Islam dalam bernegara (part 2)

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”. (QS. 16:125)

 

Dalam artikel Islam dalam bernegara bagian pertama, saya sudah mencoba menjelaskan bahwa Islam memiliki kelebihan tersendiri sebagai agama di penghujung masa ini dengan kemampuannya untuk beradaptasi dengan mudah.

Seperti yang bisa kita lihat jika kita meneliti sejarah hidup Nabi (Sirah Nabawiyah) maka secara garis besar terbagi menjadi dua periode : Periode Mekkah dan Periode Madinah, dimana kedua periode itu memiliki perbedaan yang sangat signifikan.

Periode Mekkah dimana dakwah dilakukan secara sembunyi, dan tanpa perlawanan ketika beberapa umat disiksa oleh kaum quraisy, intinya pada masa ini hampir sama seperti yang terjadi pada zaman kenabian Nabi Isa ; kesabaran ditempa dengan menahan diri dan bersikap pasif tidak bereaksi sedikitpun pada tekanan dan cobaan yang terjadi.

Periode Madinah sangat berbeda dengan periode Mekkah dimana Nabi dan umatnya sangat aktif dalam kegiatan dakwah, semua hal dilakukan secara publik, bahkan sering sangat progresif saat melakukan ekspedisi (ghazwul) untuk menaklukkan dan mempersatukan suku-suku Arab,

Setelah wafatnya Nabi, para penerusnya juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Nabi yaitu bersikap progresif dalam menumpas pemberontakan, dan juga melebarkan sayap ke timur dan barat, mereka sama sekali tidak bersikap pasif dan hanya duduk menunggu keajaiban dari langit.

Khalifah pertama yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq pada pidato pelantikannya menyuruh umat agar memberikan koreksi dan masukan jika ia melakukan kesalahan, demikian juga dengan ketiga khalifah lainnya (Khulafa Rausyidin) karena mereka tanpa harus mempelajari ilmu tata negara, mereka sudah paham bahwa negara yang berdiri ini bukan monarki namun berdasarkan demokrasi yang dimana suara masing-masing individu memiliki status yang sama.

dalam pemerintahan ini, terdapat susunan organisasi yang rapi, terutama Khalifah memiliki semacam dewan penasehat yang berasal dari sahabat paling senior yaitu “Ashara Mubashara”, bahkan saat khalifah wafat, salah satu anggota dewan ini yaitu Abdurrahman bin Auf melakukan semacam pengumpulan suara ke seluruh kota Madinah untuk menanyakan siapakah khalifah yang pantas untuk jadi pengganti.

Kemudian situasi berubah setelah wafatnya Khulafa Rausyidin terakhir yaitu Ali bin Abi Thalib, ketika penerusnya yaitu Muawiyyah bin Abu Sufyan menjadi Khalifah, seketika saja bentuk pemerintahan menjadi monarki, dimana perpindahan kekuasaan berdasarkan hubungan kerabat dan keluarga,

disini sikap para ulama mulai berubah, secara otomatis mereka kembali ke periode Mekkah dimana mereka menjauh dari istana dan tetap berfokus pada dakwah, sikap para ulama yang menjadi pasif ini ternyata bermanfaat untuk kelangsungan dakwah dan terutama dalam menjaga Quran dan Sunnah di muka bumi.

sikap pasif ini yang kemudian ditiru oleh dunia barat, saat mereka ingin maju maka mereka membuat fungsi gereja menjadi terpisahkan dari istana (yang kemudian menjadi paham sekuler) namun dalam Islam memiliki tujuan yang berbeda dengan barat ; pemisahan itu dilakukan dengan tujuan untuk menjaga agama dari pemerintah yang zalim.

puncak terpisahnya agama dari negara ini terjadi saat masa Khalifah Al-Makmun dimana ia berusaha mengubah Quran dengan ilmu filsafat yang dimodifikasi, dan satu-satunya imam yang berupaya mencegahnya adalah Imam Hambali, yang kemudian dikenal sebagai mendiri Mahzab Hambali.

sayangnya mahzab ini kemudian dimodifikasi menjadi suatu aliran yang mengaku memiliki ajaran paling murni yaitu Wahabi, pendirinya adalah Ibnu Wahab yang bersama Ibn Saud (pendiri dinasti Saudi) melakukan pemberontakan kepada kekhalifahan Turki Ottoman dengan menghancurkan kuburan imam Syiah dan melakukan pembantaian pada kaum syiah, menduduki kota Mekah dan Madinah, maka Turki sebagai pemegang otoritas pemerintahan tertinggi memerangi Ibn Saud hingga menjatuhkan hukuman mati atas perbuatannya itu.

Namun ajaran Wahabi masih disimpan oleh para penerus Ibnu Saud dan ketika agen rahasia dari Inggris, Hemper datang dan menyamar sebagai muslim, ia membangkitkan lagi aliran wahabi ini dan para agen penerusnya ; Lawrence of Arabia dan Getrude Bell membantu pemberontakan di jazirah Arab hingga dinasti Saudi terbentuk hingga saat ini.

Saudi Arabia dan aliran Wahabi-salafi adalah monarki terbesar muslim terbesar saat ini, dan tidak bisa dipungkiri bahwa ajarannya telah tersebar ke seluruh dunia, intinya ajaran ini membuat umat menjadi pasif dan tidak terlibat dalam politik sama sekali, pelarangan ilmu filsafat membuat umat jadi tidak bisa berpikir dan mudah diberikan ajaran doktrinisasi.

