Perang Pemikiran – bab 1

Bismillah,

berikut adalah update pertama dari bab Perang Pemikiran, semoga bisa segera diselesaikan, mohon doanya

Tentang Ghazwul Fikri dan metode untuk melawannya

*disclaimer : artikel ini belum selesai, dan masih dalam tahap pengembangan.

di abad modern ini, salah satu isu terpenting yang sering diutara oleh hampir semua kaum ulama adalah permasalahan Ghazwul Fikri atau yang dikenal dengan perang pemikiran, sebelum kita membahas tentang hal ini, perlu kita ketahui apa penyebab Ghazwul Fikri tidak menjadi masalah di masa pra modern dan kenapa justru saat ini menjadi masalah besar yang berakibat pada goyahnya keimanan umat di masa modern ini.

Pertama, di masa dahulu, terutama pada era keemasan Islam sekitar 7 abad yang lalu, semua jenis pemikiran itu dikuasai oleh para ilmuan Islam, terutama karena para ilmuan mengadopsi pemikiran dari yunani kuno untuk mendukung semua argumen-argumen logika yang berfungsi untuk mempercepat kemajuan ilmu, walau ada terjadi muncul pemikiran yang berseberangan dengan batasan yang ditetapkan oleh agama – seperti soal metafisika yang harusnya tidak dicerna dengan logika, namun tidak bisa dipungkiri bahwa pada masa itu tidak ada ideologi atau agama lain yang berani melakukan serangan pemikiran terhadap Islam.

Dan setelah kejadian invasi mongol, hingga berakibat pada runtuhnya dinasti Abbasiyah, kemudian muncul beberapa dinasti lainnya hingga muncul dinasti Ottoman yang berkuasa paling lama dalam sejarah Islam, kemunculan dinasti ini penting untuk melindungi dunia Islam dari invasi dan kolonialisasi oleh Barat, bahkan selama 7 abad itu dinasti Ottoman secara sendirian menghadapi berbagai serangan dari negara-negara barat di abad pertengahan.

Hal yang menyebabkan Ottoman bisa bertahan selama itu karena kelebihan bangsa Turki yang tidak dimiliki oleh bangsa lainnya, mereka itu sangat disiplin – karena mereka berasal dari suku yang memiliki keahlian dasar militer, juga mereka memiliki fisik yang tangguh yang bisa tahan di segala musim, baik musim panas maupun musim dingin, ini juga yang membuat bangsa Turki bisa menaklukan Konstantinopel, yang tidak pernah berhasil dilakukan oleh dinasti-dinasti sebelumnya

tidak ada gading yang tidak retak, kelebihan yang dimiliki oleh bangsa Turki itu juga ada kekurangannya, mereka tidak maju dibidang sains, bahkan saat penaklukan Konstantinopel saja, Sultan Al-Fatih mendatangkan ahli meriam dari barat untuk membuat meriam besar yang bisa meruntuhkan tembok benteng Konstantinopel, begitu juga dengan hal lainnya, dilihat dari segi arsitektur yang dibangun di era Ottoman itu tidak banyak melakukan inovasi, mereka hanya mengikuti apa yang sudah dilakukan sebelumnya, atau mengadopsi teknik dari bangsa lain.

Dan untuk di bidang sains, tidak banyak ilmuan yang muncul pada era Ottoman, selama 7 abad itu sangat sedikit ilmuan yang lahir, suatu hal yang sangat kontras jika kita mengingat bahwa dinasti sebelumnya banyak melahirkan ilmuan dalam waktu yang lebih singkat.

Sementara itu di dunia barat justru terjadi sebaliknya, di saat dunia Islam memasuki masa stagnan – dan bahkan secara perlahan memasuki era kegelapan ilmu, dunia barat mulai memasuki era keemasan renaissance dimana ilmu pengetahuan menyebar secara cepat berkat penemuan mesin cetak, pengadopsian ilmu dari dunia Islam ke barat terjadi dengan sangat cepat, muncul banyak ilmuan dan ahli filsafat di barat, Thomas Aquinas sebagai tokoh utama dari Katolik yang mengadopsi pemikiran dari Ibnu Sina dan Al Ghazali, dunia sastra barat mulai berkembang dengan munculnya banyak tokoh-tokoh sastra, terutama pada masa Shakespeare dimana bahasa menjadi puncak keemasan peradaban barat.

Kita bisa dengan mudah menyimpulkan bahwa kunci keberhasilan barat dimulai ketika mesin cetak ditemukan oleh Guttenberg, namun inti permasalahnnya tidak bisa dilihat semudah itu, dengan munculnya mesin cetak tentunya berakibat pada kenaikan pertumbuhan ilmu dibarat, sementara itu di dunia Islam yang justru melarang penggunaan mesin cetak justru berakibat pada menurunnya perkembangan ilmu.

Walaupun Ottoman telah ikut berkontribusi dalam penurunan ini, mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan akibat hal itu, jika kita lihat pada masa itu setidaknya Ottoman masih memberikan kebebasan kepada semua aliran agama (bukan cuma Islam saja) untuk bisa saling hidup berdampingan dengan damai, semua aliran memiliki pengadilan sendiri (bahkan syiah dan yahudi bisa punya pengadilan agamanya) hingga bisa kita lihat bahwa tidak ada peradaban yang lebih majemuk dan pluralis dibandingkan dengan era Ottoman ini.

