Skin in the Game

“At no point in history have so many non-risk-takers, that is, those with no personal exposure, exerted so much control.” – Antifragile

“Skin in the Game” adalah sebuah istilah yang belakangan ini sering digunakan, terutama untuk finansial lingo, “Skin” adalah sinekdot untuk “kepala” dan “Game” adalah sinekdot untuk komitment dan aksi,

Maka “Skin in the Game” adalah tentang mengambil suatu keputusan yang dilanjutkan dengan aksi, dan berkomitment untuk menanggung segala resikonya

Istilah ini pertama kali mulai terkenal saat Warrent Buffet melakukan investasi dengan dananya sendiri, yang artinya dia akan menanggung semua resiko baik kekalahan maupun kemenangan dari investasi tersebut,

Namun istilah “Skin in the Game” ini tidak hanya digunakan untuk finansial lingo saja, namun untuk semua profesi dan tindakan secara umum,

kita mengetahui bahwa semakin besar kekuasaan, maka akan semakin besar tingkat resiko yang ditanggung orang yang memikulnya,

with greater status came greater exposure to risk,

Misalnya pada masa medieval dulu, jika seorang raja melakukan kesalahan, maka dia akan dihukum pancung, bahkan seluruh keluarganya juga di hukum mati seperti yang terjadi saat revolusi prancis.

Sayangnya di kehidupan modern ini hal itu terjadi sebaliknya ; semakin tinggi kekuasaan seseorang, maka resiko yang ditanggungnya justru semakin kecil,

Apakah akibat yang timbul dari fenomena ini ? terjadi ketidakadilan, ketimpangan sosial, hilangnya harga diri, kita terbiasa mendengar berita korupsi dan hukum yang salah arah, seseorang yang tidak kompeten menduduki posisi yang berpeluang untuk menentukan nasib orang banyak adalah hal yang sangat membahayakan

Jadi siapa saja orang yang TIDAK memiliki “Skin in the Game” ?

  • Banker, Sales, Fund Manager yang melakukan transaksi investasi beresiko tinggi, namun tidak menanggung kerugiannya, bahkan membebankan kerugian tersebut pada klien, pemerintah dan rakyat sebagai pembayar pajak
  • CEO perusahaan yang membuat keputusan salah hingga membuat perusahaan bangkrut namun walk-out dengan bonus yang besar
  • Jurnalis dan penulis kolom yang membuat berita yang memprovokasi rakyat, namun berdalih bahwa mereka melakukan itu untuk membeberkan kebenaran
  • Politikus hitam dan aparat negara yang melakukan tindakan gegabah dan membebankan negara atas kesalahan yang mereka buat

Dari sekian contoh itu terlihat bahwa mereka yang tidak memiliki “Skin in the Game” adalah mereka yang tidak memiliki komitmen dan tidak sanggup memikul amanah dari jabatan yang mereka ambil,

Kita patut memahami hal ini agar kita tidak terjebak dalam profesi yang serupa, karena pada saat kita telah masuk dalam situasi yang tidak memiliki “Skin in the Game” maka pastinya akan sangat sulit untuk melepaskan diri dari hal itu

Mengapa sangat sulit ?

karena situasi telah membuat kita merasa aman dan nyaman melakukan hal itu, terutama lagi karena kita tidak menanggung semua resiko dan akibat dari hal-hal yang kita lakukan.

Kecuali mereka yang benar-benar memiliki niat yang kuat dan hati yang tulus – tentunya akan bisa lepas dari ini

(bersambung ke bagian kedua)

 

 

 

what we really need now

Think of the word “money” for moment. What’s the first image that comes to mind?

Perhaps the folded paper in your wallet. Or the balance in your bank account.

Or perhaps the investments in your brokerage account.

In our modern financial system where unelected central bankers wield totalitarian control over the financial system, all three of these are forms of money.

But the relationship between them is very tenuous, and very risky. I’ll explain:

 

1) Physical cash

No matter where you live in the world, just about every civilized nation on the planet has some form of physical currency in various denominations. Dollars. Pounds. Euros. Yen. Renminbi.

We pass around these pieces of paper as a medium of exchange.

You can go to the grocery store, and, as long as you’re in the US, you can pay for your food with US dollar physical cash. Or if you’re in Canada, with Canadian dollar physical cash. Simple.

 

2) Bank balances

This is where it starts getting more complicated.

When you log in to your bank’s website, you see a balance printed on the screen. Let’s say it’s $100,000.

Don’t think for a second that there are one hundred thousand pieces of paper sitting in your bank’s vault. In fact most banks have very little cash on hand.

Your balance is nothing more than an accounting entry on your bank’s balance sheet, which is likely maintained in a computer database somewhere in a building with no windows.

There’s no physical ‘money’ backing up this bank balance. It’s an annotation in a computer. Every bank customer’s savings is part of this complex system of accounting entries.

