Materi Ekskul Desain Grafis Semester 1

Alhamdullilah wasyukurillah akhirnya saya bisa mengumpulkan semua materi desin grafis untuk Sekolah Dasar semester 1.

Materi ini berdasarkan dari semua materi yang saya ajarkan di Sekolah Dasar Tanah Tingal, materi ini berupakan materi yang bersifat praktikal karena langsung dapat dikerjakan tanpa harus mendalami fungsi-fungsi dan fitur dari software yang digunakan, sengaja dibuat demikian karena yang saya ajarkan adalah siswa-siswa SD yang lebih tertarik jika saya langsung memberikan materi yang langsung tampak hasilnya.

20160804_142300

Terima kasih kepada Bapak Riyogarta yang telah memberikan saya kesempatan kedua untuk mengajar desain grafis di sekolah ini, juga Bunli Yuliazmi , bunda dari Agha yang terus memberikan masukan dan support kepada saya. saya sangat berterimakasih karena mereka berdua yang sangat berjasa dalam hal ini.

tentunya materi ini akan dilanjutkan untuk semester kedua, dimana saya akan mencoba menggali materi untuk animasi dengan software opensource ini.

terima kasih dan selamat mendownload

Materi_Ekskul_Desain-Grafis_semester1

Advertisements

Pembebasan dari Kesalahan dan Culture of Doubt – kesalahan ketiga masa kini

Bismillahirrohmaa nirrohiim,

Saya sadari bahwa yang akan saya tulis ini sebenarnya tidak cukup sekedar suatu posting di blog saja, karena banyaknya referensi yang saya gunakan – namun saya hanya akan mengambil yang benar-benar esensial saja

Setelah mempelajari sejarah, memang saya lihat bahwa semua kejadian hari ini adalah refleksi dari masa lalu, apa yang telah terjadi di masa lalu bukan suatu kejadian yang tidak paralel dengan saat ini, namun kesalahan pertama saya ketika mempelajari sejarah adalah terlalu banyak mengandalkan pada data-data tanpa berusaha memahaminya dengan kacamata di masa itu.

suatu pemikiran yang terlalu sempit, karena walaupun pada masa lalu itu Islam memang mengalami kejayaan, namun mereka gagal memahami bahwa Islam pada saat itu berhasil memasuki kondisi holistik – dimana konsep Pluralisme secara Spiritual tercapai.

saya tidak perlu bersusah-payah mencari contohnya, ternyata apa yang dilakukan oleh Para Walisongo (The Javanese Saints) adalah contoh pluralisme yang sangat luarbiasa, mereka datang membawa ajaran Islam yang sesuai dengan Sunnah namun berhasil meleburkannya dengan falsafah kehidupan orang jawa yang berbudi-pekerti luhur dan santun dan suka dengan kesenian.

Kita bisa melihat dari lirik lagu “Tombo Ati” yang sejatinya adalah ajaran tentang pembersihan hati (Tazkiyatun Nafs) betapa indahnya lagu itu, tanpa perlu bersusah-payah menerangkan tentang kepentingan melakukan ritual ibadah – seperti yang dilakukan oleh para “Polisi Haram” saat ini, Para Walisongo berhasil menyebarkan Islam keseluruh Jawa.

Pertanyaannya : kenapa kita tidak melakukan lagi apa yang telah dilakukan para Walisongo itu.

Marilah kita lihat bagaimana perkembangan Islam di zaman modern ini, pertama yang saya lihat di periode 80an adalah kemunculan dua aliran ; pertama aliran Liberal yaitu mereka yang mengaku membawa pembaharuan dalam Islam, yang kedua adalah Aliran Sufisme yang dibawa oleh gerakan Tarbiyah yang berasal dari Ikhwanul Muslimin di Mesir itu.

Gerakan Liberal memiliki semua persenjataan untuk menyebarkan falsafahnya, mereka memulai dengan menyuruh kita mempertanyakan kenapa kita memilih Islam, apakah kita menganut agama ini hanya karena kita terlahir sebagai muslim, kenapa kita harus menyembah Allah, suatu pertanyaan yang akan mengguncang akidah semua umat muslim, hingga aliran ini dijauhi oleh mayoritas umat ini.

sedangkan aliran Tarbiyah lebih berfokus pada ajaran Sunnah, apa yang mereka bawa tidaklah berbeda dengan aliran2 Ahlusunnah sebelumnya, namun perpecahan terjadi saat aliran ini mulai masuk ke politik karena sebagian dari pengikutnya percaya bahwa seharusnya kelompok sunnah tidaklah bermain politik.

kelompok yang memisahkan diri itu kemudian bergabung dengan Salafi, yang dikenal sebagai kelompok yang mengklaim bahwa ajaran mereka yang paling benar sesuai sunnah dan menuding kelompok2 lainnya adalah termasuk kelompok yang dalam 72 aliran yang masuk neraka – suatu klaim yang sangat bermasalah hingga sampai hari ini masih terus membuat pertikaian antara aliran ahlussunnah di negri ini.