Kembali lagi ke permasalahan serangan pemikiran, bibitnya mulai muncul sekitar abad 19, dimana mulai dibuat suatu aliran atau pemahaman baru yang diadopsi dari salah satu mahzab ahlusunnah yang intinya membuat para pengikutnya patuh dan setia pada rezim pemerintahan yang berlaku atau pada rezim penjajahan, seperti yang pernah terjadi di Aceh, dimana gerakan pemberontakan atas penjajahan belanda itu akhirnya diatasi dengan serangan pemikiran yang menyebabkan rakyat Aceh percaya bahwa mereka bernasib lebih baik jika dijajah oleh belanda yang sudah baik memberikan mereka izin untuk beribadah.

Permasalahan utama dengan aliran yang memiliki konsep patuh pada pemerintah, tanpa memperbolehkan mempertanyakan apakah pemerintah itu sudah melaksanakan kewajibannya sebagai pemimpin dan pengayom rakyat adalah selain menberikan peluang bagi pemerintah untuk bisa melakukan apa saja, termasuk juga dalam hal yang bersifat menelantarkan hak-hak rakyat, juga bisa menyebabkan kemunduran drastis pada kemampuan berpikir dalam masyarakat akibat mereka diharuskan untuk patuh pada pemerintah.

Ada banyak dalil-dalil dalam agama yang digunakan untuk menyokong prinsip ini, dan dalil itu termasuk dalam kategori sahih, namun bagaimanapun rakyat masih memiliki hak untuk meminta pemerintah untuk melindungi dan memenuhi kebutuhannya, yang dilakukan secara baik dan tidak melanggar adab yang sudah ditetapkan dalam agama.

Sebenarnya ada beberapa jenis aliran serupa, namun kita lihat beberapa ciri khasnya :

1. memiliki prinsip bahwa pemimpin itu harus dituruti

2. apapun yang dilakukan oleh pemimpin itu merupakan haknya

3. rakyat tidak diperbolehkan mempertanyakan kebijakan pemimpin, karena rakyat tidak diminta pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan pemimpin di akhirat

4. rakyat wajib mendoakan pemimpin

5. rakyat fokus pada kegiatan ibadah dan menyibukan diri pada aktifitas mendalami ilmu agama, selama pemimpin masih memperbolehkan hal itu maka rakyat harusnya tidak mempermasalahkan hal-hal lain yang dilakukan oleh pemimpin.

Untuk menghadapi pemahaman seperti itu, kita harus bisa melihat apa yang telah terjadi dalam sejarah Islam, apakah para sahabat di era Khulafa Rasyidin (empat Khalifah pertama) juga melakukan hal yang serupa atau justru kebalikannya, Abu Bakar As-Shiddiq pada pidato pertamanya berkata bahwa ia bukan yang terbaik (tentunya ia berkata demikian untuk menjaga rasa kerendahan hatinya) dan ia memohon agar rakyatnya mengkoreksinya jika ia berbuat salah, demikian juga dengan Umar bin Khattab yang suka saat ada orang yang berkata lantang bahwa ia melakukan kesalahan, para sahabat paham bahwa mereka hanya manusia biasa yang harus diberikan masukan jika melakukan kesalahan, dan jika rakyatnya tidak melakukan itu dengan tujuan yang baik maka mereka khawatir akan jatuh pada perbuatan zalim kepada rakyatnya.

Intinya pemimpin yang adil akan melaksanakan apa yang sudah menjadi amanahnya dan walaupun ia berhak melakukan apapun dengan kepemimpinannya itu, dia tetap berlaku bijak dan adil, sebagaimana bisa dilihat pada kisah Dzul-Qarnain dalam surat Al-Kahfi, dimana saat ia menemui suatu kaum dan dia diberikan pilihan dimana dia bisa berlaku apapun kepada kaum itu dan Dzul-Qarnain memilih berlaku adil kepada kaum itu.

Itulah esensi dari Khalifah di bumi, Allah menjadikan manusia sebagai Khalifah di bumi yang artinya adalah representatif dari Tuhan, dimana setiap manusi diberikan hak untuk bisa menentukan hidupnya sendiri, maka tantangan akan semakin berat ketika hak itu diperbesar menjadi bisa berlaku apapun kepada orang lain seperti keluarga, anak atau siapun yang dibawah kita.

