Pembebasan dari Kesalahan dan Culture of Doubt – kesalahan ketiga masa kini

Bismillahirrohmaa nirrohiim,

Saya sadari bahwa yang akan saya tulis ini sebenarnya tidak cukup sekedar suatu posting di blog saja, karena banyaknya referensi yang saya gunakan – namun saya hanya akan mengambil yang benar-benar esensial saja

Setelah mempelajari sejarah, memang saya lihat bahwa semua kejadian hari ini adalah refleksi dari masa lalu, apa yang telah terjadi di masa lalu bukan suatu kejadian yang tidak paralel dengan saat ini, namun kesalahan pertama saya ketika mempelajari sejarah adalah terlalu banyak mengandalkan pada data-data tanpa berusaha memahaminya dengan kacamata di masa itu.

suatu pemikiran yang terlalu sempit, karena walaupun pada masa lalu itu Islam memang mengalami kejayaan, namun mereka gagal memahami bahwa Islam pada saat itu berhasil memasuki kondisi holistik – dimana konsep Pluralisme secara Spiritual tercapai.

saya tidak perlu bersusah-payah mencari contohnya, ternyata apa yang dilakukan oleh Para Walisongo (The Javanese Saints) adalah contoh pluralisme yang sangat luarbiasa, mereka datang membawa ajaran Islam yang sesuai dengan Sunnah namun berhasil meleburkannya dengan falsafah kehidupan orang jawa yang berbudi-pekerti luhur dan santun dan suka dengan kesenian.

Kita bisa melihat dari lirik lagu “Tombo Ati” yang sejatinya adalah ajaran tentang pembersihan hati (Tazkiyatun Nafs) betapa indahnya lagu itu, tanpa perlu bersusah-payah menerangkan tentang kepentingan melakukan ritual ibadah – seperti yang dilakukan oleh para “Polisi Haram” saat ini, Para Walisongo berhasil menyebarkan Islam keseluruh Jawa.

Pertanyaannya : kenapa kita tidak melakukan lagi apa yang telah dilakukan para Walisongo itu.

Marilah kita lihat bagaimana perkembangan Islam di zaman modern ini, pertama yang saya lihat di periode 80an adalah kemunculan dua aliran ; pertama aliran Liberal yaitu mereka yang mengaku membawa pembaharuan dalam Islam, yang kedua adalah Aliran Sufisme yang dibawa oleh gerakan Tarbiyah yang berasal dari Ikhwanul Muslimin di Mesir itu.

Gerakan Liberal memiliki semua persenjataan untuk menyebarkan falsafahnya, mereka memulai dengan menyuruh kita mempertanyakan kenapa kita memilih Islam, apakah kita menganut agama ini hanya karena kita terlahir sebagai muslim, kenapa kita harus menyembah Allah, suatu pertanyaan yang akan mengguncang akidah semua umat muslim, hingga aliran ini dijauhi oleh mayoritas umat ini.

sedangkan aliran Tarbiyah lebih berfokus pada ajaran Sunnah, apa yang mereka bawa tidaklah berbeda dengan aliran2 Ahlusunnah sebelumnya, namun perpecahan terjadi saat aliran ini mulai masuk ke politik karena sebagian dari pengikutnya percaya bahwa seharusnya kelompok sunnah tidaklah bermain politik.

kelompok yang memisahkan diri itu kemudian bergabung dengan Salafi, yang dikenal sebagai kelompok yang mengklaim bahwa ajaran mereka yang paling benar sesuai sunnah dan menuding kelompok2 lainnya adalah termasuk kelompok yang dalam 72 aliran yang masuk neraka – suatu klaim yang sangat bermasalah hingga sampai hari ini masih terus membuat pertikaian antara aliran ahlussunnah di negri ini.

Saya tidak bisa berbohong bahwa aliran Salafi ini banyak memberikan manfaat pada ilmu agama saya, namun disisi lain Salafi telah mengubah pola pemikiran saya secara drastis, hingga hampir saya merasa bahwa benar cara pandang hitam-putih yang hanya bisa melihat kesalahan pada suatu hal jika bertentangan dengan sunnah – tanpa bisa melihat aspek lainnya.

hal yang sangat signifikan dari ajaran Salafi ini adalah mereka sangat anti pada Imam Al-Ghazali, sering disebutkan adalah kajian maupun artikel mereka bahwa Imam Al-Ghazali adalah biang keladi pencampur ilmu agama dengan filsafat, bahkan mereka melarang keras para pengikut Salafi untuk mempelajari buku-buku Al-Ghazali, sementara itu para ustad Salafi masih mengutip referensi dari buku-buku Al-Ghazali untuk mencari kaidah-kaidah fiqih (hukum shariah)

Keanehan ini membuat saya mencoba mempelajari buku-buku Al-Ghazali, terutama buku yang menjadi sorotan para ulama Salafi yaitu “al-Munqidh min Dholal” Pembebasan dari Kesalahan (Deliverance from Error)

di dalam buku itu dibuka dengan pertanyaan yang sama dari kaum Liberal yaitu : kenapa kita menjadi Islam ? dan apakah fitrah itu ?

