Al-Baqiyatush-Shalihat

“To be doing good deeds is man’s most glorious task” – Sophocles

Dua minggu belakangan ini nenek kami yang hampir berusia 90 tahun mengalami masa krisisnya, tubuhnya yang sudah menua mulai tidak bisa berfungsi seperti dulu lagi, kemudian beberapa kali beliau mengalami masa-masa koma dan kehilangan kesadarannya

diantara masa-masa sulit itu nenek beberapa mengucapkan hal-hal yang aneh, salah satu ucapan nenek yang sangat saya ingat yaitu nenek berkata bahwa :

“harta itu tidak akan bermanfaat, tidak ada gunanya memperebutkan harta, yang akan kita bawa nantinya hanya amalan, Amalan itu yang akan abadi.”

Saya teringat akan satu ayat yang serupa di Al-Quran surat Al-Kahfi ayat 46 yang bunyinya :

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia. tetapi Amalan baik yang abadi (Al-Baqiyatush-Shalihat) itulah yang lebih baik disisi Tuhanmu dari segi balasannya dan lebih baik untuk menjadi harapan.”

Al-Baqiyatush-Shalihat, amalan-amalan baik yang abadi,

jika kita melihat terjemahan maka Al-Baqiyatush-Shalihat diartikan menjadi “Amalan kekal yang baik”, ini jadi aneh karena terjemahan hanya mengartikan Al-Quran dari kata-perkata tanpa mampu menjabarkan makna yang tersirat

Saya pernah dengar seorang ustad yang mengatakan bahwa membaca terjemahan itu hampir sama saja dengan TIDAK membaca Al-Quran, karena sering kali terjemahan tidak mampu menjelaskan tata bahasa Al-Quran yang luarbiasa indahnya

Untuk memahami makna Al-Baqiyatush-Shalihat, saya mengambil rujukan dari tafsir Al-Quran, biasanya tafsir yang saya gunakan adalah Ibnu Katsir dan Buya Hamka,

Jadi seharusnya amalan yang baik yang abadi disebut “As-Shalihatul Baqiyaat”, namun Allah Subhanawata’ala membaliknya menjadi Al-Baqiyatush-Shalihat untuk memberi penekanan bahwa amalan-amalan yang baik itu sangat abadi dan menjadi harapan kita setelah kita meninggalkan dunia yang sementara ini.

Buya Hamka menerjemahkan Al-Baqiyatush-Shalihat sebagai “Jejak yang baik” dan “Bekas yang Indah”

karena setelah kita meninggalkan dunia ini maka amalan-amalan yang baik itu menjadi “jejak-jejak” yang baik hingga bisa ditiru oleh orang-orang yang masih hidup agar mereka juga dapat memetik manfaat dari amalan-amalan tersebut untuk hidup mereka.

Ibnu Abbas mengartikan Al-Baqiyatush-Shalihat sebagai sholat lima waktu dan dzikir kepada Allah, Abdur-Rahman bin Zaid mengartikan Al-Baqiyatush-Shalihat sebagai semua amalan ibadah yaitu sholat, zakat, puasa, sedekah dan sebagainya.

sebelumnya disebutkan bahwa “Harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia” karena dua hal ini yang biasanya menjadi tujuan hidup kita, terutama harta, kita menghabiskan waktu kita untuk mencari harta, dan seringkali urusan anak-anak terlalu menyita perhatian kita, padahal ini hanya perhiasan dunia yang membuat kita dapat menikmati hidup kita di dunia.

Ya tentu saja kita tidak dilarang untuk mengejar dunia namun tujuan utama hidup kita tetap pada Al-Baqiyatush-Shalihat

Setelah dua minggu nenek mengalami masa krisisnya, akhirnya nenek kembali kepada Sang Pencipta dengan tenang dan damai, tidak ada sedikitpun tampak kesakitan saat nenek menghembuskan nafas terakhirnya, Allah Subhanawata’ala telah mengambil nenek dengan cara yang paling lembut dan paling indah,

Kami hanya bisa berdoa untuk kebaikan beliau, dan berdoa agar beliau dimaafkan segala dosa-dosanya, dan dilapangkan kuburnya, juga bersyukur karena nenek masih diberikan kesempatan untuk menitipkan wasiatnya pada kami agar memperbanyak amalan-amalan baik

Terima kasih, Nenek

miss u so much…..