Siapapun yang membuat rencana untuk membuat umat Islam menjadi pasif, mudah diatur, tidak memiliki kemampuan berpikir secara independen adalah kelompok yang memiliki kemampuan sebagai mastermind, karena untuk membuat perubahan sedemikian drastinya, dan tidak pernah terjadi sebelumnya itu memerlukan suatu rencana yang matang dan sistematis,

Jika serangan mongol itu bersifat sporadis dan impulsif, maka serangan pemikiran ini bersifat taktis dan progresif, maka untuk melawannya kita harus setidaknya melakukan hal yang serupa yaitu bersikap taktis dan progresif.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata bahwa kebenaran yang tidak terencana bisa dikalahkan dengan kebatilan yang terencana, walaupun berbagai sumber menyebutkan riwayat ini lemah tapi bisa kita simpulkan bahwa : kebatilan yang terencana akan bisa dikalahkan dengan kebenaran yang terencana

Namun untuk bisa membuat perencanaan yang sistematis itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang, harus mereka yang memiliki keahlian pemikiran strategis, punya visi untuk masa depan, memiliki berbagai metode untuk melakukannya dan juga memilki pengetahuan yang luas dalam ilmu sejarah dan sosiologi, namun jika kita belum memiliki orang-orang dalam umat ini yang bisa melakukan hal tersebut maka kita mempersiapkan diri untuk menangkal serangan pemikiran itu yang dimulai dari diri kita sendiri.

Apa saja ilmu yang dibutuhkan untuk menghadapi serangan pemikiran ;

pertama sekali tentunya kita perlu ilmu dasar tentang agama kita ini, yang hal itu tidak bisa ditawar-tawar lagi, dan kita setidaknya sudah melakukan ritual ibadah dasar, dengan niat untuk menambah ritual itu ke level berikutnya, dengan tekun dan disiplin yang tinggi.

Selanjutnya kita perlu ilmu sejarah, secara garis besar ilmu sejarah terbagi dalam tiga fase :

1. pra Islam, masuk dalam kategori ini adalah kisah-kisah para nabi dimulai dari Nabi Adam sampai nabi Isya, dan juga sedikit pengetahuan tentang kondisi suku Arab sebelum datangnya Islam

2. Sirah Nabawiyah, mulai dari awal kehidupan Rasulullah, periode Makkah dan periode Madinah, dilanjutkan dengan sejarah Khulafa Rasyidin, dan jika perlu ditambahkan dengan sejarah kehidupan para sahabat utama yaitu Ashara Mubashara, para Ibu Kaum beriman, para kaum Tabi’in dan ulama-ulama besar setelah generasi itu

3. Masa Dinasti, dimulai dari dinasti Umayyah, Abbasiyah dan sampai dinasti Ottoman

4. sejarah terbentuknya negara Islam modern yang dimulai dari runtuhnya Ottoman sampai terbentuknya negara-negara timur tengah

untuk mendalami ilmu seajarah ini tentunya perlu waktu, maka gunakan semua sumber daya secara maksimal, mulai dari mencari buku-buku yang berkualitas sampai mendengarkan ceramah online

namun ilmu sejarah ini seperti kumpulan data-data saja, mereka tidak akan memberikan manfaat jika kita hanya memperlakukan ilmu ini sebagai hiasan saja, atau untuk menyombongkan diri karena dulu kita pernah punya sejarah yang hebat, bagaimanapun hebatnya Islam pada masa lalu yang terpenting adalah bagaimana kita melihat semua itu dengan menggunakan kacamata yang bijak untuk membantu kita membentuk masa depan kita. Karena umat ini sebenarnya seperti seorang tua yang hanya bisa menceritakan kehebatannya dimasa muda, orang tua hanya bisa bersikap nostalgia karena ia tahu bahwa ia tidak memiliki masa depan, tentunya kita tidak akan bersikap demikian karena kita masih percaya bahwa masa depan masih ada, hanya kita belum mampu bersikap untuk menatanya kembali.

Senjata utama untuk melawan serangan pemikiran ini sebenarnya adalah Ilmu Filsafat

jika kita mendengar ilmu filsafat saat ini terasa aneh, untuk mereka yang belum mendalami ilmu agama mungkin akan berpikir bahwa ilmu filsafat itu adalah suatu bagian ilmu yang terpisah dari unsur-unsur keagamaan, dan bagi mereka yang sudah mendalami agama dengan melalui komunitas pengajian maka akan berpikir mengapa harus mendalami ilmu yang sudah usang dan dilarang oleh ulama, padahal sebenar ilmu filsafat ini adalah akar dari semua ilmu yang berfungsi untuk membentuk kerangka berpikir kita yang akan digunakan untuk menghadang serangan pemikiran.

Selain mempelajari sejarah, kita harus bisa melihat bagaimana banyaknya muncul aliran pemikiran di masa keemasan, karena salah satu tanda kejayaan suatu era adalah dimana muncul berbagai pemikiran yang berasal dari satu tujuan yaitu untuk mendalami ilmu yang hakikatnya untuk mempertebal keyakinan kepada Tuhan

walaupun beberapa aliran pemikiran dimasa lalu itu tidak semuanya benar, bahkan sampai memasuki ranah yang dilarang, namun kita patut memahami bahwa tujuan para ahli pemikir itu tidak sama seperti yang dilakukan oleh para ahli pemikir modern, walau Ibnu Sina adalah bapak filsafat yang cenderung lebih modern namun para ulama tetap yakin bahwa niat Ibnu Sina adalah untuk menambah keimanannya dengan menjabarkan semua argumen-argumen yang ia percaya dengan logikanya

Maka jika buah pemikiran para ahli yang segaris dengan Ibnu Sina itu ada kesamaan namun tujuannya bisa berbeda, di masa modern ini sulit untuk mengetahui apa motivasi para ahli pemikir, karena sepertinya mereka tidak memiliki dasar motivasi yang kuat selain hanya ingin memuaskan nafsu logika mereka saja, misalnya jika mereka membuat argumen tentang alam semesta ini terjadi tanpa sebab dengan demikian maka Tuhan itu tidak ada, di masa lalu hal itu tidak terjadi, walau mereka memilih percaya bahwa alam semesta ini bisa tercipta dengan sendirinya namun orang di masa lalu tetap percaya bahwa Tuhan masih memiliki andil dalam penciptaan alam semesta.

