan lain, karena semua yang saya ketahui sudah saya tulis pada posting-posting sebelumnya, dan pada posting ini saya akan menceritakan asal muasal kenapa saya mendapatkan penyakit ini hingga kondisi saya saat ini.

Awalnya saya mendapat diagnosa penyakit ini pada sekitar tahun 1999, pada saat itu dokter sudah menyuruh saya untuk mengambil tindakan operasi – karena batu sudah terlalu banyak dan terjadi peradangan, namun saya mencoba memakai obat herbal “Pusaka Ambon” dan semua batu di kantung empedu saya berhasil hilang

Pada tahun 2002 saya merasakan peradangan yang lebih parah dari sebelumnya dan berkali-kali saya masuk ke UGD, hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tindakan operasi, ada dua alasan kenapa saya mengambil tindakan itu :

  1. Saya tidak tahu adanya efek samping setelah kantung empedu hilang,
  2. kondisi fisik dan mental saya saat itu sangat lemah, hingga saya memerlukan tindakan yang cepat untuk penyembuhan

Jadi setelah operasi, selama beberapa tahun saya merasakan perubahan kondisi fisik yang sangat jelas seperti sering mual dan kembung, cepat lelah dan pusing.

Namun kondisi sekitar saya sangat tidak mendukung pada saat itu, hingga saya mengabaikan semua gejala tersebut. Hingga alhamdulillah pada tahun 2010 saya kembali kepada keluarga saya yang sangat memperhatikan dan menyayangi saya, dan mulai saat itu saya dapat lebih memperhatikan kondisi kesehatan saya dan menemukan sebab semua gejala itu adalah akibat dari hilangnya kantung empedu.

Dan kondisi saya saat ini sebenarnya belum benar pulih seperti sebelumya, namun berkat keluarga saya yang sangat perhatian pada saya hingga saya dapat menjaga pola makan dan lebih memperhatikan kondisi fisik saya.

Pada posting2 sebelumnya saya sudah menjelaskan dua cara pengobatan penyakit ini yaitu pengobatan herbal dan pengobatan modern, dan saya sudah menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda hingga saya TIDAK bisa merekomendasikan pilihan pengobatan yang terbaik.

Namun ada cara lain yang setidaknya bisa membantu dan bisa dilakukan semua orang yaitu pengobatan spiritual,

Pengobatan spiritual yang saya lakukan tentunya berdasarkan dari ajaran agama yang saya anut, dan ternyata hal ini sangat membantu dalam proses penyembuhan saya, dan membuat saya menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya,

Berikut beberapa hal yang saya lakukan untuk mencapai kesehatan rohani :

  • Menambah ilmu agama, saya paham bahwa saya harus mengenal siapa Tuhan yang menciptakan saya, mengapa saya harus beribadah hanya kepada-Nya, mengapa saya harus mencintai-Nya, mengapa saya diberikan penyakit ini, semua pertanyaan itu hanya saya dapatkan setelah saya mengenal Tuhan saya dengan membaca banyak buku-buku agama dan menghadiri pengajian.
  • Memahami bahwa setiap manusia (dan saya juga) tidak diciptakan secara sia-sia, setiap insan memiliki tugas masing-masing, dan kita mempunyai pilihan untuk menjadi manusia yang baik
  • Dimanapun, kapanpun saya berada, saya harus memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, jadi bukan hanya ketika sedang beribadah saja, namun setiap waktu saya usahakan untuk terus mengingat-Nya
  • Satu-satunya senjata yang paling ampuh yang saya miliki adalah doa, maka saya akan terus berdoa kepada Tuhan, agar saya bisa terus mensyukuri semua nikmat yang ada dalam hidup ini
  • Setiap kali saya merasa kesakitan dan kelelahan, saya berusaha untuk tidak mengeluh dan mengucapkan syukur kepada Tuhan serta memanjatkan doa untuk kebaikan dari penyakit ini.
  • Keberadaan saya di dunia ini hanyalah sementara, saya berasal dari-Nya dan saya akan kembali kepada-Nya, maka tujuan hidup saya di dunia ini adalah agar saya dapat kembali kepada-Nya
  • Menyadari bahwa kesembuhan rohani ini hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman, maka saya akan terus memanjatkan doa agar keimanan saya tetap terjaga hingga akhir hidup saya ini.