 

IMG-20160116-WA0030

 

Muhammad, Biografi sang Nabi – Karen Armstrong

 

Tidak ada perubahan sosial dan politik radikal yang pernah dicapai dalam sejarah manusia, tanpa pertumpahan darah.” – Karen Armstrong

EDIT : karena banyaknya respon atas artikel ini, maka saya garisbawahi lagi bahwa buku-buku Karen Amstrong memang tidak dapat dijadikan rujukan untuk mempelajari Islam, namun setidaknya dia telah berusaha objektif menurut persepsinya dan berdasarkan rujukan-rujukan dari ilmu Islam yang didapatnya dari dunia barat (9 April 2015)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal “(QS 8 : 2)

Karen Armstrong menulis autobiografi Muhammad, sang Nabi, pertama pada 1992 dengan niat untuk memberikan pandangan yang netral pada dunia barat setelah skandal “Ayat-ayat Setan” oleh Salman Rusdie, karena dunia barat tidak dapat memahami betapa tersinggungnya dunia Islam oleh novel ini,

Menurut mereka, Islam adalah kepercayaan yang tidak toleran dan fanatik sehingga layak untuk direndahkan, kepekaan kaum muslim yang dilukai oleh gambaran Rusdie tentang Nabi mereka dalam The Satanic Verses tidaklah penting” – Armstrong

Dan pada 2001, sekali lagi Armstrong merevisi buku ini setelah kejadian 9/11 , dimana dia menemukan bahwa stigma barat terhadap dunia Islam masih belum berubah sejak perang salib.

Untuk apa buku ini saya baca ? Sebagai orang yang terlahir dengan agama ini, agak sulit untuk membayangkan bahwa dunia barat memiliki pandangan yang jauh berbeda tentang Nabi Muhammad, bagi mereka Al-Quran bukan kitab suci namun karangan Muhammad belaka, Muhammad bukan nabi, Islam tidak menghargai wanita, Muhammad adalah penggila wanita, perang jihad adalah bukti bahwa Islam adalah agama yang penuh kekerasan. Sementara di dunia timur mengetahui bahwa sesungguhnya Islam bukanlah agama yang penuh dengan kekerasan, namun kita menemui banyak kendala untuk membuktikan hal itu, terutama setelah 9/11, dan buku ini yang merupakan karangan seorang non-muslim, adalah bagai jembatan yang menghubungkan kedua belah pihak yang saling berseberangan.

Dibandingkan dengan beberapa buku biografi Muhammad yang sudah pernah saya baca, memang buku ini tidak memberikan suatu hal yang baru, bahkan ada beberapa bagian dari masa-masa hidup Muhammad yang dihilangkan, tetapi intinya Armstrong ingin menitikberatkan pada bagian-bagian penting yang dapat membuktikan pada dunia barat bahwa Islam tidak seperti apa yang selama ini mereka percayai.

Dengan menggunakan metode pendekatan historis sosial-psikologinya, Armstrong memberikan insight yang berbeda, ada beberapa hal yang selama ini saya tidak pikirkan sebelumnya diantaranya alasan terjadinya perang jihad (selama ini kita beranggapan bahwa itu adalah perintah Tuhan semata) dan juga latar belakang terjadinya pembantaian atau genocide satu klan yahudi di Madinah oleh Muhammad, Berkali-kali Armstrong menekankan bahwa suku arab adalah suku yang sangat primitif, jauh lebih terbelakang dibandingkan dengan Persia dan Romawi, hingga dengan memahami hal itu, kita dapat memaklumi apa sebenarnya keadaan yang dihadapi Nabi dan umatnya.

Perang Jihad

Setelah hijrah dari Mekah ke Madinah, kaum Mujahirin (kaum muslim yang berhijrah) mengalami kesulitan dalam memenuhi kehidupannya sehari-hari, karena mereka sebagian besar mereka berasal dari kaum pedagang, sementara kehidupan di Madinah adalah kehidupan bertani, menggantungkan hidup pada kaum Anshor tidak mungkin dilakukan selamanya, hingga akhirnya kaum mujahirin mulai melakukan “penjarahan” atau “Gazw” pada rombongan pedagang Mekah yang melintasi jalur perdagangan, ini adalah kebiasaan suku arab yang lazim dilakukan untuk memenuhi kehidupan saat masa-masa sulit, agak sulit untuk dicerna namun alasan untuk bertahan hidup menjadi dasar terjadinya perang jihad hingga turunnya Wahyu Tuhan yang memerintahkan untuk berperang, bukan untuk membasmi kaum kafir, seperti yang kita pahami selama ini.

