memaafkan, dendam dan kemenangan

“Victory is changing the heart of your opponents by Gentleness and Kindness”

Salahuddin al- Ayyubi

 

beberapa hari yang lalu saya menonton wawancara mantan presiden kita, B.J. Habibie dalam suatu acara talkshow yang terkenal, Mata Najwa, saat Habibie ditanya apakah dia merasa dendam saat pertanggungjawabannya ditolak oleh DPR, Habibie langsung menjawab : tidak.

tentu saja kita paham bahwa seorang teknokrat seperti Habibie memiliki pola pikir yang berorientasi pada solusi, jadi dia paham betul bahwa jika dia mendendam dan bahkan merencanakan untuk melakukan balas dendam maka itu adalah hal yang sia-sia dan hanya merugikan dirinya sendiri.

Pada masa Agresi Militer Belanda, tokoh-tokoh kemerdekaan kita ditangkap dan diasingkan oleh Belanda, diantara Sjahrir, Soekarno dan H. Agus Salim, mereka dibawa ke Prapat, Sumatra Utara. Ada suatu insiden antara mereka, ketika Soekarno sedang mandi dan bernyanyi dengan keras, hal ini sangat mengganggu Sjahrir yang sedang dirudung duka karena terpisah dari keluarganya, hingga Sjahrir menghardik Soekarno : “Houd je Mond !” (shut up)

Soekarno sangat gusar dengan hardikan ini, untung saat itu ada Agus Salim yang bisa melerai kedua anak muda yang berkepala batu ini, namun beberapa sumber dekat menuliskan bahwa Soekarno tetap tidak bisa memaafkan kelancangan Sjahrir, hubungan mereka terus memburuk mulai saat itu, hingga partai yang dipimpin Sjahrir dibubarkan dan Sjahrir diasingkan hingga ia menemui akhir hayatnya.

banyak hal yang telah kita lihat dari akibat tidak bisa memaafkan orang disekitar kita yang telah berbuat salah, adalah suatu hal yang sulit untuk melupakan kesalahan dari orang lain, mungkin selamanya kita tidak akan bisa melupakan hal itu, namun buat apa juga terus menerus menyimpan dendam yang hanya akan membebani pikiran kita.

kehidupan terus berjalan, dan hal yang paling berat yang pernah kita harus lakukan adalah mengendalikan diri saat sedang marah, berusaha sabar, dan memberi maaf kepada yang berbuat salah.

“Sejarah manusia dan bangsa-bangsa sudah terlalu banyak memberi pelajaran bahwa kekerasan dan dendam hanya berujung pada satu hal : Kehancuran”

 

MCDKIOF FE065

 

ketika Hatta bertemu dengan Agus Salim

sekitar 1920 ketika Hatta muda akan berangkat ke belanda untuk bersekolah, sebelumnya dia bertemu dengan H. Agus Salim di Batavia (jakarta), pada pertemuan itu Hatta diberi sejumlah buku oleh beliau, Hatta bertanya mengapa ia harus membaca buku yang banyak sekali, Agus Salim menjawab bahwa semakin banyak membaca buku akan lebih baik,

kemudian mereka berdiskusi panjang mengenai beberapa topik, antara lain tentang perdagangan dan kapitalisme, ada seorang paman dari Hatta yang merupakan pedagang kaya-raya berkat “perdagangan waktu” yaitu sejenis transaksi “tanpa barang” seperti spekulasi yang mendapatkan keuntungan besar dari selisih harga.

menurut H. Agus Salim jenis perdagangan seperti ini adalah termasuk dalam sistem kapitalis, beliau yang menganut faham sosialis-religius beranggap bahwa kapitalisme adalah kesalahan, dan kapitalisme-lah yang menjadi dasar penjajahan Indonesia melalui Belanda, dalam bentuk apapun, kapitalisme harus dihancurkan, walaupun ada jenis kapitalisme yang baik, seperti misalnya seorang saudagar yang kaya-raya memberi sumbangan kepada yang miskin, namun selama tetap melakukan sistem perdagangan kapitalis maka itu bukanlah suatu hal yang baik juga.

Kemudian muncul pertanyaan ; bagaimana sosialisme dalam islam ? karena sosialisme yang digagas oleh Karl Marx bersifat materialisme dan anti-Tuhan.

Agus Salim menjawab, Nabi SAW diutus 12 abad yang lalu untuk menghapuskan kemiskinan dan menciptakan tatanan masyarakat yang sama rata, sosialisme yang digagas Nabi SAW lebih dulu muncul sebelum sosialisme Marxisme, namun ulama kita hanya terpaku pada ilmu fikih saja, jadi tugas kita untuk mempelajari ilmu-ilmu sosial, dan Agus Salim menjelaskan bahwa misinya adalah untuk menyebarkan ilmu sosial-religius ini kepada masyarakat.

Demikian pertemuan pertama antara Hatta dan H. Agus Salim, esok harinya Hatta berangkat ke Belanda, dan Tuhan telah menggariskan jalan perjuangan mereka dalam satu alur yaitu sosialis-religius.

H. Agus Salim, The Grand Old Man, Father of our founding fathersĀ 

20140201_143812

Hatta (ketiga dari kiri) dan H. Agus Salim (keempat dari kiri) di Belanda