 

Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi tempat singgah untuk anak-anak yang memiliki penyakit parah – kanker, leukimia, dsb. mereka adalah anak-anak yang sudah tidak memiliki harapan untuk sembuh, namun kesabaran dan semangat mereka untuk hidup tetap terpancar, hingga membuat saya malu dengan kondisi saya yang masih sehat.

Dengan bersyukur dan berbagi kepada yang lain juga akan menumbuhkan semangat dalam hidup, kita perlu berada disekitar orang-orang yang memiliki aura positif untuk memberikan pengaruh yang baik kepada kita.

Dan yang terpenting adalah kita harus memiliki kesabaran, satu-satunya cara untuk meraih kesabaran adalah dengan memohon kepada Tuhan agar diberikan kesabaran, karena Tuhan adalah yang bersama orang-orang sabar ; wallahu ma’ashobirin

La tahzan, innallaha ma’as sobirin

 

 

 

Kaum Madani, Anshor, Muhajirin dan Piagam Madinah

“Tanda keimanan adalah cinta kepada kaum Anshor. Dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshor”. (HR. Al-Bukhari)

beberapa tahun yang lalu istilah “Masyarakat Madani” dipromokan oleh seorang cendikiawan untuk menunjukkan bahwa masyarakat yang maju adalah masyarakat yang beradab, menghargai kemajemukan dalam unsur-unsur kehidupannya.

sebetulnya apa arti konsep Madani ini ?

Awalnya konsep masyarakat madani ini dimulai pada era pasca hijrah kaum Muhajirin dari Mekkah ke Madinah, untuk menghindari tekanan dari kaum kafir terhadap umat Islam saat itu, momen ini adalah momen penting dalam sejarah Islam karena pada saat itulah kaum muslim baru dapat merasakan kehidupan beragama yang lebih bebas.

Kita semua mendambakan kehidupan damai dalam kemajemukan itu, namun apa kita semua memahami apa yang menyebabkan terciptanya kaum Madani dan kaum apa yang paling memberikan kontribusi terciptanya kondisi tersebut ?

Kota Yastrib, yaitu nama asli dari Madinah al-Mukarromah, terdiri dari berbagai suku-suku, yaitu suku Arab dan suku Yahudi, pada masa pra-Hijrah, terjadi perang saudara (civil war) antara suku-suku di kota ini yang mengakibatkan terbunuhnya banyak tokoh-tokoh besar dari suku-suku tersebut, hingga akhirnya pada saat musim haji sebagian dari perwakilan suku-suku di Yastrib itu bertemu dengan Rasulullah dan mereka dengan mudahnya menerima ajaran monoteisme Islam.

ada beberapa poin yang menyebabkan suku-suku arab Yastrib dapat menerima hidayah dengan mudah :

  • mereka sudah mengetahui konsep ketuhanan monoteisme dari suku-suku Yahudi di Yastrib, namun mereka tidak dapat menjadi penganut agama yahudi, karena mereka bukan keturunan yahudi.
  • perang saudara yang sangat lama dan telah membunuh banyak tokoh-tokoh penting dari Yastrib membuat generasi muda dari Yastrib sudah muak dengan perpecahan dan mendambakan kesatuan dalam suatu konsep kepemimpinan yang lebih baik

dan oleh karena itu mereka tidak ragu lagi menawarkan kepada kaum muslim di Mekkah untuk pindah ke Yastrib, terutama karena mereka tidak tahan melihat perlakukan kasar kaum kafir Mekkah kepada Muhammad SAW dan pengikutnya.

setelah Hijrah, kaum muslim dari Mekkah yang disebut Muhajirin, tercengang-cengang dengan kebaikan dan kedermawanan kaum Anshor kepada mereka, bukan saja mereka terbuka menerima “pengungsian” tersebut, bahkan mereka menawarkan sebagian harta mereka kepada kaum muslim !