When you transfer money to your kids, the bank doesn’t send them a FedEx full of cash.

They merely make an entry in the ledger reducing your balance and increasing your kids’.

The same thing happens when you swipe your Mastercard to pay for something; banks exchange accounting entries that credit the vendor’s account and debit your own.

Nothing physical ever changes hands, it all takes place in digital ledgers.

Given that this type of money exceeds physical cash by a factor of 10:1, you could argue that most modern currencies are digital.

 

3) Government bonds

Government bonds are another form of money that people often forget about.

Most people will keep the majority of their life’s savings in the second form of money– in the bank.

But big banks or companies like Google or Apple that have tens of billions don’t keep such vast sums sitting in the bank. Certainly not all of it.

Banks only have a certain limit on deposit insurance. In the US right now it’s $250,000… which doesn’t quite cover Google’s $70 billion savings.

These companies and institutions need a ‘safe’, highly liquid alternative to banking (i.e. they can quickly buy and sell the investment).

And that’s why they turn to government bonds.

In finance, government bonds are typically considered ‘cash equivalents’. Especially in the United States.

US government bonds, in fact, are the most popular, most liquid investment in the world. You can buy and sell them in an instant.

Companies, institutions, banks, and even foreign governments around the globe buy US government bonds precisely because of this ‘cash equivalent’ status.

This means that if the Chinese government is doing a deal with an African government for $1 billion, they can conduct the transaction using US government bonds as the currency.

Here’s the problem…

Right now, each of these is basically considered the same thing. It’s just different versions of the same money, i.e. $1 million in government bonds equals a $1 million bank balance equals one million pieces of paper with George Washington’s face.

But in actuality they are three entirely separate currencies: Physical cash, digital cash, and government IOUs.

AT the moment they just happen to have a 1:1:1 exchange rate, i.e. they’re freely interchangeable at parity.

But that 1:1:1 exchange rate depends on financial stability. And when there are serious problems, the exchange rate breaks down rapidly.

Think back to 2013 when the government of Cyprus froze bank accounts across the entire country. For weeks no one could access their bank balances.

Clearly in an instance like this, the value of a bank balance becomes worthless. The only way to conduct a transaction was with physical cash.

So in the event of a banking crisis, the exchange rate quickly changes. Physical cash becomes much more valuable.

It’s the same thing in a government debt crisis.

It’s bizarre to think that the bonds of a bankrupt government are a widely accepted form of ‘risk-free’ savings among institutions.

But what happens when that bankrupt government defaults, or has to restructure its debt?

The entire system breaks down. Suddenly the bonds are no longer ‘cash equivalents’, and there’s a scramble to dump them and find another safe, reliable investment.

Similarly, the 1:1:1 exchange rate quickly breaks down, just like it did recently in Greece.

This is ultimately why it makes sense to hold some physical cash.

You certainly won’t be worse off for holding some physical cash savings in a safe at home, especially since interest rates on bank balances are essentially zero.

Physical cash is by no means a panacea; it’s nothing more than a piece of paper printed by a government agency at the behest of unelected central bank committee.

Fundamentally it has zero intrinsic value other than the heat it generates in BTUs.

And in the long run all paper currencies will reach this intrinsic value, with future historians wondering with utter incredulity how we could be so silly to assign any value to paper.

But in the short term, holding at least some physical cash makes sense as a hedge against financial calamity

 

from : the Sovereign Man

Antifragile ~ things that gain from disorder (book review)

“What doesn’t kill me kills others”

“Antifragile” adalah buku ketiga dari Nassim Taleb, setelah dua buku sebelumnya yaitu “Fooled by Randomness” dan “Black Swan”. Taleb sendiri adalah mantan trader wall street yang sudah “tobat” dan sudah keluar dari sistem yang sering disebutnya “vulgar commerce”, saat ini menjadi penulis dan penasihat finansial.

Kesan pertama setelah membaca beberapa bab dari buku ini adalah tidak lain dari aura egosentris penulis yang kental terasa pada setiap paragraf ( segitu arogannya Taleb hingga cuek saja dia menuliskan bahwa sumber krisis yang dimulai tahun 2007 adalah si “Uberfragilista” Alan Greenspan) Jadi untuk bisa menikmati buku ini saya harus mengabaikan keegosentrisnya dan kearoganannya untuk hanya mengambil poin-poin pentingnya saja. Baiklah.

Apa itu Antifragile ?

Antifragile ? itu adalah istilah yang diciptakan sendiri oleh penulis untuk bisa menjelaskan semua hal yang tidak “Fragile”, atau “Beyond Robustness”, jika dari dua buku sebelumnya Taleb berusaha untuk dapat menghitung dan meramalkan probabilitas dari suatu kejadian atau misalnya krisis ekonomi dan bencana alam, dsb. Maka dalam Antifragile ini Taleb seakan merangkumkan apa yang sudah dia jelaskan di kedua buku sebelumnya.