Armstrong menekankan bahwa Jihad bukan salah satu Rukun Islam, Jihad bukan tiang utama Islam, baik perang maupun perdamaian dapat dilakukan sesuai dengan kondisi yang terjadi saat itu, dan Muhammad bersama umatnya hidup dalam masa yang penuh kekalutan, dan saat itu perdamaian hanya dapat dicapai dengan pedang.

Konsep ini berbeda dengan agama lain, terutama agama Kristen, yang berkali-kali Armstrong mengutip : “memberikan pipi lain” jika diserang oleh musuh, dalam artian bahwa Kristen tidak mengenal konsep penyerangan terhadap musuh-musuh mereka, sementara itu Islam memerangi Tirani dan Ketidakadilan.

Sejatinya kaum Mujahirin tidak memiliki kemampuan berperang yang memadai, begitu juga dengan kaum Anshor yang mayoritas adalah petani, dan tiba-tiba saja Muhammad tampil menjadi pemimpin perang yang handal, menjadi ahli strategi perang yang jenius, melatih kaumnya dengan penuh kedisiplinan, menyusun strategi perang dan merapatkan barisan pasukan muslim dalam satu komandonya, hingga kaum muslim memperoleh kemenangan mutlak pada perang Badar. Efek moral dari perang Badar sangatlah besar, hingga Muhammad dan kaumnya yang selama ini menjadi sasaran cemoohan, setelah kemenangan di perang Badar mendapat kepercayaan diri dan pandangan yang baru.

Pembantaian/Genocide satu kaum Yahudi

Dalam beberapa buku biografi Muhammad lainnya, kisah memilukan tentang pembantaian suku Yahudi, klan Quraizah, tidak tersentuh, ini wajar karena bagi kita saat ini pun sulit menerima bahwa Nabi pernah melakukan ethnic-cleansing seperti yang dilakukan para penjahat perang lainnya. Dan kejadian ini dipelintir oleh dunia barat sebagai bukti bahwa Muhammad adalah sosok yang sadis dan barbar.

Namun tidak tepat menilai kejadian ini dengan standar saat ini, masyarakat arab yang primitif tidak mengenal konsep hukum dan tatanan pemerintahan, dan kondisi umat muslim yang serba terjepit dalam bahaya, perbuatan klan Quraizah nyaris menghancurkan kaum muslim di Madinah. Jika Muhammad membiarkan mereka pergi dari Madinah, mereka sudah pasti akan bergabung dengan klan-klan yahudi lainnya diluar Madinah dan menyusun strategi untuk bersama menyerang kaum muslim, pada saat yang sama kaum muslim masih harus berhadapan dengan pasukan kaum Quraisy dari Mekah.

Tidak seorang pun tekejut atau menentang keputusan pembantaian ini, justru eksekusi ini menjadi pesan bagi klan-klan yahudi lainnya bahwa kaum muslim tidak takut pada mereka,

Penting untuk dicatat bahwa tidak selamanya hubungan antara kaum muslim dan yahudi diwarnai oleh kekerasan, setelah pembantaian itu, Muhammad dan kaum muslim masih hidup berdampingan di Madinah dengan klan-klan yahudi lainnya, dan pada masa kejayaan kerajaan Islam, kaum Yahudi bersama kaum Kristen hidup damai dan sejahtera, hingga terbentuknya negara israel saat ini.

Dan setelah pembantaian ini, Muhammad tidak lagi berperang sepanjang hidupnya, ia mulai menerapkap pax Islamica atas jazirah arab, berikutnya sang Nabi mengambil jalan perdamaian dan rekonsiliasi dengan musuh-musuhnya, hingga akhirnya sang Nabi beserta umat Islam dapat kembali memasuki Mekah dengan aman.

Poligami, Hijab dan Kesetaraan Gender

Perkawinan sang Nabi dengan beberapa wanita seakan menjadi bukti bahwa ia adalah seorang yang maniak dengan wanita, namun kenyataannya semua perkawinannya (kecuali dengan Khadijah) adalah perkawinan politik, bukan berdasarkan pada free-will atau suka-sama-suka, dan hanya satu istri Nabi yang perawan saat dinikahi yaitu Aisyah. Istri-istri Nabi mewakilkan faksi-faksi penting dalam umat Islam, Perkawinan tersebut merupakan aliansi politik yang dirancang dengan hati-hati, bertujuan untuk mempersatukan umat Islam yang pada saat itu belum memiliki tatanan pemerintahan yang baik.

