Far Right Extremist dan Pembelokan Sejarah

Kalau kita melihat sejarah, mudah sekali kita terjebak dalam detail yang membingungkan, maka saya biasanya punya beberapa metode untuk mempelajari sejarah, mulai dari mengikuti forum sejarah yang ada adminnya (di reddit) mencari referensi yang terjamin ilmiah, mengkoleksi buku dan pdf, membaca review dan menonton video sejarah yang mengambil dari sumber ilmiah

Gak mudah untuk melihat sejarah dengan sudut pandang yang netral

Gak akan pernah mudah, saya jamin

Misalnya seperti Battle of Tours di abad 7, dimana pasukan Saracen (pasukan muslim Bani Ummayah) kalah melawan pasukan frankis (asal muasal Perancis dan Jerman) padahal sih wajar sekali pasukan Arab itu kalah, karena mereka tidak menguasai medan dan salah waktu (pas winter) cuma kok si Charles Martel dipuja2 setinggi langit dan dijadikan tokoh penyelamat bangsa eropa, padahal jelas mereka menang mudah melawan pasukan muslim itu, kalau waktu dan tempat berbeda maka bisa jadi pasukan Arab itu menang

Atau pada Battle of Kosovo, dimana sering disebut sebagai kemenangan mutlak dari Serbia, padahal Prince Lazar pun mati, si penyusup Milo Obilic juga mati setelah membunuh Sultan Murad 1, timbulah chaos karena kedua pemimpin mati di perang, tidak ada yang menang tapi belakangan kedua tokoh itu (Lazar dan Milo) dijadikan sebagai simbol tokoh suci untuk membangkitkan semangat genosida di Bosnia di tahun 90an itu

Lebih mudah melihat sejarah peperangan di awal masa Ottoman,

kalau di masa pertengahan Ottoman itu sudah bercampur dengan isu politik yang sulit dipahami, misalnya pada Battle of Vienna, dimana Raja Polandia, Sobieski dipuja-puja setinggi langit karena berhasil memukul mundur Ottoman dengan pasukan “Winged Hussar” yang kemudian dijadikan sebagai simbol “Remove Kebab” istilah yang digunakan untuk menghabisi imigran asing itu di kejadian Christchurch di New Zealand barusan ini

Anehnya dalam pasukan Sobieski itu ada muslim tartar, jadi mereka bersama winged hussar bertempur melawan Ottoman juga!

Jadi muslim sunni lawan muslim sunni di Vienna? Gimana gak pusing itu

Saya gak tahu apa kejadian Christchurch itu yang pertama kali dilakukan oleh kelompok “Far Right Extremists” yang mereka menuliskan kode-kode peperangan di atas itu pada senjatanya, juga mengirimkan manifesto kepada PM New Zealand yang isinya sangat anti imigrant.

Tapi ada kejadian serupa di Oslo tahun 2011, puluhan orang mati akibat bomb dan pelakunya bernama Brievik (tentu saja kulit putih) mengirim email berisikan manifesto untuk kemerdekaan Eropa yang dihubungkan dengan kemenangan Battle of Vienna

Intinya saya sangat sangat sangat khawatir dengan pembelokan sejarah ini, karena dampaknya dijadikan untuk menginspirasi orang-orang yang awam sejarah untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.

Dulu pernah ada film “Dracula the untold” yang dimana Vlad the impaler jadi superhero, Ini kan gak lucu namanya, masak tokoh megalomaniac dijadikan superhero? Vlad the Impaler itu terkenal suka membantai rakyatnya sendiri dengan penyiksaan yang paling kejam, dan tidak heran jika Vlad ini dijadikan tokoh Dracula karena kekejamannya

Tapi begitulah orang di masa ini, mereka cuma mencoba menaikkan harga diri dengan meninggikan tokoh2 di masa lalu dari perspektif yang mereka buat sendiri tanpa pernah memikirkan efeknya

Siapapun anda, apapun ideologi dan agama anda, kalau anda peduli dengan sejarah maka pastinya anda merasa galau dan risau dengan pembelokan sejarah ini.

sudah sebaiknya kita berusaha mempelajari sejarah dengan kacamata yang proporsional, dari sudut pandang yang netral, memang sulit dan memakan waktu dan usaha yang tidak sedikit, namun pastinya tidak ada usaha yang sia-sia,

apalagi jika digunakan untuk mencegah kejadian seperti kemarin itu terulang lagi.

Islam dalam bernegara (part 2)

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”. (QS. 16:125)

 

Dalam artikel Islam dalam bernegara bagian pertama, saya sudah mencoba menjelaskan bahwa Islam memiliki kelebihan tersendiri sebagai agama di penghujung masa ini dengan kemampuannya untuk beradaptasi dengan mudah.

Seperti yang bisa kita lihat jika kita meneliti sejarah hidup Nabi (Sirah Nabawiyah) maka secara garis besar terbagi menjadi dua periode : Periode Mekkah dan Periode Madinah, dimana kedua periode itu memiliki perbedaan yang sangat signifikan.

Periode Mekkah dimana dakwah dilakukan secara sembunyi, dan tanpa perlawanan ketika beberapa umat disiksa oleh kaum quraisy, intinya pada masa ini hampir sama seperti yang terjadi pada zaman kenabian Nabi Isa ; kesabaran ditempa dengan menahan diri dan bersikap pasif tidak bereaksi sedikitpun pada tekanan dan cobaan yang terjadi.

Periode Madinah sangat berbeda dengan periode Mekkah dimana Nabi dan umatnya sangat aktif dalam kegiatan dakwah, semua hal dilakukan secara publik, bahkan sering sangat progresif saat melakukan ekspedisi (ghazwul) untuk menaklukkan dan mempersatukan suku-suku Arab,

Setelah wafatnya Nabi, para penerusnya juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Nabi yaitu bersikap progresif dalam menumpas pemberontakan, dan juga melebarkan sayap ke timur dan barat, mereka sama sekali tidak bersikap pasif dan hanya duduk menunggu keajaiban dari langit.

Khalifah pertama yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq pada pidato pelantikannya menyuruh umat agar memberikan koreksi dan masukan jika ia melakukan kesalahan, demikian juga dengan ketiga khalifah lainnya (Khulafa Rausyidin) karena mereka tanpa harus mempelajari ilmu tata negara, mereka sudah paham bahwa negara yang berdiri ini bukan monarki namun berdasarkan demokrasi yang dimana suara masing-masing individu memiliki status yang sama.

dalam pemerintahan ini, terdapat susunan organisasi yang rapi, terutama Khalifah memiliki semacam dewan penasehat yang berasal dari sahabat paling senior yaitu “Ashara Mubashara”, bahkan saat khalifah wafat, salah satu anggota dewan ini yaitu Abdurrahman bin Auf melakukan semacam pengumpulan suara ke seluruh kota Madinah untuk menanyakan siapakah khalifah yang pantas untuk jadi pengganti.