Untuk memahami Antifragile, perlu diingat bahwa Taleb adalah seorang independent thinker, yang tentu saja pola pikirnya sangat absurd dan susah ditebak, apa yang selama ini kita percaya bahwa hal itu merupakan suatu kepastian justru oleh Taleb dikategorikan sebagai suatu yang “Fragile”,  misalnya pada tabel 1 dimana Taleb memasukkan “Classroom” sebagai fragile, dan “Real Life with library” sebagai Antifragile.

Ada beberapa hal yang saya temukan kontradiktif pada buku ini, pada halaman 161, Taleb menjelaskan teori solusi “Barrel” yaitu tentang memberi keseimbangan atau balance dalam kehidupan dengan memberikan porsi yang tepat antara hal-hal yang tidak beresiko dengan hal-hal yang memiliki resiko tinggi. Misalnya menaruh investasi pada portofolio yang tidak beresiko sebesar 90% dan yang beresiko tinggi sebesar 10%, masuk akal, tentu saja kita tidak mau bertaruh dengan berinvestasi pada hal yang penuh resiko sebesar 90% dari total investasi.

Namun pada bab “Non Linear” di halaman 300, Taleb menjabarkan dengan kurva-kurvanya yang membingungkan dan sulit dipahami bahwa semakin banyak hal yang tidak pasti dan tidak linear maka untuk jangka panjang akan baik untuk kita. Bagi saya hal ini tidak sejalan dengan teori Barrel-nya yang memberikan porsi 90% dan 10%, teori Non-Linear justru mendorong kita untuk mengambil resiko lebih banyak dari hal-hal yang tidak beresiko.

Sekali lagi Taleb berargumen tentang pentingnya “Randomness”, No Stability without Volatility. kali ini Taleb memberikan contoh tentang bagaimana pemerintah Amerika yang berusaha untuk menstabilkan perekonomian ( yang jelas saja sistemnya hanya menguntungkan pihak tertentu ) yang justru malah mendorong perekonomian itu pada jurang ketidakstabilan, begitu juga dengan kebijakan luar negri yang mengintervensi negara-negara lain demi untuk menjaga kestabilan alias “World Peace” yang justru malah mengakibatkan perang yang berkepanjangan dan krisis ekonomi babak lanjutan.

Banyak hal yang dibahas pada buku ini dengan istilah-istilah filsafat yang aneh, tapi satu hal menarik yaitu pada saat Taleb jatuh dan melukai hidungnya, dia masih bisa berargumen dengan dokter saat dokter tersebut ingin memberi es batu untuk menghentikan pendarahan dengan alasan tidak ada bukti statistik bahwa es batu bisa menghentikan pendarahan. kalau saya pribadi sih tentu saja karena panik akan menerima apa saja yang dianjurkan oleh dokter, tapi tentu saja filsafat sekelas Taleb harus mempertanyakan dulu atas dasar apa si dokter mengambil tindakan seperti itu.

Sekali lagi Taleb mengkritik sistem kapitalis yang selalu berusaha untuk menjadi “lebih besar”, “Too big to fail” dan tamak, karena justru dengan ukurannya yang besar menambah resikonya untuk menjadi hancur. “Small is Beautiful” , untuk mengurangi resiko, ubah mega proyek menjadi beberapa proyek kecil yang ditangani oleh para proyek manajer, perusahan besar yang memecah subdivisinya menjadi lebih kecil tapi banyak, dan masih ingat bahwa usaha berskala mikro justru yang bisa bertahan dari krisis ?

Tentang krisis finansial 2008, Taleb  bercerita tentang dua tokoh fiktifnya Fat Tony dan Nero yang bertaruh melawan sistem finansial bahwa krisis akan terjadi dan mereka akan menambil untung besar dari hal tersebut, “By betting against Fragility, they were Antifragile”. walaupun tidak menjelaskan secara detail bagaimana si Fat Tony dan Nero bisa melakukan hal itu, kejadian ini mirip sekali dengan isi buku “Big Short” oleh Michael Lewis yang secara detail menceritakan tentang segelintir orang dari luar sistem yang bisa memprediksi kehancuran finansial jauh dari sebelum 2008 dan mengambil keuntungan dari krisis finansial itu.