Walau rumah tangga sang Nabi sangat tidak lazim dan aneh, tidak bisa disangkal bahwa para istri-istri tersebut hidup bahagia bersama sang Nabi, Aisyah meriwayatkan bahwa sang Nabi lebih baik dan lembut padanya dibandingkan dengan ayahnya sendiri, dan sang Nabi tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, bermain bersama istrinya dan bersenda gurau.

Pada dasarnya ayat yang memperbolehkan laki-laki untuk berpoligami tidak dirancang untuk meningkatkan atau memperbaiki kehidupan seksual mereka, namun untuk menjaga tatanan sosial dalam umat muslim, terutama pada masa sulit seperti perang dimana setelah banyak laki-laki yang wafat meninggalkan istri-istri, juga saudara perempuan dan kerabat lainnya yang membutuhkan perlindungan, oleh karena itu, dengan adanya kebolehan berpoligami, para janda perang bisa mendapatkan perlindungan dari kaum pria. Namun dalam kondisi normal, poligami hampir tidak bisa dilakukan, karena pada ayat berikutnya dijelaskan bahwa pria tidak akan mungkin bisa berlaku adil diantara istri-istrinya, hingga lebih disarankan untuk memiliki satu istri saja.

Apa yang sudah dicapai sang Nabi dalam peningkatan hak-hak wanita sungguh luar biasa untuk bangsa seprimitif arab itu, salah satunya adalah hak wanita untuk menerima warisan dan hak untuk menjadi saksi, sedangkan dunia barat harus menunggu sampai abad ke 19 sebelum wanita dapat menikmati hak yang sama seperti pria.

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (Al-Ahzab : 35)

Dan tentang Hijab yang saat ini dipandang sebagai simbol penindasan pria terhadap wanita, pada awalnya Hijab dirancang untuk untuk mencegah terjadinya perbuatan buruk pada istri-istri Nabi yang bisa dimanfaatkan oleh para musuhnya, Jilbab atau Hijab tidak untuk merendahkan status wanita, tapi justru merupakan simbol status wanita yang lebih tinggi dibandingkan wanita biasa, para istri sang Nabi adalah figur penting dalam umat islam, dan mereka dihormati dengan Hijabnya.

Hingga pada masa itu Hijab menjadi simbol kekuasaan dan pengaruh seorang wanita. Ketika istri-istri pasukan perang salib melihat penghormatan kaum muslim terhadap para wanitanya dengan Hijab sebagai simbolnya, mereka pun mengenakan Hijab dengan harapan dapat memperoleh perlakuan yang baik dari kaum prianya dan lebih dihormati, seperti penghormatan kaum muslim terhadap kaum muslimah.

Princess Sybilla of Jerusalem, yang mengenakan hijab (kingdom of heaven movie)

Princess Sybilla of Jerusalem, yang mengenakan hijab (kingdom of heaven movie)

Pada bab terakhir, Armstrong menarik benang merah antara perabadan Islam dan dunia barat yang menurutnya memiliki satu sejarah yang sama namun saat ini saling berseberangan satu dengan yang lainnya, hingga perbedaan ini memberi dampak negatif pada kedua pihak, timbulnya stigma Islam fundamentalis adalah akibat dari ketidakpahaman barat terhadap Islam dan sejarahnya, kedua belah pihak harus saling memahami dan sadar bahwa mereka adalah sederajat, salah satu titik untuk memulainya adalah dengan memahami sosok Muhammad, seorang tokoh yang rumit, penuh kasih, memiliki kecerdasan yang luar biasa, yang mengusung Islam sebagai agama yang penuh perdamaian.

Menurut saya, apa yang sudah Armstrong upayakan untuk membuktikan siapa sebenarnya sosok Muhammad dalam perspektif barat, adalah salah satu hal yang memberikan pengaruh yang cukup signifikan untuk dunia Islam pada umumnya, dengan adanya karya ini, setidaknya dunia barat memiliki acuan yang seimbang untuk menilai tokoh yang rumit seperti Muhammad. 