perlu dipahami bahwa kaum Anshor bukanlah kaum yang kaya, sebagian besar dari mereka hidup dalam kemiskinan, terutama karena mereka hidup dari pertanian, bukan seperti kaum Muhajirin yang sebagian besar adalah pedagang.

walaupun kaum Anshor belum lama memeluk agama Islam namun mereka sudah memahami arti konsep persaudaraan Islam yang sebenarnya yang seperti konsep ideoligi sosialisme : apa yang mereka miliki adalah miliki sahabatnya juga

“Kebaikan” kaum Anshor ini disampaikan kepada Rasulullah, dengan kekhawatiran apakah nantinya amalan kaum Muhajirin akan dikurangi oleh Allah SWT akibat keikhlasan kaum Anshor, maka Nabi SAW menjawab tentu saja tidak, asalkan kaum Muhajirin mendoakan kaum Anshor agar mendapatkan keberkahan dan keridhoan dari Allah SWT.

“Tentang (nama) Anshar, apakah kalian menamakan diri kalian dengannya atau Allahlah yang menamakan kalian dengannya?”. Anas menjawab, “Bahkan Allahlah yang menamakan kami dengan sebutan Anshar”. (Shahih al-Bukhari no.3776).

Dalam suasana kehidupan masyarakat yang kondusif inilah lahir “Piagam Madinah” yang mewujudkan konsep “Civil Society” yang ideal, bahkan tidak pernah dalam sejarah sebelumnya dibuat konsep konstitusional yang demikian sempurnanya, hingga akhirnya Piagam Madinah ini menjadi rujukan dalam konsep-konsep konstitusional negara-negara adidaya zaman modern yang menyerupai landasan negara federasi.

kembali lagi ke kaum Anshor dan Muhajirin, sejalan dengan perkembangan Islam terutama dimasa-masa kepemimpinan Rasulullah di Madinah, selalu ada kekhawatiran bahwa Muhammad dan pengikutnya hanya memanfaatkan kaum Anshor untuk mencapai tujuan mereka yaitu kembali menguasai kota Mekkah,

Di Jazirah Arab, sebelumnya tidak dikenal konsep kesatuan berdasarkan keagamaan, selama ini mereka mengenal konsep kesatuan berdasarkan kesukuan atau keturunan, jadi tentunya kesatuan antara Anshor dan Muhajirin ini adalah hal yang aneh bagi kaum arab. dan menimbulkan keraguan bahwa kesatuan ini tidak akan lama.

namun keraguan ini ditepis sendiri oleh Muhammad SAW, terutama setelah penaklukan kota Mekkah, ternyata Nabi SAW tidak menetap di kota suci tersebut, hal ini tentunya sangat membuat gembira kaum Anshor bahwa Nabi tercinta tetap akan kembali ke kotanya,

bahkan saat membagi harta rampasan perang Hunayin yang sangat banyak, Nabi SAW memberikan bagian yang lebih banyak kepada kaum lain, bukan Anshor, saat kaum Anshor memprotes hal ini, Nabi SAW berkata apakah mereka tidak senang bahwa orang lain pulang dengan harta dan sedangkan kaum Anshor pulang dengan Nabinya ?

kemudian kaum Anshor menangis dan berkata ya tentu saja mereka lebih suka pulang dengan membawa Nabinya.

Kita sering mendambakan kehidupan kemajemukan yang ideal dengan pemimpin yang ideal, namun apakah kita sudah menjadi rakyat yang ideal seperti kaum Anshor yang mendapatkan Nabi sebagai pemimpinnya ?

“Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya”

kaum Anshor adalah kaum Madani yang paling ideal yang pernah ada di dunia ini,

mereka pulang mendapatkan kotanya menjadi kota suci kedua setelah Mekkah dan mendapatkan Nabinya yang mereka cintai bersemayam di kotanya…..selamanya

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (At-Taubah 100)

 

 

 

 

Heraclius

Perang antara Romawi Byzantium dengan Persia-Sassanid pada 502 – 628 adalah peperangan antara dua negara adidaya saat itu yang panjang dan menguras sumberdaya kedua negara tersebut, diakhir peperangan itu Byzantium Empire hampir kehilangan seluruh wilayahnya, kekaisaran kehilangan banyak wilayahnya terutama di Syria, Palestina dan Mesir dan hanya menyisakan ibukotanya yaitu Konstantinopel yang dilindungi oleh beberapa lapis tembok yang besar.

Akibat peperangan yang lama dan memakan banyak sumberdaya, Kekaisaran diambang kehancuran dan kebangkrutan, hanya satu langkah lagi yaitu penaklukan kota Konstantinopel, maka Persia-Sassanid berhasil menghapus Kekaisaran Romawi Byzantium dari sejarah.

Adalah Kaisar Heraclius yang menyelinap keluar dari tembok Konstantinopel untuk menggalang pasukan-pasukan romawi yang sudah tercerai-berai akibat serangan Persia-Sassanid, sebelumnya Heraclius berpamitan pada rakyat Konstantinopel dan menjanjikan kemenangan untuk mereka.

Karena uang kas negara sudah kosong, maka Heraclius menggalang dana dari rakyat dan pemuka agama untuk membiayai perang dan menyogok bangsa-bangsa barbar Avars disekitar yang telah membelot ke Persia, sebelumnya Heraclius sudah mendalami berbagai ilmu dan taktik perang, hingga ia bisa menyusun kembali formasi baru pasukan-pasukan militer yang akan diterjunkan pada perang melawan Persia.

Berita tentang Kekaisaran Romawi-Byzantium yang hampir punah oleh Persia tersebut sampai juga ke Mekah, saat itu Rasullah dan pengikutnya berpihak pada Romawi, karena mereka masih satu rumpun agama monotheis (Ahlul Kitab) dengan bangsa Romawi yang telah menjadikan Nasrani sebagai agama resminya, sedangkan mayoritas penduduk Mekah yang masih Pagan itu mendukung Persia.

Kemudian diturunkan Surat Ar-Ruum (QS 30, ayat 1 -4 ) yang memprediksikan kemenangan Romawi atas Persia, tentu saja hampir seluruh penduduk Mekah tidak mempercayainya, karena bangsa Romawi telah kehilangan hampir seluruh wilayah kekuasaannya.

Perlahan namun pasti, dengan berbagai serangkaian peperangan, pasukan Romawi mulai dapat memukul mundur pasukan Persia dari wilayah mereka, kemudian wilayah-wilayah yang pernah dikuasai Persia yaitu Mesir, Syria, Palestina berhasil ditaklukkan kembali oleh Romawi, dipenghujung serangkaian peperangan yang dimenangkan oleh Romawi, kondisi politik Persia semakin tidak stabil dan terjadi revolusi yang berhujung pada gencatan senjata antara Romawi dan Persia.

Kemenangan Romawi atas Persia ini diriwayatkan bertepatan dengan Perang Badar, yaitu perang pertama antara pasukan muslim dari Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah dengan pasukan Quraisy dari Mekah.

Setelah Perjanjian Hubadiyyah antara umat muslim di Madinah dan kaum Quraisy Mekah yang intinya adalah gencatan senjata, Rasulullah mulai mengirim surat diplomasi kepada beberapa penguasa di sekitar termasuk kepada kaisar Heraclius.  Saat surat itu sampai kepada Heraclius di Yerusalem, takdir mempertemukan Heraclius dengan Abu Sufyan yang sedang dalam perjalanannya untuk berniaga ke negri Syam.

Abu Sufyan – yang saat itu masih belum masuk Islam, bersama rombongannya dipanggil menghadap Heraclius, terjadi percakapan interogasi yang cukup panjang antara Heraclius dan Abu Sufyan yang diriwayatkan oleh Sahih Bukhari, pada akhir interogasi itu, Heraclius mengakui bahwasanya dia telah memprediksi akan adanya utusan terakhir tersebut namun dia tidak menyangkan bahwa utusan itu akan berasal dari bangsanya Abu Sufyan.

