Islam dalam bernegara (part 2)

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”. (QS. 16:125)

 

Dalam artikel Islam dalam bernegara bagian pertama, saya sudah mencoba menjelaskan bahwa Islam memiliki kelebihan tersendiri sebagai agama di penghujung masa ini dengan kemampuannya untuk beradaptasi dengan mudah.

Seperti yang bisa kita lihat jika kita meneliti sejarah hidup Nabi (Sirah Nabawiyah) maka secara garis besar terbagi menjadi dua periode : Periode Mekkah dan Periode Madinah, dimana kedua periode itu memiliki perbedaan yang sangat signifikan.

Periode Mekkah dimana dakwah dilakukan secara sembunyi, dan tanpa perlawanan ketika beberapa umat disiksa oleh kaum quraisy, intinya pada masa ini hampir sama seperti yang terjadi pada zaman kenabian Nabi Isa ; kesabaran ditempa dengan menahan diri dan bersikap pasif tidak bereaksi sedikitpun pada tekanan dan cobaan yang terjadi.

Periode Madinah sangat berbeda dengan periode Mekkah dimana Nabi dan umatnya sangat aktif dalam kegiatan dakwah, semua hal dilakukan secara publik, bahkan sering sangat progresif saat melakukan ekspedisi (ghazwul) untuk menaklukkan dan mempersatukan suku-suku Arab,

Setelah wafatnya Nabi, para penerusnya juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Nabi yaitu bersikap progresif dalam menumpas pemberontakan, dan juga melebarkan sayap ke timur dan barat, mereka sama sekali tidak bersikap pasif dan hanya duduk menunggu keajaiban dari langit.

Khalifah pertama yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq pada pidato pelantikannya menyuruh umat agar memberikan koreksi dan masukan jika ia melakukan kesalahan, demikian juga dengan ketiga khalifah lainnya (Khulafa Rausyidin) karena mereka tanpa harus mempelajari ilmu tata negara, mereka sudah paham bahwa negara yang berdiri ini bukan monarki namun berdasarkan demokrasi yang dimana suara masing-masing individu memiliki status yang sama.

dalam pemerintahan ini, terdapat susunan organisasi yang rapi, terutama Khalifah memiliki semacam dewan penasehat yang berasal dari sahabat paling senior yaitu “Ashara Mubashara”, bahkan saat khalifah wafat, salah satu anggota dewan ini yaitu Abdurrahman bin Auf melakukan semacam pengumpulan suara ke seluruh kota Madinah untuk menanyakan siapakah khalifah yang pantas untuk jadi pengganti.

Kemudian situasi berubah setelah wafatnya Khulafa Rausyidin terakhir yaitu Ali bin Abi Thalib, ketika penerusnya yaitu Muawiyyah bin Abu Sufyan menjadi Khalifah, seketika saja bentuk pemerintahan menjadi monarki, dimana perpindahan kekuasaan berdasarkan hubungan kerabat dan keluarga,

disini sikap para ulama mulai berubah, secara otomatis mereka kembali ke periode Mekkah dimana mereka menjauh dari istana dan tetap berfokus pada dakwah, sikap para ulama yang menjadi pasif ini ternyata bermanfaat untuk kelangsungan dakwah dan terutama dalam menjaga Quran dan Sunnah di muka bumi.

sikap pasif ini yang kemudian ditiru oleh dunia barat, saat mereka ingin maju maka mereka membuat fungsi gereja menjadi terpisahkan dari istana (yang kemudian menjadi paham sekuler) namun dalam Islam memiliki tujuan yang berbeda dengan barat ; pemisahan itu dilakukan dengan tujuan untuk menjaga agama dari pemerintah yang zalim.

puncak terpisahnya agama dari negara ini terjadi saat masa Khalifah Al-Makmun dimana ia berusaha mengubah Quran dengan ilmu filsafat yang dimodifikasi, dan satu-satunya imam yang berupaya mencegahnya adalah Imam Hambali, yang kemudian dikenal sebagai mendiri Mahzab Hambali.

sayangnya mahzab ini kemudian dimodifikasi menjadi suatu aliran yang mengaku memiliki ajaran paling murni yaitu Wahabi, pendirinya adalah Ibnu Wahab yang bersama Ibn Saud (pendiri dinasti Saudi) melakukan pemberontakan kepada kekhalifahan Turki Ottoman dengan menghancurkan kuburan imam Syiah dan melakukan pembantaian pada kaum syiah, menduduki kota Mekah dan Madinah, maka Turki sebagai pemegang otoritas pemerintahan tertinggi memerangi Ibn Saud hingga menjatuhkan hukuman mati atas perbuatannya itu.