 

EDIT :

karena banyaknya respon atas artikel ini, maka saya garisbawahi lagi bahwa buku-buku Karen Amstrong memang tidak dapat dijadikan rujukan untuk mempelajari Islam, namun setidaknya dia telah berusaha objektif menurut persepsinya dan berdasarkan rujukan-rujukan dari ilmu Islam yang didapatnya dari dunia barat

9 April 2015

Karen Armstrong

Karen Armstrong

ketika musibah menjadi berkah

 

When God had created His creatures, He wrote above His throne ; “Verily, My Compassion overcomes My Wrath” (Bukhari & Muslim)

Beberapa hari yang lalu terjadi gempa yang cukup besar di sumatra dan bahkan berpotensi tsunami, saya yang saat itu masih dalam perjalanan hanya bisa memantau perkembangan berita dari timeline, dan yah seperti biasa ada saja oknum-oknum yang iseng mengutip ayat Al-Quran tentang bencana alam yang dihubungkan dengan azab Tuhan. pertanyaan ; seberapa urgen kah hal itu harus dilakukan ? Disaat kepanikan ini ?

Saya mencatat salah satu ayat yang dikutip adalah dari surat An-Nisa 79 ; yang isinya : “Apa saja nikmat yang kamu peroleh berasal dari Alloh, dan bencana yang menimpa dirimu maka berasal dari kesalahan dirimu sendiri.”

Ayat tersebut memang benar, bahwa intinya bencana yang menimpa diri kita adalah akibat dari ulah kita sendiri, namun saya percaya bahwa ayat-ayat dalam Al-Quran tidak berdiri sendiri, karena setiap ayat saling memiliki benang merah dengan ayat-ayat lainnya, dan ternyata pada dua ayat sebelumnya ( An-Nisa : 77-78) menjelaskan tentang sikap kaum munafik yang tidak mau diajak berjihad pada zaman Rasulluloh, dan jika mereka mendapat kebaikan mereka mengakui bahwa hal itu berasal dari Alloh, namun saat mereka tertimpa musibah dengan enaknya mereka menyalahkan Nabi Muhammad SAW, hingga dilanjutkan pada ayat berikutnya (79) bahwasanya bencana yang menimpa kaum munafik itu adalah akibat dari ulah mereka sendiri.

Jika bencana adalah benar merupakan azab dari Tuhan, apakah betul korbannya adalah para pendosa ? bagaimana jika sebagian dari mereka adalah orang-orang yang tidak bersalah ? Apa sebetulnya esensi dari bencana atau musibah ? Mengapa Tuhan menimpakannya pada kita ?

Agak sulit untuk dicerna, namun pada dasarnya kita sebagai manusia lebih mampu untuk berubah menjadi individu yang jauh lebih baik justru setelah melalui beberapa rangkaian kesulitan dan musibah.

Daniel Gilbert dalam Stumbling on Happiness, mengungkapkan bahwa sumber dari kebahagiaan dan kesempurnaan hidup adalah setelah melalui serangkaian peristiwa yang traumatik, dan hasil penelitian membuktikan bahwa orang-orang tersebut tumbuh menjadi pribadi yang tahan banting.

Al-Quran, dalam penjelasan Struggling to Surrender, karangan Jeffey Lang, menekankan tiga unsur utama dalam tahap evolusi moral-spiritual manusia ; (1) free-will atau hak untuk memilih jalan hidupnya, (2) kemampuan untuk menimbang sebab-akibat dari pilihannya itu dan (3) cobaan berupa musibah dan kesulitan yang datang dari lingkungan sekitarnya.

Sebagai contoh, jika saya memutuskan untuk menjadi orang yang jujur alias tidak berbohong (free-will) kemudian datanglah beberapa cobaan yang menggoda saya untuk berbohong, mungkin dengan iming-iming materi yang berlimpah, nah, jika saya mampu bertahan tetap menjadi orang yang jujur maka saya telah naik ke tingkat moralitas yang lebih tinggi.

Untuk mampu memiliki sifat kasih-sayang, empati, keadilan, kedermawanan, kita harus memiliki alternatif atau suatu kondisi yang dimana bisa membuat kita melakukan hal sebaliknya ; benci, ketamakan, balas dendam, kemarahan, yang semua itu bisa diperoleh dari serangkaian cobaan, musibah atau bencana.

Cobaan hidup tidak selalu berupa bencana alam, pada dasarnya kita semua mengalami berbagai cobaan dalam rutinitas setiap hari ; kesulitan dalam pekerjaan atau sekolah, pertikaian dengan teman atau keluarga, kekurangan keuangan dan sebagainya. Bahkan jika kita merasa hidup serba kecukupan, mungkin kita harus waspada karena bisa jadi hal itu adalah cobaan dalam bentuk kesenangan yang melalaikan.