Saya sempat berpikir jangan-jangan Taleb sendiri adalah si Fat Tony atau Nero yang juga mengambil keuntungan besar dengan “short trading” saat krisis finansial terjadi………

Taleb juga membahas tentang ilmu kedokteran, obat-obatan, penyakit dan nutrisi makanan, dimana dia menjelaskan bahwa dia pantang makan buah yang tidak memiliki nama latin, seperti buah mangga dan pepaya, dengan alasan yang masuk akal bahwa buah-buah tersebut sarat dengan kandungan gula yang tinggi, yang tentu saja tidak baik untuk kesehatan ( waduh, jangan-jangan Durian gak punya nama latinnya ya ? 😐 )

Harus saya akui bahwa setiap bab pada buku ini sulit untuk dicerna, tadinya saya pikir apa saya saja yang segitu begonya hingga perlu waktu berhari-hari dan membaca berulang-ulang untuk memahami pesan dari setiap bab pada buku ini, sampai saya membaca review buku ini di Goodreads dimana beberapa pembaca juga mengeluhkan hal yang sama, bahkan ada juga yang menyebut Taleb sebagai “Ass****” tapi masih memberikan 5 bintang untuk bukunya.

Satu hal lagi yang saya bisa dapatkan dari buku ini, adalah menjadi puitis itu bisa membunuh ! jadi lupakan saja membuat posting2 puitis di semua sosial media, karena hal itu tidak baik untuk kesehatan jiwa !

Beberapa beautiful quotes yang saya dapatkan dari buku ini yaitu :

Keeping one’s distance from an ignorant person is equivalent to keeping company with a wise man” – Ali bin Abi Talib.

“The good is mostly in the absence of the bad”

“Suckers try to win arguments, Non-Suckers try to win”

“never ask a doctor what you should do, ask him what he would do if he were in your place”

dan saya modifikasi jadi begini ;

“never ask a TRADER what you should buy or sell, ask him what he would do if he were in your place”

:mrgreen:

Jadi mungkin bisa saya simpulkan bahwa Taleb berusaha untuk meyakinkan kita bahwa segala hal yang tidak pasti dalam hidup ini bukan dihindari, namun harus dihadapi.

No result without efforts,

no joy without sadness,

no convictions without uncertainty. 

All and all, buku ini sangat menarik, menyebalkan, membingungkan tapi juga mencerahkan, dan baru kali ini saya bisa begitu membenci dan menyukai satu buku pada saat yang bersamaan, dan tentu saja seperti kedua buku Taleb sebelumnya, saya akan membaca buku ini berulang-ulang 🙂

antifragile

The Big Short , detik-detik menuju kehancuran Wall Street

“The line between Gambling and Investing is artificial and thin”

“The best definition of Investing is Gambling with the odds in your favor.”

Setelah menikmati Liar’s Poker, tidak pernah terpikir oleh saya untuk membaca novel Michael Lewis lainnya, terutama yang berhubungan dengan dunia finansial, dan saat saya mengetahui tentang The Big Short, yang terlintas dibenak saya “oh, dia ingin bernostalgia dengan Wall Street, ini pasti buku biografi lanjutannya setelah dia meninggalkan Salomon Brothers, semoga saja saya tidak tertidur setelah membaca bab pertama ! Hahaha…” dan ternyata saya sangat sangat salah besar ! The Big Short adalah novel yang sangat jauh berbeda dengan Liar’s Poker, walaupun masih tentang seputar dunia Capital Market, Bond Trading, dan orang-orang yang terlibat dalam seluruh sistem itu, novel ini menceritakan dari suatu perspektif yang berbeda, yaitu mengenai segelintiran kelompok kecil yang bertaruh melawan seluruh sistem Wall Street di masa keemasan Subprime Mortgage Bonds, hingga mencapai ambang batasnya yaitu saat kehancuran seluruh sistem di Wall Street pada krisis finansial di tahun 2007.

Jadi buku ini bukan mengenai si penulisnya, namun disini Lewis menggali beberapa narasumbernya yang secara diam-diam sudah memprediksikan keruntuhan finansial jauh sebelum terjadi, dan juga memaparkan secara gamblang kebobrokan sistem finansial di negara tersebut, yang didukung semua yang terlibat di Wall Street, mulai dari investment bank, rating agency dan firma-firma lainnya, hingga mengantarkan negara itu pada kehancuran finansial yang mengakibatkan jutaan orang kehilangan rumah dan pekerjaannya.

Bet against the whole Market

Adalah Steve Eisman, seorang analis suprime mortgage bonds yang pertama mengendus kejanggalan dari obligasi kredit rumah itu, pada 90’s hanya sedikit analis pasar obligasi yang memahami dengan benar efek dan dampak negatif dari pinjaman atau kredit yang diperpanjang atau di-extend, dan Eisman adalah salah satunya, Eisman digambarkan sebagai karakter seorang analis tipikal Wall Street ; smart, kejam, kasar, aneh dan agresif, bahkan istrinya mengatakan mustahil mengajarkan tata krama pada Eisman.

