Bagaimana anak-anak anda mempengaruhi kualitas hidup orang tuanya

Menjadi orang tua adalah merupakan salah satu hal yang paling mengubah hidup siapa saja.

Saya beruntung memiliki kedua orang tua yang menyayangi anak-anaknya, dan senantiasa berusaha meluangkan waktu untuk bermain bersama kami disela-sela kesibukan mereka.  Dan kini setelah saya menjadi orang tua atas kedua anak saya, saya baru memahami bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.  intinya, menjadi orang tua adalah proses pembelajaran tanpa henti, dan dibawah alam sadar kita, pola asuh dari orang tua kita akan menentukan bagaimana kita berinteraksi dengan anak-anak kita kelak.

Jadi seberapa besar pengaruh keberadaan anak-anak dalam kehidupan seseorang ?

  • Rutinitas anda akan lebih terkontrol.  Percaya atau tidak, kehadiran anak-anak justru akan membuat kita lebih mengontrol rutinitas kita sehari-hari, walaupun kita sendiri telah memiliki rutinitas, namun kita sebagai orang tua akan berusaha untuk menyesuaikan dengan pola rutinitas anak kita, misalnya karena rutinitas tidur anak-anak yang cepat, sekitar jam 8 atau jam 9 malam, tentu saja kita akan berusaha untuk telah hadir disamping mereka untuk menemani mereka tidur, jadi mungkin dulunya kita terbiasa tidur larut malam karena lembur, maka dengan kehadiran anak-anak, kita akan membatasi diri, dengan mengikuti pola tidur mereka yang cepat dan juga bangun lebih awal di pagi hari dan tentunya kebiasaan ini akan memberikan dampak yang baik bagi kesehatan kita.
  • Mempelajari banyak hal yang baru, banyak yang tidak menyadari bahwa menjadi orang tua kita akan mempelajari berbagaimacam hal yang dulunya tidak pernah kita ketahui, mulai dari cara mengurus anak, memilih dokter dan rumah sakit yang memadai saat anak sedang sakit, melakukan berbagaimacam aktifitas dengan anak-anak, menjadi guru pertama bagi anak-anak, memilih sekolah yang tepat bagi anak-anak, dan sebagainya.  Semua hal tersebut tidak akan kita peroleh jika kita tidak menjadi orang tua. Demi untuk kepentingan anak-anak, kita mempelajari hal-hal tersebut, sumbernya bisa beragam, mulai dari majalah, internet, forum parenting dan sebagainya.  Bagi saya, sering kali informasi dari antar orang tua sangat bisa dihandalkan, jadi sangat penting bagi orang tua untuk berada dalam komunitas antar sesama orang tua.
  • Mengulang kembali masa kecil anda, adakalanya setelah kehadiran anak-anak, anda terbersit untuk mengulang kembali momen-momen saat anda masih kecil dulu, mungkin dulu anda sering bertamasya bersama keluarga, atau pergi memancing bersama ayah anda, atau bisa saja dulu anda sering diajak memasak bersama ibu anda.  Semua kegiatan yang sedernaha namun berkesan dalam memori anda akan muncul kembali saat anak-anak telah hadir dalam kehidupan anda, dan tentunya anda akan mengulang kembali momen-momen yang indah tersebut bersama anak-anak yang anda sayangi.  Kegiatan yang bermanfaat bagi keharmonisan keluarga anda ini bukan saja bermanfaat bagi anak-anak, namun juga bagi kita sebagai orang tua yang akan membuat kita lebih dekat dengan mereka.
  • Lebih memikirkan masa depan, mungkin dulunya anda adalah seorang petualang, yang suka seenaknya melakukan apa saja yang anda inginkan tanpa peduli akan akibatnya bagi kehidupan anda, namun dengan kehadiran anak-anak dalam kehidupan anda, anda akan berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu yang beresiko tinggi, karena tentu saja masa depan anak-anak anda bergantung pada anda, jika anda tiba-tiba jatuh sakit atau kehilangan pekerjaan anda, maka tentu saja masa depan anak anda akan berubah juga.  Oleh karena itu banyak orang tua yang menjadi lebih giat bekerja, menggunakan jasa asuransi atau berinvestasi untuk masa depannya setelah memiliki anak-anak.  Kehadiran anak-anak dalam hidup anda akan membuat anda lebih bertanggungjawab atas kestabilan masa depan anda.
Tanpa bermaksud untuk mengesampingkan siapa pun yang saat ini belum memiliki anak, tujuan saya menuliskan artikel ini adalah untuk melihat pengaruh anak-anak dalam kehidupan kita sebagai orang tuanya, dan sebetulnya masih banyak lagi hal-hal positif yang terdapat dalam kehidupan kita sebagai orang tua, dan saya percaya bahwa hal tersebut akan dapat kita rasakan apabila tujuan kita untuk menjadi orang tua yang baik adalah demi untuk kebaikan anak-anak kita.
Advertisements