Namun ajaran Wahabi masih disimpan oleh para penerus Ibnu Saud dan ketika agen rahasia dari Inggris, Hemper datang dan menyamar sebagai muslim, ia membangkitkan lagi aliran wahabi ini dan para agen penerusnya ; Lawrence of Arabia dan Getrude Bell membantu pemberontakan di jazirah Arab hingga dinasti Saudi terbentuk hingga saat ini.

Saudi Arabia dan aliran Wahabi-salafi adalah monarki terbesar muslim terbesar saat ini, dan tidak bisa dipungkiri bahwa ajarannya telah tersebar ke seluruh dunia, intinya ajaran ini membuat umat menjadi pasif dan tidak terlibat dalam politik sama sekali, pelarangan ilmu filsafat membuat umat jadi tidak bisa berpikir dan mudah diberikan ajaran doktrinisasi.

Apakah ajaran salafi ini sepenuhnya salah ?

kita tetap harus memiliki pemikiran positif, dengan adanya petromonarki Saudi ini maka sampai hari ini dua kota suci Mekkah dan Madinah jadi terjaga dari hiruk-pikuk dan gejolak di timur tengah.

namun disatu sisi hal ini membuat umat bisa dengan mudah dikendalikan dan masuk lagi ke dalam masa kolonialisasi, walaupun secara harfiah telah merdeka namun kedaulatan tidak sepenuhnya dimiliki, seperti kondisi saat ini.

jadi apakah yang lebih baik ? Islam Progresif atau Islam Ortodoks ?

Saya lama memikirkan hal ini, karena jika kita menjadi progresif pada saat yang tidak tepat juga tidak akan menguntungkan, bahkan menjadi terlalu progresif itu terlalu beresiko dan bisa dimanfaatkan oleh lawan kita……namun selalu menjadi pasif pun tidak bisa dibenarkan juga karena Tuhan tidak kan mengubah nasib kaum kecuali jika kaum itu mengubah nasibnya.

yang saat ini bisa saya pikirkan adalah bagaimana kita bisa mengetahui apakah tujuan kita menjadi progresif atau pasif itu untuk Allah dan Rasul-Nya, bukan untuk kita dan dunia ini.

karena jika kita menetapkan hati ini untuk kepada Tuhan saja, maka secara otomatis niat kita akan menjadi ikhlas, kalaupun kita memisahkan diri dari jamaah itu karena Allah, dan kalaupun kita bergabung dengan jamaah itupun karena untuk Allah semata.

saya percaya, mau dibuatkan teori yang ilmiah bagaimanapun akhirnya kembali lagi ke kondisi hati kita masing-masing, dan menyisakan pertanyaan dalam lubuk sanubari kita;

apakah yang kita lakukan di dunia ini bertujuan satu kepada Tuhan semata……

wallahualam bishowab

 

 

 

Advertisements

Islam dalam Bernegara (part 1)

“Islam tidak mengatur 1001 hal-hal detail yang bersifat teknis, dan bisa berubah-ubah menurut keadaan zaman, Islam memberikan kepada kita dasar-dasar pokok yang sesuai dengan fitrah manusia yang abadi dan tidak berubah, yang bisa berlaku di semua tempat dan semua zaman, baik di zaman dahulu kala, maupun di zaman modern”
(Mohammad Natsir – Islam sebagai dasar negara)