Apakah ajaran salafi ini sepenuhnya salah ?

kita tetap harus memiliki pemikiran positif, dengan adanya petromonarki Saudi ini maka sampai hari ini dua kota suci Mekkah dan Madinah jadi terjaga dari hiruk-pikuk dan gejolak di timur tengah.

namun disatu sisi hal ini membuat umat bisa dengan mudah dikendalikan dan masuk lagi ke dalam masa kolonialisasi, walaupun secara harfiah telah merdeka namun kedaulatan tidak sepenuhnya dimiliki, seperti kondisi saat ini.

jadi apakah yang lebih baik ? Islam Progresif atau Islam Ortodoks ?

Saya lama memikirkan hal ini, karena jika kita menjadi progresif pada saat yang tidak tepat juga tidak akan menguntungkan, bahkan menjadi terlalu progresif itu terlalu beresiko dan bisa dimanfaatkan oleh lawan kita……namun selalu menjadi pasif pun tidak bisa dibenarkan juga karena Tuhan tidak kan mengubah nasib kaum kecuali jika kaum itu mengubah nasibnya.

yang saat ini bisa saya pikirkan adalah bagaimana kita bisa mengetahui apakah tujuan kita menjadi progresif atau pasif itu untuk Allah dan Rasul-Nya, bukan untuk kita dan dunia ini.

karena jika kita menetapkan hati ini untuk kepada Tuhan saja, maka secara otomatis niat kita akan menjadi ikhlas, kalaupun kita memisahkan diri dari jamaah itu karena Allah, dan kalaupun kita bergabung dengan jamaah itupun karena untuk Allah semata.

saya percaya, mau dibuatkan teori yang ilmiah bagaimanapun akhirnya kembali lagi ke kondisi hati kita masing-masing, dan menyisakan pertanyaan dalam lubuk sanubari kita;

apakah yang kita lakukan di dunia ini bertujuan satu kepada Tuhan semata……

wallahualam bishowab

 

 

 

Advertisements

Bosnia, Emerald dari Balkan

setelah saya membaca artikel tulisan Asma Nadia tentang kunjungannya ke Bosnia, dan beliau bilang dia sudah traveling ke 60 negara dan sangat terkesan pada Bosnia, saya bersyukur bahwa saya tidak perlu membuang waktu saya traveling ke negara sebanyak itu sebelum ke Bosnia, dan Bosnia ini adalah rangkuman dari kunjungan saya ke negri Balkan itu.

saya sebenarnya orang yang anti-traveling, buat saya traveling itu hanya membuang-buang waktu saja, dan saya lebih suka tiduran dirumah sambil baca buku dengan kucing-kucing, jadi kalaupun saya bertraveling itu maka karena saya punya alasan yang sangat kuat untuk menyeret badan saya keluar dari rumah.

dan Bosnia adalah alasan terbaik untuk saya bertraveling, sebulan sebelum memasuki bulan puasa, kami diundang oleh kawan lama kami yang bekerja di kedutaan Indonesia di Bosnia untuk berkunjung ke Bosnia, setelah melakukan persiapan yang matang, kami berangkat bersepuluh orang ke negri Balkan itu. selain Bosnia sebenarnya ada beberapa negara Balkan lainnya yang juga kami kunjungi tapi Bosnia adalah tujuan utama kami

Pertama kami tiba di Ibukota Sarajevo, saya sangat terkesan pada airport yang kecil, sepi dan bersih, saya lihat di papan schedule flight ternyata dalam sehari cuma ada sekitar sepuluh penerbangan ke kota ini, jadi untuk saya hal ini sangat menyenangkan bisa menikmati airport yang sepi setelah sering tiba di airport yang sangat crowded.

Hari pertama kami langsung mengunjungi pusat kota Sarajevo ; Bascarsija, saya sangat terkesan pada suasana pusat kota yang memiliki ambience historik, terutama terdapat beberapa minaret bergaya arsitektur turki Ottoman, pengalaman di pusat kota Sarajevo sangat sulit dilupakan, apalagi kami bisa menikmati makanan halal fast food khas Bosnia ; Cepavi (sejenis roti kebab) dan dessert khas Bosnia yang tidak terlupakan yaitu Trilece, juga kopi Bosnia yang kental dan pahit.

DSC03318

Hari kedua kami berangkat ke daerah pegunungan dekat Sarajevo, ternyata disitu terdapat taman nasional yang menjadi sumber mata air untuk kota Sarajevo, saya sudah pernah mencoba minum dari tap water di negri eropa tapi tap water di Bosnia ini sungguh menyegarkan karena berasal dari sumber mata air yang paling jernih dan paling segar yang pernah saya rasakan.

DSC03522

kemudian kami mengunjungi kota Konjic, dimana terdapat jembatan yang dibangun pada masa kekhalifahan Ottoman, jembatan Konjic adalah cirikhas dari kota ini, sayang kami hanya mampir sebentar, mudah-mudahan saya bisa kembali dan meluangkan waktu lebih lama di kota ini.