The hand that rocks the cradle……

being a parent will take you to the world that you would never imagine before, as if everyday is the brand new day, you’ll experience different things…. and before you realize that you’re suffocate between the daily routine and some unexpected incidents.

So let me put it this way ; marriage is hard, but parenting is harder, and being a mother is the hardest job ever, I presumed every mother is agree with me, although I would not intended to minimize the role of fatherhood, but once you’ve become a mother then you have to be ready for 24/7. And I’m sure our parents never told us how difficult it is.

So if it’s so difficult, then why everyone still wants to get marriage ? why have children then ?

When I went to malls, then as usual I saw many happy couples with their kids spending their time together, seeing them playing with their kids and sometimes chatting with their spouse, I knew that the main reason people get marriage and have kids is to share and enjoy their moment together, because we as human being, always need somebody else beside us.

I never knew I would be a mother like this, I always thought a kind of girl like me would end up being single for the rest of my life (ouch !) , but my destiny had turned me into an ordinary mother, just like the one that you usually see at the flea market, or a fussy lady that you’ll meet at the school’s canteen, having her daily gossips with other mommies ( yeah right ! )

At first, I was so afraid that I would never become a good mother, but as time went by, I understood that being a mother is about learning something new from your offspring everyday, and motherhood is a not-stop-learning activity that until these days I still struggle to keep up with it.

So are we talking about motherhood ? how about fatherhood ? can men be good parent too like women do ?

I met with some cool dads that really enjoy being around their children, and I was amazed that somehow they feel the same way like women towards their children, they have that “nurturing feeling”, and they do really care and love their children very much.

Then I assumed that motherhood is not meant to be for mothers only, but also for those cool dads.

Then how do we recognize those people who has that “nurturing feeling” ?

It’s so easy, just ask them a question about their children, and if that person has “nurturing feeling” then you won’t be surprised if he or she answers that question happily and probably you couldn’t stop he/she tells you story about how great their kids are.

Is a person born to be great parent ? what if we knew that we could never be a good parent for our kids ?

What I believe, perhaps some people was born to be a “Children-magnet” just like Kak Seto or Bu Kasur, but if we really struggle hard and want to learn to become a good parents, then I’m sure we all could be a great parents for our offspring. it’s true that whenever there’s a will, there’s a way.

The hand that rocks the cradle is the hand that rules the world……

everyone could be a great parents, you could be the one too….if you’re willing to

Pesan Moral dari Junior Master Chef

Setelah memasang tv kabel, kami lebih memiliki banyak pilihan tontonan dibandingkan dulu saat hanya punya pilihan tv lokal, biasanya setelah makan malam saya tidak memperbolehkan anak2 menonton tv, namun sekarang waktu setelah makan malam bisa menjadi acara menonton bersama keluarga yang menyenangkan, maka channel favorit pilihan kami adalah natgeo, discovery, dan sesekali starworld.

Acara reality show Junior master chef mulai dari tayangan perdananya telah menjadi acara favorit kami, bukan saja karena kami terkagum-kagum dengan kepiawaian para peserta yang masih belia namun sudah mahir memasak ala chef, juga karena harus saya akui bahwa saya sendiri belum tentu bisa seperti itu.

Banyak moral yang bisa saya petik dari acara reality show itu, pertama di barat sana, anak kecil sudah diajarkan mandiri, juga dalam hal memasak, jika mereka diusia dini sudah diajari keterampilan memasak, maka secara otomatis mereka sudah siap untuk mengurusi dirinya sendiri dan belajar tidak bergantung kepada orang lain, terutama dalam urusan makanan sehari-hari. sementara di sini anak-anak sangat bergantung kepada orang tuanya atau pembantu dalam hal makanan, dan jika suatu saat mereka harus mandiri atau keluar dari rumah, tentunya mereka akan mengalami syok karena tiba-tiba saja mereka harus mengurusi dirinya sendiri.

