Pengalaman pertama mengajar di SD

Berkat hobi mengutak-atik software FOSS ini, beberapa kali saya diundang untuk mengisi acara-acara yang berhubungan dengan software yang saya gunakan, tapi belum pernah saya diajak menjadi tenaga pengajar, sampai Kang Yahyo (Riyogarta) salah satu aktifis opensource mengajak saya mengajar di sekolah anaknya.

Pertama, saya tidak yakin apa saya bisa melakukannya, tapi kang Yahyo terus meyakinkan saya, hingga akhirnya saya mencoba untuk mengirim surat lamaran ke sekolah Tanah Tingal di Ciputat, dan saya pun masuk dalam seleksi guru pengajar ekskul.

14232417_10209144575644106_4805310141128216215_n

Walaupun begitu saya masih belum yakin dengan kemampuan saya, hingga beberapa teman pun memberikan semangat agar saya terus mencobanya ­čÖé

Akhirnya saya pun mengajar, pada pertemuan pertama saya sangat nervous dan panik, karena semua anak-anak sekolah dasar itu sangat aktif dan luarbiasa banyak bertanya ! sementara saya masih berusaha bersikap perfeksionis agar semua materi pelajaran yang sudah saya siapkan bisa dimengerti oleh semua anak-anak ­čś«

foto6

Pada beberapa pertemuan berikutnya saya masih kewalahan dan panik, hingga pernah terbesit pikiran untuk berhenti, karena toh ini hanya ekskul saja, dan saya tidak memiliki keterikatan dengan pihak sekolah, saya bisa berhenti kapan saya mau ­čśÉ

Tapi walaupun demikian, saya tetap terus mencoba mengajar, hingga akhirnya sampai pada bulan kedua saya mulai merasa tenang dan bisa mengontrol kelas, tidak disangka kalau saya bisa menikmati menjadi guru untuk anak-anak SD ­čśÇ

Ternyata perasaan tenang yang saya rasakan pada saat di kelas itu berasal dari saya sendiri, jika saya membuang sikap perfeksionis dan mencoba menikmati proses belajar tersebut maka saya bisa merasakan ada hubungan antara saya dan anak-anak,

lucu juga anak-anak ini, selain pintar mereka juga cepat menerima materi, yang jadi tantangan buat saya adalah agar mereka bisa mengerti kenapa ilmu yang saya ajarkan ini bisa berguna untuk mereka nantinya ­čśŤ

foto3

Pada akhirnya toh saya bisa memahami bahwa proses belajar bukan tentang siapa yang mengajar atau apa yang diajarkan, tapi lebih dari itu, karena kita tidak tahu apa anak-anak itu akan bisa mengingat apa yang pernah kita ajarkan,

Tapi yang terpenting adalah semangat dalam memperoleh ilmu tersebut, proses yang harus dilalui tidak mudah dan butuh kesabaran, oleh karena itu hasilnya akan terasa manis dikemudian hari nanti.

InsyaAllah saya akan mencoba terus mengajar setidaknya sampai akhir tahun ini ­čÖé

dan untuk yang tertarik dengan materi yang saya ajarkan bisa mengunduhnya di link di bawah ini, disitu terdapat materi Gimp yang sudah saya berikan kepada anak-anak.

dan bulan depan saya berencana untuk mulai materi baru yaitu Inkscape ­čśë

Materi Ekskul Desain Grafis dengan Gimp

 

 

Advertisements

Gimp for Kids 2 : ANIMATION !

alhamdulillah,

akhirnya buku Gimp untuk Anak versi kedua telah selesai, pada buku kedua ini khusus untuk membahas tentang cara pembuatan animasi sederhana dengan Gimp yang menggunakan format .gif

seperti biasa, maskot Fossy si kucing linux tetap akan muncul pada setiap halaman di buku ini.

page1

Buku kedua ini adalah lanjutan dari buku sebelumnya, jadi sebaiknya untuk yang ingin menggunakan buku ini telah menyelesaikan latihan-latihan pada buku pertama : Gimp For Kids 1

dan tentu saja setiap pemakai buku ini harus menginstall software Gimp pada komputer PC/laptop

Demikian ebook sederhana ini, semoga bermanfaat !

sticker6

untuk semua gambar latihan dan piagam, dapat diunduh dengan cara klik  pada gambar di galery, klik mouse kanan , open image in new tab dan save image

selamat mengunduh ! ­čśÇ

Catatan :

Jika komputer/laptop yang anda gunakan memakai monitor yang berukuran kecil, agar animasi dapat terlihat baik maka ubah ukuran image dengan perintah di menu Gimp : Image – Scale Image

Gimp_Book_For_Kids_animation

Bagaimana anak-anak anda mempengaruhi kualitas hidup orang tuanya

Menjadi orang tua adalah merupakan salah satu hal yang paling mengubah hidup siapa saja.