Konjic

namun kota pusat pariwisata dari Bosnia adalah Mostar, karena kota ini bukan saja sangat luar biasa indah tidak terungkapkan oleh kata-kata, juga karena jembatan khas Ottoman yang melengkung tinggi : “Arch Bridge of Mostar” yang sangat terkenal ini, sulit membayangkan saat Perang Bosnia di tahun 90an menghancurkan jembatan ini sampai habis total, dan akhirnya negri ini bisa bangkit dan membangun kembali jembatan bersejarah itu sesuai dengan desain awalnya berdasarkan blue print aslinya.

Jika berkunjung ke Mostar, ada satu Mesjid di dekat jembatan Mostar itu yang minaret-nya bisa dinaiki, dan dari atas minaret itu kita bisa melihat seluruh pemandangan kota Mostar yang indah, namun menaiki minaret tidaklah mudah karena tangganya sangat banyak jadi harus menyiapkan stamina yang baik agar tidak letih sampai diatas minaret ini

Ada satu kota kecil yang memiliki sejarah mulai dari masa romawi yaitu Pociteli, dimana terdapat sisa-sisa benteng dan juga mesjid berarsitektur Ottoman yang masih berfungsi untuk kegiatan ibadah.

salah satu Kota yang unik adalah Blagaj, dimana terdapat sungai yang sangat jernih, ditempat itu sangat cocok untuk mencicipi ikan bakar sungai khas yang selain enak juga tulangnya ternyata bisa ditelan, selain itu kami juga mencicipi steak khas Bosnia yang ukurannya sangat besar dan memiliki tekstur yang mirip seperti daging wagyu.

Bosnia memiliki kota yang digunakan untuk liburan musim dingin yaitu Travnik, namun karena kami datang di saat musim semi jadi kami cukup menikmati pemandangan “negri di atas awan” yang benar di atas awan, pemandangan disekeliling sangat cocok untuk syuting film musikal seperti sound of music.

dan masih ada beberapa tempat yang sangat menarik lainnya, sisa waktu liburan kami habiskan mengunjungki negri balkan seperti Montenegro, Kroasia, Austria dan Hungaria, namun setelah meluangkan waktu di Bosnia, saya merasa menyesal tidak tetap tinggal di Bosnia saja, karena kota-kota lainnya tidak senyaman dan seindah Bosnia.

Travnik

ada beberapa hal kenapa HARUS traveling ke Bosnia :

  1. Bosnia itu indah, compare to other countries in europe, Bosnia is definetely the best ever…..like, seriously
  2. Bosnian people are the warmest and friendliest ever, bahkan kalau mereka tidak bisa bahasa inggris mereka akan tetap ajak kita ngobrol, juga di restoran mereka servis kita dengan sangat baik dan no tips.
  3. all price in Bosnia is the cheapest, bahkan jika dibandingkan dengan europen countries, ongkos di Bosnia itu bisa separuh lebih murah, apalagi di Bosnia bisa minum dari tap water, harga susu dan yogurt yang lebih murah daripada harga mineral water (serius!) juga pilihan makanan yang banyak, enak dan murah.
  4. untuk turis muslim pasti senang dan puas di Bosnia karena semua makanan disini Halal.
  5. Bosnia memiliki sejarah yang panjang, mulai dari masa kekhalifahan Turki Ottoman dan sampai masa peperangan dengan serbia di tahun 90an, jadi kemanapun kita pergi kita akan menemukan kisah sejarah ditiap sudut kota di Bosnia.

Sarajevo

ada beberapa poin yang harus diperhatikan juga jika ingin ke Bosnia :

  1. tidak ada direct filght ke Bosnia, jadi harus cari pesawat yang transit di Turki, Zurich atau kota lainnya yang ada flight ke Sarajevo.
  2. untuk ke Bosnia perlu visa Schengen, jadi memang harus mengurus visa sebelum bisa berkunjung ke Bosnia.

maka alhamdulillah, saya sangat bersyukur pada nikmat traveling ini, ternyata orang yang anti traveling seperti saya bisa menikmati liburan yang memiliki unsur edukasi dan hiburan juga, saya sangat berharap bisa kembali lagi ke Bosnia jika Allah mengizinkan insyaAllah

Mostar1

Tarbiyah

“The foundation of every state is the education of its youth.”  Diogenes of Sinope

Seperti kebanyakan orang di negri ini, saya terlahir sebagai Muhammadiyah, tapi sebagian besar masa dewasa saya banyak dipengaruhi oleh gerakan baru yang disebut “Tarbiyah”

Tarbiyah adalah gerakan baru pada era 80an yang terinspirasi dari “Ikhwanul Muslimin” dari Mesir, yang berfokus pada pendidikan umat, namun pada akhirnya gerakan ini ikut terjebak dalam arus politik.

Kali ini saya hanya ingin menjelaskan apa pengaruh gerakan ini menurut segi pandang saya pribadi, baik dari segi positif maupun negatifnya,

Segi Positif :

Pertama, Tarbiyah sangat mensupport wanita untuk banyak memberikan kontribusi, maka tidak heran pada masa ini ada beberapa tokoh wanita muslim yang muncul seperti penulis Helvi Tiana Rosa dan Asma Nadia

Wanita yang besar di era ini rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi, dan tidak jarang mereka banyak yang sekolah ke luar negri. Para akhwat masih bebas bepergian tanpa mahram jika niat untuk bepergian adalah untuk hal-hal yang baik.