Saya tidak bisa berbohong bahwa aliran Salafi ini banyak memberikan manfaat pada ilmu agama saya, namun disisi lain Salafi telah mengubah pola pemikiran saya secara drastis, hingga hampir saya merasa bahwa benar cara pandang hitam-putih yang hanya bisa melihat kesalahan pada suatu hal jika bertentangan dengan sunnah – tanpa bisa melihat aspek lainnya.

hal yang sangat signifikan dari ajaran Salafi ini adalah mereka sangat anti pada Imam Al-Ghazali, sering disebutkan adalah kajian maupun artikel mereka bahwa Imam Al-Ghazali adalah biang keladi pencampur ilmu agama dengan filsafat, bahkan mereka melarang keras para pengikut Salafi untuk mempelajari buku-buku Al-Ghazali, sementara itu para ustad Salafi masih mengutip referensi dari buku-buku Al-Ghazali untuk mencari kaidah-kaidah fiqih (hukum shariah)

Keanehan ini membuat saya mencoba mempelajari buku-buku Al-Ghazali, terutama buku yang menjadi sorotan para ulama Salafi yaitu “al-Munqidh min Dholal” Pembebasan dari Kesalahan (Deliverance from Error)

di dalam buku itu dibuka dengan pertanyaan yang sama dari kaum Liberal yaitu : kenapa kita menjadi Islam ? dan apakah fitrah itu ?

Karena pertanyaan ini yang membuat Al-Ghazali dijadikan contoh kesalahan oleh para ulama Salafi – Bahkan Syaikh Yasir Qadhi pernah memberikan ceramah yang menyalahkan Imam Al-Ghazali tentang hal ini juga (tidak heran karena Syaikh Yasir Qadhi pun beraliran Salafi)

Namun para Ulama Salafi tidak membaca buku itu sampai habis, ternyata Al-Ghazali melakukan apa yang saat ini disebut sebagai “Culture of Doubt” bukan untuk melemahkan akidah kita namun sebaliknya adalah untuk MENGUATKAN AKIDAH

karena jika kita melakukan culture of doubt pada keyakinan yang lemah maka akan membuat kita meninggalkan keyakinan itu dan beralih pada keyakinan yang benar,

namun jika kita melakukannya pada keyakinan yang sebenar-benarnya dari Tuhan maka kita akan menghilangkan kesalahan-kesalahan yang kita buat dari prasangka dan persepsi yang dibuat oleh manusia – hingga membuat keimanan kita jadi terlahir kembali dan memurnikan hati dan meluruskan niat kita semata hanya untuk Allah.

Ada dua pemikir besar saat ini yang hasil pemikirannya berdasarkan dari teori Deliverance from Error itu, mereka adalah Syaikh Hamza Yusuf dan Prof. Tariq Ramadan, dan juga Dr. Murad dari Cambrige

Syaikh Hamza Yusuf terkenal dengan konsep Tazkiyatun Nafs, dimana beliau berusaha menjelaskan bahwa hal yang paling utama adalah hati yang hidup, karena hanya hati yang hidup bisa merasakan Tuhannya di dunia ini dan akan benar hidup sebenar-benarnya hidup, dan hati yang gagal melakukan itu akan mati, bahkan mati sebelum jiwanya pergi ke alam kubur.

sedangkan Prof Tariq Ramadan menuliskan falsafah The Quest for Meaning, dimana beliau menjelaskan bahwa jika kita tidak berhasil menemukan arti dari ritual ibadah maka kita akan terus terpuruk, dan juga beliau menggarisbawahi tentang ilusi mayoritas – bahwa muslim saat ini merasa bahwa mereka harus unggul secara jumlah, bukan secara kuantitas. hal itu yang membuat muslim yang hidup dinegri mayoritas muslim menjadi kesulitan menemukan akidahnya yang murni.

kembali lagi pada Imam Al-Ghazali, dalam beberapa bukunya beliau sempat berselisihpaham dengan para pendukung ilmu filsafat, namun ternyata Imam Al-Ghazali bukanlah orang yang anti ilmu filsafat, beliau hanya menggarisbawahi bahwa ilmu ini bisa diambil manfaatnya dan sebagian harus ditinggalkan jika bertentangan dengan Quran dan Sunnah.