Ada beberapa episode dimana tiap peserta dibagi menjadi dua tim, dan disini kita bisa melihat bagaimana mereka bekerjasama dalam suatu tim yang kompak, dan satu hal yang membuat saya sangat salut, adalah sportifitas antara tiap peserta, jika ada tim atau peserta yang kalah tidak diejek atau dicaci maki oleh tim yang menang, malah justru mereka saling berpelukan dan saling memuji satu sama lainnya. diusia yang sangat dini itu mereka sudah belajar bahwa menang atau kalah bukanlah tujuan, poin yang terpenting adalah mereka melakukan yang terbaik, dan saling menghargai satu sama lainnya.

Saya teringat akan pesan dari salah satu teman senior dalam suatu ajang kompetisi, inti dari pesannya adalah menjadi pemenang bukanlah tujuan akhir, baik pemenang maupun yang kalah harus tetap terus berjuang bahkan setelah ajang kompetisi berakhir, dan sesungguhnya sang pemenang pun juga harus menghargai yang kalah, karena sang pemenang bisa meraih prestasinya berkat keberadaan peserta yang kalah itu. Jadi para peserta yang kalah adalah sosok yang me-reshaping sang pemenang tersebut, hingga tidak berlebihan jika sang pemenang harus memberi penghormatannya atas usaha peserta yang kalah itu.

Dulu anak sulung saya sangat takut dengan hal-hal yang berbau kompetisi atau lomba, hingga ia tidak mau mengikuti beberapa perlombaan yang sebetulnya ia memiliki kemampuan dan bakat di bidang tersebut, namun belakangan ini ia malah lebih antusias mengikuti ajang perlombaan, tentu saja saya senang dengan perkembangannya ini, saya pun juga paham bahwa hal yang mengubah pandangannya terhadap kompetisi adalah karena kini ia memandang kompetisi bukan sebagai ajang perbandingan dengan anak-anak yang lain, namun sebagai ajang untuk mengasah kemampuan dan tekad untuk berprestasi.

The most excellent jihad (battle) is that for the Conquest of self ~ Prophet Muhammad

Andai saja hal tersebut dapat kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di lingkungan sekitar kita maupun dalam lingkungan kerja, tentunya pada akhirnya kita akan bisa saling membantu dan maju bersama, kompetisi itu adalah suatu hal yang normal, karena tujuan kita adalah untuk berusaha untuk memberikan yang terbaik,

a lesson from Nanny

Sore ini saya menonton acara reality show “Super Nanny”, biasanya saya tidak terlalu antusias dengan acara ini karena topiknya sudah usang bagi saya.

Namun kali ini keluarga yang menjadi bintang tamu adalah pasangan yang baru saja bercerai dengan kedua anak berumur dibawah 5 tahun, hmmm…. interesting.

Ada beberapa hal yang dapat saya pelajari dari acara ini, pertama saat orang tua baru pisah, jelaskan realitanya kepada anak anda sejelas-jelasnya, jangan menggunakan kata kiasan, katakan saja secara gamblang ; “Papa dan mama sudah tidak bisa bersama-sama lagi, namun kami tetap mencintaimu dan akan selalu bersamamu.”

Kedua, pasangan yang pindah dari rumah yang lama harus membuat rumah barunya menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk anak-anaknya, bukan hanya untuk dia saja, perlu diingat bahwa anak-anaknya pun akan meluangkan waktu bersamanya, hingga penting baginya untuk menyediakan ruangan khusus untuk anak-anaknya. wah, kalau untuk ruangan khusus bagi anak saya sampai saat ini saya belum bisa memberikannya, namun ini adalah masukan yang baik, saya akan berusaha membuat kamar tidur saya menjadi ruangan yang nyaman juga bagi kedua anak saya.

Ketiga, pembagian jadwal pengasuhan anak harus berdasarkan pada rutinitas anak-anak, berdasarkan dari patokan ini maka kedua orang tua menyusun rencana pembagian jadwal pengasuhan yang disesuaikan dengan rutinitas anak-anaknya.