Hal ini sangat bertolakbelakangan dengan gerakan yang “lebih konservatif” , dimana wanita dilarang keras untuk keluar rumah tanpa mahram – tanpa kompromi.

Kedua ; Interaksi antar wanita dan pria yang terbatas, seperti tidak boleh berjabat tangan, pemisahan ruangan antara pria dan wanita, pacaran dsb, menurut saya ini poin yang cukup masuk akal karena dengan dibatasinya interaksi antar wanita dan pria maka masing-masing pihak akan menjalin hubungan yang sehat tanpa harus terjebak dalam urusan yang sia-sia seperti pacaran.

Pacaran sendiripun adalah hal yang absurd, dan tidak dilakukan oleh generasi di masa lalu, dengan tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna ini, masa muda saya terselamatkan dan saya bisa lebih fokus untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Ketiga ; Tarbiyah tidak pernah secara eksplisit mendiktekan pada wanita seberapa panjang kerudung yang harus digunakan, mungkin karena pada masa itu untuk bisa memakai kerudung adalah hal yang cukup sulit, kebanyakan akhwat masih dilarang memakai jilbab oleh keluarga, sekolah atau tempat kerjanya, jadi kerudung yang dipakai beragam dan modelnya alakadarnya saja, bahkan saya pernah melihat beberapa akhwat datang ke pengajian belum memakai kerudung.

Keempat ; Tarbiyah tidak pernah secara tegas melarang musik dan lukisan, dalam beberapa kondisi, musik dan lukisan jika tidak bertentangan dengan agama masih diperbolehkan,

tidak seperti gerakan agama lain yang “lebih konservatif” yang sangat melarang kedua hal ini tanpa kompromi sedikitpun.

Maka jika kita lihat di sekolah-sekolah yang berbasis Tarbiyah seperti Sekolah Islam Terpadu masih terdapat ajaran musik dan melukis, ini sangat baik untuk memupuk bakat dan kreatifitas anak-anak.

Segi Negatif :

imbauan untuk cepat menikah, pada masa itu banyak kejadian pernikahan dini yang dilakukan oleh ikhwan dan akhwat yang secara mental dan finansial belum siap, menurut saya pernikahan dini ini seharusnya tidak di-encourage , dan sebaiknya para akhwat dan ikhwan dibekali dengan ilmu berumahtangga menurut ajaran Rasulullah SAW sebelum menikah.

Terlibat dalam politik, walaupun tidak semua aktifis Tarbiyah setuju ketika mereka maju ke arena politik, bagaimanapun keputusan untuk tampil ke politik ini adalah hal yang prematur dan sangat merugikan gerakan ini.

Hingga akhirnya kita lihat saat ini gerakan Tarbiyah seperti kehilangan ruh karena ditinggal oleh sebagian besar pengikutnya yang beralih ke gerakan yang “lebih konservatif” itu.

Pengaruh dari gerakan ini dalam kehidupan saya cukup banyak ; karena dari pengajian Tarbiyah saya mengetahui kewajiban memakai jilbab dan berkat hidayah-Nya pada masa sulit itu saya bisa mengenakan jilbab, saya mengambil kursus bimbel yang didirikan oleh pengikut gerakan ini (Nurul Fikri) dan pada waktu kuliah pun kampus saya adalah markas besar dari gerakan ini. bahkan lembaga-lembaga pendidikan yang terlibat dalam kehidupan saya adalah berasal dari gerakan ini.

Hari ini saya baru sadar betapa banyaknya manfaat dan hidayah yang saya dapatkan dari gerakan yang berfokus pada pendidikan ini,

walaupun sekarang ini gairah gerakan ini sudah meredup, para ulamanya sudah menua dan regenerasi hampir tidak ada, namun simpati dan hati saya tetap pada mereka – yang dulu sudah pernah mengorbankan waktu, harta, pemikiran, tenaga untuk kebaikan dan kemajuan pendidikan umat.

Semoga Allah SWT memberikan kita hidayah-Nya dan mengumpulkan kita di Maqam al-Mahmudah

 

 

 

 

 

 

 

Makkiyah, Madaniyah dan Ali bin Abi Thalib

Secara garis besar, sejarah penting dalam Islam terbagi menjadi tiga periode : Makkiyah, Madaniyah dan masa-masa fitnah di kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

kenapa saya menuliskan ini dan apa manfaatnya yang bisa kita ambil dari tiga periode ini, adalah tidak lain karena kita hidup pada masa-masa penuh fitnah, adu domba, perpecahan, dsb.

maka dengan mempelajari tiga periode ini mudah-mudahan kita bisa mendapat hikmahnya,

Periode Makkiyah

pada masa ini umat Islam mendapatkan cobaan dari kaum kafir (non muslim) yang dimana mereka secara terang-terangan menyerang secara verbal dan fisik, dan apa yang diperintahkan oleh Allah kepada Rasulullah dan umat Islam adalah sama seperti yang dilakukan Nabi Isa Al-Masih di Jerusalem, mereka sama sekali tidak memberikan perlawanan, bahkan membalas celaan dan makian pun tidak diperbolehkan.

