Jordan Peterson, tokoh anti Political correctness

Ada teman debat disini yang ngejek saya pas tahu saya mengikuti Jordan Peterson,

mungkin dia pikir aneh kenapa saya mengikuti dan membaca bukunya padahal Peterson ini orang anti Islam.

Peterson ini memang tokoh unik buat zaman post modernism ini, apalagi dia itu beraliran “anti political correctness” yang berarti dia itu tradisionalist, anti feminism, anti liberal, konservatif dan juga Islamophobia.

Pemikirannya dipengaruhi Carl Jung, Dostoyevsky, Nietzsche dan Chomsky, maka yang sudah biasa baca buku2 itu pastinya sudah gak asing dengan gaya pemikiran Peterson

Nah, Peterson sudah lama sering berdebat melawan tokoh2 liberal dan feminist, tapi ya karena sikapnya yang sangat konservatif ini bikin dia jadi sasaran empuk oleh orang-orang sekular di media sosial

Karena gak tahan dibully di sosmed, Peterson akhirnya jatuh depresi dan harus dicecoki dengan obat psikotropika dosis tinggi supaya dia bisa survive.

Kalau saya lihat, Peterson ini memang jago berdebat dan sering menghajar lawannya, cuma satu aja kekurangannya yaitu dia melawan dengan argumen yang bersifat dogmatis, yang jelas akan membuat dia terjebak sendiri dalam argumen yang sulit dibuktikan,

selain itu juga Peterson tidak punya tujuan yang jelas kenapa dia harus melawan postmodernism, apa yang ingin dia capai dengan semua usahanya membuktikan bahwa gerakan modernisasi itu salah, sedangkan dunia barat jelas sangat butuh pembaharuan

Beda dengan Chesterton yang berdebat melawan gerakan anti agama karena dia ingin menyadarkan teman2 sastrawannya untuk kembali jadi relijius lagi, dan dia berhasil mengajak temannya CS Lewis yang kemudian menulis novel terkenal “Narnia”

Begitu besar pengaruh Chesterton pada CS Lewis malah justru melambung nama temannya itu, bukan dirinya : “All of this generation has grown up under Chesterton’s influence so completely that we do not even know that we are thinking Chesterton.”

Atau seperti si Black Swan aka. Nassim Nicholas Taleb yang sering melabrak Richard Dawkins dengan kata-kata kasarnya karena dia tahu bahwa teori Dawkins itu sama sekali tidak memiliki bobot “Skin In the Game” Maka Taleb sering mengejek2 Dawkins sebagai “Jurnalis pengarang prosa bebas”

Nah kembali ke Peterson ini, saya sudah baca satu bukunya dan jujur banyak hal yang saya tidak setuju dalam buku ini, lagian dia cuma mengambil teori2 dari pemikiran zaman dulu seperti Nietzsche dan Dostoyevsky, maka saya tidak menemukan suatu hal baru dari pemikiran Peterson

Cuma saya tetap berharap dia sembuh dari depresi akutnya itu dan sadar bahwa metode berdebatnya itu salah, juga dia harus belajar tidak memakai argumen dogmatis jika ingin menang melawan pemikiran postmodernism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s