Saya beruntung memiliki kedua orang tua yang menyayangi anak-anaknya, dan senantiasa berusaha meluangkan waktu untuk bermain bersama kami disela-sela kesibukan mereka.  Dan kini setelah saya menjadi orang tua atas kedua anak saya, saya baru memahami bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.  intinya, menjadi orang tua adalah proses pembelajaran tanpa henti, dan dibawah alam sadar kita, pola asuh dari orang tua kita akan menentukan bagaimana kita berinteraksi dengan anak-anak kita kelak.

Jadi seberapa besar pengaruh keberadaan anak-anak dalam kehidupan seseorang ?

  • Rutinitas anda akan lebih terkontrol. ┬áPercaya atau tidak, kehadiran anak-anak justru akan membuat kita lebih mengontrol rutinitas kita sehari-hari, walaupun kita sendiri telah memiliki rutinitas, namun kita sebagai orang tua akan berusaha untuk menyesuaikan dengan pola rutinitas anak kita, misalnya karena rutinitas tidur anak-anak yang cepat, sekitar jam 8 atau jam 9 malam, tentu saja kita akan berusaha untuk telah hadir disamping mereka untuk menemani mereka tidur, jadi mungkin dulunya kita terbiasa tidur larut malam karena lembur, maka dengan kehadiran anak-anak, kita akan membatasi diri, dengan mengikuti pola tidur mereka yang cepat dan juga bangun lebih awal di pagi hari dan tentunya kebiasaan ini akan memberikan dampak yang baik bagi kesehatan kita.
  • Mempelajari banyak hal yang baru, banyak yang tidak menyadari bahwa menjadi orang tua kita akan mempelajari berbagaimacam hal yang dulunya tidak pernah kita ketahui, mulai dari cara mengurus anak, memilih dokter dan rumah sakit yang memadai saat anak sedang sakit, melakukan berbagaimacam aktifitas dengan anak-anak, menjadi guru pertama bagi anak-anak, memilih sekolah yang tepat bagi anak-anak, dan sebagainya. ┬áSemua hal tersebut tidak akan kita peroleh jika kita tidak menjadi orang tua. Demi untuk kepentingan anak-anak, kita mempelajari hal-hal tersebut, sumbernya bisa beragam, mulai dari majalah, internet, forum parenting dan sebagainya. ┬áBagi saya, sering kali informasi dari antar orang tua sangat bisa dihandalkan, jadi sangat penting bagi orang tua untuk berada dalam komunitas antar sesama orang tua.
  • Mengulang kembali masa kecil anda, adakalanya setelah kehadiran anak-anak, anda terbersit untuk mengulang kembali momen-momen saat anda masih kecil dulu, mungkin dulu anda sering bertamasya bersama keluarga, atau pergi memancing bersama ayah anda, atau bisa saja dulu anda sering diajak memasak bersama ibu anda. ┬áSemua kegiatan yang sedernaha namun berkesan dalam memori anda akan muncul kembali saat anak-anak telah hadir dalam kehidupan anda, dan tentunya anda akan mengulang kembali momen-momen yang indah tersebut bersama anak-anak yang anda sayangi. ┬áKegiatan yang bermanfaat bagi keharmonisan keluarga anda ini bukan saja bermanfaat bagi anak-anak, namun juga bagi kita sebagai orang tua yang akan membuat kita lebih dekat dengan mereka.
  • Lebih memikirkan masa depan, mungkin dulunya anda adalah seorang petualang, yang suka seenaknya melakukan apa saja yang anda inginkan tanpa peduli akan akibatnya bagi kehidupan anda, namun dengan kehadiran anak-anak dalam kehidupan anda, anda akan berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu yang beresiko tinggi, karena tentu saja masa depan anak-anak anda bergantung pada anda, jika anda tiba-tiba jatuh sakit atau kehilangan pekerjaan anda, maka tentu saja masa depan anak anda akan berubah juga. ┬áOleh karena itu banyak orang tua yang menjadi lebih giat bekerja, menggunakan jasa asuransi atau berinvestasi untuk masa depannya setelah memiliki anak-anak. ┬áKehadiran anak-anak dalam hidup anda akan membuat anda lebih bertanggungjawab atas kestabilan masa depan anda.
Tanpa bermaksud untuk mengesampingkan siapa pun yang saat ini belum memiliki anak, tujuan saya menuliskan artikel ini adalah untuk melihat pengaruh anak-anak dalam kehidupan kita sebagai orang tuanya, dan sebetulnya masih banyak lagi hal-hal positif yang terdapat dalam kehidupan kita sebagai orang tua, dan saya percaya bahwa hal tersebut akan dapat kita rasakan apabila tujuan kita untuk menjadi orang tua yang baik adalah demi untuk kebaikan anak-anak kita.

