Homeschooling ~ sebuah proyek yang gagal

Sekitar tahun 2006 wacana homeschooling tiba-tiba menjadi tren dikalangan para orang tua, terutama karena salah satu penggagasnya adalah Kak Seto, mantan guru TK saya (uhuk-uhuk) dan banyak juga orang tua yang mencoba menerapkan homeschooling ini pada anaknya.

Saya pun juga termasuk salah satu dari mereka, jangan salahkan saya, sebetulnya saya diajak oleh saudara saya yang memiliki 4 anak itu (hihihii….) no, seriusly…. saya memang terpesona pada konsep homeschooling dengan segala macam kelebihannya, dan juga dimata saya ini adalah semacam gerakan anti monopoli terhadap sistem pendidikan kita yang aneh dan sudah terlalu komersil.

Dan kami pun mencoba melakukannya, dengan berbekal segala macam informasi yang telah dikumpulkan dari internet, kami merasa yakin dapat melakukan ini, ada tiga siswa angkatan pertama kami, dua dari anak saudara saya itu dan satunya lagi adalah anak bungsu saya.

dengan kurikulum ditangan kami, juga kami sudah mendapatkan guru privat untuk ketiga anak tersebut, maka kami memulainya, dengan harapan bahwa anak-anak ini bisa mendapatkan pendidikan yang memadai dibandingkan dari sekolah konvensional.

namun setelah beberapa bulan berjalan kami menemui berbagaimacam kendala, mulai dari kesulitan menghandle para siswa tersebut, kejenuhan, dan kebingungan menghadapai berbagai pertanyaan dari orang sekitar yang kebanyakan masih memandang skeptis terhadap sekolah rumahan.

Dan satu hal yang kami rasakan bahwa ada salah persepsi tentang kelebihan homeschooling, selama ini semua orang mengira bahwa homeschooling itu bisa lebih murah secara biaya dibandingkan dengan sekolah konvensional, itu adalah SALAH BESAR, saudaraku ! murah dan hemat dari segi mana dulu ? jika dibandingkan dengan sekolah bertaraf internasional yang uang pangkalnya saja bisa seharga mobil eropa, ya tentu saja homeschooling lebih murah.  Namun jika dihitung dari faktor energi dan waktu dari orang tua yang harus dicurahkan, maka homeschooling jauh lebih BOROS dibandingkan dengan sekolah konvensional.

Ya, bandingkan jika anak anda masuk disekolah umum, semuanya sudah disiapkan oleh sekolah terutama kurikulum pendidikan, namun jika anda menerapkan sekolah rumah bagi sang anak, maka adalah tugas anda sebagai orang tua untuk menggantikan FUNGSI sekolah konvensional tersebut !

Waw ! berat ya ?

Dan masalah lainnya lagi, seperti yang sudah pernah saya tulis diartikel sebelumnya, bahwa tidak semua orang tua dapat menjadi GURU yang baik bagi anaknya sendiri, bahkan seorang guru pun belum tentu bisa mengajari anak kandungnya sendiri. saya rasa mungkin ada faktor psikologis yang menghalangi orang tua untuk dapat menjadi guru bagi anaknya.

Oleh karena itupun di amrik sono, homeschooling tidak dapat menggantikan sekolah konvensional, walaupun mereka telah memiliki konsep yang sempurna, komunitas homeschooling yang terdapat disemua negara bagian, dan berbagai fasilitas lainnya. hingga homeschooling dipandang sebagai alternatif bagi orang tua yang dapat menerapkan konsepnya untuk anaknya.

dan begitulah nasib homeschooling di negri ini, namun saya masih yakin demandnya masih cukup tinggi, silakan lihat di homepage homeschooling di bagian comments-nya yang masih banyak yang bertanya tentang homeschooling :

http://www.homeschoolingindonesia.com/

Dan bagaimana akhir cerita proyek homeschooling kami ? maaf, ternyata sayalah yang pertama keluar dari situ (waduh!!! ) sebab didekat rumah saya ada sekolah TK yang cukup bagus dan tidak mahal,hingga akhirnya saya tidak kuat godaan dan memasukkan si kecil ke sekolah itu.