Rasa ingin tahu Eisman yang tinggi mengenai Suprime Mortgage bonds mengantarkannya menemui seorang akuntan yang sejalan dengannya, Vinny Daniel, yang terus kebingungan karena bosnya tidak bisa menjelaskan mengapa mereka harus mengaudit investment bank di Wall Street yang tidak memiliki data-data yang jelas, bersama mereka mencoba menggali apa sebenarnya yang akan terjadi akibat dari semua ini, dan mereka berkesimpulan bahwa suatu saat semua ini akan berakhir, Eisman pernah membuat nulis laporan mengenai hal ini namun tidak ada yang mempercayainya di Wall Street. Vinny terus menganalisa dan memprediksikan bahwa krisis akan dimulai pada pertengahan 2005. dan Eisman pun mulai menyusun sebuah strategi sebelum krisis dimulai.

The Outsiders who shorting the bonds

Apakah hanya orang-orang “insider” di dalam Wall Street yang bisa mengendus kehancuran ini ? Ternyata sekelompok kecil orang yang sama sekali buta tentang pasar obligasi bisa memahaminya ! Tepat pada saat harga rumah mulai menurun pada 2006, Charlie Ledley membaca laporan presentasi seorang bond trader senior dari Deutsche Bank, bernama Greg Lippmann, tentang teorinya “shorting mortgage bonds” yang muncul dibenaknya adalah “this is too good to be true, why no one smarter than us doing this ?”

Short selling ada teknik yang lazim digunakan di pasar saham untuk meraup keuntungan saat pasar saham terjun bebas, namun short selling di pasar obligasi adalah hal yang mustahil dilakukan, karena karakteristik obligasi yang jauh berbeda dengan saham, namun jika kita membeli Credit Default Swap yang secara harfiah merupakan sejenis asuransi dari suatu obligasi yang diterbitkan oleh investment bank, maka saat pasar obligasi hancur, pihak yang memegang Credit Default Swap (CDS) akan meraup keuntungan yang sangat besar, dan entah mengapa tidak ada yang melakukan hal itu karena seluruh pasar percaya tidak ada yang bisa membuat pasar obligasi, terutama subprime mortgage bonds runtuh.

Sampai pada bab ini saya baru paham bahwa yang dimaksud dengan judul “The Big Short” adalah aksi Short Selling Obligasi ! These people were not merely making a bet against bonds but they were making a bet against the whole system. Ini pertama kalinya saya mendengar tentang hal ini dan yang terlintas dalam benak saya adalah “ini gila ! Huahahaa….”

Bersama kedua temannya, Ben Hockett dan Jamie Mai, mereka mendirikan sekuritas kecil bernama Cornwall Capital, dan mulai menganalisa pasar dengan seksama, dengan tujuan untuk membeli CDS dari investment bank ternama di Wall Street, namun dana yang mereka miliki “hanya” 30 juta dollar adalah jumlah yang sangat kecil, hingga tidak ada satu pun investment bank di Wall Street yang mau menerima mereka menjadi investornya, karena mereka hanya melayani trading diatas ratusan juta dollar, permasalahan mereka bukan hanya menemukan investment bank yang mau menerima mereka sebagai investor, tapi juga bagaimana (jika) saat krisis terjadi , kepada siapa mereka akan menjual CDS itu dan bagaimana para outsider bisa melakukan transaksi di pasar obligasi. Waktu yang mereka miliki hanya sedikit saat krisis dimulai, karena jika meleset sedikit saja maka semua CDS yang mereka miliki jadi tidak berharga.

The Lone Black Swan

Bagian yang paling mengesankan dari buku ini adalah saat tokoh seorang dokter neurologis yang memiliki obsesi terpendam pada pasar obligasi, Michael Burry meluangkan hobinya menulis analisa investasi finansial disela-sela waktu kerjanya sebagai dokter, sampai bakatnya mulai ditemui oleh investment bank ternama, Morgan Stanley, maka Burry mantap meninggalkan dunia kedokteran dan mendirikan perusahaan investment kecil, Scion Capital. Entah kenapa, tokoh Michael Burry mengingatkan saya pada tokoh Lisbeth Salander di Millenium trilogy-nya Larsson, penderita Asperger syndrome juga, hingga mengakibatkan dokter yang hanya memiliki satu mata ini kesulitan berinteraksi dengan sesama, dan ia memilih untuk mengisolasi dirinya dan berkomunikasi via email saja, namun justru karena Asperger sindrom tersebut yang membuat Burry bisa fokus total pada satu masalah dan menemukan apa yang tidak dilihat oleh orang awam.

Burry mulai menganalisa tentang kredit rumah (mortgage lending ) pada 2003 sampai 2004 dan meramalkan dengan akurat bahwa kehancuran pasar obligasi akibat kredit rumah ini akan terjadi pada 2007, karena pihak yang meminjamkan terus menerus memberikan pinjaman pada para peminjam, “ “What we want to watch are the lenders, not the borrowers, because the borrowers will always be willing to take a great deal of it.” Berdasarkan perhitungannya, Burry mulai membeli credit default swap yang dipilihnya secara seksama, namun tidak ada yang mendukung teorinya hingga Burry terus menerima tekanan dari para investornya hingga mengakibatkan dirinya menderita depresi.