Berkomunikasi yang Asertif dengan Anak

Bagaimana cara kita berkomunikasi dengan anak akan menentukan pola perilaku sang anak itu kelak.

Pernah suatu hari anak saya bercerita tentang kehebatan seseorang yang bisa “memelintirkan” peraturan di negara ini dengan cara yang salah, dan saya tidak menyadari bahwa ada rasa terbersit kagum dari anak saya terhadap orang itu, dan tanpa basa-basi saya langsung memberi komen bahwa orang itu sangat salah karena telah melanggar hukum yang ada di negara ini.

Langsung saja anak saya terdiam, karena pendapat saya sangat menohok rasa salutnya terhadap orang tersebut, seketika saya merasa bersalah, maksud saya seandainya saya tidak langsung mencetuskan komentar seperti itu, mungkin saya tidak akan menyinggung perasaannya.

Jadi bagaimana cara berkomunikasi yang efektif dengan anak ?

Mengetahui bahwa anak saya yang sulung ini memiliki perasaan yang lebih peka, saya harus lebih berhati-hati, terutama dalam mengutarakan pendapat saya, dan sejauh ini saya selalu berupaya memancingnya agar lebih berani untuk mengutarakan pendapatnya, tanpa perlu merasa khawatir dengan pendapat saya atau yang lainnya.

Ternyata caranya tidaklah terlalu sulit, seperti biasa kita sebagai orang tua harus tetap berupaya untuk menjadi Pendengar yang Baik.

Pendengar yang Baik tidak hanya cukup mendengarkan saja, tanpa berusaha memahami apa perasaan dan point of view sang pembicara, menjadi pendengar yang baik adalah mendengarkan dengan sepenuh hati dan pikiran, dan tentu saja dengan memberikan perhatian penuh terhadap apa yang dibicarakan yang bersangkutan.

Jadi kemudian saya berusaha untuk mengubah cara saya ketika berbicara dengan anak saya, dengan berusaha untuk memancing pendapatnya, dan menahan diri untuk tidak menimpalinya dengan pendapat dari sisi saya.  Untuk memancingnya agar bisa mengutarakan pendapatnya yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan ; Bagaimana pendapatnya ? Apa menurutnya yang harus ia lakukan ? Apakah menurutnya hal tersebut benar atau salah ? Jika memang hal itu salah, bagaimana menurutnya yang sebaiknya dilakukan ?

Tentu saja setelah sang anak mengutarakan pendapatnya hingga tuntas, jika memang hal itu salah, barulah kita menjelaskan mengapa hal tersebut tidak benar, dan juga jelaskan akibatnya yang akan terjadi bila hal itu tetap terus dilakukan, juga kerugiannya bila hal yang salah itu dibiarkan.  Kemudian setelah mengutarakan pendapat kita, kembali tanyakan bagaimana pendapatnya setelah itu, apakah menurutnya bahwa hal itu benar atau salah.

Berkomunikasi yang asertif adalah seni bagaimana bisa membuat lawan bicara kita mengutarakan pendapatnya dengan bebas, berani, tegas, jujur dan penuh percaya diri tanpa perlu merasa takut atau khawatir akan apa yang akan terjadi.  Dengan memupuk upaya berkomunikasi yang asertif maka akan membangun rasa percaya diri sang anak.

When dealing with people, remember you are not dealing with creatures of logic, but creatures of emotion. ~ Dale Carnegie.