“If anyone slaps you on the right cheek, turn to them the other cheek also”

di surat al-Mukminun ayat 96 – 97 dijelaskan bahwa kita harus menahan diri dari membalas perbuatan buruk itu, jangan merendahkan diri kita dengan cacian dan makian, dan jika kita tergoda oleh setan untuk melakukan hal itu maka kita harus berdoa “ya Tuhan, aku berlindung dari bisikan-bisikan setan”

Apakah sulit untuk menahan diri ? apakah kita tidak sakit hati dan bersedih dengan penghinaan itu ?

tentu saja, bahkan di awal surat Al-Kahfi dijelaskan bahwa Rasulullah sendiri merasa sangat sedih bahkan kesedihannya itu setara dengan depresi seorang yang hendak bunuh diri (tentunya bukan berarti Rasulullah akan melakukan hal itu) juga di surat al-Hijr yang menjelaskan bahwa Allah sungguh-sungguh mengetahui kesakitan yang kita rasakan akibat ucapan kaum kafir itu.

dan apa yang diperintahkan Allah kepada kita ?

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadikan kamu diantara orang-orang yang bersujud”

Karena dengan mendekatkan diri kepada Tuhan maka semua kesakitan yang kita rasakan itu bisa tergantikan oleh perasaan tenang yang disebut “Sakinah”

Periode Madaniyah

biang keladi pada masa ini adalah kaum munafik, dan puncak masalah yang mereka berhasil buat adalah tuduhan keji kepada Aisyah, istri Rasulullah, dan karena kaum munafik ini secara kontinu memanasi isu ini maka akhirnya kaum muslim pun ikutan terbawa fitnah ini,

Abu Ayyub al-Anshori ketika dihampiri oleh istrinya dan istrinya berkata ; “Apakah kau sudah mendengar berita tentang Aisyah yang sedang ramai dibicarakan oleh semua orang ?”

Abu Ayyub langsung bertanya “Apakah kau merasa bahwa kau lebih baik daripada Aisyah ?” tidak jawab istrinya

“Maka jangan kamu sebarkan berita itu lagi !” kata Abu Ayyub.

Gosip, ghibah, namimah adalah perbuatan sangat tercela dan tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim,

Kita harus menjaga diri agar tidak melakukan hal ini, dan jika ada muslim berbuat seperti itu harus kita nasihati dengan baik, namun jika kita tidak bisa melakukan itu maka sebaiknya kita menghindar dan jangan ikutan mendengar berita-berita tercela seperti itu.

“dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.”

Periode Ali bin Abi Thalib

ini menurut saya adalah masa-masa yang paling sulit dalam sejarah, karena pada masa-masa ini umat Islam di adu domba dengan yang lainnya, semua makar dan propaganda dilakukan untuk memecahbelah umat, hubungan pertemanan dan kekeluargaan menjadi pecah, silaturahmi terhenti akibat cobaan yang berat ini.

Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil).’ (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

pada masa ini hampir mustahil bagi muslim untuk menghindarinya, jadi sebisa mungkin kita menjauh dari semua akses fitnah tersebut, beberapa sahabat bisa melakukan hal itu seperti Ibnu Abbas, namun sebagian besar sahabat lainnya terjebak dalam situasi yang lose-lose itu.

Bahkan dua kubu yang punya satu tujuan pun bisa berperang, seperti pada peperangan Jamal (Perang Unta) dimana kubu Ali bin Abi Thalib bertemu dengan kubu Aisyah dengan tujuan hendak berunding mengenai insiden pembunuhan Ustman bin Affan, namun akibat ulah para provokator seketika saja kaum muslim terjebak dalam situasi peperangan.

demikianlah tiga periode penuh cobaan ini, tujuan saya menuliskan ini sebenarnya untuk catatan pribadi agar saya sendiri pun bisa sabar dalam menghadapi bermacam-macam situasi yang terjadi belakangan ini,

semoga kita semua bisa terhindar dari semua fitnah ini, aamiin

 

 

 

 

 

 

Printing Press, Ibrahim Muteferrika dan kejatuhan Islam

Dulu saya selalu beranggapan bahwa awal kejatuhan Islam adalah pada masa setelah Perang Dunia pertama,

ternyata masa kegelapan itu mulai dari jauh sebelumnya yaitu pada masa kekhalifahan Turki Ustmaniyah di abad ke 15

Sebelumnya, Islam selalu menjadi pioner dalam kemajuan teknologi, dari masa para sahabat dan tabi’in hingga beberapa generasi berikutnya mereka selalu cepat dalam menyerap ilmu duniawi, hingga Islam pada beberapa abad itu menjadi puncak kemajuan ilmu dan budaya.

Nah, apa hubungannya Printing Press dengan kejatuhan Islam ?

sebelum itu, kita lihat dulu bagaimana Islam pada masa pra-kertas, semua tulisan ditulis pada daun kurma, tulang unta, kulit binatang ,dsb. kemudian akhirnya mereka menemukan teknologi pembuatan kertas dari cina, hingga khalifah Al-Makmun dari dinasti Abbasiyah memutuskan untuk menggunakan kertas untuk segala keperluan adminitrasi negara dan semua aktifitas keilmuan, hal yang saat itu belum dilakukan oleh cina, karena mereka hanya menggunakan kertas untuk hasil karya seni.

hingga tidak berlebihan jika kita berpendapat bahwa buku adalah penemuan Islam, karena setelah mereka menulis banyak kertas dan mengumpulkannya, dan menjilid menjadi buku yang lengkap dengan sampulnya.

maju tiga abad setelah itu, ketika Gutenberg menemukan Printing Press, sikap Islam berbeda dengan generasi sebelumnya ; mereka menutupdiri dari teknologi itu, bahkan khalifah Bayezid II membuat fatwa bahwa Printing Press hukumnya haram dan pemakaianya adalah kafir dan pantas mendapatkan hukuman mati !

apa yang terjadi berikut adalah mulainya kemajuan renaissance yang dipicu dari penyebaran printing press di seluruh eropa, hingga pada saat Colombus melakukan ekspedisi ke amerika, mereka juga membawa mesin printing press yang kemudian percetakannya diletakkan di kota meksiko.