Kemudian situasi berubah setelah wafatnya Khulafa Rausyidin terakhir yaitu Ali bin Abi Thalib, ketika penerusnya yaitu Muawiyyah bin Abu Sufyan menjadi Khalifah, seketika saja bentuk pemerintahan menjadi monarki, dimana perpindahan kekuasaan berdasarkan hubungan kerabat dan keluarga,

disini sikap para ulama mulai berubah, secara otomatis mereka kembali ke periode Mekkah dimana mereka menjauh dari istana dan tetap berfokus pada dakwah, sikap para ulama yang menjadi pasif ini ternyata bermanfaat untuk kelangsungan dakwah dan terutama dalam menjaga Quran dan Sunnah di muka bumi.

sikap pasif ini yang kemudian ditiru oleh dunia barat, saat mereka ingin maju maka mereka membuat fungsi gereja menjadi terpisahkan dari istana (yang kemudian menjadi paham sekuler) namun dalam Islam memiliki tujuan yang berbeda dengan barat ; pemisahan itu dilakukan dengan tujuan untuk menjaga agama dari pemerintah yang zalim.

puncak terpisahnya agama dari negara ini terjadi saat masa Khalifah Al-Makmun dimana ia berusaha mengubah Quran dengan ilmu filsafat yang dimodifikasi, dan satu-satunya imam yang berupaya mencegahnya adalah Imam Hambali, yang kemudian dikenal sebagai mendiri Mahzab Hambali.

sayangnya mahzab ini kemudian dimodifikasi menjadi suatu aliran yang mengaku memiliki ajaran paling murni yaitu Wahabi, pendirinya adalah Ibnu Wahab yang bersama Ibn Saud (pendiri dinasti Saudi) melakukan pemberontakan kepada kekhalifahan Turki Ottoman dengan menghancurkan kuburan imam Syiah dan melakukan pembantaian pada kaum syiah, menduduki kota Mekah dan Madinah, maka Turki sebagai pemegang otoritas pemerintahan tertinggi memerangi Ibn Saud hingga menjatuhkan hukuman mati atas perbuatannya itu.

Namun ajaran Wahabi masih disimpan oleh para penerus Ibnu Saud dan ketika agen rahasia dari Inggris, Hemper datang dan menyamar sebagai muslim, ia membangkitkan lagi aliran wahabi ini dan para agen penerusnya ; Lawrence of Arabia dan Getrude Bell membantu pemberontakan di jazirah Arab hingga dinasti Saudi terbentuk hingga saat ini.

Saudi Arabia dan aliran Wahabi-salafi adalah monarki terbesar muslim terbesar saat ini, dan tidak bisa dipungkiri bahwa ajarannya telah tersebar ke seluruh dunia, intinya ajaran ini membuat umat menjadi pasif dan tidak terlibat dalam politik sama sekali, pelarangan ilmu filsafat membuat umat jadi tidak bisa berpikir dan mudah diberikan ajaran doktrinisasi.

Apakah ajaran salafi ini sepenuhnya salah ?

kita tetap harus memiliki pemikiran positif, dengan adanya petromonarki Saudi ini maka sampai hari ini dua kota suci Mekkah dan Madinah jadi terjaga dari hiruk-pikuk dan gejolak di timur tengah.

namun disatu sisi hal ini membuat umat bisa dengan mudah dikendalikan dan masuk lagi ke dalam masa kolonialisasi, walaupun secara harfiah telah merdeka namun kedaulatan tidak sepenuhnya dimiliki, seperti kondisi saat ini.

jadi apakah yang lebih baik ? Islam Progresif atau Islam Ortodoks ?

Saya lama memikirkan hal ini, karena jika kita menjadi progresif pada saat yang tidak tepat juga tidak akan menguntungkan, bahkan menjadi terlalu progresif itu terlalu beresiko dan bisa dimanfaatkan oleh lawan kita……namun selalu menjadi pasif pun tidak bisa dibenarkan juga karena Tuhan tidak kan mengubah nasib kaum kecuali jika kaum itu mengubah nasibnya.

yang saat ini bisa saya pikirkan adalah bagaimana kita bisa mengetahui apakah tujuan kita menjadi progresif atau pasif itu untuk Allah dan Rasul-Nya, bukan untuk kita dan dunia ini.

karena jika kita menetapkan hati ini untuk kepada Tuhan saja, maka secara otomatis niat kita akan menjadi ikhlas, kalaupun kita memisahkan diri dari jamaah itu karena Allah, dan kalaupun kita bergabung dengan jamaah itupun karena untuk Allah semata.

saya percaya, mau dibuatkan teori yang ilmiah bagaimanapun akhirnya kembali lagi ke kondisi hati kita masing-masing, dan menyisakan pertanyaan dalam lubuk sanubari kita;

apakah yang kita lakukan di dunia ini bertujuan satu kepada Tuhan semata……

wallahualam bishowab

 

 

 

Islam dalam Bernegara (part 1)

“Islam tidak mengatur 1001 hal-hal detail yang bersifat teknis, dan bisa berubah-ubah menurut keadaan zaman, Islam memberikan kepada kita dasar-dasar pokok yang sesuai dengan fitrah manusia yang abadi dan tidak berubah, yang bisa berlaku di semua tempat dan semua zaman, baik di zaman dahulu kala, maupun di zaman modern”
(Mohammad Natsir – Islam sebagai dasar negara)

Dulu saya pernah bilang kalau salah satu keberkahan besar umat akhir zaman ini adalah hukum syariah yang tidak kaku seperti hukum syariah yang diberikan untuk children of israil,

 
misalnya wudhu bisa diganti dengan tayamun, sedangkan bani israil tidak memiliki kelonggaran tersebut dalam melaksanakan ibadahnya.
 
sekarang ada lagi berkah yang saya pikir adalah berkah terbesar yang selama ini mungkin tidak kita sadari,
 
mungkin sedikit dari kita yang tahu bahwa dalam sejarah bani israil itu mereka selalu dikasih enak dalam urusan agama dan negaranya, selalu ada Nabi atau Rasul disepanjang masa (sampai Nabi Muhammad diutus) dan ada pemimpin yang langsung ditunjuk oleh Allah untuk mereka (misalnya Raja Thalut) jadi mereka tidak perlu repot2 lagi mikirin urusan politik atau bikin ideologi untuk kenegaraan.
 

beda dengan Islam

 
dulu saya piki sangat aneh Nabi Muhammad tidak menunjuk siapa penggantinya, walau beliau sangat banyak memberikan tanda bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling pantas memimpin umat jika beliau sudah wafat.
perlu kita pahami juga bahwa kaum arab di masa itu tidak mengenal bentuk pemerintahan, karena mereka terdiri dari kabilah-kabilah yang punya pemimpin masing-masing, namun situasi berubah saat Islam datang dan Nabi Muhammad secara otomatis menjadi pemimpin untuk seluruh bangsa Arab, jadi untuk pertama kali dalam sejarah bangsa Arab itu mereka punya bentuk negara kesatuan dan pemimpin yang mempersatukan mereka.
 