Tidak banyak ilmuan dan ahli pemikir dari dunia Islam, maka ketika serangan pemikiran itu terjadi kita bisa lihat bagaimana dampaknya pada orang-orang disekitar kita, ada yang mempercayai bahwa semua agama itu sama (padahal hal absurd ini tidak pernah dilakukan sebelumnya) akibat dari mempercayai bahwa semua agama itu sama, maka kita bisa terjebak pada opini bahwa agama ini tidak sempurna, karena banyak agama lain yang sudah tidak sempurna akibat distorsi yang terjadi dalam kondisi internalnya. Maka sekarang pertanyaan penting adalah bagaimana kita bisa mendalami ilmu filasafat yang sesuai dengan agama dan di atas logika yang lurus ?

Kami telah berikan hati, maka mengapa mereka tidak berpikir ?”

penemuan di masa modern ini membuktikan bahwa hati yang sebenarnya mengontrol otak, secara kontinyu hati memberikan sinyal kepada otak, maka muncul opini baru bahwa berpikir bukan dengan otak tapi dengan hati, ini sejalan dengan hadist yang menyebutkan bahwa kondisi hati itu menentukan kondisi keseluruhan dari tubuh, karena jika hati tidak berfungsi dengan baik maka fungsi otak akan terganggu dan seluruh tubuh juga akan merana.

Seperti yang sudah disebutkan diatas tadi bahwa kedisiplinan dalam beribadah adalah suatu hal yang penting, namun kita harus bisa memahami bahwa esensi semua ritual agama itu pada dasarnya untuk mensucikan hati dari semua kotoran yang berasal dari internal maupun eksternal. Dan semua diawali dengan niat yang tulus hanya ditujukan kepada Allah semata, niat yang tulus itu bisa diperoleh dengan kesungguhan hati.

Pensucian hati atau Tazkiyatun Nafs harus dilakukan secara kontinyu, untuk itulah sebabnya kita punya ritual ibadah harian, mingguan, bulanan dan tahunan yang bertujuan untuk menjaga ritme hati agar tetap dalam kondisi yang suci, agar kondisi “ihsan” bisa dicapai yaitu dimana kita beribadah seakan-akan kita melihat langsung Allah atau jika tidak bisa maka kita yakin bahwa Allah sedang melihat kita.

Untuk menjaga ritme ibadah ini dibutuhkan kedisiplinan etika dan norma hidup, misalnya Rasulullah sebelum diangkat menjadi Rasul itu sudah dikenal sebagai “Al-Amin” yaitu orang yang bisa dipercaya, karena apapun yang diberikan kepada Rasulullah itu dilakukan semua dengan amanah dan semua perkataannya tidak ada kebohongan, juga sahabatnya Abu Bakar diberikan gelar “As-Shiddiq” yang artinya jujur, keutamaan jujur adalah saat kita bisa berbohong namun kita tetap memilih berkata jujur, karena kita tahu efek dari kejujuran itu bisa langsung berdampak pada kondisi hati kita, semakin kuat kita menjaga kejujuran maka semakin banyak hikmah yang akan dibukakan untuk kita.

Setelah kita mengetahui dasar-dasar yang dibutuhkan sebelum memahami ilmu filsafat, maka sekarang kita akan mencoba dengan menangani satu pertanyaan yang sering diutarakan di masa modern ini :

mengapa kita memilih agama ini, mengapa kita terlahir dengan agama ini

satu pertanyaan yang jika tidak bisa kita jawab dengan tegas dan benar bisa berakibat serius, diantaranya bisa menyebabkan kita mempertanyakan keimanan kita, bisa juga berujung pada mempercayai bahwa pada dasarnya semua agama adalah sama – padahal tidak ada satu agamapun di dunia ini yang mau disamakan dengan lainnya, juga bisa berujung pada pemahaman yang menyakini bahwa agar bisa mencapai toleransi beragama maka kita harus meyakini bahwa semua agama adalah sama, toleransi tidak dicapai dengan memahami hal demikian, kita bisa beranggapan bahwa tiap agama adalah beda namun tetap bisa menerima keberadaan mereka berdampingan dengan kita.