Saya harap semoga untuk kedepannya saya akan lebih bijak lagi dalam berkomunikasi, bukan saja dengan anak-anak saya, namun dengan siapa saja, terutama orang-orang terdekat saya….. amien, God bless us all ­čÖé

Pesan Moral dari Junior Master Chef

Setelah memasang tv kabel, kami lebih memiliki banyak pilihan tontonan dibandingkan dulu saat hanya punya pilihan tv lokal, biasanya setelah makan malam saya tidak memperbolehkan anak2 menonton tv, namun sekarang waktu setelah makan malam bisa menjadi acara menonton bersama keluarga yang menyenangkan, maka channel favorit pilihan kami adalah natgeo, discovery, dan sesekali starworld.

Acara reality show Junior master chef mulai dari tayangan perdananya telah menjadi acara favorit kami, bukan saja karena kami terkagum-kagum dengan kepiawaian para peserta yang masih belia namun sudah mahir memasak ala chef, juga karena harus saya akui bahwa saya sendiri belum tentu bisa seperti itu.

Banyak moral yang bisa saya petik dari acara reality show itu, pertama di barat sana, anak kecil sudah diajarkan mandiri, juga dalam hal memasak, jika mereka diusia dini sudah diajari keterampilan memasak, maka secara otomatis mereka sudah siap untuk mengurusi dirinya sendiri dan belajar tidak bergantung kepada orang lain, terutama dalam urusan makanan sehari-hari. sementara di sini anak-anak sangat bergantung kepada orang tuanya atau pembantu dalam hal makanan, dan jika suatu saat mereka harus mandiri atau keluar dari rumah, tentunya mereka akan mengalami syok karena tiba-tiba saja mereka harus mengurusi dirinya sendiri.

Ada beberapa episode dimana tiap peserta dibagi menjadi dua tim, dan disini kita bisa melihat bagaimana mereka bekerjasama dalam suatu tim yang kompak, dan satu hal yang membuat saya sangat salut, adalah sportifitas antara tiap peserta, jika ada tim atau peserta yang kalah tidak diejek atau dicaci maki oleh tim yang menang, malah justru mereka saling berpelukan dan saling memuji satu sama lainnya. diusia yang sangat dini itu mereka sudah belajar bahwa menang atau kalah bukanlah tujuan, poin yang terpenting adalah mereka melakukan yang terbaik, dan saling menghargai satu sama lainnya.

Saya teringat akan pesan dari salah satu teman senior dalam suatu ajang kompetisi, inti dari pesannya adalah menjadi pemenang bukanlah tujuan akhir, baik pemenang maupun yang kalah harus tetap terus berjuang bahkan setelah ajang kompetisi berakhir, dan sesungguhnya sang pemenang pun juga harus menghargai yang kalah, karena sang pemenang bisa meraih prestasinya berkat keberadaan peserta yang kalah itu. Jadi para peserta yang kalah adalah sosok yang me-reshaping sang pemenang tersebut, hingga tidak berlebihan jika sang pemenang harus memberi penghormatannya atas usaha peserta yang kalah itu.

Dulu anak sulung saya sangat takut dengan hal-hal yang berbau kompetisi atau lomba, hingga ia tidak mau mengikuti beberapa perlombaan yang sebetulnya ia memiliki kemampuan dan bakat di bidang tersebut, namun belakangan ini ia malah lebih antusias mengikuti ajang perlombaan, tentu saja saya senang dengan perkembangannya ini, saya pun juga paham bahwa hal yang mengubah pandangannya terhadap kompetisi adalah karena kini ia memandang kompetisi bukan sebagai ajang perbandingan dengan anak-anak yang lain, namun sebagai ajang untuk mengasah kemampuan dan tekad untuk berprestasi.

The most excellent jihad (battle) is that for the Conquest of self ~ Prophet Muhammad

Andai saja hal tersebut dapat kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di lingkungan sekitar kita maupun dalam lingkungan kerja, tentunya pada akhirnya kita akan bisa saling membantu dan maju bersama, kompetisi itu adalah suatu hal yang normal, karena tujuan kita adalah untuk berusaha untuk memberikan yang terbaik,

a lesson from Nanny

Sore ini saya menonton acara reality show “Super Nanny”, biasanya saya tidak terlalu antusias dengan acara ini karena topiknya sudah usang bagi saya.