Dulu saya pernah bilang kalau salah satu keberkahan besar umat akhir zaman ini adalah hukum syariah yang tidak kaku seperti hukum syariah yang diberikan untuk children of israil,

 
misalnya wudhu bisa diganti dengan tayamun, sedangkan bani israil tidak memiliki kelonggaran tersebut dalam melaksanakan ibadahnya.
 
sekarang ada lagi berkah yang saya pikir adalah berkah terbesar yang selama ini mungkin tidak kita sadari,
 
mungkin sedikit dari kita yang tahu bahwa dalam sejarah bani israil itu mereka selalu dikasih enak dalam urusan agama dan negaranya, selalu ada Nabi atau Rasul disepanjang masa (sampai Nabi Muhammad diutus) dan ada pemimpin yang langsung ditunjuk oleh Allah untuk mereka (misalnya Raja Thalut) jadi mereka tidak perlu repot2 lagi mikirin urusan politik atau bikin ideologi untuk kenegaraan.
 

beda dengan Islam

 
dulu saya piki sangat aneh Nabi Muhammad tidak menunjuk siapa penggantinya, walau beliau sangat banyak memberikan tanda bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling pantas memimpin umat jika beliau sudah wafat.
perlu kita pahami juga bahwa kaum arab di masa itu tidak mengenal bentuk pemerintahan, karena mereka terdiri dari kabilah-kabilah yang punya pemimpin masing-masing, namun situasi berubah saat Islam datang dan Nabi Muhammad secara otomatis menjadi pemimpin untuk seluruh bangsa Arab, jadi untuk pertama kali dalam sejarah bangsa Arab itu mereka punya bentuk negara kesatuan dan pemimpin yang mempersatukan mereka.
 
tapi Rasullulah sama sekali tidak mengutak-atik soal politik apalagi bentuk kenegaraan, jadi apakah sebenarnya bentuk negara yang cocok untuk umat ini bentuk negara demokrasi dimana pemimpin dipilih berdasarkan musyawarah atau suara terbanyak, atau bentuk pemerintahan monarki dimana kepemimpinan itu diwariskan berdasarkan keturunan.
Nabi Muhammad sama sekali tidak pernah memberikan petunjuk soal bentuk pemerintahan yang bagaimana untuk umat ini.
 
dan itu adalah salah satu key factor utama kenapa Islam bisa survive selama 14 abad ini dan akan terus bertahan sampai akhir jaman.
karena dengan tidak ditetapkannya bentuk pemerintahan yang sesuai dengan syariah, maka umat bisa menerapkan bentuk pemerintahan yang sesuai dengan kondisi jaman masing-masing, misalnya jika diawal periode setelah Nabi SAW wafat itu lebih cocok bentuk pemerintahan Khulafa Rasyidin dimana Khalifah ditunjuk berdasarkan konsensus dari hasil musyawarah, dan setelah itu muncul periode dinasti-dinasti yang di mulai oleh dinasti Umayyah dimana kepemimpinan diwariskan berdasarkan keturunan.
berdasarkan dari pemahaman diatas, dimana Islam bisa beradaptasi pada bentuk negara yang berbeda-beda – sepanjang masih bisa berjalan dengan syariah, maka kita harus berhati-hati dalam menafsirkan hadist yang menyebutkan bahwa kita harus patuh pada pemimpin, walaupun pemimpin itu berlaku zalim.
karena ada hadist “Seorang muslim wajib mendengar dan taat pada pemerintah yang disukai maupun tidak disukai, kecuali bila diperintahkan mengerjakan maksiat maka ia tidak wajib mendengar dan taat” (Ibnu Umar)
kita pun juga harus memahami dari sejarah umat selama 14 abad ini, dimana umat sering berhadapan dengan pemimpin yang zalim, terutama hal itu terjadi di periode dinasti-dinasti, ternyata kepatuhan umat pada pemimpin itu (walaupun itu adalah masa berat yang harus mereka hadapi) ternyata disatu sisi menguntungkan untuk perkembangan Islam, misalnya pada masa dinasti Umayyah itu penyebaran Islam sangat pesat hampir keseluruh dunia dan pada masa dinasti Abbasiyah banyak kemajuan di bidang ilmu agama maupun ilmu dunia seperti sains, filsafat, seni dan sebagainya.
Maka jika kita saat ini dihadapai pada kondisi harus patuh pada pemimpin, kita sebaiknya mencoba mencari apa makna patuh pada pemimpin itu, apakah patuh totalitas bisa dilakukan pada bentuk negara pancasilais ini ? ataukah bentuk kepatuhan kita bisa ditransformasikan menjadi upaya-upaya memberikan suara dan masukan yang positif untuk pemerintahan ini.