tapi Rasullulah sama sekali tidak mengutak-atik soal politik apalagi bentuk kenegaraan, jadi apakah sebenarnya bentuk negara yang cocok untuk umat ini bentuk negara demokrasi dimana pemimpin dipilih berdasarkan musyawarah atau suara terbanyak, atau bentuk pemerintahan monarki dimana kepemimpinan itu diwariskan berdasarkan keturunan.
Nabi Muhammad sama sekali tidak pernah memberikan petunjuk soal bentuk pemerintahan yang bagaimana untuk umat ini.
 
dan itu adalah salah satu key factor utama kenapa Islam bisa survive selama 14 abad ini dan akan terus bertahan sampai akhir jaman.
karena dengan tidak ditetapkannya bentuk pemerintahan yang sesuai dengan syariah, maka umat bisa menerapkan bentuk pemerintahan yang sesuai dengan kondisi jaman masing-masing, misalnya jika diawal periode setelah Nabi SAW wafat itu lebih cocok bentuk pemerintahan Khulafa Rasyidin dimana Khalifah ditunjuk berdasarkan konsensus dari hasil musyawarah, dan setelah itu muncul periode dinasti-dinasti yang di mulai oleh dinasti Umayyah dimana kepemimpinan diwariskan berdasarkan keturunan.
berdasarkan dari pemahaman diatas, dimana Islam bisa beradaptasi pada bentuk negara yang berbeda-beda – sepanjang masih bisa berjalan dengan syariah, maka kita harus berhati-hati dalam menafsirkan hadist yang menyebutkan bahwa kita harus patuh pada pemimpin, walaupun pemimpin itu berlaku zalim.
karena ada hadist “Seorang muslim wajib mendengar dan taat pada pemerintah yang disukai maupun tidak disukai, kecuali bila diperintahkan mengerjakan maksiat maka ia tidak wajib mendengar dan taat” (Ibnu Umar)
kita pun juga harus memahami dari sejarah umat selama 14 abad ini, dimana umat sering berhadapan dengan pemimpin yang zalim, terutama hal itu terjadi di periode dinasti-dinasti, ternyata kepatuhan umat pada pemimpin itu (walaupun itu adalah masa berat yang harus mereka hadapi) ternyata disatu sisi menguntungkan untuk perkembangan Islam, misalnya pada masa dinasti Umayyah itu penyebaran Islam sangat pesat hampir keseluruh dunia dan pada masa dinasti Abbasiyah banyak kemajuan di bidang ilmu agama maupun ilmu dunia seperti sains, filsafat, seni dan sebagainya.
Maka jika kita saat ini dihadapai pada kondisi harus patuh pada pemimpin, kita sebaiknya mencoba mencari apa makna patuh pada pemimpin itu, apakah patuh totalitas bisa dilakukan pada bentuk negara pancasilais ini ? ataukah bentuk kepatuhan kita bisa ditransformasikan menjadi upaya-upaya memberikan suara dan masukan yang positif untuk pemerintahan ini.

“Satu nilai lagi yang baik juga terdapat pada bangsa kita adalah cinta pada kemerdekaan, cinta ini terlihat jelas waktu negara kita merdeka berdaulat, cinta kemerdekaan adalah fitrah yang terkait pada cinta tanah air”

(Mohammad Natsir)

ketika seorang ulama membuat kesalahan yang (tidak) fatal

beberapa hari yang lalu, seorang ulama senior memberikan ceramah di forum internasional, dan dia memberikan statement yang menyudutkan suatu ras di negaranya dan juga memberikan kritikan pada satu kelompok (aliran) agama yang terkenal.

Sebenarnya apa yang diucapkan ulama ini bukanlah bentuk hinaan, tapi hal itu tidak pernah dia lakukan sebelumnya, tentu semua orang jadi kaget dan syok.

yang saya perhatikan adalah reaksi dari teman-teman ulamanya di sosial media sangat menarik, berikut reaksi sebagian dari mereka :

  • ulama 1 menyatakan terkejut dan menghimbau jamaah agar tetap tenang dan berprasangka baik pada ulama senior itu sampai beliau memberikan klarifikasi
  • ulama 2 membuat posting tentang pentingnya umat mengkritik para ulama, jika ulama melakukan kesalahan – tanpa menyinggung sedikitpun perihal ulama senior itu.
  • ulama 3 membuat self-deprecating joke tentang hal itu, LOL
  • ulama 4 (yang kebetulan seorang wanita) mengungkapkan kekagetannya namun tetap menghimbau jamaah agar tenang.
  • ulama 5 membuat posting tentang kejadian pribadinya yang dulu pernah melakukan kesalahan yang hampir sama, yang intinya menunjukkan bahwa ulama tidak bebas dari kesalahan.

intinya para ulama itu berusaha menenangkan umat dan mengingatkan untuk berprasangka baik pada si ulama senior itu.

Saya pun sebenarnya kaget dengan kejadian ini, karena saya sering mengikuti kutbah ulama senior itu via internet, tidak berlebihan kalau beliau memberikan dampak positif bagi saya ; berkat beliau saya jadi sering membaca banyak buku agama dan mulai mempelajari puisi2 klasik.

kemudian saya bertanya pada teman saya yang kebetulan adalah simpatisan kelompok yang dikritik itu ; apakah mereka tersinggung dengan pernyataan ulama itu ?

ternyata jawaban teman saya bahwa hal itu sudah biasa, disini bahkan banyak yang menuduh mereka adalah aliran sesat.

jadi menurut teman saya itu pernyataan ulama senior itu bukan hal besar – no big deal, jika dibandingkan dengan apa yang telah mereka alami.

akhirnya si ulama senior itu memberikan pernyataan maaf atas kesalahannya, karena dia sedang dalam kondisi yang tidak fit akibat masih jetlag dari penerbangan jarak jauh, dia tidak sedikitpun berusaha menutupi kesalahannya atau bersikap defensif, juga tidak melemparkan kesalahannya kepada pihak lain (blame shifting)

dia juga berterimakasih pada para ulama yang sudah mengingatkannya dengan baik,

jadi akhirnya insiden itu berakhir dengan hepi ending.

yang jadi pertanyaan adalah ; apa jadinya jika kejadian itu terjadi disini ?

sering saya mengikuti ceramah dimana pembicaranya tanpa merasa bersalah mengkritik suatu kelompok, dan seakan-akan jika kita tidak menyetujui hal itu maka kita pun akan masuk dalam kelompok yang dikritik.

saya paham bahwa membahas tentang kelompok atau firqoh ini adalah hal yang sangat sensitif – apalagi saya ini hanya orang awam.

tapi dari insiden di atas, setidaknya kita bisa melihat contoh yang baik, bagaimana para ulama di negara itu berusaha menyelesaikan masalah yang tampaknya sepele bagi kita – demi  untuk menjaga keutuhan umat.

ada seorang filsafat dan ahli sejarah terkenal dari Lebanon, dia berkata bahwa semua kelompok dalam agama kita ini muncul akibat isu kesukuan, sifat superior yang membanggakan suatu golongan atau suku.

jadi….ada kemungkinan sentimen antar kelompok di sini akibat isu ras yang diimport dari negara asalnya !

tapi sulit untuk menghimbau agar kita saling menghargai kelompok lainnya, sedangkan disini saja banyak ulama yang melarang kita berinteraksi dengan kelompok lainnya, bahkan duduk bersama juga tidak boleh.

sementara itu satu ulama dari aliran yang paling konservatif (salaf) yang saya kenal dari barat, pernah berkata bahwa dia akan mengusahakan segala upaya untuk menyatukan umat – bahkan dengan golongan yang paling radikal dari negri persia itu.