Keempat, menciptakan komunikasi yang harmonis dengan mantan, dengan tujuan hanya untuk kebaikan anak-anak saja, ini adalah hal yang terpenting, karena anda tidak akan pernah bisa bersama mengasuh anak-anak tanpa adanya komunikasi yang baik dengan mantan.  Jika mantan mulai aneh-aneh, ingatkan dia bahwa inti dari semua yang anda lakukan adalah untuk kebaikan anak-anak, dan tetap berusaha mengerti dan memahami posisi si mantan, bisa saja dia sebetulnya kewalahan mengasuh anak-anak namun egonya membuat ia ingin menunjukkan bahwa dia pun adalah orang tua yang baik, ini wajar saja asalkan dia tetap melakukannya untuk kebaikan anak-anak.

Pada akhir acara itu, keluarga tesebut terlihat harmonis walaupun kedua orang tuanya sudah tidak bersama-sama lagi, kedua anaknya tampak bahagia dan nyaman diantara kedua orang tuanya, dan mereka telah dapat bersama-sama melalui badai cobaan dari perceraian.  Menurut saya ini sangat indah, karena hal ini sedikitnya dapat membuktikan bahwa anak-anak pun dapat merasakan kehangatan kasih sayang orang tuanya yang telah bercerai.

Homeschooling ~ sebuah proyek yang gagal

Sekitar tahun 2006 wacana homeschooling tiba-tiba menjadi tren dikalangan para orang tua, terutama karena salah satu penggagasnya adalah Kak Seto, mantan guru TK saya (uhuk-uhuk) dan banyak juga orang tua yang mencoba menerapkan homeschooling ini pada anaknya.

Saya pun juga termasuk salah satu dari mereka, jangan salahkan saya, sebetulnya saya diajak oleh saudara saya yang memiliki 4 anak itu (hihihii….) no, seriusly…. saya memang terpesona pada konsep homeschooling dengan segala macam kelebihannya, dan juga dimata saya ini adalah semacam gerakan anti monopoli terhadap sistem pendidikan kita yang aneh dan sudah terlalu komersil.

Dan kami pun mencoba melakukannya, dengan berbekal segala macam informasi yang telah dikumpulkan dari internet, kami merasa yakin dapat melakukan ini, ada tiga siswa angkatan pertama kami, dua dari anak saudara saya itu dan satunya lagi adalah anak bungsu saya.

dengan kurikulum ditangan kami, juga kami sudah mendapatkan guru privat untuk ketiga anak tersebut, maka kami memulainya, dengan harapan bahwa anak-anak ini bisa mendapatkan pendidikan yang memadai dibandingkan dari sekolah konvensional.

namun setelah beberapa bulan berjalan kami menemui berbagaimacam kendala, mulai dari kesulitan menghandle para siswa tersebut, kejenuhan, dan kebingungan menghadapai berbagai pertanyaan dari orang sekitar yang kebanyakan masih memandang skeptis terhadap sekolah rumahan.

Dan satu hal yang kami rasakan bahwa ada salah persepsi tentang kelebihan homeschooling, selama ini semua orang mengira bahwa homeschooling itu bisa lebih murah secara biaya dibandingkan dengan sekolah konvensional, itu adalah SALAH BESAR, saudaraku ! murah dan hemat dari segi mana dulu ? jika dibandingkan dengan sekolah bertaraf internasional yang uang pangkalnya saja bisa seharga mobil eropa, ya tentu saja homeschooling lebih murah.  Namun jika dihitung dari faktor energi dan waktu dari orang tua yang harus dicurahkan, maka homeschooling jauh lebih BOROS dibandingkan dengan sekolah konvensional.

Ya, bandingkan jika anak anda masuk disekolah umum, semuanya sudah disiapkan oleh sekolah terutama kurikulum pendidikan, namun jika anda menerapkan sekolah rumah bagi sang anak, maka adalah tugas anda sebagai orang tua untuk menggantikan FUNGSI sekolah konvensional tersebut !

Waw ! berat ya ?

Dan masalah lainnya lagi, seperti yang sudah pernah saya tulis diartikel sebelumnya, bahwa tidak semua orang tua dapat menjadi GURU yang baik bagi anaknya sendiri, bahkan seorang guru pun belum tentu bisa mengajari anak kandungnya sendiri. saya rasa mungkin ada faktor psikologis yang menghalangi orang tua untuk dapat menjadi guru bagi anaknya.