Salah satu analis pasar obligasi menyebut Burry sebagai The Black Swan, karena dia berdiri sendiri mempertahankan analisanya ditengah-tengah cemoohan lainnya. Mempunyai teori bahwa subprime mortgage bonds akan runtuh berarti menentang seluruh sistem di dalamnya.

Everything is Correlated

Setelah financial disaster terjadi, Michael Lewis bertemu kembali dengan bekas bosnya di Salomon Brothers, John Gutfreund, yang disebutkan dalam Liar’s Poker , dan tentu saja mereka mendiskusikan tentang apa yang menjadi penyebab dari krisis yang sudah terjadi itu. Namun sejatinya krisis bukan dimulai pada saat awal 2000. Pada awal 80′ Gutfreund melakukan terobosan mengubah Salomon Brothers dari private partnership menjadi public corporate yang pertama, ini mengakibatkan mereka mentransfer resiko finansialnya ke para share-holders, dan juga tentu saja pada masa itu merupakan tonggak kelahiran program Mortgage Derivatives atau yang selanjutnya dikenal sebagai Mortgage Bonds. “Derivative are like guns, the problem isn’t the tools but it’s who’s using that tools.”

Setelah keluar dari Salomon Brothers, John Gutfreund mengisi beberapa panel diskusi di business school dan dia menyarankan para pelajar mencari hal penting lainnya daripada bekerja di Wall Street, dan pada saat dia diminta menjelaskan karirnya, dia menangis.

Keputusan Gutfreund mengubah partnership menjadi corporate adalah inti permasalahannya, “When things go wrong it’s their problem” Ketika investment bank di Wall Street hancur maka semua resikonya menjadi milik pemerintah, dan tentu saja dana bail-out diambil dari anggaran negara. Pada akhir 2008 pemerintah menyuntikkan 700 milyar dollar ke investment bank di Wall Street, namun ternyata jumlah itu masih belum cukup untuk menstimulus pasar, hingga pada awal 2009 jumlah yang telah diberikan untuk bail-out sudah lebih dari triliunan dollar dan semua itu dibebankan kepada tax payers.

Dan bagaimana dengan para sekelompok kecil yang melakukan aksi short selling pada saat krisis terjadi ? Tentu saja mereka berhasil meraup keuntungan ditengah kehancuran finansial tersebut, dan Michael Burry yang akhirnya berhasil membuktikan teorinya bahwa krisis akan terjadi, mencetak keuntungan dari 100 juta dollar menjadi lebih dari 700juta dollar, dan Scion Capital mencetak return sebesar 400%, namun pada 2008 hasil tersebut dilikuidasi hingga menyebabkan Burry tidak dapat meraup keuntungannya, namun setidaknya dia telah berhasil membuktikan teorinya. Michael Burry saat ini masih berkerja pada Scion Capital, tetapi ia membatasi diri hanya berinvestasi atas dana pribadinya saja, dan tidak mencari investor lainnya.

Charlie Ledley dan koleganya akhirnya berhasil mencetak profit dari taruhannya sebesar 30 juta dollar menjadi 135 juta dollar, namun mereka tidak pernah merayakan keberhasilannya, fakta-fakta yang mereka temukan di Wall Street telah menyurutkan minat mereka, “I think there’s something fundamentally scary about our democracy.” kemudian mereka menyusun rencana untuk membalas dendam kepada rating agency yang telah menipu dengan mengacaukan standar mortgage obligasi, hingga mereka membentuk non-for-profit legal entity yang bertujuan hanya untuk menuntut rating agency ; Moody’s dan S&P, yang telah menyebabkan kerugian bagi para investor. “Our plan was to go around to investors and say ; You guys don’t know how badly you got fucked, you should really sue.”

Apa yang bisa kita lakukan

Mortgage Crisis telah membuktikan bahwa sistem kapitalisme tidak berhasil memberikan kesejahteraan pada seluruh orang yang terlibat didalamnya, pasti selalu ada pihak yang mengambil keuntungan diatas kerugian pihak yang lain, dalam hal ini Wall Street telah meraup keuntungan besar bukan hanya dari para peminjam kredit rumah namun juga dari pemerintah dengan dana talangan bail-outnya.

Naif sekali kalau berpikir hal yang sama tidak akan terjadi disini, tapi saya tidak bisa membuat prediksi tentang hal tersebut, saya bukan analis pasar, bukan investor juga, apalagi trader, saya hanya suka mengamati keanehan yang terjadi di dalam sistem ini, dan saya hanya bisa berkesimpulan bahwa krisis tersebut terjadi akibat pinjaman untuk kebutuhan konsumtif yang berlebihan.