 

suatu hal yang tidak akan pernah saya dengar disini……..

hamzayusuf

 

 

 

Makkiyah, Madaniyah dan Ali bin Abi Thalib

Secara garis besar, sejarah penting dalam Islam terbagi menjadi tiga periode : Makkiyah, Madaniyah dan masa-masa fitnah di kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

kenapa saya menuliskan ini dan apa manfaatnya yang bisa kita ambil dari tiga periode ini, adalah tidak lain karena kita hidup pada masa-masa penuh fitnah, adu domba, perpecahan, dsb.

maka dengan mempelajari tiga periode ini mudah-mudahan kita bisa mendapat hikmahnya,

Periode Makkiyah

pada masa ini umat Islam mendapatkan cobaan dari kaum kafir (non muslim) yang dimana mereka secara terang-terangan menyerang secara verbal dan fisik, dan apa yang diperintahkan oleh Allah kepada Rasulullah dan umat Islam adalah sama seperti yang dilakukan Nabi Isa Al-Masih di Jerusalem, mereka sama sekali tidak memberikan perlawanan, bahkan membalas celaan dan makian pun tidak diperbolehkan.

“If anyone slaps you on the right cheek, turn to them the other cheek also”

di surat al-Mukminun ayat 96 – 97 dijelaskan bahwa kita harus menahan diri dari membalas perbuatan buruk itu, jangan merendahkan diri kita dengan cacian dan makian, dan jika kita tergoda oleh setan untuk melakukan hal itu maka kita harus berdoa “ya Tuhan, aku berlindung dari bisikan-bisikan setan”

Apakah sulit untuk menahan diri ? apakah kita tidak sakit hati dan bersedih dengan penghinaan itu ?

tentu saja, bahkan di awal surat Al-Kahfi dijelaskan bahwa Rasulullah sendiri merasa sangat sedih bahkan kesedihannya itu setara dengan depresi seorang yang hendak bunuh diri (tentunya bukan berarti Rasulullah akan melakukan hal itu) juga di surat al-Hijr yang menjelaskan bahwa Allah sungguh-sungguh mengetahui kesakitan yang kita rasakan akibat ucapan kaum kafir itu.

dan apa yang diperintahkan Allah kepada kita ?

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadikan kamu diantara orang-orang yang bersujud”

Karena dengan mendekatkan diri kepada Tuhan maka semua kesakitan yang kita rasakan itu bisa tergantikan oleh perasaan tenang yang disebut “Sakinah”

Periode Madaniyah

biang keladi pada masa ini adalah kaum munafik, dan puncak masalah yang mereka berhasil buat adalah tuduhan keji kepada Aisyah, istri Rasulullah, dan karena kaum munafik ini secara kontinu memanasi isu ini maka akhirnya kaum muslim pun ikutan terbawa fitnah ini,

Abu Ayyub al-Anshori ketika dihampiri oleh istrinya dan istrinya berkata ; “Apakah kau sudah mendengar berita tentang Aisyah yang sedang ramai dibicarakan oleh semua orang ?”

Abu Ayyub langsung bertanya “Apakah kau merasa bahwa kau lebih baik daripada Aisyah ?” tidak jawab istrinya

“Maka jangan kamu sebarkan berita itu lagi !” kata Abu Ayyub.

Gosip, ghibah, namimah adalah perbuatan sangat tercela dan tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim,

Kita harus menjaga diri agar tidak melakukan hal ini, dan jika ada muslim berbuat seperti itu harus kita nasihati dengan baik, namun jika kita tidak bisa melakukan itu maka sebaiknya kita menghindar dan jangan ikutan mendengar berita-berita tercela seperti itu.

“dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.”

Periode Ali bin Abi Thalib

ini menurut saya adalah masa-masa yang paling sulit dalam sejarah, karena pada masa-masa ini umat Islam di adu domba dengan yang lainnya, semua makar dan propaganda dilakukan untuk memecahbelah umat, hubungan pertemanan dan kekeluargaan menjadi pecah, silaturahmi terhenti akibat cobaan yang berat ini.

Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil).’ (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

pada masa ini hampir mustahil bagi muslim untuk menghindarinya, jadi sebisa mungkin kita menjauh dari semua akses fitnah tersebut, beberapa sahabat bisa melakukan hal itu seperti Ibnu Abbas, namun sebagian besar sahabat lainnya terjebak dalam situasi yang lose-lose itu.

Bahkan dua kubu yang punya satu tujuan pun bisa berperang, seperti pada peperangan Jamal (Perang Unta) dimana kubu Ali bin Abi Thalib bertemu dengan kubu Aisyah dengan tujuan hendak berunding mengenai insiden pembunuhan Ustman bin Affan, namun akibat ulah para provokator seketika saja kaum muslim terjebak dalam situasi peperangan.

demikianlah tiga periode penuh cobaan ini, tujuan saya menuliskan ini sebenarnya untuk catatan pribadi agar saya sendiri pun bisa sabar dalam menghadapi bermacam-macam situasi yang terjadi belakangan ini,

semoga kita semua bisa terhindar dari semua fitnah ini, aamiin

 

 

 

 

 

 

Puisi-puisi para Sahabat Radhiyallahu anhu

“I have never seen anyone better than you
Nor did any woman give birth to anyone more beautiful than you

You were created free from all faults
As if you were created just as you desired”

 

(Puisi dari Hassan Bin Tsabit untuk Nabi Muhammad SAW)

Dalam mempelajari sejarah Islam, ada satu hal yang kurang mendapatkan perhatian, yaitu puisi-puisi yang dikarang oleh para sahabat yang sangat indah.

Keindahan puisi-puisi ini sebenarnya tidak dapat diterjemahkan ke bahasa selain arab kecuali akan kehilangan kesempurnaannya, namun karena saya belum bisa menguasai bahasa ini jadi puisi-puisi yang saya cantumkan disini adalah terjemahannya saja.