Oleh karena itupun di amrik sono, homeschooling tidak dapat menggantikan sekolah konvensional, walaupun mereka telah memiliki konsep yang sempurna, komunitas homeschooling yang terdapat disemua negara bagian, dan berbagai fasilitas lainnya. hingga homeschooling dipandang sebagai alternatif bagi orang tua yang dapat menerapkan konsepnya untuk anaknya.

dan begitulah nasib homeschooling di negri ini, namun saya masih yakin demandnya masih cukup tinggi, silakan lihat di homepage homeschooling di bagian comments-nya yang masih banyak yang bertanya tentang homeschooling :

http://www.homeschoolingindonesia.com/

Dan bagaimana akhir cerita proyek homeschooling kami ? maaf, ternyata sayalah yang pertama keluar dari situ (waduh!!! ) sebab didekat rumah saya ada sekolah TK yang cukup bagus dan tidak mahal,hingga akhirnya saya tidak kuat godaan dan memasukkan si kecil ke sekolah itu.

Sementara itu saudara saya masih tetap terus menjalankan homeschooling-nya sampai kedua anaknya masuk sekolah dasar.

Saya pernah membaca artikel, di daerah BSD, ada kursus bimbel yang menerima kursus paket kejar C (kalau tidak salah yang setara dengan SMU) dan itu dilakukan karena ada permintaan dari para siswa yang tidak lulus ujian nasional, hingga mereka harus mengulang pelajaran SMU lagi (correct me if i’m wrong)

Jadi saya berpikir, jika siswa bisa mengambil paket C, mengapa mereka tidak melakukannya dari dulu saja dan tidak perlu masuk SMU ? jika wacana homeschooling ini bisa berkembang kembali, tentunya para siswa akan terhindar dari kejadian-kejadian yang tidak perlu seperti mengulang ujian nasional ini.

Hingga dapat saya simpulkan bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan jika kita ingin agar homeschooling kembali berkembang, yaitu :

  • Komunitas, sekolah rumahan dapat masuk dalam kategori organisasi non-profit, maka agar dapat berkembang, perlu komunitas yang kuat, memang sudah ada komunitas sekolah rumahan yang digagas kak Seto, namun sayangnya hingga saat ini para pelaku selkolah rumahan bergerak sendiri.
  • Dukungan dari partner, percuma saja anda mengembar-gemborkan sekolah rumahan keseluruh pelosok nusantara namun anda tidak mendapat dukungan dari suami or istri sendiri, ini adalah batu sandung terbesar dari sekolah rumahan, hal ini HANYA akan berhasil jika anda mendapat dukungan dan lebih baik lagi jika mendapat bantuan dari pasangan anda.
  • Pemerintah, sejauh ini memang depdikbud telah memberikan dukungannya terhadap gerakan sekolah rumahan, namun entah mengapa saat ini hampir sudah tidak terdengar lagi kelanjutan dari proyek sekolah rumahan ini, bagaimanapun solidnya komunitas sekolah rumahan, tetap memerlukan sokongan dari pemerintah.

All and All, saya masih menemukan segelintir orang tua yang sungguh berdedikasi demi pendidikan anaknya dan tetap terus menjalankan sekolah rumahan ini, regardless all those obstacles, yang tentu saja semua itu dilakukan dengan segala keikhlasan mereka…….

silakan lihat link berikut ini untuk segudang tips jitu tentang homeschooling dan parenting :

http://www.sumardiono.com/

http://www.daramaina.com/

http://rumahinspirasi.com/

membuat permainan yang menarik bagi anak

Sabtu pagi, entah angin dari mana, tiba-tiba sepupu saya mentwit lagu-lagu favoritnya yang suka dinyanyikan bersama anaknya yang masih balita, lucu sekali ! saya langsung teringat dengan beberapa lagu favorit saya yang dulu sering saya nyanyikan bersama dengan anak-anak saya, langsung saja saya membalas twitnya dengan menimpalinya dengan judul-judul lagu anak tersebut.