“Satu nilai lagi yang baik juga terdapat pada bangsa kita adalah cinta pada kemerdekaan, cinta ini terlihat jelas waktu negara kita merdeka berdaulat, cinta kemerdekaan adalah fitrah yang terkait pada cinta tanah air”

(Mohammad Natsir)

Bosnia, Emerald dari Balkan

setelah saya membaca artikel tulisan Asma Nadia tentang kunjungannya ke Bosnia, dan beliau bilang dia sudah traveling ke 60 negara dan sangat terkesan pada Bosnia, saya bersyukur bahwa saya tidak perlu membuang waktu saya traveling ke negara sebanyak itu sebelum ke Bosnia, dan Bosnia ini adalah rangkuman dari kunjungan saya ke negri Balkan itu.

saya sebenarnya orang yang anti-traveling, buat saya traveling itu hanya membuang-buang waktu saja, dan saya lebih suka tiduran dirumah sambil baca buku dengan kucing-kucing, jadi kalaupun saya bertraveling itu maka karena saya punya alasan yang sangat kuat untuk menyeret badan saya keluar dari rumah.

dan Bosnia adalah alasan terbaik untuk saya bertraveling, sebulan sebelum memasuki bulan puasa, kami diundang oleh kawan lama kami yang bekerja di kedutaan Indonesia di Bosnia untuk berkunjung ke Bosnia, setelah melakukan persiapan yang matang, kami berangkat bersepuluh orang ke negri Balkan itu. selain Bosnia sebenarnya ada beberapa negara Balkan lainnya yang juga kami kunjungi tapi Bosnia adalah tujuan utama kami

Pertama kami tiba di Ibukota Sarajevo, saya sangat terkesan pada airport yang kecil, sepi dan bersih, saya lihat di papan schedule flight ternyata dalam sehari cuma ada sekitar sepuluh penerbangan ke kota ini, jadi untuk saya hal ini sangat menyenangkan bisa menikmati airport yang sepi setelah sering tiba di airport yang sangat crowded.

Hari pertama kami langsung mengunjungi pusat kota Sarajevo ; Bascarsija, saya sangat terkesan pada suasana pusat kota yang memiliki ambience historik, terutama terdapat beberapa minaret bergaya arsitektur turki Ottoman, pengalaman di pusat kota Sarajevo sangat sulit dilupakan, apalagi kami bisa menikmati makanan halal fast food khas Bosnia ; Cepavi (sejenis roti kebab) dan dessert khas Bosnia yang tidak terlupakan yaitu Trilece, juga kopi Bosnia yang kental dan pahit.

DSC03318

Hari kedua kami berangkat ke daerah pegunungan dekat Sarajevo, ternyata disitu terdapat taman nasional yang menjadi sumber mata air untuk kota Sarajevo, saya sudah pernah mencoba minum dari tap water di negri eropa tapi tap water di Bosnia ini sungguh menyegarkan karena berasal dari sumber mata air yang paling jernih dan paling segar yang pernah saya rasakan.

DSC03522

kemudian kami mengunjungi kota Konjic, dimana terdapat jembatan yang dibangun pada masa kekhalifahan Ottoman, jembatan Konjic adalah cirikhas dari kota ini, sayang kami hanya mampir sebentar, mudah-mudahan saya bisa kembali dan meluangkan waktu lebih lama di kota ini.