Kita pasti bertanya ; kenapa Islam sebegitunya menutup diri dengan kemajuan teknologi ?

Jawabannya seperti biasa adalah ; karena pada ulama yang disekitar khalifah saat itu tidak menginginkan ilmu menyebar keseluruh masyarakat, mereka ingin agar ilmu tetap menjadi eksklusif hanya untuk segelintiran kalangan saja, dengan monopoli ilmu maka orang yang ingin belajar harus datang sendiri kepada mereka untuk menimba ilmu.

Akhirnya salah satu ulama berkebangsaan hungaria yaitu Ibrahim Muteferrika mengajukan petisi kepada khalifah untuk memperbolehkan penggunaan printing press, akhirnya khalifah menyetujui dengan sejumlah daftar larangan kitab-kitab yang tidak boleh dicetak dengan printing press.

namun usaha Ibrahim Muteferrika ini terlambat, karena pada saat itu eropa telah dapat mendahului Islam dari segi ilmu dan teknologi, berkat Printing Press.

Sementara itu, pada saat invasi Napoleon Bonaparte ke Mesir, walaupun Napoleon kalah dalam perang tersebut, dan mengakhiri periode dinasti Mamluk (yang dulu mereka pernah menang dari invasi mongol ) ternyata memberikan angin segar bagi Islam : munculnya percetakan Islam pertama “Bulaq” , berkat jasa Napoleon yang membawa mesin printing press ke mesir.

Bagaimanapun usaha Islam mengejar ketinggalannya dengan dunia barat, mereka telah tertinggal hingga akhirnya Islam benar-benar terkalahkan setelah perang dunia pertama yang akhirnya mengakibatkan berakhirnya kekhalifahan terakhir yang pernah ada di dunia ini.

Sekarang pertanyaannya adalah ;

Apakah kita akan bersikap seperti khalifah Bayezid II dan para ulama saat itu yang bertahan dengan sikap mereka yang memperlakukan ilmu sebagai hal yang eksklusif hanya untuk kalangan tertentu saja ?

Atau kita seperti Ibrahim Muteferrika, si ilmuan hungarian yang dulunya penganut agama nasrani yang menjadi muslim dan berusaha agar ilmu menjadi maju dan tersebar keseluruh lapisan masyarakat

Uprising_in_Cairo

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber :

https://en.wikipedia.org/wiki/Global_spread_of_the_printing_press

https://en.wikipedia.org/wiki/Printing_press

https://en.wikipedia.org/wiki/Johannes_Gutenberg

https://en.wikipedia.org/wiki/Ibrahim_Muteferrika

https://en.wikipedia.org/wiki/French_campaign_in_Egypt_and_Syria#The_printing_press

 

Kaum Madani, Anshor, Muhajirin dan Piagam Madinah

“Tanda keimanan adalah cinta kepada kaum Anshor. Dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshor”. (HR. Al-Bukhari)

beberapa tahun yang lalu istilah “Masyarakat Madani” dipromokan oleh seorang cendikiawan untuk menunjukkan bahwa masyarakat yang maju adalah masyarakat yang beradab, menghargai kemajemukan dalam unsur-unsur kehidupannya.

sebetulnya apa arti konsep Madani ini ?

Awalnya konsep masyarakat madani ini dimulai pada era pasca hijrah kaum Muhajirin dari Mekkah ke Madinah, untuk menghindari tekanan dari kaum kafir terhadap umat Islam saat itu, momen ini adalah momen penting dalam sejarah Islam karena pada saat itulah kaum muslim baru dapat merasakan kehidupan beragama yang lebih bebas.

Kita semua mendambakan kehidupan damai dalam kemajemukan itu, namun apa kita semua memahami apa yang menyebabkan terciptanya kaum Madani dan kaum apa yang paling memberikan kontribusi terciptanya kondisi tersebut ?