Heraclius memutuskan untuk tidak merespon surat dari Rasulullah tersebut dan tetap berpihak pada rakyat Romawi, namun kemudian terjadi insiden pembunuhan utusan kaum muslim di wilayah Yordania yang berujung pada Perang Mu’tah, Heraclius berusaha untuk menghalangi ekspansi muslim dengan mengirimkan pasukan bantuan.

Setelah perang Mu’tah yang merupakan peperangan pertama antara pasukan muslim dan pasukan romawi, Rasulullah menghimpun pasukan terbesar dalam pernah ada dalam masa kenabiannya yang kemudian dikenal sebagai Perang Tabuk, dimana pasukan muslim saat itu berjumlah 30.000 orang menuju ke padang Tabuk di musim panas yang menyengat, namun Heraclius dan pasukannya tidak datang ke Tabuk, berbagai spekulasi mengenai absennya Heraclius di Tabuk, antara lain yaitu Heraclius enggan berhadapan dengan Rasulullah, selain itu ia tidak mau terlibat dengan perang ini yang disulut oleh kaum munafik dari Madinah.

Setelah Rasulullah wafat, ekspansi muslim tidak dapat dibendung lagi, dalam kurun waktu 10 tahun Kekaisaran Romawi Byzantium kehilangan sebagian besar wilayahnya di Palestina, Syria, Mesir untuk selama-lamanya. Romawi Byzantium menderita kekalahan besar pada Perang Yarmuk yang dipimpin oleh Khalid bin Walid.

Kaisar Heraclius dikenang oleh bangsa romawi sebagai raja yang menyelamatkan Byzantium dari Persia, terutama karena ia berhasil membawa Salib Asli “True Cross” (yang sebelumnya ditelah direbut oleh Persia) kembali ke Yerusalem dengan upacara yang megah.

Bukan saja mendapatkan gelar “King of Kings”, Heraclius adalah seorang terpelajar yang juga menguasai berbagai ilmu taktik perang, ilmu Falak (astronomi dan bintang), sejarah, tata negara dan militer. Heraclius dicintai rakyatnya dan ia tetap setia kepada rakyatnya hingga akhir hayatnya.

 

 

 

 

Perang Mu’tah dan munculnya Pedang Allah

Perang Mu’tah tercatat sebagai salah satu perang dalam masa Rasulullah yang dimana beliau tidak hadir dalam perang itu dan diwakilkan oleh tiga panglima yang ditunjuk olehnya

Perang ini juga merupakan kontak pertama pasukan muslim dengan pasukan romawi

Tidak ada peperangan yang begitu dahsyat, memilukan, mencengangkan dan sangat menyentuh seperti perang ini, dimana pasukan muslim berjumlah 3000 orang harus berhadapan dengan pasukan romawi sebanyak 200.000 orang di padang Mu’tah, Yordania.

Awal terjadinya perang Mu’tah adalah karena utusan dari Rasulullah yang dibunuh oleh Raja Ghassan, dalam etika politik saat itu ; membunuh seorang utusan adalah pelanggaran besar dan dapat diartikan sebagai isyarat perang. juga kemudian tersiar kabar bahwa pasukan Ghassan sudah bersiap menghadang kaum muslim

Zaid bin Haritsah yang akan menjadi komandan. Jika ia terbunuh maka komando pasukan diambil oleh Ja’far bin Abu Thalib. Jika Ja’far juga terbunuh maka pimpinan diambil oleh Abdullah bin Rawahah. Jika Abdullah bin Rawahah juga terbunuh maka silakan kaum muslimin memilih di antara yang mereka ridhai untuk menjadi pimpinan.”

untuk pertama kalinya Rasullulah mengangkat tiga panglima sekaligus, ini menandakan bahwa beliau telah memahami kondisi medan perang yang dimana pasukan muslimin akan mendapati musuh yang tangguh.