Konjic

namun kota pusat pariwisata dari Bosnia adalah Mostar, karena kota ini bukan saja sangat luar biasa indah tidak terungkapkan oleh kata-kata, juga karena jembatan khas Ottoman yang melengkung tinggi : “Arch Bridge of Mostar” yang sangat terkenal ini, sulit membayangkan saat Perang Bosnia di tahun 90an menghancurkan jembatan ini sampai habis total, dan akhirnya negri ini bisa bangkit dan membangun kembali jembatan bersejarah itu sesuai dengan desain awalnya berdasarkan blue print aslinya.

Jika berkunjung ke Mostar, ada satu Mesjid di dekat jembatan Mostar itu yang minaret-nya bisa dinaiki, dan dari atas minaret itu kita bisa melihat seluruh pemandangan kota Mostar yang indah, namun menaiki minaret tidaklah mudah karena tangganya sangat banyak jadi harus menyiapkan stamina yang baik agar tidak letih sampai diatas minaret ini

Ada satu kota kecil yang memiliki sejarah mulai dari masa romawi yaitu Pociteli, dimana terdapat sisa-sisa benteng dan juga mesjid berarsitektur Ottoman yang masih berfungsi untuk kegiatan ibadah.

salah satu Kota yang unik adalah Blagaj, dimana terdapat sungai yang sangat jernih, ditempat itu sangat cocok untuk mencicipi ikan bakar sungai khas yang selain enak juga tulangnya ternyata bisa ditelan, selain itu kami juga mencicipi steak khas Bosnia yang ukurannya sangat besar dan memiliki tekstur yang mirip seperti daging wagyu.

Bosnia memiliki kota yang digunakan untuk liburan musim dingin yaitu Travnik, namun karena kami datang di saat musim semi jadi kami cukup menikmati pemandangan “negri di atas awan” yang benar di atas awan, pemandangan disekeliling sangat cocok untuk syuting film musikal seperti sound of music.

dan masih ada beberapa tempat yang sangat menarik lainnya, sisa waktu liburan kami habiskan mengunjungki negri balkan seperti Montenegro, Kroasia, Austria dan Hungaria, namun setelah meluangkan waktu di Bosnia, saya merasa menyesal tidak tetap tinggal di Bosnia saja, karena kota-kota lainnya tidak senyaman dan seindah Bosnia.

Travnik

ada beberapa hal kenapa HARUS traveling ke Bosnia :

  1. Bosnia itu indah, compare to other countries in europe, Bosnia is definetely the best ever…..like, seriously
  2. Bosnian people are the warmest and friendliest ever, bahkan kalau mereka tidak bisa bahasa inggris mereka akan tetap ajak kita ngobrol, juga di restoran mereka servis kita dengan sangat baik dan no tips.
  3. all price in Bosnia is the cheapest, bahkan jika dibandingkan dengan europen countries, ongkos di Bosnia itu bisa separuh lebih murah, apalagi di Bosnia bisa minum dari tap water, harga susu dan yogurt yang lebih murah daripada harga mineral water (serius!) juga pilihan makanan yang banyak, enak dan murah.
  4. untuk turis muslim pasti senang dan puas di Bosnia karena semua makanan disini Halal.
  5. Bosnia memiliki sejarah yang panjang, mulai dari masa kekhalifahan Turki Ottoman dan sampai masa peperangan dengan serbia di tahun 90an, jadi kemanapun kita pergi kita akan menemukan kisah sejarah ditiap sudut kota di Bosnia.

Sarajevo

ada beberapa poin yang harus diperhatikan juga jika ingin ke Bosnia :

  1. tidak ada direct filght ke Bosnia, jadi harus cari pesawat yang transit di Turki, Zurich atau kota lainnya yang ada flight ke Sarajevo.
  2. untuk ke Bosnia perlu visa Schengen, jadi memang harus mengurus visa sebelum bisa berkunjung ke Bosnia.

maka alhamdulillah, saya sangat bersyukur pada nikmat traveling ini, ternyata orang yang anti traveling seperti saya bisa menikmati liburan yang memiliki unsur edukasi dan hiburan juga, saya sangat berharap bisa kembali lagi ke Bosnia jika Allah mengizinkan insyaAllah

Mostar1