Untuk menghadapi pertanyaan ini sebenarnya sangat mudah karena pertanyaan ini sudah ada jawabannya sejak dulu kala, yaitu Imam Al Ghazali yang telah menjelaskan segara tegas dan frontal dalam bukunya yang berjudul “Al-Munqidh min Dholal” – Pembebasan dari kesalahan (deliverance from error)

dalam buku itu Imam AL-Ghazali menjelaskan mengapa kita menjadi Islam, apakah fitrah itu, dan semua pertanyaan yang intinya membangun “Culture of Doubt” dimana jika hal itu bisa dilakukan secara baik maka justru akan semakin menguatkan akidah kita, karena semakin kita berusaha untuk mencari kebenaran dalam jalan agama ini, maka semakin yakin hati kita bahwa jalan ini adalah jalan yang telah dipilih untuk menuju satu tujuan yaitu kepada Tuhan.

Sebaliknya jika kita melakukan culture of doubt itu pada agama lain maka kita akan semakin yakin bahwa agama itu bukanlah pilihan yang tepat, walaupun dengan menemukan kebenaran itu bukan berarti mereka bisa meninggalkan agamanya, namun setidaknya jika mereka melakukan hal itu maka mereka akan semakin meragukan agamanya, itulah sebabnya agama selain Islam itu berbentuk doktrinisasi, karena untuk menghindari munculnya keraguan pada umatnya.

Dengan melakukan culture of doubt pada agama yang sudah dijamin benar oleh Tuhan akan membebaskan kita dari semua keraguan, maka kita akan mencapai kondisi merdeka seutuhnya, merdeka dari semua pengaruh pemikiran manusiawi karena pemikiran kita tertuju pada Allah semata. Culture of doubt membuahkan kebebasan yaitu Liberal, maka asal muasal Liberalisme adalah pembebasan dari semua hal bersifat duniawi karena telah menundukkan hati kepada Tuhan untuk menjadi hamba-Nya.

Maka sebenarnya esensi dari plurarisme dan liberalisme itu sudah terdapat dalam agama ini, namun pemahaman modern telah membuatnya terpisah dari ajaran agama kita dan mengasingkan kita dari hal-hal yang berhubungan dengan pemikiran progresif itu, hingga kita bertahan pada keimanan yang lemah, bahkan sampai terpaku pada metode doktrinisasi semata untuk menyebarkan ajaran agama ini.

Salah satu contoh dari Culture of Doubt yang dilakukan di masa modern ini adalah dari Professor Jeffrey Lang yang menulis buku kisah perjalanannya menemukan Islam yang berjudul “Even Angels ask” dimana dia menafsirkan beberapa ayat pertama dari surat Al Baqarah dengan menggunakan logikanya yang luarbiasa, sebenarnya metode ini tidak disarankan untuk pemula, karena bisa menimbulkan salah tafsir, namun Professor Lang menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode pemikiran yang sudah ia asah selama menjadi pengajar bidang matematika itu membuatnya bisa menafsirkan Al- Quran dengan baik, bahkan hanya dengan membaca terjemahan saja (bukan dari tafsir) dengan cara itu ia bisa membuka tabir makna dibalik tiap-tiap ayat yang dibacanya secara seksama.

Bagaimana professor Lang bisa melakukan itu dengan baik ? Dalam bukunya ia mengakui bahwa semua orang mengenalnya sebagai pribadi yang baik, jujur dan adil. Juga ia selalu berusaha menyenangkan semua orang disekitarnya dengan tulus, juga ibunya adalah seorang penganut kristiani yang taat yang memiliki kepribadian bagai orang suci, dengan bentuk karakter seperti itu yang membuat Professor Lang bisa menemukan kebenaran dalam Quran.

Untuk bisa memahami Quran maka kita memerlukan perangkat utama untuk bisa mengolah semua pesan yang tersirat dalamnya, dan yang paling utama adalah memiliki hati yang ikhlas, tanpa adanya hati yang ikhlas maka cahaya dari Quran tidak mungkin bisa memasuki relung hati, bahkan jika kita sudah menjalani agama ini sejak lahir maka bukan berarti kita bisa merasa aman dengan status ini, justru kita harus menjaga budaya culture of doubt dengan senantiasa mempertanyakan kondisi hati kita – apakah dalam kondisi sehat atau sedang mengalami sakit, maka culture of doubt senantiasa diperlukan untuk menjaga kelangsungan kehidupan iman dalam hati.

Sebenarnya ada satu aliran di negri ini yang dimana pengikutnya merasa bahwa aliran mereka sudah ketinggalan zaman, akibat terlalu banyak bercampur dengan budaya setempat, maka mereka melakukan culture of doubt ini tanpa landasan yang kuat, dan akhirnya muncul aliran baru yang mereka sebut aliran versi modern yang mengakui bahwa semua agama adalah sama, dan dengan menerima fakta bahwa semua agama sama maka mereka terbebas dari kekangan tradisi lama yang dianggap sudah usang itu.

Terakhir saya lihat, salah satu pemimpinnya sudah mulai kembali melakukan ritual pengajian yang sudah menjadi budaya mereka yaitu mendalami kitab Ihya Ulumuddin, ini adalah suatu hal yang patut diapresiasi dengan baik, bahwa ternyata suatu kelompok yang pernah berusaha memisahkan diri dengan metode modern ternyata merasa perlu untuk kembali ke akarnya lagi.