Dan tren itu pun sudah jelas terjadi disini, coba bayangkan kenapa belakangan ini kita tiap hari dibombardir oleh telefon dari CS kartu kredit ? Atau kenapa banyak sekali yang menawarkan pinjaman untuk kebutuhan konsumtif tanpa agunan ? Perhatikan Bank-bank mana saja yang getol melakukan ini maka polanya akan tampak jelas : Pihak asing telah melakukan penetrasi didalam sistem perbankan kita untuk meraup keuntungan yang besar dari semua ini, dan jika suatu hal terjadi, pemerintah akan menalanginya dengan dana bail-out yang dibiayai oleh anggaran negara.

Hindari pinjaman untuk kebutuhan konsumtif, mulai pola hidup sederhana, kalau tidak bisa beli mobil ya naik angkot saja, kalau tidak mampu beli rumah ya sewa atau ngekos saja, kalau tidak mampu beli smart phone mungkin anda memang sebetulnya tidak memerlukannya, jadi kenapa harus mengambil pinjaman jika sebetulnya kita tidak memerlukannya ?

Kembali ke The Big Short, jujur novel ini far beyond my expectation, dan kemarin saya membaca salah satu reviewnya di sebuah blog yang menyebutkan kalau novel ini lebih baik dibandingkan dengan Larsson’s Millennium Trilogy, bagi saya novel ini sungguh berbeda dibandingkan dengan Liar’s Poker, dimana saya sangat menikmati lelucon kasar dan satirnya, namun di The Big Short, saya seperti mengalami sesak nafas dan sempat ngeblank dan black-out beberapa kali setiap kali membaca fakta-fakta mengerikan yang ada di dalamnya. Tidak berlebihan kalau novel ini dikategorikan sebagai novel non-fiksi finansial thriller. Dan Michael Lewis seperti mengejek buku-buku finansial lainnya yang tebal dan bertele-tele, karena The Big Short mampu memaparkan nuansa kelam di masa krisis finansial kurang dari 300 halaman ! Novel ini semakin mengukuhkan kemampuan Michael Lewis sebagai seorang narator ulung.

Sumber :

http://www.scioncapital.com/

http://www.valuewalk.com/micheal-burry-page/

http://en.wikipedia.org/wiki/Subprime_mortgage_crisis

http://www.goodreads.com/book/show/6463967-the-big-short

http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2010/03/12/AR2010031202291.html


Liar’s Poker – memoar kebangkitan Bond Market dan Mortgage Bonds

Wall Street is a street with a river at one end and a graveyard at the other….. This is striking, but incomplete. It omits the Kindergarten in the middle.” – Fred Schwed

The biggest myth about bond traders, and therefore the greatest misunderstanding about the unprecedented prosperity on Wall Street in 80’s, are that they make money by taking large risks. a few do. and all traders take small risks, but most traders act simply as toll takers.

Knowing about market is knowing about other people’s weakness. And a fool, they would say, was a person who was willing to sell a bond for less or buy a bond for more than it was worth.

Liar’s Poker adalah novel non-fiksi yang cerdas, sarat dengan humor satir, dan penuh dengan kata-kata makian dan effing words, dimana Michael Lewis, sang penulis sendiri mengisahkan pengalaman pribadinya menjadi seorang Bond Trader di sebuah Investment Bank ternama di Wall Street, Salomon Brother pada era 80’s saat dimana pasar modal dan perdagangan obligasi sedang bangkit menuju era keemasannya.

Selama bertahun-tahun Liar’s Poker telah menjadi semacam acuan dasar dalam memahami Bond Market, beberapa tokoh penting Salomon Brothers yang disebutkan dalam buku ini adalah John Meriwether, Lewis Ranieri, dan CEO John Gutfreund.

Lulus dari jurusan Art history, Princeton, Lewis meniti karirnya sebagai Bond Trader di Salomon Brothers, mulai dari Trainee, menjadi Geek (mahluk kasta terendah di trading floor) hingga sukses berhasil menjadi Big Swinging Dick, yaitu bond trader yang berhasil menjual junk bond kepada kliennya hanya dengan satu phone call. Dengan kemampuan narasinya yang mumpuni, Lewis membawa kita menelusuri kehidupan Bond Trader, dan bagaimana realita yang sesungguhnya terjadi di Wall Street, khususnya di pasar obligasi.

Sebelum saya lanjutkan, perlu saya menjabarkan beberapa istilah market dari novel ini (tentunya berdasarkan pemahaman saya yang pas2an ini ya ) terutama berbedaan dasar antara Bond dan Stock. Bond adalah surat hutang artinya jika saya punya bond maka saya secara tidak langsung memberikan hutang pada orang yang menerbitkannya. Sedangkan jika punya Stock atau saham artinya saya memiliki share atau bagian dalam perusahaan yang menerbitkannya. Namun anehnya ada regulasi yang mengatur jika suatu perusahaan bangkrut, maka pemilik obligasi tetap bisa memperoleh kompensasinya, sementara pemilik saham justru merugi karena nilai sahamnya sudah terjun bebas.