Namun kali ini keluarga yang menjadi bintang tamu adalah pasangan yang baru saja bercerai dengan kedua anak berumur dibawah 5 tahun, hmmm…. interesting.

Ada beberapa hal yang dapat saya pelajari dari acara ini, pertama saat orang tua baru pisah, jelaskan realitanya kepada anak anda sejelas-jelasnya, jangan menggunakan kata kiasan, katakan saja secara gamblang ; “Papa dan mama sudah tidak bisa bersama-sama lagi, namun kami tetap mencintaimu dan akan selalu bersamamu.”

Kedua, pasangan yang pindah dari rumah yang lama harus membuat rumah barunya menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk anak-anaknya, bukan hanya untuk dia saja, perlu diingat bahwa anak-anaknya pun akan meluangkan waktu bersamanya, hingga penting baginya untuk menyediakan ruangan khusus untuk anak-anaknya. wah, kalau untuk ruangan khusus bagi anak saya sampai saat ini saya belum bisa memberikannya, namun ini adalah masukan yang baik, saya akan berusaha membuat kamar tidur saya menjadi ruangan yang nyaman juga bagi kedua anak saya.

Ketiga, pembagian jadwal pengasuhan anak harus berdasarkan pada rutinitas anak-anak, berdasarkan dari patokan ini maka kedua orang tua menyusun rencana pembagian jadwal pengasuhan yang disesuaikan dengan rutinitas anak-anaknya.

Keempat, menciptakan komunikasi yang harmonis dengan mantan, dengan tujuan hanya untuk kebaikan anak-anak saja, ini adalah hal yang terpenting, karena anda tidak akan pernah bisa bersama mengasuh anak-anak tanpa adanya komunikasi yang baik dengan mantan.  Jika mantan mulai aneh-aneh, ingatkan dia bahwa inti dari semua yang anda lakukan adalah untuk kebaikan anak-anak, dan tetap berusaha mengerti dan memahami posisi si mantan, bisa saja dia sebetulnya kewalahan mengasuh anak-anak namun egonya membuat ia ingin menunjukkan bahwa dia pun adalah orang tua yang baik, ini wajar saja asalkan dia tetap melakukannya untuk kebaikan anak-anak.

Pada akhir acara itu, keluarga tesebut terlihat harmonis walaupun kedua orang tuanya sudah tidak bersama-sama lagi, kedua anaknya tampak bahagia dan nyaman diantara kedua orang tuanya, dan mereka telah dapat bersama-sama melalui badai cobaan dari perceraian.  Menurut saya ini sangat indah, karena hal ini sedikitnya dapat membuktikan bahwa anak-anak pun dapat merasakan kehangatan kasih sayang orang tuanya yang telah bercerai.

When an Old Dog met a Single Mom

You can’t teach an old dog a new trick

hari pertama 2011 saya dan keluarga besar meluangkan waktu dengan menonton film Old Dogs di salah satu channel di tivi kabel, memang seperti film produksi disney yang lainnya tentu saja old dogs adalah film keluarga yang lucu dan dapat dinikmati oleh semua umur, kami semua LMAO ROFL dari awal sampai akhir film itu.

Namun setelah selesai menonton film itu, saya merasa ada yang sangat janggal dan akhirnya membuat saya muak dan menjadi “What the Heck ?!?!?!” seluruh film itu sangat absurd dan tidak logis, tentu saja semua┬áexaggeration bertujuan untuk membuat film itu jadi lucu, namun saya saja yang terlalu berlebihan memikirkannya hingga jadi sakit kepala seperti ini !

well, ini kebiasaan jelek saya, harusnya saya tahu ada beberapa film yang harus ditonton tanpa menggunakan otak untuk menikmatinya !

Intinya begini, seorang cowok tua yang melajang-benci-dengan-anak-kecil bertemu dengan seorang wanita yang menarik, setelah berkencan tiba-tiba saja si wanita yang menarik itu memberikan kejutan lucu…. ternyata dia adalah single mother of two lovely-annoying bastards kids, dan besok dia harus pergi dan meninggalkan kedua anaknya kepada pacarnya yang malang beruntung itu

Satu hal yang saya kagum dengan si singel mom ini adalah, bagaimana dia bisa terjebak dalam stereotip “fairy-tales-princess” dan “happily-ever-after”, maksud saya andai saja si mommy itu masih berusia 20 tahunan maka saya bisa memakluminya, namun kenyataannya dia berusia 40 tahun dan memiliki dua anak, namun For God’s Sake dia masih berharap ada prince charming yang selalu siap sedia menyelamatkannya dan juga kedua anaknya !