Puisi-puisi ini bersumber dari kitab-kitab Shahih Bukhari, Muslim dan Imam al-Baghawi, dalam Islam puisi yang diperbolehkan adalah :

  • Pujian-pujian kepada Allah Subhanawata’ala dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihiwassalam
  • Doa dan nasihat yang baik
  • tarbiyah atau pendidikan untuk keimanan dan ketakwaan
  • Pujian kepada kaum muslim yang telah berjasa dalam jihad fi sabilillah

Para sahabat yang ahli dalam merangkai puisi ini mendapatkan status yang tinggi dan kedudukan yang mulia, mereka mendapatkan panggilan khusus yaitu “Hadrat” yang artinya “Orang yang dimuliakan karena kebaikan dan keluasan ilmunya”

“Duhai putra Hasyim yang santun,
sungguh Allah telah mengaruniaimu lebih dari seluruh manusia di mana tak ada hak mereka untuk iri dan dengki…
aku terpanah!
berulang-ulang kali terpanah dengan kelembutan budi pekertimu karena itu hanya orang pandirlah yang akan menolak ajaran yang Anda bawa, sebagaimana si pandir yang menolak ajaran Musa.”

 

(Puisi karangan Abdullah bin Rawahah saat Bai’ah Al-Aqabah)

Tiga penyair terkenal dari kalangan sahabat adalah Hadrat Hassan bin Tsabit, Hadrat Ka’b bin Malik dan Hadrat ‘Abdallah ibn Rawaha Radiallahu ‘Anhum.

Pernah Abdullah bin Rawahah berduka ketika ayat tentang penyair turun : “Dan para penyair diikuti oleh orang- orang yang sesat” (QS Asy-syua’ara 24)

Namun ia kembali gembira ketika ayat berikutnya turun : “Kecuali orang-orang [penyair] yang beriman dan beramal shaleh dan banyak ingat kepada Allah, dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya” (QS Asy-syu’ara 227)

“Sesungguhnya orang mukmin berjuang melalui pedang dan lidah [tintah]-nya.” Sabda Nabi SAW, Abdullah bin Rawahah kemudian terharu dan merasa sangat bahagia mendengar penjelasan itu

“O Allah, were it not for you,
We would not have been guided,
Nor would we have given charity, nor prayed.
So bestow on us calmness, and
when we meet the enemy,
Then make our feet firm, for indeed,
The enemy has revolted against us;
Yet if they want to afflict us
We oppose their affliction”.

 

Allahumma lawlaa Anta mahtadaynaa
Wa laa tasaddaqnaa walaa sallaynaa
Fa anzilan sakeenatan ‘alaynaa
Wa thabbitil aqdaama in laaqaynaa
Innal a’daaa qad baghaw ‘alaynaa
Idhaa araadu fitnatan abaynaa

 

(Puisi dari Abdullah bin Rawahah yang dinyanyikan kaum muslim dan Nabi Muhammad SAW saat menggali parit sebelum Perang Khandaq)

Setelah Penaklukan Mekkah, seorang penyair terkenal masuk Islam yaitu Ka’ab bin Zuhair, ia menggubah syair berisikan pujian kepada Nabi Muhammad yang sangat terkenal :

The Messenger a light is, source of light,
An Indian blade, a drawn sword of God’s swords,
Amid Quraysh companions. When they chose
Islam in Mecca’s vale, men said, “Be gone!”
They went, not weaklings, not as men that flee,
Swaying upon their mounts and poorly armed,
But heroes proud and noble of mien, bright clad
In mail of David’s weave for the encounter.

 

Inna’r Rasula lasaifun yustadaau bihi
Muhannadun min Suyufillahi maslulu
Fee fityatin min Quraysh-in qaala qaailuhum
Bibatni Makkata lamma aslamu zulu
Zaalu fama zaala ankaasun walaa kushufun
‘Indalliqaai walaa meelu ma’aazeelu
Shummul ‘araaneeni abtaalun labusuhum
Min nasji Dawud-a fi’l hayjaa saraabeelu

Setelah Ka’ab membacakan puisi itu dihadapan Nabi Muhammad, Nabi memberikan selendangnya (Burdah), puisi Ka’ab bin Zuhair ini dikenal sebagai “Qasidah Burdah”

Puisi adalah satu-satunya bukti dari tingginya peradaban bangsa arab dalam sejarah Islam, dan Allah Subhanawata’ala menurunkan Al-Quran yang suci kepada bangsa yang menguasai ilmu puisi yang tinggi sebagai bukti bahwa Al-Quran tidak dapat ditandingi oleh bahasa manusia, karena Al-Quran adalah berasal dari Allah Jalla jalalahu, maka dari itu puisi-puisi para sahabat semuanya berisikan pujian-pujian kepada Allah dan utusan-Nya Nabi Shalallahu ‘alaihiwassalam.

“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
tapi kenapa kulihat engkau menolak surga
wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati
inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti …
tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini
jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati!

 

(Puisi dari Abdullah bin Rawahah sebelum syahid di medan perang Mu’tah)

 

“Tawaffani Muslimaa wa alhiqnii bish-Shoolihiin”

“an Honest man is the noblest work of God”

 

Pada saat saya sedang mempelajari sejarah hidup Khalifah pertama yaitu Abu Bakar ash-Shidiq, saya menemui bahwa pada saat menjelang kematiannya, beliau mengucapkan doa : “Tawaffani Muslimaa wa alhiqnii bish-Shoolihiin” (wafatkan aku dalam Islam dan bangkitkan aku bersama orang-orang sholeh)

ini ternyata adalah doa Nabi Yusuf Alaihissalam yang terdapat pada Surat Yusuf

namun mengapa Abu Bakar mengucapkan doa ini ? dari sekian banyak doa-doa yang terdapat di dalam Al-Quran mengapa beliau memilih doa ini pada saat sakaratul maut ?

kemudian saya membuka beberapa tafsir dari doa Nabi Yusuf itu, ternyata dibalik doa indah itu, Nabi Yusuf sedang berduka setelah ayahnya, Nabi Ya’kub alaihissalam wafat, kematian ayahnya itu sungguh membuatnya sangat berduka hingga dia larut dalam kesedihan hingga diakhir hidupnya

Jadi, “Tawaffani Muslimaa” – wafatkan aku dalam Islam ; artinya adalah Yusuf ingin diwafatkan dalam kondisi terbaik, yaitu dalam kondisi beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanawata’ala.

dan “Wa alhiqnii bish-Shoolihiin” – bangkitkan aku bersama orang-orang sholeh ; makna dari kalimat ini adalah permintaan agar di hari akhir nanti agar dibangkitkan bersama kaum sholeh yaitu kaum yang beriman – yang ternyata di hari akhir nanti hanya ada DUA golongan ‘ yaitu :

  • golongan yang beriman yang tentunya akan masuk surga,
  • dan golongan yang tidak beriman yaitu yang akan masuk neraka.

dan “wa alhiqnii bish-Shoolihiin” ini ternyata ada makna tersirat yaitu keinginan dan hasrat Yusuf agar bisa dipertemukan dengan ayahnya yang tercinta yaitu Nabi Ya’kub, bahkan juga ingin bertemu dengan kakek2nya yaitu Nabi Ishak dan Nabi Ibrahim.