Kota Yastrib, yaitu nama asli dari Madinah al-Mukarromah, terdiri dari berbagai suku-suku, yaitu suku Arab dan suku Yahudi, pada masa pra-Hijrah, terjadi perang saudara (civil war) antara suku-suku di kota ini yang mengakibatkan terbunuhnya banyak tokoh-tokoh besar dari suku-suku tersebut, hingga akhirnya pada saat musim haji sebagian dari perwakilan suku-suku di Yastrib itu bertemu dengan Rasulullah dan mereka dengan mudahnya menerima ajaran monoteisme Islam.

ada beberapa poin yang menyebabkan suku-suku arab Yastrib dapat menerima hidayah dengan mudah :

  • mereka sudah mengetahui konsep ketuhanan monoteisme dari suku-suku Yahudi di Yastrib, namun mereka tidak dapat menjadi penganut agama yahudi, karena mereka bukan keturunan yahudi.
  • perang saudara yang sangat lama dan telah membunuh banyak tokoh-tokoh penting dari Yastrib membuat generasi muda dari Yastrib sudah muak dengan perpecahan dan mendambakan kesatuan dalam suatu konsep kepemimpinan yang lebih baik

dan oleh karena itu mereka tidak ragu lagi menawarkan kepada kaum muslim di Mekkah untuk pindah ke Yastrib, terutama karena mereka tidak tahan melihat perlakukan kasar kaum kafir Mekkah kepada Muhammad SAW dan pengikutnya.

setelah Hijrah, kaum muslim dari Mekkah yang disebut Muhajirin, tercengang-cengang dengan kebaikan dan kedermawanan kaum Anshor kepada mereka, bukan saja mereka terbuka menerima “pengungsian” tersebut, bahkan mereka menawarkan sebagian harta mereka kepada kaum muslim !

perlu dipahami bahwa kaum Anshor bukanlah kaum yang kaya, sebagian besar dari mereka hidup dalam kemiskinan, terutama karena mereka hidup dari pertanian, bukan seperti kaum Muhajirin yang sebagian besar adalah pedagang.

walaupun kaum Anshor belum lama memeluk agama Islam namun mereka sudah memahami arti konsep persaudaraan Islam yang sebenarnya yang seperti konsep ideoligi sosialisme : apa yang mereka miliki adalah miliki sahabatnya juga

“Kebaikan” kaum Anshor ini disampaikan kepada Rasulullah, dengan kekhawatiran apakah nantinya amalan kaum Muhajirin akan dikurangi oleh Allah SWT akibat keikhlasan kaum Anshor, maka Nabi SAW menjawab tentu saja tidak, asalkan kaum Muhajirin mendoakan kaum Anshor agar mendapatkan keberkahan dan keridhoan dari Allah SWT.

“Tentang (nama) Anshar, apakah kalian menamakan diri kalian dengannya atau Allahlah yang menamakan kalian dengannya?”. Anas menjawab, “Bahkan Allahlah yang menamakan kami dengan sebutan Anshar”. (Shahih al-Bukhari no.3776).

Dalam suasana kehidupan masyarakat yang kondusif inilah lahir “Piagam Madinah” yang mewujudkan konsep “Civil Society” yang ideal, bahkan tidak pernah dalam sejarah sebelumnya dibuat konsep konstitusional yang demikian sempurnanya, hingga akhirnya Piagam Madinah ini menjadi rujukan dalam konsep-konsep konstitusional negara-negara adidaya zaman modern yang menyerupai landasan negara federasi.

kembali lagi ke kaum Anshor dan Muhajirin, sejalan dengan perkembangan Islam terutama dimasa-masa kepemimpinan Rasulullah di Madinah, selalu ada kekhawatiran bahwa Muhammad dan pengikutnya hanya memanfaatkan kaum Anshor untuk mencapai tujuan mereka yaitu kembali menguasai kota Mekkah,

Di Jazirah Arab, sebelumnya tidak dikenal konsep kesatuan berdasarkan keagamaan, selama ini mereka mengenal konsep kesatuan berdasarkan kesukuan atau keturunan, jadi tentunya kesatuan antara Anshor dan Muhajirin ini adalah hal yang aneh bagi kaum arab. dan menimbulkan keraguan bahwa kesatuan ini tidak akan lama.

namun keraguan ini ditepis sendiri oleh Muhammad SAW, terutama setelah penaklukan kota Mekkah, ternyata Nabi SAW tidak menetap di kota suci tersebut, hal ini tentunya sangat membuat gembira kaum Anshor bahwa Nabi tercinta tetap akan kembali ke kotanya,

bahkan saat membagi harta rampasan perang Hunayin yang sangat banyak, Nabi SAW memberikan bagian yang lebih banyak kepada kaum lain, bukan Anshor, saat kaum Anshor memprotes hal ini, Nabi SAW berkata apakah mereka tidak senang bahwa orang lain pulang dengan harta dan sedangkan kaum Anshor pulang dengan Nabinya ?

kemudian kaum Anshor menangis dan berkata ya tentu saja mereka lebih suka pulang dengan membawa Nabinya.

Kita sering mendambakan kehidupan kemajemukan yang ideal dengan pemimpin yang ideal, namun apakah kita sudah menjadi rakyat yang ideal seperti kaum Anshor yang mendapatkan Nabi sebagai pemimpinnya ?

“Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya”

kaum Anshor adalah kaum Madani yang paling ideal yang pernah ada di dunia ini,

mereka pulang mendapatkan kotanya menjadi kota suci kedua setelah Mekkah dan mendapatkan Nabinya yang mereka cintai bersemayam di kotanya…..selamanya

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (At-Taubah 100)

 

 

 

 

Abraham Lincoln, President terbaik yang pernah ada

“Don’t complain about the snow on your neighbor’s roof, when your own doorstep is unclean.” – Confucius

dari sekian banyak President Amerika, hanya Abraham Lincoln yang paling banyak dituliskan biografinya, bahkan sampai saat ini para politikus masih merujuk pada kebijakannya, bahkan saat Roosevelt setiap dirudung masalah pelik senantiasa ia memandang lukisan Lincoln dan berkata : “What would Lincoln do if he were in my shoes? How would he solve this problem?”. Memang Lincoln bukan sosok yang sempurna, namun tentunya ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari tokoh ini.