ketiga panglima ini tentunya adalah sahabat pilihan :  Zaid bin Haritsah adalah anak angkat dari Rasulullah, Ja’far bin Abu Thalib adalah sepupu Rasulullah yang pernah hijrah ke negri Abbasiyah, sedangkan Abdullah bin Rawahah adalah Anshori yang merupakan golongan pertama convert yang juga ahli puisi kesayangan kaum muslim

“Berperanglah kalian atas nama Allah, di jalan Allah, melawan orang-orang kafir kepada Allah. Jangan berkhianat, jangan mencincang, jangan membunuh anak-anak, wanita, orang yang sudah tua renta, orang yang menyendiri di biara Nasrani, jangan menebang pohon kurma dan pohon apa pun, dan jangan merobohkan bangunan.” – pesan Rasulullah pada pasukan muslim sebelum berangkat ke medan perang.

Ketangguhan dan kesabaran pada pasukan muslim diuji pada saat ini, dimana mereka menemui kenyataan di lapangan saat pasukan Ghassan yang awalnya berjumlah 100.000 orang kemudian mendapat reinforcement dari Kaisar Heraclius , Romawi sebanyak 100.000 orang

Melihat kondisi tersebut, para kaum muslim berembuk untuk membahas apa mereka perlu mengirim utusan untuk meminta reinforcement kepada Rasulullah.

Lalu panglima mereka yang ketiga, Abdullah bin Rawahah radhiallahu ‘anhu, menyemangati mereka seraya mengatakan :

“Demi Allah, sesungguhnya apa yang kalian takutkan sungguh inilah yang kalian cari !  Kita tidak memerangi manusia karena banyaknya bilangan dan kekuatan persenjataan, tetapi kita memerangi mereka karena agama Islam ini yang Allah muliakan kita dengannya. Bangkitlah kalian memerangi musuh karena sesungguhnya tidak lain bagi kita melainkan salah satu dari dua kebaikan : yaitu menang atau mati syahid.”

Sebelum perang dimulai, panglima perang Zaid bin Haritsah membagi pasukan muslim menjadi beberapa pasukan yang berada di kanan, kiri, depan dan belakang dari pasukan inti yang berada ditengahnya, pembagian pasukan ini dikarenakan untuk mengimbangi pasukan romawi yang jumlahnya sangat banyak.

Kemudian perang dimulai, Zaid bin Haritsah memimpin pasukan muslim dengan Panji Islam (bendera putih) ditangannya, ketika Zaid terbunuh, Ja’far bin Abu Thalib maju menggantikannya sambil mengambil panji itu, namun beliau juga terbunuh dengan kondisi yang paling mengenaskan ; kedua tangannya putus dan sekujur tubuhnya penuh dengan tikaman dan luka.

salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidak kurang 90 luka di bagian tubuh depan beliau akibat tusukan pedang dan anak panah.

Ketika Abdullah bin Rawahah mengangkat Panji Islam, beliau ragu sejenak, menyadari saat itu adalah momen paling penting dalam hidupnya, dalam keraguannya beliau membuat sebuah puisi :

“Aku telah bersumpah wahai jiwaku, majulah ke medan laga !
Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga ?
Wahai jiwaku, bila kau tak tewas terbunuh, kau pasti akan mati juga
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti,
Tibalah waktunya yang engkau idam-idamkan selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati !”

Maka Abdullah bin Rawahah mengikuti jejak kedua sahabatnya menjadi kesatria sejati, menjemput syahid di Mu’tah.

Setelah gugurnya tiga orang komandan sebelumnya, mulanya panji diambil oleh Tsabit bin Aqram. Panji itu dipegangnya dengan tangan kanannya dan diangkatnya tinggi-tinggi di tengah-tengah pasukan muslimin agar barisan kaum muslimin tidak kocar-kacir.

Pada malam harinya, saat perang dihentikan sementara hingga esok pagi, pasukan muslim berembuk untuk memilih panglima baru mereka. “Siapakah yang sanggup membawa panji ini ?”

semua mata tertuju pada Khalid bin Walid.