saya tidak tahu berapa banyak ulama yang masih mempelajari ilmu filsafat (selain kaum liberal) dan Buya Hamka yang bermanhaj Salafi itu sering mengutip ajaran Socrates, Aristoteles dan Plato dalam tafsir Al-Azhar dan buku-bukunya.

ini membuat saya berpikir bahwa manhaj sunnah dulunya membolehkan mengutip ilmu filsafat yang bermanfaat untuk agama, jadi saya pikir jika kita kembali menggunakan ilmu filsafat maka kita sebenarnya sedang mengembalikan ilmu filsafat pada penemunya yaitu kaum Ahlussunnah.

Tulisan ini harusnya tidak berhenti disini saja tapi saya pikir setidaknya saya sudah menjelaskan pokok permasalahannya dan sudah membuka jalan untuk solusinya.

pada intinya kita harus menguatkan dan memperbanyak ibadah, menguatkan niat ikhlas hidup semata hanya untuk Allah, membersihkan hati agar bisa menerima kebenaran dan membebaskan diri dari belenggu-belenggu kehidupan semu ini dan masuk kedalam kehidupan yang nyata dimana kebahagian sejati tiada henti yang berasal dari cinta tulus kepada Tuhan Sarwa Sekalian Alam

mari kita kembalikan Pluralisme dan Liberal pada Ahlussunnah.

 

Artikel terkait :

Kesalahan pertama

Kesalahan kedua

 

 

 

Jane Austen, Ilusi kesombongan dan prasangka, dan hati nurani

pernah saya menonton Bridget Jones Diary dan entah kenapa saya merasa plot cerita dan dialognya agak mirip dengan novel yang dulu pernah saya baca yaitu Pride and Prejudice karangan Jane Austen.

Memang film Bridget Jones lebih mudah dicerna untuk penonton masa kini karena dengan tema wanita single yang dilematis, namun pengarang Bidget Jones tidak menyangkal bahwa kisah Brigdet Jones terinspirasi dari Austen yang memang plot ceritanya itu juga menginspirasi banyak novel-novel romantis masa kini.

Lucunya novel Austen itu pada masanya tidak masuk kategori romantis, namun malah masuk kategori satir, karena dibalik tema kisah cinta ternya Austen banyak mengkritik kehidupan sosial pada masanya yang terlalu mementingkan kedudukan status sosial dan harta.

Bahkan novel Austen ini banyak menjadi kasus studi, dan ada juga yang mencoba mengambil sisi relijius dari novel ini, bukan karena novel ini menggambarkan kisah cinta yang tanpa sex – sesuai dengan peraturan agama, namun karena novel Austen menggarisbawahi prinsip dasar bagaimana kita menjalani hidup dan bagaimana kita menilai orang lain yang hadir dalam hidup kita.

misalnya saat Mr. Darcy berkata bahwa Ms. Bennet tidak cukup cantik untuk menarik perhatiannya itu, namun semua tindakan dan tingkah laku Mr. Darcy justru menunjukkan bahwa dia sangat memiliki perhatian khusus pada Ms. Bennet, atau saat Ms. Bennet menolak lamaran Mr. Darcy dengan alasan karena Mr. Darcy yang menyebabkan kakaknya tidak dapat menjalin kisah cinta dengan lelaki idamannya, padahal jelas bahwa Ms. Bennet sedang mengambil keputusan yang berdasarkan prasangka dirinya sendiri, bukan berdasarkan pemikiran yang matang atau dari suara hatinya yang sebenarnya memiliki juga perasaan khusus pada Mr. Darcy.

semua contoh-contoh plot di atas menggambarkan bagaimana kita juga dalam keseharian kita melakukan banyak kesalahan akibat prasangka dan kesombongan kita hingga kita tidak bisa mendengarkan apa yang ada dalam pikiran kita atau apa yang ada dalam hati nurani kita.

mungkin ini yang menyebabkan saya tidak bisa mengabaikan karya Austen, walaupun sudah banyak novel-novel lainnya, namun karangan Austen memberikan arti khusus pada cara berpikir dan bagaimana harusnya kita mempertimbangkan pemikiran dan tindakan sebelum kita paham bahwa kesombongan dan prasangka adalah ilusi yang menutupi hati nurani kita.

Maka perjuangan dalam hidup ini adalah bagaimana kita bisa membuka selubung-selubung kesombongan dan prasangka, hingga kita bisa melihat dengan hati, mendengar dengan hati, berbicara dengan hati dan berpikir dengan hati.

 

images.duckduckgo.com