Kembali ke soal perang pemikiran ini, banyak aliran di negri ini yang memiliki metode berbeda untuk menghadapi perang pemikiran ini, setidaknya ada tiga kelompok yang signifikan :

(1) ada yang merasa perlu membangkitkan semangat kekhalifahan – yang sayangnya hal ini mudah diprediksi akan gagal, (2) ada juga yang semangat mempelajari sejarah, hingga terjebak menjadi bersikap romantis pada masa lalu, seakan-akan masa lalu lebih baik dari saat ini, (3) atau ada juga yang merasa perlu kembali ke ajaran asli yang sesuai dengan sunnah, yang sebenarnya agak problematik karena kembali ke sunnah itu harus bisa dijelaskan sunnah yang mana ? Kita hidup dimasa yang berbeda dengan para sahabat dan para tabi’in, untuk bisa mengaplikasikan ajaran sunnah sesuai dengan kehidupan masa ini itu memerlukan suatu metode yang sudah diuji oleh para ulama terdahulu.

Maka hampir mustahil jika kita tidak mengikuti suatu mahzab atau ulama yang sudah mendalami ilmu agama dengan seksama, juga kita patut memperhatikan kepada siapa ulama itu mengambil ilmunya, kebanyak aliran yang muncul di masa modern ini terpengaruhi oleh pergerakan politik dan pemikiran baru, hingga kita perlu berhati-hati sebelum menetapkan pilihan pada suatu aliran.

Sikap kritis memang diperlukan, namun sikap berbaik sangka juga diperlukan secara proporsional, namun bukan berarti kita terjebak pada asumsi bahwa semua aliran adalah benar, namun untuk bisa menemukan aliran mana yang benar itu memerlukan perjuangan, kesabaran, ketangguhan dan sikap positif, serta memohon doa agar senantiasa diberikan petunjuk yang lurus dari semua jalan yang bersimpang ini.

Ada masanya dimana kita berada dalam kondisi dimana semua orang disekitar kita berseberangan dengan kita, hal ini tidak boleh menyurutkan semangat dalam mencari ajaran yang benar, bisa jadi di aliran tersebut ada kebenarannya, sikap kritis yang proporsional dan sikap open minded senantiasa digunakan dengan baik.

Waktu akan terus berjalan dan perubahan akan terus terjadi, maka bisa jadi aliran yang tadinya menjadi tumpuan pedoman hidup akan tumbang, seperti satu contoh yang terjadi di negri ini dimana satu aliran yang cukup terkenal bisa hilang dalam seketika, sedangkan para pengikutnya itu dulu sangat percaya bahwa aliran mereka adalah aliran yang paling baik dan paling benar, suatu hal yang absurd karena mereka terkurung dalam paradigma kelompok mereka sendiri, sedangkan orang di luar kelompok mereka itu melihat mereka berada dalam kesalahan.

Untuk memahami Perang Pemikiran ini, perlu kita membuat beberapa kategori dari jenis-jenis ideologi atau pemikiran :

(1) yang pertama adalah yang berasal dari dalam Islam sendiri, kelompok yang pertama ini masih termasuk kaum muslim juga, mereka bisa jadi masih melakukan ibadah dan bahkan sering kali lebih pandai dari kaum muslim mayoritas, yang membedakan adalah tujuan mereka melakukan semua itu bukan untuk Islam, hingga akhirnya mereka justru menyerang Islam sendiri – dengan atau tanpa mereka sadari.

Ciri-ciri yang signifikan adalah mereka selalu ingin membuat inovasi atau terobosan baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya, kadang dengan alasan untuk mengembalikan ajaran sunnah, atau untuk menghidupkan lagi kejayaan Islam seperti di masa lalu, kelompok ini sangat menjaga jama’ahnya agar jangan keluar dari kelompok mereka dengan mengikat mereka dengan janji suci, atau membentuk pola pikir bahwa kelompok mereka yang paling benar dan kelompok lainnya yang salah, juga membentuk pola pikir hitam-putih dengan metode pendidikan doktrinisasi.

Mengapa para pelaku inovasi ini sangat berbahaya ?

Karena selain mereka merusak ajaran agama yang murni, mereka juga menghambat manusia untuk dapat berpikir dengan baik, karena kita telah diberikan kemampuan untuk berpikir dan jika kita terjebak dalam ajaran doktrinisasi maka sebenarnya kita membatasi diri kita sendiri untuk bisa berkembang.

Selama sejarah Islam, selalu ada kelompok-kelompok ekslusif ini, namun jika terjadi perubahan dinamika politik maka kelompok-kelompok ini akan saling diadu, untuk mencegah bersatunya umat, hingga umat lebih mudah untuk dikendalikan. Dan kebalikannya jika kondisi sudah membaik lagi maka kelompok-kelompok ini akan seperti menghilang atau menjadi tidak signifikan, karena umat sebenarnya lebih menyukai hidup harmonis dalam satu jama’ah ketimbang terpisah dalam kelompok masing-masing.

Maka dengan demikian perlu terus dilakukan upaya untuk mempersatukan umat, walau situasi sedang damai, upaya untuk menjaga bibit-bibit perpecahan itu harus selalu dilakukan, setidaknya senantiasa menjaga diri dan keluarga dalam lingkungan yang Islami dan senantiasa menambah ilmu dalam majelis-majelis yang sesuai dengan sunnah.