Maka tidak berlebihan jika bisa disimpulkan bahwa saat Abu Bakar mengucapkan doa ini di saat sakaratul mautnya adalah keinginannya agar dapat dipertemukan dengan Nabi Muhammad SAW yang lebih dicintainya daripada ayah dan ibunya sendiri.

Semakin saya baca berulang-ulang tentang tafsir surat Yusuf ini semakin saya sadar bahwa surat yang indah ini ternyat memiliki kisah cinta yang paling indah dalam sejarah umat manusia yaitu kisah cinta antara orang tua dan anak yaitu Ya’kub dan Yusuf.

Sebagian dari kita telah kehilangan orang-orang yang kita sayangi, dan kita berduka dan larut dalam kesedihan berkepanjangan atas kepergian mereka

Namun apakah kita pun pernah menangisi diri kita sendiri ; karena kita belum tentu dapat berjumpa lagi dengan mereka ?

“Tawaffani Muslimaa wa alhiqnii bish-Shoolihiin”

Mutiara Kisah Yusuf : akhir dari Zulaikha dan Sabar yang Indah dari Ya’kub

“Kesabaran bukan artinya tidak berperasaan, kesabaran yang indah ialah kesanggupan mengendalikan perasaan seketika sedih menimpa”

Saya merasa tidak adil jika belum menuntaskan kisah antara Yusuf dan Zulaikha, karena ada banyak versi kisah percintaan antara Yusuf dan Zulaikha yang tidak bisa diketahui kesahihan sumbernya,

dalam Al-Quran, kisah Zulaikha berhenti saat ia memberikan pengakuan atas kesalahannya itu, ini adalah salah satu kehebatan Al-Quran yang menghilangkan detail-detail hingga kita bisa mengingat makna yang tersirat dalam kisah ini.

Bahkan nama Zulaikha pun sebenarnya tidak disebutkan dalam Quran, mengapa ? karena dalam Quran ketika sedang membicarakan orang yang melakukan kesalahan maka nama orang itu tidak dicantumkan, seperti juga nama-nama saudara Yusuf.

nah, apa saja kesalahan fatal dari Zulaikha yang mencerminkan sifat aslinya ?

ingat ketika Zulaikha tertangkap basah oleh suaminya ketika sedang menggoda Yusuf, dan ia berkata : “Apakah balasan yang pantas bagi orang yang bermaksud buruk pada istrimu kecuali dipenjara atau siksa yang pedih ?” (ayat 25) – ini menunjukkan sifat aslinya yang licik dengan melemparkan kesalahan pada Yusuf, jika Zulaikha adalah orang yang jujur maka ia akan langsung meminta maaf dan mengakui kesalahannya.

jadi pada ulama telah menjabarkan beberapa kesalahan Zulaikha, antara lain :

  • menggoda Yusuf yang merupakan budaknya, dimana budak memiliki posisi lebih rendah dari dia, maka sebagai budak akan sulit untuk menolaknya
  • memanfaatkan kecantikannya untuk menggoda Yusuf
  • melemparkan kesalahan pada Yusuf
  • berdusta pada suaminya
  • memanipulasi para wanita mesir untuk mendukungnya agar Yusuf dipenjara

dan yang terpenting adalah ketika Zulaikha terdesak dan harus mengakui kesalahannya pada Raja, ia berkata : “yang demikian supaya ia (suami zulaikha) tahu bahwa aku tidak menghianatinya ketika ia tidak ada” (ayat 52) ini adalah pernyataan paling absurd ! karena setelah ia mengaku bersalah namun dia masih membuat dalih untuk membenarkan perlakukannya itu.

“Sungguhlah nafsuku membawaku kepada kejahatan” (ayat 53)

para ahli tafsir melihat ayat ini sebagai pengakuan zulaikha tentang kondisi mentalnya ; dimana hanyalah orang yang memiliki jiwa yang rusak akan mempunyai nafsu yang menyuruh pada perbuatan keji dan jahat,

sedangkan jiwa yang bersih seperti Yusuf akan mencegahnya dari perbuatan keji.

jadi hikmah yang bisa kita dapat dari kisah zulaikha adalah : jangan sampai kita memiliki jiwa yang rusak, yang hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain

kita fastforward kisah Yusuf ini sampai pada saat Ya’kub menerima berita tentang hilangnya Benyamin.

Benyamin adalah satu-satunya adik kandung Yusuf, maka setelah kehilangan Yusuf, Ya’kub semakin protektif pada Benyamin agar ia tidak dicelakakan oleh saudara2nya seperti kejadian Yusuf dulu.

Namun Yusuf membuat plot hingga Benyamin ditahan ketika mereka sedang mendatangi mesir untuk minta bantuan pangan, dan ketika para saudara Yusuf kembali ke palestina dan menemui Ya’kub, dan memberitahu tentang hilangnya Benyamin, apa yang dikatakan Ya’kub ?

“Maka bagiku hanyalah kesabaran yang indah”

Shabrun Jamil :

Keindahan dari sabar hanya diperoleh ketika musibah terjadi dan kita tetap terus menahan diri dan menyerahkan semua urusan kita pada Tuhan saja,

Ya’kub memang menangis hingga penglihatannya menjadi kabur, namun ia tidak sedikitpun kehilangan harapan, bahkan semakin bertawakkal pada Allah SWT,

Kesabaran yang Indah dari Ya’kub inilah yang menjadi contoh bagi para Rasul lainnya seperti Sulaiman dan Daud, bahkan Nabi kita pun mencontoh kesabaran Ya’kub ketika anaknya yang bernama Ibrahim wafat, dan ia pun menangis, para sahabat yang belum pernah melihat beliau menangis pun ikut menangis dan bertanya mengapa kau menangis wahai utusan Allah ? dan Rasulullah menjawab :

“Hati bersedih, air matapun titik, namun tidak ada kata yang keluar dari mulutku kecuali yang diridhai Allah saja”

dan Ya’kub setelah kehilangan anak-anaknya tidak hanya bersabar saja, namun semakin optimis pada Tuhannya hingga ia berkata :

“Janganlah kamu putus asa dari Rahmat Allah, sesungguhnya tidaklah putus asa dari Rahmat Allah kecuali orang-orang yang tidak beriman”

Ya’kub sudah tua renta, tenaganya sudah menghilang, matanya rabun, namun semangatnya tetap tinggi, harapannya pada Tuhannya semakin tinggi, karena ia paham bahwa orang yang sungguh-sungguh beriman adalah orang yang terus memiliki harapan pada Rahmat-Nya.

Berapa kali kita diberi cobaan dalam hidup yang lebih mudah dari ini ? kehilangan pekerjaan ? dikhianati ? mengalami kerugian dalam bisnis ? apa sikap kita saat musibah itu terjadi ? marah, kesal, sedih, bingung, kecewa. namun kita harus paham bahwa untuk menjadi pribadi yang beriman adalah yang selalu memiliki optimisme dan harapan pada masa depan.