Khalid tercengang ; “kenapa saya ?”

kaum muslim belum lupa bagaimana Khalid bin Walid memukul balik mereka di Uhud, walau saat itu Khalid masih dipihak kaum kafir, namun kejeniusannya sudah muncul saat itu, dan saat ini Khalid bin Walid baru sebulan menjadi muslim, dan dia merasa seperti anak baru diantara para seniornya.

Kemudian Tsabit bin Aqram berteriak kepada seluruh pasukan, “Apakah kalian ridha dengan kepemimpinan Khalid ?”

Mereka serentak menjawab, “Ya !”

di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar dalam keadaan sedih meneteskan air mata seraya berkata : “Sesungguhnya saudara-saudara kalian telah berhadapan dengan musuh. Pertama kali panji dipegang oleh Zaid bin Haritsah. Ia berperang dengan gagah berani sampai akhirnya syahid. Kemudian panji diambil oleh Ja’far bin Abu Thalib. Ia berperang sampai akhirnya juga syahid. Setelah itu panji diambil oleh Abdullah bin Rawahah. Lalu ia berperang sampai akhirnya jatuh syahid. Terakhir, panji diambil oleh Pedang di antara pedang-pedang Allah, maka Allah menenangkan kaum muslimin di bawah komandonya.”

Setelah itu, beliau mendatangi keluarga Ja’far dan menghibur mereka.

Bagaimana Khalid menyusun taktik baru untuk menghadapi romawi ?

Pertama, beliau memindahkan susunan pasukan, dari yang kiri ke kanan, dari belakang ke depan, hingga pasukan romawi mendapat kesan bahwa mereka menghadapi orang-orang lain yang baru didatangkan dari Madinah,

Kedua, beliau mengutus sebagian kecil pasukan berkuda untuk pura-pura datang dari arah Madinah sambil menghentakkan pasir-pasir, hingga memberikan kesan pada musuh bahwa pasukan baru dalam jumlah yang besar hampir tiba.

Insiden-insiden dan kamuflase kecil ini cukup mengalihkan perhatian dan memecah konsentrasi pasukan romawi saat perang berjalan, walaupun demikian pasukan muslim tetap bertempur dengan gigihnya, bahkan Khalid bin Walid pun bertempur dengan sangat intens hingga sembilan pedangnya patah,

“Telah patah Sembilan pedang ditanganku, tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman”

Perang Mu’tah diakhiri dengan jumlah korban 12 orang dari pihak muslim dan 20.000 orang dari pihak romawi.

Dari kejadian ini ada beberapa hal yang patut digarisbawahi :

  • Perang Mu’tah adalah kontak pertama kaum muslim dengan kaum non-arab, dimana kejadian ini memberikan pengalaman penting yang berguna saat perkembangan Islam dimasa berikutnya.
  • karena Perang ini pihak Romawi ikut serta, maka ada catatan dari para scholar mengenai perang ini ( karena Romawi adalah bangsa yang lebih maju dan mereka mencatat semua insiden) ; dalam catatan itu mereka menyebutkan pasukan Islam dipimpin oleh panglima yang dijuluki “Pedang Allah”
  • Kesungguhan dan kesabaran pada sahabat teruji dalam perang ini, walaupun Rasulullah tidak hadir, namun mereka tetap patuh dan setia pada panglima yang sudah terpilih.
  • Hasil dari perang ini menyisakan pertanyaan ; apakah pasukan muslim benar menang dari pasukan romawi ? sebagian ulama berpendapat bahwa pasukan muslim menang berdasarkan dari hadist Rasulullah diatas yang menyebutkan pasukan muslim menang setelah dibawah komando “Pedang Allah”

 

“Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Pengasih,

Pukulan yang menakutkan dan mencerai beraikan

Atau tusukan dengan tombak di tanganku yang membuat musuh limbung

Menembus dada dan jantung

Hingga dikatakan, bila mereka melewati mayatku :

“Wahai prajurit Islam yang dibimbing oleh Allah, Dia memang telah memimpinmu.”

(Abdullah bin Rawahah)