(2) grup yang kedua berasal dari luar Islam yaitu dari barat, jika di masa lalu musuh Islam berasal dari kaum kristiani, maka di masa modern ini kelompok itu berasal dari kaum anti Tuhan, yang dimana kaum yahudi termasuk didalamnya juga.

Mengapa kaum yahudi saya masukkan dalam kategori ini juga ?

Karena kaum yahudi saat ini berbeda dengan kaum yahudi di masa lalu, mereka tidak memiliki etika dan nilai-nilai moral seperti dulu lagi, hingga banyak tokoh-tokoh yahudi di masa pertengahan yang menghasilkan pemikiran yang bersimpangan dengan agama, mereka mengambil ilmu filsafat yang mempelajari metafisik hingga mereka bisa merumuskan pemikiran yang meniadakan keberadaan Tuhan, hingga pemikiran tersebut yang memotori munculnya peradaban di masa modern ini.

Seperti yang sebelumnya sudah saya jelaskan bahwa di masa keemasan Islam dimana saat pemikir Islam mengembangkan imu filsafat itu untuk tujuan perkembangan ilmu, maka para pemikir modern mengembangkan ilmu filsafat untuk menjauhkan orang dari Tuhan, dengan semakin jauh manusia dari Tuhan maka mereka bisa lebih mudah memasukkan tuhan-tuhan kecil dalam kehidupan melalui pemikiran modern yang mereka ciptakan itu. Hingga jelas kelihatan bahwa kehidupan modern ini sangat jauh dari nilai-nilai agama, hal itu disebabkan karena prinsip hidup yang sudah diubah dari bertujuan untuk kehidupan akhirat menjadi bertujuan untuk kehidupan dunia.

Untuk melawan dua jenis perang pemikiran itu, sebenarnya metode yang digunakan bisa sama yaitu mendalami ilmu agama, disertai dengan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan ilmu agama seperti sejarah, bahasa dan filsafat. Dan masing-masing orang memiliki kapasitas intelektual yang berbeda, jadi tiap orang bisa mengisi posisi dalam umat ini sesuai dengan kemampuannya.

Dalam hadist disebutkan ; jika melihat kezaliman, maka iman tertinggi adalah melawan kezaliman itu, keimanan yang dibawahnya adalah melawan dengan perkataan, dan selemah-lemahnya iman adalah melawan dalam hati

hadist tersebut diartikan bahwa golongan pertama adalah golongan pemimpin dimana saat kezaliman terjadi dia bisa langsung beraksi memberantasnya, golongan kedua adalah kelompok orang-orang berilmu yang melawan dengan kata-kata mereka, dan golongan terakhir adalah kelompok orang biasa, yang memiliki ilmu yang standar yang tidak bisa digunakan untuk berdebat atau lainnya, ilmu orang awam hanya digunakan untuk menjaga dirinya agar tidak ikut melakukan kezaliman

Para kelompok anti Tuhan, Materialist, Naturalist ini memiliki beberapa metode untuk menjauhkan manusia dari ajaran yang mendekatkan kita pada Tuhan, salah satunya dengan terus menyebarkan ajaran tentang betapa buruknya dunia jika kita masih terus mempercayai keberadaan Tuhan dan dunia justru tidak lagi membutuhkan Tuhan karena dunia bisa berjalan sendiri tanpa ada Tuhan.

Kita bisa lihat bagaimana efek ghazwul fikri ini di masa ini, bahkan orang yang tidak mendalami aliran anti tuhan ini pun juga kehilangan orientasi agamanya, hampir semua orang menjadi materialist yang mengukur segala hal dari segi material saja, padahal manusia adalah mahluk yang terdiri dari unsur materi dan spiritual, maka dengan menghilangkan unsur spiritual dalam manusia akan menciptakan masalah besar, salah satunya adalah depresi massal di masa ini

Nassim Nicholas Taleb menyebut Richard Dawkins sebagai jurnalis yang hanya bisa menulis dengan bahasa yang puitis, ini adalah tamparan keras bagi pengikut Dawkins dan atheist lainnya untuk menunjukkan betapa tidak logisnya pemikiran mereka itu.

Mereka ini berargumen berdasarkan pada dalil yang lemah, diantaranya adalah berusaha untuk membuktikan bahwa alam semesta ini ada dan tercipta tanpa perlu ada penciptanya, dan jika alam semesta ini hancur maka hancur dengan sendirinya, mereka juga menentang pandangan bahwa mahluk tidak akan dibangkitkan lagi, dan banyak lagi beberapa pendapat serupa yang berasal dari pemikiran yang berdasarkan bahwa semua ini diukur dari sisi materialistik.

Agama Abrahamic seperti yahudi, nasrani dan Islam sangat menentang pendapat itu, bahkan Imam Al Ghazali telah menyudutkan pendapat seperti itu karena lemahnya argumen yang mereka gunakan, dan dampak dari mereka yang meyakini cara pandang anti tuhan itu sangat besar, salah satunya semakin hilangnya orientasi hidup manusia, semakin maraknya aktifitas yang bertujuan untuk mencari kepuasan hidup semata, depresi massal akibat pola hidup yang bertujuan pada mencari kepuasan dunia semata, dan sebagainya.