Karena justru pada saat musibah terjadi itu kita harus meningkatkan optimisme dan harapan kita pada hari esok yang lebih baik

Dan pada akhir kisah Ya’kub seperti yang kita ketahui akhirnya ia dapat berkumpul lagi dengan Yusuf dan anak-anaknya di mesir.

“Sungguh pada kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal, Al-Quran bukanlah kisah yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu dan sebagai PETUNJUK dan RAHMAT bagi orang-orang yang beriman”

 

 

Mutiara Kisah Yusuf ; Hukum Zina di Mesir dan Pengakuan Zulaikha

Pada Kisah Yusuf sebelumnya yang sudah saya bahas di posting : Yusuf dan Zulaikha , dijelaskan tentang kisah bagaimana Zulaikha membuat rencana untuk menjebak Yusuf agar mau menuruti nafsunya,

tadinya saya hendak berhenti pada bagian itu saja, namun ternyata ada beberapa hal yang menarik yang bisa saya tarik dari kisah yang indah ini

yang pertama adalah ; Hukum perzinaan di negri Mesir

mari kita ingat lagi apa yang diucapkan Zulaikha ketika tertangkap basah itu, ia langsung membela dirinya : “Apakah balasan yang pantas bagi orang yang bermaksud buruk pada istrimu kecuali dipenjara atau siksa yang pedih ?” (ayat 25)

disini menjelaskan tentang hukuman untuk orang yang berbuat zina pada istri orang adalah mendapat hukuman yang berat, padahal mesir BUKAN negara Islam, mesir pada zaman Yusuf adalah negara dimana berhala masih disembah, dan agama samawi hanya dianut oleh keluarga Yusuf saja.

Fakta disini adalah : Mesir – negara penyembah berhala, memiliki hukum yang jelas untuk perbuatan asusila,

dan Zulaikha tahu hal ini dan maka dari itu ia berusaha mengelak dari kesalahannya dengan menuduh Yusuf

Saya terkesima dan takjub mendapati hal ini dan membandingkan dengan realita pada masa sekarang, karena seperti yang telah kita ketahui pada lapisan masyarakat kita ; perzinaan telah menjadi umum, bukan hal yang aneh lagi kita mendapati orang-orang disekitar kita melakukannya,

dan JUSTRU orang-orang yang berusaha mencegah perbuatan asusila ini dicap sebagai orang ultra-fanatik, kolot, fundamentalis, hipokrit, dsb

Saya sudah mencoba membaca beberapa tafsir dari surat ini namun karena tafsir-tafsir itu kebanyakan ditulis pada masa dimana perzinaan adalah hal yang sangat tabu, tentunya para imam yang menulis tafsir-tafsir itu tidak terlalu fokus pada hal ini.

Jadi kesimpulan yang bisa saya ambil dari ini : bahwa telah terjadi pergesaran moral yang sangat besar pada masa ini hingga kita pun – yang menganut ajaran yang sama dengan Nabi Yusuf, memandang bahwa perzinaan adalah hal yang wajar.

yang kedua : Plot yang dilakukan Yusuf untuk Zulaikha

setelah skandal itu, tersebar gosip di lingkungan sosialita, karena Zulaikha adalah istri seorang pejabat maka skandal itu menjadi hot topik dikalangan elit,

untuk mencegah hal itu Zulaikah membuat rencana dengan mengundang semua ibu-ibu pejabat dan seperti yang kita ketahui saat Yusuf disuruh masuk ke ruangan itu mereka semua takjub pada kegantengan Yusuf dan mengiris tangannya dengan pisau

Akhirnya Yusuf pun  memilih masuk ke penjara dengan tuduhan palsu dari Zulaikha,

ini adalah satu hal penting lagi, bahwa Yusuf dihukum atas tuduhan perbuatan asusila, menunjukkan beratnya hukuman atas pelaku asusila di negri mesir saat itu.

Kemudian singkat cerita ada penghuni penjara yang ditakwilkan (diartikan) mimpinya oleh Yusuf dan ia menceritakan itu pada raja mesir, maka raja mesir menyuruhnya untuk memanggil Yusuf,

dan apa respon Yusuf ? apa dia langsung menghadap raja mesir ?

tidak, Yusuf berkata : “kembalilah pada tuanmu, dan tanyakan padanya tentang perempuan-perempuan yang telah memotong tangan mereka” (ayat 50)

ini sungguh menunjukkan kebijakan dan kepandaian Yusuf, dengan menyuruh raja memanggil ibu-ibu pejabat yang telah hadir pada saat itu maka kasus skandal Zulaikha yang sudah lama dilupakan jadi dibuka kembali, bahkan di majelis yang paling tinggi ; yaitu di hadapan raja mesir !

Maka ibu-ibu pejabat itu bersaksi didepan raja mesir : “Tidaklah kami mengetahui padanya (Yusuf) ada keburukan”

Maka setelah itu Zulaikha dipanggil kehadapan raja, pada saat itu suami zulaikha sudah wafat dan semua orang sudah melupakan skandal itu, namun zulaikha masih belum membeberkan kebenaran pada publik hingga saat ini.

Dan Zulaikha tidak bisa berkelit lagi ; “Sekarang sudah jelas kebenaran : Akulah yang merayunya dan dia adalah termasuk orang yang jujur” (ayat 51)

Raja mesir mendapati hal ini takjub dan terkesima, padahal ini adalah skandal yang bukan urusannya, namun fakta telah membuktikan bahwa akibat hal ini Yusuf menjadi penghuni penjara akibat dari perbuatan asusila Zulaikha padanya, akhirnya simpati raja sudah kepada Yusuf, dan raja pun berkata : “Bawalah ia kepadaku, aku akan jadikan dia orang yang dekat padaku” (ayat 54)

Subhanallah, tanpa belum pernah berjumpa dengan Yusuf, raja mesir langsung memberikan Yusuf posisi yang paling penting di negara itu, jika saja Yusuf langsung menemui raja setelah ia mentakwilkan mimpi raja, maka hal ini tidak akan terjadi.

bahkan Rasulullah memuji perbuatan Yusuf ini : “kiranya aku yang ditahan dipenjara selama itu, tentunya aku akan memenuhi panggilan itu”

Kisah Yusuf adalah salah satu kisah paling indah dalam Al-Quran, berawal dari mimpinya melihat matahari, bulan dan bintang, hingga dibuang kesumur oleh saudara2nya, menjadi budak ke mesir, digoda dan difitnah oleh istri majikann, menjadi penghuni penjara….hingga menjadi orang paling berpengaruh di negara yang paling kuat saat itu ; Mesir.

Yusuf Alaihissalam telah membuktikan bahwa tawakkal dan sabar adalah kunci untuk menghadapi semua rintangan dalam hidupnya.