Pada saat Lincoln wafat, sahabatnya seorang senator berkata : “There lies the most perfect ruler of men that the world has ever seen.”

Bagaimana Lincoln bisa menjadi the most perfect ruler ever ? apa rahasianya ?

Pada masa mudanya, Lincoln adalah seorang pengacara yang jenius, salah satu hobinya adalah menulis tentang hal yang berhubungan dengan politik, dan pada saat itu satu-satunya media adalah surat kabar, dan sering Lincoln menulis opininya tentang politik dengan menggunakan nama samaran (seperti yang kita lakukan sekarang dengan menggunakan akun anonymous di sosial media)

Namun salah satu artikelnya menuai dampak yang buruk

Lincoln menulis artikel tentang kritikannya pada salah seorang politikus dengan menggunakan bahasa yang memperolok-olok si politikus itu, seluruh warga menertawakan politikus itu setelah artikel tersebut menjadi hits. tentunya politikus itu sangat marah dan akhirnya menemukan fakta bahwa Lincoln yang menulis artikel hinaan tersebut, hingga akhirnya dia menantang Lincoln untuk duel satu lawan satu (suatu hal yang biasa terjadi pada saat itu untuk menyelesaikan permasalahan)

Pada hari yang sudah ditetapkan, Lincoln datang ke tempat duel dengan politikus itu, hampir saja mereka mulai duel maut itu jika keluarga mereka tidak menghentikannya,

dan mulai hari itu Lincoln bersumpah bahwa ia tidak akan pernah lagi menghina, mengkritik atau menghakimi siapapun

“Judge not, that Ye be not judged.”

“Don’t criticize them; they are just what we would be under similar circumstances.”

Battle of Gettysburg, salah satu perang American Civil War, Jendral Meade yang memimpin perang itu melakukan hal yang tidak diperintahkan oleh Lincoln, bahkan ia mengabaikan perintah Lincoln. dalam amarahnya, Lincoln berkata kepada bawahannya : ” If I had gone up there, I could have whipped him by myself !!”

Lincoln menulis sebuah surat yang berisikan tentang kegusaran dan kekecewannya kepada Jendral Meade, dan apakah yang terjadi ? Meade tidak pernah melihat surat itu…..

Lincoln tidak pernah mengirimkan surat itu, dan surat itu ditemukan dalam mejanya setelah ia wafat.

dalam kehidupannya, cobaan terberat Lincoln adalah dari perkawinannya sendiri,

sahabatnya berkata setelah Lincoln wafat, bahwa yang membunuh Lincoln bukanlah penembak itu, namun perkawinannya yang telah mematikannya selama puluhan tahun.

Lincoln menikah dengan dengan seorang wanita yang tidak pernah berhenti mengkritik dan mencelanya, seorang wanita yang memiliki karakter yang berbeda dengan Lincoln ; jika Lincoln tidak pernah menkritik apapun maka istrinya selalu mengkritik semuanya, termasuk suaminya sendiri.

pernah pada suatu hari Lincoln disirami mukanya oleh air teh panas oleh istrinya dihadapan tamunya akibat hal yang sepele…..dan apa reaksi Lincoln ? ia diam saja dan tidak berkata apapun atas penghinaan itu

“the bitter harvest of Conjugal Infelicity”

suara amarah lengkingan istrinya dapat terdengar dari kejauhan, siapapun yang telah mengenal Lincoln dan istrinya pastinya tahu bagaimana buruknya perangai istrinya itu.

jadi mengapa Lincoln tidak membalas perilaku istrinya itu ? atau mengapa dia tidak meninggalkan istrinya itu saja ?

Banyak orang yang beranggapan bahwa lelaki yang tidak membalas perangai buruk istrinya itu adalah lelaki yang pengecut, lelaki yang takut pada istrinya, namun sebenarnya justru lelaki seperti Lincoln ini adalah lelaki yang tangguh dan sabar dalam menghadapi istrinya,

mereka inilah Real Gentlement yang sebenarnya

kita tidak tahu apa alasan Lincoln tetap bertahan dalam pernikahannya itu, mungkin dia melihat kebaikan lain dalam istrinya atau mungkin dia bertahan demi anak2nya, kita tidak tahu….

Hal ini mengingatkan saya pada satu kisah dari seorang Khalifah (kalau tidak salah dia adalah Umar bin Khattab) yang pernah kedapatan sedang diomeli oleh istrinya, mengapa dia tidak menceraikan istrinya itu ? padahal ia adalah seorang pemimpin besar, namun beliau menjawab bahwa istrinya itu telah memberikan banyak hal bagi kehidupan rumah tangganya.

Maka dapat saya simpulkan bahwa rahasia Abraham Lincoln dalam membina hubungan dengan semua orang adalah :

tidak pernah mengkritik, tidak pernah mencela, tidak pernah menghakimi dan selalu melihat segi positif pada setiap orang, dimanapun dan kapanpun

“I will speak ill of no man…….and speak all the good I know of everybody.” – Benjamin Franklin