Sementara itu saudara saya masih tetap terus menjalankan homeschooling-nya sampai kedua anaknya masuk sekolah dasar.

Saya pernah membaca artikel, di daerah BSD, ada kursus bimbel yang menerima kursus paket kejar C (kalau tidak salah yang setara dengan SMU) dan itu dilakukan karena ada permintaan dari para siswa yang tidak lulus ujian nasional, hingga mereka harus mengulang pelajaran SMU lagi (correct me if i’m wrong)

Jadi saya berpikir, jika siswa bisa mengambil paket C, mengapa mereka tidak melakukannya dari dulu saja dan tidak perlu masuk SMU ? jika wacana homeschooling ini bisa berkembang kembali, tentunya para siswa akan terhindar dari kejadian-kejadian yang tidak perlu seperti mengulang ujian nasional ini.

Hingga dapat saya simpulkan bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan jika kita ingin agar homeschooling kembali berkembang, yaitu :

  • Komunitas, sekolah rumahan dapat masuk dalam kategori organisasi non-profit, maka agar dapat berkembang, perlu komunitas yang kuat, memang sudah ada komunitas sekolah rumahan yang digagas kak Seto, namun sayangnya hingga saat ini para pelaku selkolah rumahan bergerak sendiri.
  • Dukungan dari partner, percuma saja anda mengembar-gemborkan sekolah rumahan keseluruh pelosok nusantara namun anda tidak mendapat dukungan dari suami or istri sendiri, ini adalah batu sandung terbesar dari sekolah rumahan, hal ini HANYA akan berhasil jika anda mendapat dukungan dan lebih baik lagi jika mendapat bantuan dari pasangan anda.
  • Pemerintah, sejauh ini memang depdikbud telah memberikan dukungannya terhadap gerakan sekolah rumahan, namun entah mengapa saat ini hampir sudah tidak terdengar lagi kelanjutan dari proyek sekolah rumahan ini, bagaimanapun solidnya komunitas sekolah rumahan, tetap memerlukan sokongan dari pemerintah.

All and All, saya masih menemukan segelintir orang tua yang sungguh berdedikasi demi pendidikan anaknya dan tetap terus menjalankan sekolah rumahan ini, regardless all those obstacles, yang tentu saja semua itu dilakukan dengan segala keikhlasan mereka…….

silakan lihat link berikut ini untuk segudang tips jitu tentang homeschooling dan parenting :

http://www.sumardiono.com/

http://www.daramaina.com/

http://rumahinspirasi.com/

Advertisements

it’s Raport day !!!

tidak ada hari yang lebih menegangkan bagi para orang tua dibandingkan dengan hari penerimaan raport, ya tentu saja karena hari itu adalah hari penentuan apakah sang anak telah berprestasi di sekolahnya atau tidak

terutama setelah melalui hari-hari yang melelahkan belajar bersama anak, yang penuh dengan tegangan dan tekanan, jangan ditanya bagaimana stresnya menghadapi anak yang sulit belajar atau males juga tidak cepat menangkap pelajaran, padahal materi dari sekolah sudah sangat banyak

belum lagi tekanan dari lingkungan , terutama saat pertemuan keluarga, pastinya pertanyaan yang paling banyak diajukan adalah : “Anak kamu rangking berapa disekolah ? ” atau  ” Nilainya bagus tidak ?”, “Ada merahnya ?” dan sebagainya

dilingkungan saya, baik ibu-ibu tetangga, maupun ibu-ibu yang lainnya, kelihatannya sangat cemas sekali dengan prestasi anaknya, mulai dari mengikutkan anaknya diberbagai les tambahan, memanggil guru les privat, belajar bersama….. semua itu dilakukan entah demi kebaikan si anak atau demi gengsi si orang tua, saya tidak pernah tahu.

tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya berprestasi disekolah, begitu pula dengan saya. namun bagaimana seorang anak dapat berprestasi disekolah dari inisiatifnya sendiri ? bagaimana orang tua bersikap dan bertindak agar anak memahami bahwa prestasi di sekolah itu pun sama pentingnya dengan bermain video game ?