“Demikianlah telah kami berikan ketetapan bagi Yusuf di negeri itu, dia boleh menempati di mana dia suka, Kami limpahkan rahmat bagi siapa yang Kami kehendaki dan tidaklah Kami menyia-nyiakan ganjaran bagi orang yang berbuat kebaikan” (ayat 56)

 

 

 

 

 

 

Kaum Madani, Anshor, Muhajirin dan Piagam Madinah

“Tanda keimanan adalah cinta kepada kaum Anshor. Dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshor”. (HR. Al-Bukhari)

beberapa tahun yang lalu istilah “Masyarakat Madani” dipromokan oleh seorang cendikiawan untuk menunjukkan bahwa masyarakat yang maju adalah masyarakat yang beradab, menghargai kemajemukan dalam unsur-unsur kehidupannya.

sebetulnya apa arti konsep Madani ini ?

Awalnya konsep masyarakat madani ini dimulai pada era pasca hijrah kaum Muhajirin dari Mekkah ke Madinah, untuk menghindari tekanan dari kaum kafir terhadap umat Islam saat itu, momen ini adalah momen penting dalam sejarah Islam karena pada saat itulah kaum muslim baru dapat merasakan kehidupan beragama yang lebih bebas.

Kita semua mendambakan kehidupan damai dalam kemajemukan itu, namun apa kita semua memahami apa yang menyebabkan terciptanya kaum Madani dan kaum apa yang paling memberikan kontribusi terciptanya kondisi tersebut ?

Kota Yastrib, yaitu nama asli dari Madinah al-Mukarromah, terdiri dari berbagai suku-suku, yaitu suku Arab dan suku Yahudi, pada masa pra-Hijrah, terjadi perang saudara (civil war) antara suku-suku di kota ini yang mengakibatkan terbunuhnya banyak tokoh-tokoh besar dari suku-suku tersebut, hingga akhirnya pada saat musim haji sebagian dari perwakilan suku-suku di Yastrib itu bertemu dengan Rasulullah dan mereka dengan mudahnya menerima ajaran monoteisme Islam.

ada beberapa poin yang menyebabkan suku-suku arab Yastrib dapat menerima hidayah dengan mudah :

  • mereka sudah mengetahui konsep ketuhanan monoteisme dari suku-suku Yahudi di Yastrib, namun mereka tidak dapat menjadi penganut agama yahudi, karena mereka bukan keturunan yahudi.
  • perang saudara yang sangat lama dan telah membunuh banyak tokoh-tokoh penting dari Yastrib membuat generasi muda dari Yastrib sudah muak dengan perpecahan dan mendambakan kesatuan dalam suatu konsep kepemimpinan yang lebih baik

dan oleh karena itu mereka tidak ragu lagi menawarkan kepada kaum muslim di Mekkah untuk pindah ke Yastrib, terutama karena mereka tidak tahan melihat perlakukan kasar kaum kafir Mekkah kepada Muhammad SAW dan pengikutnya.

setelah Hijrah, kaum muslim dari Mekkah yang disebut Muhajirin, tercengang-cengang dengan kebaikan dan kedermawanan kaum Anshor kepada mereka, bukan saja mereka terbuka menerima “pengungsian” tersebut, bahkan mereka menawarkan sebagian harta mereka kepada kaum muslim !

perlu dipahami bahwa kaum Anshor bukanlah kaum yang kaya, sebagian besar dari mereka hidup dalam kemiskinan, terutama karena mereka hidup dari pertanian, bukan seperti kaum Muhajirin yang sebagian besar adalah pedagang.

walaupun kaum Anshor belum lama memeluk agama Islam namun mereka sudah memahami arti konsep persaudaraan Islam yang sebenarnya yang seperti konsep ideoligi sosialisme : apa yang mereka miliki adalah miliki sahabatnya juga

“Kebaikan” kaum Anshor ini disampaikan kepada Rasulullah, dengan kekhawatiran apakah nantinya amalan kaum Muhajirin akan dikurangi oleh Allah SWT akibat keikhlasan kaum Anshor, maka Nabi SAW menjawab tentu saja tidak, asalkan kaum Muhajirin mendoakan kaum Anshor agar mendapatkan keberkahan dan keridhoan dari Allah SWT.

“Tentang (nama) Anshar, apakah kalian menamakan diri kalian dengannya atau Allahlah yang menamakan kalian dengannya?”. Anas menjawab, “Bahkan Allahlah yang menamakan kami dengan sebutan Anshar”. (Shahih al-Bukhari no.3776).

Dalam suasana kehidupan masyarakat yang kondusif inilah lahir “Piagam Madinah” yang mewujudkan konsep “Civil Society” yang ideal, bahkan tidak pernah dalam sejarah sebelumnya dibuat konsep konstitusional yang demikian sempurnanya, hingga akhirnya Piagam Madinah ini menjadi rujukan dalam konsep-konsep konstitusional negara-negara adidaya zaman modern yang menyerupai landasan negara federasi.

kembali lagi ke kaum Anshor dan Muhajirin, sejalan dengan perkembangan Islam terutama dimasa-masa kepemimpinan Rasulullah di Madinah, selalu ada kekhawatiran bahwa Muhammad dan pengikutnya hanya memanfaatkan kaum Anshor untuk mencapai tujuan mereka yaitu kembali menguasai kota Mekkah,

Di Jazirah Arab, sebelumnya tidak dikenal konsep kesatuan berdasarkan keagamaan, selama ini mereka mengenal konsep kesatuan berdasarkan kesukuan atau keturunan, jadi tentunya kesatuan antara Anshor dan Muhajirin ini adalah hal yang aneh bagi kaum arab. dan menimbulkan keraguan bahwa kesatuan ini tidak akan lama.

namun keraguan ini ditepis sendiri oleh Muhammad SAW, terutama setelah penaklukan kota Mekkah, ternyata Nabi SAW tidak menetap di kota suci tersebut, hal ini tentunya sangat membuat gembira kaum Anshor bahwa Nabi tercinta tetap akan kembali ke kotanya,

bahkan saat membagi harta rampasan perang Hunayin yang sangat banyak, Nabi SAW memberikan bagian yang lebih banyak kepada kaum lain, bukan Anshor, saat kaum Anshor memprotes hal ini, Nabi SAW berkata apakah mereka tidak senang bahwa orang lain pulang dengan harta dan sedangkan kaum Anshor pulang dengan Nabinya ?

kemudian kaum Anshor menangis dan berkata ya tentu saja mereka lebih suka pulang dengan membawa Nabinya.

Kita sering mendambakan kehidupan kemajemukan yang ideal dengan pemimpin yang ideal, namun apakah kita sudah menjadi rakyat yang ideal seperti kaum Anshor yang mendapatkan Nabi sebagai pemimpinnya ?

“Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya”

kaum Anshor adalah kaum Madani yang paling ideal yang pernah ada di dunia ini,

mereka pulang mendapatkan kotanya menjadi kota suci kedua setelah Mekkah dan mendapatkan Nabinya yang mereka cintai bersemayam di kotanya…..selamanya

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (At-Taubah 100)