Para materialist ini selalu menyanyikan lagu lama untuk mengejek pengikut agama dengan selalu berkata ; Tuhan ini tidak berlaku adil, masih banyak kejahatan dan ketidakadilan di dunia, kenapa selalu ada perang agama, kenapa agama selalu dijadikan alasan, kenapa selalu membawa agama ke ranah politik,

semua klaim bahwa agama memberikan efek buruk pada kehidupan manusia adalah suatu hal yang terbodoh, karena mereka tidak melihat betapa buruknya hal yang sudah diciptakan dari kelompok anti tuhan ini, betapa banyaknya manusia yang sudah terbunuh sepanjang sejarah dari kelompok anti tuhan, walaupun sudah banyak terjadi peperangan antar agama namun kita tidak bisa menafikan bahwa sejarah telah menuliskan korban paling banyak berasal dari kelompok anti tuhan ini

ini semua berasal dari pemikiran bahwa Tuhan tidak ada, Tuhan sudah tidak diperlukan lagi, manusia tercipta dengan sendirinya maka manusia tidak akan dibangkitkan di hari kiamat, maka kita harus menikmati kehidupan dunia ini selagi kita bisa, karena tidak ada Tuhan dan tidak ada hari kiamat maka apapun yang kita perbuat di dunia ini tidak akan dipertanggungjawabkan, maka kita berhak untuk mencapai kebahagiaan hidup walaupun itu mengorbankan manusia lainnya

para anti Tuhan berpendapat bahwa Tuhan tidak berlaku adil, kejahatan banyak terjadi maka cara untuk menghilangkan ketidakadilan itu adalah dengan membuat manusia jadi sama, ideologi yang mereka ciptakan berdasarkan pada pandangan homogenitas, manusia semua harus menjadi sama secara ideologi dan material maka baru tercipta dunia baru yang lebih baik,

ideologi yang berdasarkan ini adalah kebalikan dari pemahaman agama yang berdasarakan pada pluralitas, dimana semua manusia diakui keberagamannya dan bisa hidup berdampingan tanpa harus menjadi sama, karena Tuhan sudah menciptakan manusia beragam maka manusia tidak perlu memaksakan diri atau yang lainnya menjadi sama.

Cara pandang ideologi anti tuhan ini menjadikan penganutnya terjebak dalam kondisi labil, tidak percaya diri, inferior dan dan insecure, karena senantiasa merasa terancam pada perbedaan disekelilingnya, jika mereka merasa terancam dengan ideologi lain atau penganut agama, maka mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghilangkannya, karena mereka tidak memiliki kapabilitas untuk menerima pemahanan lain selain apa yang mereka percaya, hingga kita bisa lihat apa yang terjadi di sejarah – bahkan di saat ini juga, dimana para anti tuhan ini berusaha untuk melenyapkan feodalis-kapitalisme dan agama, agar mereka bisa bertahan.

Para marxist ini paham bahwa mereka tidak bisa berkembang, maka mereka mengadopsi kapitalisme agar bisa maju secara ekonomi, namun pada kenyatannya mereka tetap tidak bisa bertahan jika terus berusaha menghilangkan perbedaan dalam manusia.

Dengan munculnya kekuatan baru yaitu sosialist-kapitalist atau komunist-kapitalist yang berasal dari negri dinasti Han ini akan mempertajam ketidakadilan di dunia, karena mereka berkembang dengan meminjam ideologi kapitalisme untuk menguasai perekonomian dunia, dan menggunakan ideologi anti tuhan sebagai falsafah kehidupan bernegara, ini merupakan kombinasi maut yang berpotensi menyeret negara-negara lain kedalam jurang kehancuran, kecuali jika dinasti Han ini segera menyadari kesalahannya itu maka mereka bisa berkembang tanpa harus menimbulkan kerusakan dan ketidakadilan seperti yang telah dilakukan oleh kapitalisme sebelumnya.

Untuk memahami bagaimana agar kita tidak terjebak dalam pemikiran anti tuhan ini, maka kita sebaiknya :

(1) menyakini bahwa ajaran agama adalah yang terbaik dan paling benar,

(2) mempelajari dasar-dasar agama, mencaritahu kenapa Tuhan tidak boleh disekutukan, hanya menyembah satu Tuhan dan mempercayai bahwa semua hal sudah diatur menurut kehendak Tuhan, mencaritahu kenapa kitab suci diturunkan dan apa akibat yang timbul dari hal itu,

(3) mempelajari sejarah, terutama asal muasal munculnya ideologi anti tuhan dan mengapa ideologi itu adalah pemikiran yang berbahaya bagi umat manusia

(4) meyakini bahwa ajaran agama yang terbaik adalah ajaran yang bisa menerima semua ajaran agama lainnya, dan bisa hidup berdampingan dengan semuanya.

(5) yang paling sulit adalah mempelajari ideologi anti tuhan, para tokohnya dan para pengikutnya, juga mencaritahu kelemahan-kelemahan ajaran mereka hingga bisa memberikan rasa percaya diri untuk terus menekuni ajaran agama ini