Kemudian topiknya berkembang kearah pemainan anak, saya langsung teringat satu permainan kesukaan anak saya yang kecil, yaitu play dough, kami jarang membeli play dough yang sudah siap pakai, biasanya saya membuat sendiri play dough itu, ini resepnya :

  • kira-kira 100gr tepung terigu
  • 2 sendok makan minyak goreng atau secukupnya
  • air secukupnya
  • pewarna makanan
  • garam dan gula secukupnya

pertama, campur pewarna makanan ke dalam air, dan aduk rata, tujuannya agar warnanya dapat tercampur dengan rata, kemudian campurkan semua bahan dan aduk sampai kalis, seperti membuat adonan roti atau adonan kulit pizza. saya sebetulnya tidak pernah mengukur takaran adonan tersebut, semuanya hanya perkiraan saja, hehheheee

setelah itu lengsung dapat dimainkan bersama dengan anak-anak, gunakan peralatan dapur yang tersedia seperti talenan, garpu, sendok, pisau roti yang tumpul, spatula, dan sebagainya.

dulu waktu anak saya masih balita, kami hampir setiap hari memainkan play dough ini, ternyata ada dampak positif yang saya peroleh, anak saya yang kecil ketika sudah memasuki kelompok bermain, menunjukkan perkembangan yang pesat dalam motorik halusnya, yaitu kemampuan menulis dan membuat prakarya, gurunya pun kagum dengannya sampai bertanya kepada saya apa rahasianya, pada awalnya saya tidak mengetahuinya dan malah bingung sendiri, ternyata baru saya ketahui belakangan bahwa sering bermain play dough telah meningkatkan kemampuan motorik halusnya !

Selain itu play dough buatan sendiri aman jika tertelan oleh si kecil, bahkan saya kadang-kadang suka iseng menggoreng atau mengoven play dough yang telah dibentuk oleh si kecil, dan bisa dimakan juga ! ini boleh saja, asalkan pewarna makanan yang digunakan telah terbukti aman dan digunakan dalam porsi yang tidak berlebihan.

Selain bermain play dough, tentu saja saya suka membuat cairan sabun untuk bermain gelembung busa, saya hanya menggunakan sabun cair biasa dan sedotan untuk meniup gelembung sabun itu.

sepupu saya pun juga mentwit permainan kesukaan anaknya, yaitu bermain rumah-rumahan atau mobil-mobilan dengan kardus bekas, kami pun juga sering melakukan hal itu.

Memang rumah akan menjadi sangat berantakan jika kita bermain bersama anak-anak, namun bagi saya yang terpenting adalah saya bersenang-senang dengan mereka, saya berusaha tidak terlalu pusing dengan rumah yang berubah menjadi kapal pecah, toh nanti bisa dibersihkan lagi.

Intinya bagi saya, memiliki anak harus saya manfaatkan sebaik-baiknya, buat apa memiliki anak namun kita tidak bisa bersenang-senang dengan mereka ? lupakan beban pelajaran dari sekolah, mereka sudah cukup terbebani dengan hal tersebut disekolahnya, waktu bersama orang tuanya harusnya menjadi waktu yang menyenangkan bagi mereka dan tentu saja bagi orang tuanya juga.

Belajar (lagi) menjadi orang tua yang baik

Beberapa hari belakangan ini saya mencari-cari artikel tentang parenting di berbagai media, baik cetak maupun dari internet. namun sejujurnya saya tetap tidak merasa puas dengan artikel-artikel tersebut, walaupun para penulisnya ngakunya sih sudah terkenal dan berpengalaman.

Mengapa saya merasa seperti itu ?

Karena menjadi orang tua adalah merupakan suatu proses hidup panjang yang amat disayangkan tidak ada satu sekolah pun yang dapat mengajarkan kita untuk menjadi orang tua yang baik.

Lalu orang tua yang baik itu sebetulnya apa ? Apa ada tolak ukurnya ?

Menurut saya ini sangat relatif dan intangible, dari berbagaimacam artikel yang panjang dan membosankan tersebut, ternyata juga tidak memberikan kesimpulan apa yang menjadi patokan utama untuk menjadi orang tua yang baik. ya tentunya sifat-sifat umum seperti baik hati, suka mendengarkan komplain si kecil, penuh kasuh sayang, dan sebagainya.