Karena pertanyaan ini yang membuat Al-Ghazali dijadikan contoh kesalahan oleh para ulama Salafi – Bahkan Syaikh Yasir Qadhi pernah memberikan ceramah yang menyalahkan Imam Al-Ghazali tentang hal ini juga (tidak heran karena Syaikh Yasir Qadhi pun beraliran Salafi)

Namun para Ulama Salafi tidak membaca buku itu sampai habis, ternyata Al-Ghazali melakukan apa yang saat ini disebut sebagai “Culture of Doubt” bukan untuk melemahkan akidah kita namun sebaliknya adalah untuk MENGUATKAN AKIDAH

karena jika kita melakukan culture of doubt pada keyakinan yang lemah maka akan membuat kita meninggalkan keyakinan itu dan beralih pada keyakinan yang benar,

namun jika kita melakukannya pada keyakinan yang sebenar-benarnya dari Tuhan maka kita akan menghilangkan kesalahan-kesalahan yang kita buat dari prasangka dan persepsi yang dibuat oleh manusia – hingga membuat keimanan kita jadi terlahir kembali dan memurnikan hati dan meluruskan niat kita semata hanya untuk Allah.

Ada dua pemikir besar saat ini yang hasil pemikirannya berdasarkan dari teori Deliverance from Error itu, mereka adalah Syaikh Hamza Yusuf dan Prof. Tariq Ramadan, dan juga Dr. Murad dari Cambrige

Syaikh Hamza Yusuf terkenal dengan konsep Tazkiyatun Nafs, dimana beliau berusaha menjelaskan bahwa hal yang paling utama adalah hati yang hidup, karena hanya hati yang hidup bisa merasakan Tuhannya di dunia ini dan akan benar hidup sebenar-benarnya hidup, dan hati yang gagal melakukan itu akan mati, bahkan mati sebelum jiwanya pergi ke alam kubur.

sedangkan Prof Tariq Ramadan menuliskan falsafah The Quest for Meaning, dimana beliau menjelaskan bahwa jika kita tidak berhasil menemukan arti dari ritual ibadah maka kita akan terus terpuruk, dan juga beliau menggarisbawahi tentang ilusi mayoritas – bahwa muslim saat ini merasa bahwa mereka harus unggul secara jumlah, bukan secara kuantitas. hal itu yang membuat muslim yang hidup dinegri mayoritas muslim menjadi kesulitan menemukan akidahnya yang murni.

kembali lagi pada Imam Al-Ghazali, dalam beberapa bukunya beliau sempat berselisihpaham dengan para pendukung ilmu filsafat, namun ternyata Imam Al-Ghazali bukanlah orang yang anti ilmu filsafat, beliau hanya menggarisbawahi bahwa ilmu ini bisa diambil manfaatnya dan sebagian harus ditinggalkan jika bertentangan dengan Quran dan Sunnah.

saya tidak tahu berapa banyak ulama yang masih mempelajari ilmu filsafat (selain kaum liberal) dan Buya Hamka yang bermanhaj Salafi itu sering mengutip ajaran Socrates, Aristoteles dan Plato dalam tafsir Al-Azhar dan buku-bukunya.

ini membuat saya berpikir bahwa manhaj sunnah dulunya membolehkan mengutip ilmu filsafat yang bermanfaat untuk agama, jadi saya pikir jika kita kembali menggunakan ilmu filsafat maka kita sebenarnya sedang mengembalikan ilmu filsafat pada penemunya yaitu kaum Ahlussunnah.

Tulisan ini harusnya tidak berhenti disini saja tapi saya pikir setidaknya saya sudah menjelaskan pokok permasalahannya dan sudah membuka jalan untuk solusinya.

pada intinya kita harus menguatkan dan memperbanyak ibadah, menguatkan niat ikhlas hidup semata hanya untuk Allah, membersihkan hati agar bisa menerima kebenaran dan membebaskan diri dari belenggu-belenggu kehidupan semu ini dan masuk kedalam kehidupan yang nyata dimana kebahagian sejati tiada henti yang berasal dari cinta tulus kepada Tuhan Sarwa Sekalian Alam

mari kita kembalikan Pluralisme dan Liberal pada Ahlussunnah.

 

Artikel terkait :

Kesalahan pertama

Kesalahan kedua

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s