Islam dalam Bernegara (part 1)

“Islam tidak mengatur 1001 hal-hal detail yang bersifat teknis, dan bisa berubah-ubah menurut keadaan zaman, Islam memberikan kepada kita dasar-dasar pokok yang sesuai dengan fitrah manusia yang abadi dan tidak berubah, yang bisa berlaku di semua tempat dan semua zaman, baik di zaman dahulu kala, maupun di zaman modern”
(Mohammad Natsir – Islam sebagai dasar negara)

Dulu saya pernah bilang kalau salah satu keberkahan besar umat akhir zaman ini adalah hukum syariah yang tidak kaku seperti hukum syariah yang diberikan untuk children of israil,

 
misalnya wudhu bisa diganti dengan tayamun, sedangkan bani israil tidak memiliki kelonggaran tersebut dalam melaksanakan ibadahnya.
 
sekarang ada lagi berkah yang saya pikir adalah berkah terbesar yang selama ini mungkin tidak kita sadari,
 
mungkin sedikit dari kita yang tahu bahwa dalam sejarah bani israil itu mereka selalu dikasih enak dalam urusan agama dan negaranya, selalu ada Nabi atau Rasul disepanjang masa (sampai Nabi Muhammad diutus) dan ada pemimpin yang langsung ditunjuk oleh Allah untuk mereka (misalnya Raja Thalut) jadi mereka tidak perlu repot2 lagi mikirin urusan politik atau bikin ideologi untuk kenegaraan.
 

beda dengan Islam

 
dulu saya piki sangat aneh Nabi Muhammad tidak menunjuk siapa penggantinya, walau beliau sangat banyak memberikan tanda bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling pantas memimpin umat jika beliau sudah wafat.
perlu kita pahami juga bahwa kaum arab di masa itu tidak mengenal bentuk pemerintahan, karena mereka terdiri dari kabilah-kabilah yang punya pemimpin masing-masing, namun situasi berubah saat Islam datang dan Nabi Muhammad secara otomatis menjadi pemimpin untuk seluruh bangsa Arab, jadi untuk pertama kali dalam sejarah bangsa Arab itu mereka punya bentuk negara kesatuan dan pemimpin yang mempersatukan mereka.
 
tapi Rasullulah sama sekali tidak mengutak-atik soal politik apalagi bentuk kenegaraan, jadi apakah sebenarnya bentuk negara yang cocok untuk umat ini bentuk negara demokrasi dimana pemimpin dipilih berdasarkan musyawarah atau suara terbanyak, atau bentuk pemerintahan monarki dimana kepemimpinan itu diwariskan berdasarkan keturunan.
Nabi Muhammad sama sekali tidak pernah memberikan petunjuk soal bentuk pemerintahan yang bagaimana untuk umat ini.
 
dan itu adalah salah satu key factor utama kenapa Islam bisa survive selama 14 abad ini dan akan terus bertahan sampai akhir jaman.
karena dengan tidak ditetapkannya bentuk pemerintahan yang sesuai dengan syariah, maka umat bisa menerapkan bentuk pemerintahan yang sesuai dengan kondisi jaman masing-masing, misalnya jika diawal periode setelah Nabi SAW wafat itu lebih cocok bentuk pemerintahan Khulafa Rasyidin dimana Khalifah ditunjuk berdasarkan konsensus dari hasil musyawarah, dan setelah itu muncul periode dinasti-dinasti yang di mulai oleh dinasti Umayyah dimana kepemimpinan diwariskan berdasarkan keturunan.
berdasarkan dari pemahaman diatas, dimana Islam bisa beradaptasi pada bentuk negara yang berbeda-beda – sepanjang masih bisa berjalan dengan syariah, maka kita harus berhati-hati dalam menafsirkan hadist yang menyebutkan bahwa kita harus patuh pada pemimpin, walaupun pemimpin itu berlaku zalim.
karena ada hadist “Seorang muslim wajib mendengar dan taat pada pemerintah yang disukai maupun tidak disukai, kecuali bila diperintahkan mengerjakan maksiat maka ia tidak wajib mendengar dan taat” (Ibnu Umar)
kita pun juga harus memahami dari sejarah umat selama 14 abad ini, dimana umat sering berhadapan dengan pemimpin yang zalim, terutama hal itu terjadi di periode dinasti-dinasti, ternyata kepatuhan umat pada pemimpin itu (walaupun itu adalah masa berat yang harus mereka hadapi) ternyata disatu sisi menguntungkan untuk perkembangan Islam, misalnya pada masa dinasti Umayyah itu penyebaran Islam sangat pesat hampir keseluruh dunia dan pada masa dinasti Abbasiyah banyak kemajuan di bidang ilmu agama maupun ilmu dunia seperti sains, filsafat, seni dan sebagainya.
Maka jika kita saat ini dihadapai pada kondisi harus patuh pada pemimpin, kita sebaiknya mencoba mencari apa makna patuh pada pemimpin itu, apakah patuh totalitas bisa dilakukan pada bentuk negara pancasilais ini ? ataukah bentuk kepatuhan kita bisa ditransformasikan menjadi upaya-upaya memberikan suara dan masukan yang positif untuk pemerintahan ini.

“Satu nilai lagi yang baik juga terdapat pada bangsa kita adalah cinta pada kemerdekaan, cinta ini terlihat jelas waktu negara kita merdeka berdaulat, cinta kemerdekaan adalah fitrah yang terkait pada cinta tanah air”

(Mohammad Natsir)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s