Baik Bond Market maupun Stock Market memiliki indeks masing-masing, yang indeksnya itu juga berfluktuasi atas pengaruh yang berbeda-beda, jika indeks saham berfluktuasi atas berbagai faktor misalnya kondisi perekonomian, demo, inflasi, bencana alam, dsb….maka indeks obligasi biasanya paling dipengaruhi oleh suku bunga bank, jika suku bunga naik, maka indeks obligasi turun, dan sebaliknya…..tapi jika pasar saham terjun bebas alias hancur…..pasar obligasi justru malah berpesta pora! Hal ini pun juga dijelaskan dalam Liar’s Poker.

Kembali pada Liar’s Poker, banyak fakta-fakta yang dijabarkan dalam buku ini terutama bagaimana kehidupan para Bond Trader, dan prinsip hidup mereka yang berorientasi pada uang semata, memikirkan berapa banyak keuntungan yang bisa mereka raih dari kliennya. Egois, oportunis, licik, tipu-daya penuh spekulasi dan street-smart adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan karakter orang-orang dalam industri ini. Lewis juga mencatat bahwa walaupun kebanyakan dari Bond Trader memiliki latar belakang pendidikan ekonomi dan finance, namun ilmu itu sejatinya tidak pernah digunakan. Jadi siapa pun dengan latar belakang pendidikan apapun asalkan bisa menjadi tukang bual yang baik maka bisa menjadi seorang Bond Trader yang sukses.

Salah satu bab dari Liar’s Poker mengisahkan tentang evolusi Mortgage Bonds, pada era itu Mortgage bond bagaikan tambang emas, investment bank meraup jutaan dollar dari situ, namun keserakahan dan kebodohan tentunya menjadi pil pahit, hingga mengantarkan Amerika pada krisis di tahun 2008 yang juga dikenal sebagai Subrime Mortgage Crisis.

Pada akhir buku ini, Lewis keluar dari Salomon Brothers, justru saat dia telah menjadi Big Swinging Dick dan menerima bonus ratusan ribu dolar ( tahun 80an jumlah segitu sangat luar biasa lho! ) tanpa alasan yang cukup jelas, hanya karena masih memiliki kepercayaan bahwa harusnya seseorang memperoleh uang berdasarkan atas kontribusinya pada masyarakat. Lalu ? bagaimana nasib Lewis setelah hengkang dari situ ? ternyata dia menjadi seorang Jurnalis dan menulis beberapa buku terkenal lainnya diantaranya adalah Moneyball dan The Blind Side yang sudah difilmkan.

Saat ini Lewis masih menulis berbagai artikel tentang finansial diberbagai media, dan buku terbarunya The Big Short, seperti merupakan kelanjutan dari Liar’s Poker, dimana Lewis mengungkapkan keheranannya atas Wall Street yang masih bisa bertahan setelah krisis tersebut. Oh ya, di buku itu Lewis bertemu lagi dengan mantan bosnya, John Gutfreund.

Dan bagaimana dengan kondisi pasar obligasi di negara ini ? setahu saya, saat ini bank-bank asing meraup untung banyak dari sini, menjadi Investment Bank bagi mereka jauh lebih menarik dibandingkan menjadi Payment Bank seperti BCA atau BRI, saya cuma berharap semoga krisis di amrik sana jangan sampai terjadi disini ya, walau peluangnya tetap ada apalagi dengan pemerintah kita yang korup ini.

Dan barusan ada kejadian yang kira-kira hampir sama dengan kisah buku ini, Greg Smith, executive director dari Goldman Sach mengundurkan diri karena sudah tidak tahan dengan kultur perusahaan tersebut, baca di artikel “Why I am leaving Goldman Sach” : “Today, many of these leaders display a Goldman Sachs culture quotient of exactly zero percent. I attend derivatives sales meetings where not one single minute is spent asking questions about how we can help clients. It’s purely about how we can make the most possible money off of them. If you were an alien from Mars and sat in on one of these meetings, you would believe that a client’s success or progress was not part of the thought process at all

All and all….Liar’s Poker adalah novel yang sangat menarik dan menghibur, saya sampai membacanya beberapa kali, walau tidak pernah terlibat langsung dengan dunia itu, paling tidak novel ini bisa membuat saya paham apa sesungguhnya yang terjadi di dalam trading floor.  Dan sebaiknya novel ini dibaca versi bahasa aslinya ya, bukan sok genggres ya, tapi banyak idiom dan anekdot yang jadi garing kalau diartikan ke bahasa kita, ya contohnya saja Big Swinging Dick ! :mrgreen:

Oh ya, kabar baiknya Liar’s Poker tahun depan akan difilmkan ! 😀

“Those who know don’t tell and those who tell don’t know.” – Michael Lewis