Untung saja si lelaki malang baik hati ini berusaha sekuat tenaganya mati-matian mengorbankan segalanya bahkan juga pekerjaannya untuk bisa menjadi “ayah” yang baik bagi kedua anak si single mom itu.

Bagi saya ini adalah contoh yang tidak baik dari seorang single mother, dan dalam kenyataannya saya percaya tidak akan ada single mother yang akan berbuat sebegitu bodohnya kepada kedua anaknya dan pacarnya.

Pertama, memperkenalkan pacar barunya kepada anaknya sebelum hubungan mereka benar-benar serius, ini adalah Big No-No, maksud saya bagaimana jika ternyata si pacar itu adalah Child Abuser ? atau bahkan Pedophilia ? ini sama saja dengan memberikan anak anda kepada seorang total stranger yang anda sendiri belum kenal dengan baik. Apa yang akan diharapkan ? si pacar dalam waktu yang singkat tiba-tiba menjadi ayah yang sempurna bagi sang anak ? saya betul-betul yakin si single mom ini hidup dalam dunia fantasinya !

Jadi dalam reality, kapan waktu yang tepat untuk memperkenalkan pacar baru kepada sang anak ? tidak ada yang pernah tahu, karena tidak ada waktu yang benar-benar tepat, namun setidaknya anda harus yakin dahulu bahwa hubungan anda dengan sang kekasih sudah betul-betul memasuki tahap yang stabil dan yakin bahwa hubungan ini memiliki masa depan yang jelas, barulah si pacar dikenalkan kepada sang anak, tentunya tanpa berharap bahwa si pacar akan seketika berubah menjadi pahlawan kesiangan bagi sang anak.

memang sering kali saya menemui artikel tentang single parents in relationship, can’t love my kids then can’t love me either, wow…. menurut saya ini terlalu berlebihan namun ada betulnya juga karena menjadi single parents berarti anda datang dengan satu paket lengkap bersama anak-anak anda dari perkawinan sebelumnya. ┬áNamun sebetulnya apa yang anda cari ? pasangan ideal atau orang tua baru bagi anak-anak anda ? tidak ada pasangan yang sempurna dan begitu pula dengan anda sendiri, so you can’t have both of them, dan jikapun anda mendapatkannya keduanya berarti anda sangat beruntung.

Memperkenalkan pasangan kepada sang anak saat hubungan sudah serius adalah sangat penting, coba bayangkan jika anda terlalu cepat memperkenalkan anak dengan pasangan, kemudian dengan berjalannya waktu mereka sudah menjalin hubungan yang harmonis, dan tiba-tiba saja anda putus dengan sang pacar, maka tanpa anda sadari sebetulnya anak anda juga kehilangan sosok sang pacar dan ini tentu akan memberi dampak yang tidak baik baginya.

Sering kali saya berpikir, sebetulnya apa sih kelebihan seorang single parents dibandingkan dengan seorang lajang ? seriously, pernahkah anda bertanya mengapa dia memilih anda, padahal diluar sana masih banyak possible candidates yang jauh lebih muda dan tidak punya anak ??!! tentunya harus ada satu poin penting yang membedakan anda dengan para lajang itu, hingga kekasih anda memilih anda daripada si lajang !

Intinya semua kunci keberhasilannya ada ditangan si single parent, jika dia berhasil membina hubungan yang baik dengan kekasihnya, menjadi penengah bagi si pacar dan anaknya, menyadari bahwa semuanya memiliki proses masing-masing yang tidak dapat dipaksakan harus terbina dalam waktu yang singkat, maka saya percaya semua orang yang terlibat dalam hubungan ini akan merasakan manfaat dari hubungan yang indah ini suatu hari kelak.

So to all single parents, now it’s up to you whether you could be a good communicator between your partner and kids.

Dan kembali ke film yang tidak penting itu, tentu saja as usual the ending is suck but predictable….. si single mom hidup bahagia dengan pacarnya dan kedua anaknya, sedangkan si pacar tentu saja kehilangan singlehood-nya dan juga pekerjaannya, oh well, setidaknya dia mendapatkan si single mom dan her kids !