Jane Austen, Ilusi kesombongan dan prasangka, dan hati nurani

pernah saya menonton Bridget Jones Diary dan entah kenapa saya merasa plot cerita dan dialognya agak mirip dengan novel yang dulu pernah saya baca yaitu Pride and Prejudice karangan Jane Austen.

Memang film Bridget Jones lebih mudah dicerna untuk penonton masa kini karena dengan tema wanita single yang dilematis, namun pengarang Bidget Jones tidak menyangkal bahwa kisah Brigdet Jones terinspirasi dari Austen yang memang plot ceritanya itu juga menginspirasi banyak novel-novel romantis masa kini.

Lucunya novel Austen itu pada masanya tidak masuk kategori romantis, namun malah masuk kategori satir, karena dibalik tema kisah cinta ternya Austen banyak mengkritik kehidupan sosial pada masanya yang terlalu mementingkan kedudukan status sosial dan harta.

Bahkan novel Austen ini banyak menjadi kasus studi, dan ada juga yang mencoba mengambil sisi relijius dari novel ini, bukan karena novel ini menggambarkan kisah cinta yang tanpa sex – sesuai dengan peraturan agama, namun karena novel Austen menggarisbawahi prinsip dasar bagaimana kita menjalani hidup dan bagaimana kita menilai orang lain yang hadir dalam hidup kita.

misalnya saat Mr. Darcy berkata bahwa Ms. Bennet tidak cukup cantik untuk menarik perhatiannya itu, namun semua tindakan dan tingkah laku Mr. Darcy justru menunjukkan bahwa dia sangat memiliki perhatian khusus pada Ms. Bennet, atau saat Ms. Bennet menolak lamaran Mr. Darcy dengan alasan karena Mr. Darcy yang menyebabkan kakaknya tidak dapat menjalin kisah cinta dengan lelaki idamannya, padahal jelas bahwa Ms. Bennet sedang mengambil keputusan yang berdasarkan prasangka dirinya sendiri, bukan berdasarkan pemikiran yang matang atau dari suara hatinya yang sebenarnya memiliki juga perasaan khusus pada Mr. Darcy.

semua contoh-contoh plot di atas menggambarkan bagaimana kita juga dalam keseharian kita melakukan banyak kesalahan akibat prasangka dan kesombongan kita hingga kita tidak bisa mendengarkan apa yang ada dalam pikiran kita atau apa yang ada dalam hati nurani kita.

mungkin ini yang menyebabkan saya tidak bisa mengabaikan karya Austen, walaupun sudah banyak novel-novel lainnya, namun karangan Austen memberikan arti khusus pada cara berpikir dan bagaimana harusnya kita mempertimbangkan pemikiran dan tindakan sebelum kita paham bahwa kesombongan dan prasangka adalah ilusi yang menutupi hati nurani kita.

Maka perjuangan dalam hidup ini adalah bagaimana kita bisa membuka selubung-selubung kesombongan dan prasangka, hingga kita bisa melihat dengan hati, mendengar dengan hati, berbicara dengan hati dan berpikir dengan hati.

 

images.duckduckgo.com

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s