Saya berusaha memahami hal ini dengan mengamati dari berbagai orang tua disekitar saya – sangat disayangkan tidak ada universitas untuk orang tua, jika ada saya pasti sudah kuliah lagi. kemudian saya simpulkan bahwa tidak ada satu pun orang tua yang sempurna, begitu pula dengan saya, yang saya hanya dapat lakukan adalah terus belajar menjadi orang tua yang baik.

pada awalnya saya sama sekali tidak dapat belajar bersama anak saya, kemudian saya memanggi guru privat yang sudah cukup saya kenal dengan baik, darinya saya belajar banyak mengenai parenting, walaupun dia hanya guru SD negri namun ilmu parentingnya cukup mumpuni.

menurut guru privat ini hanya 10% dari orang tua saja yang dapat mengajari anaknya sendiri, mungkin ini juga sebabnya Home Schooling pun tidak dapat menggantikan sekolah konvensional karena tidak semua orang tua bisa menjadi guru yang baik bagi anaknya sendiri.

dan beberapa ilmu belajar bersama anak yang saya peroleh yaitu ; tidak boleh terlalu lama belajar bersama anak, daya tahan mereka masih belum sekuat kita, paling lama sekitar satu jam kemudian beri waktu jeda untuk menyegarkan pikirannya, itu sebabnya saya masih memperbolehkan si kecil menonton dan main game saat waktu jeda untuk mengistirahatkan otaknya.

selain itu, tentu saja suasana belajar harus tenang dan menyenangkan tanpa tekanan, jika hal ini tidak bisa orang tua ciptakan, jangan pernah sekali-kali belajar bersama si anak ! percuma saja kita menyindirnya, memaki-maki dan mengancamnya, hal tersebut hanya akan menghilangkan rasa percaya diri dan minat si anak untuk belajar.  suasana belajar yang ideal bagi saya adalah baik saya dan anak saya saling menikmati suasana belajar itu bersama-sama.

dan tentu saja tidak lupa memuji si anak dan menyemangatinya, hal-hal kecil seperti itu yang akan menumbuhkan rasa percaya dirinya, juga ingatkan dia untuk tidak takut apabila nilai ujiannya tidak sesuai dengan harapan, karena si kecil pun juga harus tahu bahwa kadang kala ia mengalami kegagalan dan tentu saja hal itu tidak menyurutkan minatnya untuk terus belajar.

saya ingat, beberapa tahun yang lalu saat saya sedang mengambil raport anak sulung saya, gurunya bertanya seperti ini :

guru : “Saya kagum dengan prestasi anak anda, apa rahasianya ya,bu ?”

saya : “Wah, itu dia ! saya pun juga tidak tahu ! Tuhan memang baik kepada saya sudah memberikan anak yang pintar seperti ini, padahal mamanya biasa saja, hahahahaaa….” (muka bego)

guru : “…………………” (bengong, jaws dropped)

Oh my Goat !!!

no, seriously…. saya telah berusaha tidak berharap anak saya berprestasi disekolahnya, saya selalu membayangkan worse case-nya anak saya memiliki prestasi yang dibawah rata2, dan jika hal itu terjadi saya tetap akan berusaha menyemangatinya, dan terus menunjukkan kasih sayang saya terhadapnya, bahwa saya telah memahami prestasi disekolah itu bukan segala-galanya, masih banyak hal lain dalam hidup ini yang harus dipelajarinya, dan the most important thing is to keep learning anything new everyday.