Dan pada akhirnya pertanyaan saya bermuara pada artikel-artikel dari blog orang tua yang sesungguhnya, hingga dapat saya temukan beberapa jawaban dari tulisan-tulisan mereka yang sederhana, tentang keseharian mereka dengan anaknya, bahkan ada yang hanya menulis tentang kisahnya bermain dengan anaknya dengan permainan yang sangat sederhana, lupakan nintendo dan playstation, bermain bersama lebih seru dibandingkan dengan permainan canggih itu.

jadi mungkin bisa saya rangkumkan beberapa kriteria orang tua yang baik, mengacu dari kisah-kisah sederhana para orang tua tersebut, yaitu :

  1. Tegas, ingat serial “Nanny 911” di metro tv ?  sang nanny tidak mengerjakan tugas si anak, namun menjelaskan tanggung jawab setiap anggota keluarga termasuk ibu, ayah dan anak. kemudian tiap anggota keluarga harus melaksanakan kewajibannya masing-masing, jika ada yang tidak melaksanakan, maka dia akan menanggung resikonya sendiri. inilah sifat yang seharusnya dimiliki orang tua, yaitu tegas dan konsisten dalam menerapkan peraturan kepada si anak.
  2. penuh kasih sayang, jika si anak bisa berkata kepada kita, tentunya mereka akan minta dipeluk dan dicium setiap hari, walaupun si anak sudah beranjak besar, menurut pendapat saya, sebetulnya dia masih mengharapkan adanya kontak fisik yang hangat dan tulus dari orang tuanya, tentunya disertai dengan ucapan kasih sayang dan pujian yang membangkitkan semangatnya.
  3. menjadi contoh yang baik. percuma jika anda menyuruhnya belajar dan sholat jika anda sendiri masih belum bisa mendisiplinkan diri sendiri, anak cepat menangkap kejanggalan ini dan pada akhirnya mereka akan merasa kebingungan dan suatu saat hal ini akan menjadi serangan balik si anak terhadap kemalasan orang tua.
  4. Hargai mereka, setiap anak seperti manusia pada umumnya memiliki harga diri, jika kita terus menerus menekan rasa harga diri mereka dengan memberikan komentar yang bernuansa negatif, jangan heran jika mereka nantinya akan tumbuh menjadi sosok yang tertutup, gelisah, cemas,dan  tidak percaya diri. sebelum kita berharap mereka akan hormat dan menghargai kita, harusnya kita yang terlebih dahulu menghargai mereka.
  5. Orang tua bukan sosok yang sempurna, kita hanya manusia biasa yang bisa berbuat salah maupun benar, akuilah kesalahan yang telah kita perbuatan kepada si anak sendiri, jangan mencari-cari alasan untuk pembenaran atas perbuatan kita tersebut, anak adalah mahluk yang cepat memaafkan dan cepat melupakannya, tidak seperti kita, yang suka mendendam dan tidak gampang memaafkan. dengan mengakui kesalahan kita bukan berarti kita akan kehilangan harga diri di mata anak, namun anak akan belajar bahwa orang tuanya memiliki hati yang besar untuk mengakui kesalahannya.
  6. Senantiasa meluangkan waktu bersamanya, sesibuk apapun kegiatan kita, harus tetap diusahakan untuk meluangkan waktu dengan si anak, untung saja saat ini kita dapat memanfaatkan teknologi untuk hal-hal komunikasi antar orang tua dan anak, tidak ada salahnya jika anda meluangkan sedikit waktu istirahat siang untuk menelfon anak atau sms dan bbm.  Percayalah, mereka akan senang dihubungi orang tuanya, jika hal ini rutin kita lakukan, mudah-mudahan saat mereka beranjak dewasa dan telah berpisah dengan kita, mereka akan tetap berusaha menghubungi orang tuanya.
  7. selalu memotivasi diri sendiri, untuk menjadi orang tua yang baik, niat tersebut harus muncul dari diri sendiri, jangan pernah menyerah dan selalu terus mempelajari hal-hal yang baru, terus terbuka terhadap berbagaimacam perubahan, saat era globalisasi ini, baik orang tua maupun anak akan terus mengalami evolusi dalam hubungan kekeluargaan.

Pada akhirnya, saya dapat menarik kesimpulan bahwa untuk menjadi orang tua yang baik adalah proses yang panjang, namun jika kita dapat membuka diri kita terhadap perubahan dan tetap terus belajar menjadi orang tua yang baik, maka yang akan memetik manfaatnya bukan hanya sang anak, namun juga para orang tua tersebut. sejujurnya artikel ini lebih ditujukan untuk diri saya sendiri yang tentunya sampai hari ini masih tetap terus belajar menjadi orang tua yang baik.