Ketika menghadapi kesulitan, pasti sebagai orang normal kita merasa sedih, marah, frustasi dan bingung, akan tetapi jika kita menyadari bahwa sebetulnya kita justru membutuhkan serangkaian kesulitan dan cobaan hidup itu, maka kita akan mampu melaluinya dengan hati yang tenang.

Konsep mengenai kebutuhan kita akan penderitaan, kesulitan dan perjuangan dalam pencarian evolusi moral dan spiritual tercantum beberapa kali dalam Al-Quran ;

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (2: 155-156)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (2 : 214)

Sesungguhnya bersama setiap kesulitan ada kemudahan.”

Mungkin hidup tidak akan menjadi mudah setelah serangkaian kesulitan itu, namun karena kita telah melaluinya dengan sabar, lapang hati, tenang dan ikhlas, maka selanjutnya apa yang terbentang dihadapan kita akan tampak lebih mudah……. dan bagai blessing in disguise, musibah mampu menghadirkan berkah dalam hidup.

“When is the help of Allah ?” Unquestionably, the help of Allah is near.

To Him we belong, to Him we shall return.

Dan Malaikat pun bertanya……..

Alkisah setelah Tuhan menciptakan Adam, kemudian Dia mengumpulkan para malaikat dan menunjukkan ciptaan-Nya, para malaikat terpana……hingga akhirnya mereka bertanya ; “Mengapa ?”

Malaikat , menurut tafsir adalah mahluk terbuat dari cahaya yang senantiasa patuh dan tunduk pada-Nya, melontarkan pertanyaan seperti demikian adalah suatu hal yang sangat tidak lazim, sungguh tidak kemalaikatan…….mengapa ? ada beberapa yang menafsirkan kemungkinan dahulu kala Tuhan pernah menciptakan mahluk serupa seperti manusia dan akhirnya musnah karena sifat2 kemanusiaan yang ditanamkan Tuhan kedalam mahluk itu, dan sekali lagi Tuhan menciptakan mahluk seperti ini.

Namun Tuhan menyanggah bahwa Dia lebih tahu apa yang akan terjadi…..hingga akhirnya seluruh malaikat tunduk dan terdiam….tidak membantah lagi.

Apakah Tuhan mengambil resiko dengan menciptakan mahluk ini ? dengan semua sifat2 kemanusiaannya, hitam, putih dan abu-abu….menciptakan manusia bisa jadi merupakan gambling terbesar yang dilakukan-Nya.

ya, tentu saja bukan gambling bagi-Nya karena hanya Tuhan yang memiliki kemampuan untuk menghitung dan menentukan masa depan.

Sepanjang sejarah manusia, kemampuan meramal masa depan adalah merupakan misteri yang paling sulit dipecahkan, bahkan ada yang membuat kesimpulan bahwa siapa saja yang sanggup meramalkan masa depan maka dia sudah sanggup menyamai kemampuan Tuhan.

Banyak ahli filsafat dan matematikawan berupaya merumuskan cara untuk menghitung probabilitas dari kejadian2 yang tidak terduga, namun sejauh ini semuanya hanya dapat membuat kesimpulan berdasarkan dari kejadian yang sudah pernah terjadi, bukan meramalkan apa yang akan terjadi esok.

Blaise Pascal merumuskan perhitungan probabilitas atas kejadian2 yang tidak terduga ; le pari du pascal, Nassem Taleb dengan teori Black Swan yang mengacu pada kejadian2 acak atau random….namun tetap saja kita tidak bisa memprediksi apa yang sebenarnya akan terjadi di masa depan. semua teori probabilitas hanya dapat membuat berbagai prediksi, bukan keputusan.

Kenyataannya otak kita telah menipu kita sendiri, saat kita dalam keadaaan normal kita jadi lengah dan tidak waspada, dan saat inilah kita cenderung untuk melakukan kesalahan dengan mengambil keputusan yang tidak diperhitungkan dengan benar, namun saat kita dalam keadaan siaga atau tertekan, kita cenderung untuk lebih takut dalam mengambil keputusan….atau bahkan pada akhirnya kita terlambat membuat keputusan hingga akibat dan kerugian yang ditanggung menjadi lebih besar.

Dan pada akhirnya kita sebagai manusia yang merupakan ciptaan-Nya hanya bisa berusaha semampunya, dan berikhtiar setelah membuat suatu keputusan……karena apapun yang akan terjadi esok akan tetap merupakan rahasia-Nya