untungnya sekolah yang saya pilih tidak menetapkan rangking kelas, hingga saya merasa cukup tenang untuk tidak membanding-bandingkan anak saya dengan teman sekelasnya, namun ternyata malah saya selalu ditanya oleh orang tua lain ; “Hah ? gak ada rangkingnya ? sekolah macam apa itu ?”

bodo amat !

membuat permainan yang menarik bagi anak

Sabtu pagi, entah angin dari mana, tiba-tiba sepupu saya mentwit lagu-lagu favoritnya yang suka dinyanyikan bersama anaknya yang masih balita, lucu sekali ! saya langsung teringat dengan beberapa lagu favorit saya yang dulu sering saya nyanyikan bersama dengan anak-anak saya, langsung saja saya membalas twitnya dengan menimpalinya dengan judul-judul lagu anak tersebut.

Kemudian topiknya berkembang kearah pemainan anak, saya langsung teringat satu permainan kesukaan anak saya yang kecil, yaitu play dough, kami jarang membeli play dough yang sudah siap pakai, biasanya saya membuat sendiri play dough itu, ini resepnya :

  • kira-kira 100gr tepung terigu
  • 2 sendok makan minyak goreng atau secukupnya
  • air secukupnya
  • pewarna makanan
  • garam dan gula secukupnya

pertama, campur pewarna makanan ke dalam air, dan aduk rata, tujuannya agar warnanya dapat tercampur dengan rata, kemudian campurkan semua bahan dan aduk sampai kalis, seperti membuat adonan roti atau adonan kulit pizza. saya sebetulnya tidak pernah mengukur takaran adonan tersebut, semuanya hanya perkiraan saja, hehheheee

setelah itu lengsung dapat dimainkan bersama dengan anak-anak, gunakan peralatan dapur yang tersedia seperti talenan, garpu, sendok, pisau roti yang tumpul, spatula, dan sebagainya.

dulu waktu anak saya masih balita, kami hampir setiap hari memainkan play dough ini, ternyata ada dampak positif yang saya peroleh, anak saya yang kecil ketika sudah memasuki kelompok bermain, menunjukkan perkembangan yang pesat dalam motorik halusnya, yaitu kemampuan menulis dan membuat prakarya, gurunya pun kagum dengannya sampai bertanya kepada saya apa rahasianya, pada awalnya saya tidak mengetahuinya dan malah bingung sendiri, ternyata baru saya ketahui belakangan bahwa sering bermain play dough telah meningkatkan kemampuan motorik halusnya !

Selain itu play dough buatan sendiri aman jika tertelan oleh si kecil, bahkan saya kadang-kadang suka iseng menggoreng atau mengoven play dough yang telah dibentuk oleh si kecil, dan bisa dimakan juga ! ini boleh saja, asalkan pewarna makanan yang digunakan telah terbukti aman dan digunakan dalam porsi yang tidak berlebihan.

Selain bermain play dough, tentu saja saya suka membuat cairan sabun untuk bermain gelembung busa, saya hanya menggunakan sabun cair biasa dan sedotan untuk meniup gelembung sabun itu.

sepupu saya pun juga mentwit permainan kesukaan anaknya, yaitu bermain rumah-rumahan atau mobil-mobilan dengan kardus bekas, kami pun juga sering melakukan hal itu.

Memang rumah akan menjadi sangat berantakan jika kita bermain bersama anak-anak, namun bagi saya yang terpenting adalah saya bersenang-senang dengan mereka, saya berusaha tidak terlalu pusing dengan rumah yang berubah menjadi kapal pecah, toh nanti bisa dibersihkan lagi.

Intinya bagi saya, memiliki anak harus saya manfaatkan sebaik-baiknya, buat apa memiliki anak namun kita tidak bisa bersenang-senang dengan mereka ? lupakan beban pelajaran dari sekolah, mereka sudah cukup terbebani dengan hal tersebut disekolahnya, waktu bersama orang tuanya harusnya menjadi waktu yang menyenangkan bagi mereka dan tentu saja bagi orang tuanya juga.