Self Deprecating – seni merendahkan diri untuk meninggikan status dan kesalahan pemahaman status Nabi

Saya sejak dulu sering bilang ; selalu berhati-hati dengan orang yang merendahkan dirinya, sebab selalu ada dua kemungkinan : pertama, dia jujur dengan kondisinya, kedua, dia sedang menyembunyikan kelebihannya agar tampak bersahaja.

Dalam humor, dikenal seni merendahkan diri atau “Self Deprecating” yang sering ditemui di humor-humor versi stand up comedian, self-deprecating adalah suatu retorik yang sangat powerful hingga membuat humor selalu menjadi relevan untuk di masa apapun dan di status sosial manapun.

Ahli Filsafat Aristotle menggambarkan seni merendahkan diri pada tokoh “Eiron” yang selalu berhasil mengalahkan lawannya “Alazon” dengan merendahkan dirinya.

ini  sangat menarik karena seni retorik yang merendahkan diri bisa menjadi senjata ampuh untuk memenangkan perdebatan, karena Eiron sebenarnya lebih memiliki ilmu dibandingkan Alazon, namun karena Eiron selalu merendahkan dirinya sedangkan Alazon selalu melebihkan kemampuannya maka Eiron bisa dengan mudah mengalahkan Alazon.

dan pada masa ini kita sering melihat tokoh terkenal merendahkan dirinya dengan berkata bahwa dia adalah orang biasa juga, misalnya seorang selebriti menertawakan dirinya yang ternyata bisa seperti orang biasa yang mencari jodoh di media sosial, atau naik transportasi publik dan makan makanan junk food.

kita akan menjumpai hal itu sebagai hal yang menarik, kenapa ? karena tokoh terkenal itu saat menyatakan dirinya adalah orang biasa sebenarnya sedang membuat pernyataan retorik bahwa dirinya bukan orang biasa.

namun kita yang hidup dimasa ini sudah tidak memiliki keahlian dalam ilmu bahasa seperti orang yang hidup dimasa lalu, mereka tidak perlu mempelajari ilmu retorik untuk memahami bahwa tokoh terkenal tidaklah sama seperti orang biasa.

dan hal itu yang terjadi ketika kita membaca bagian pada Kitab yang menyebutkan bahwa Nabi adalah manusia biasa, dan kita mempercayainya bahwa Nabi adalah manusia biasa, padahal orang dimasa lalu (beriman atau tidak) saat mereka mendengarkan pesan itu maka mereka langsung paham bahwa Para Nabi bukan Manusia biasa

alasan sederhannya : Manusia biasa tidak akan pernah mengakui bahwa ia manusia biasa

namun apa yang terjadi akibat hilangnya ilmu retorik self deprecating itu ? saat ini hampir semua ilmuan (baik ulama muslim maupun orientalis barat) berusaha membuktikan bahwa Para Nabi adalah manusia biasa, hal yang tidak dilakukan oleh umat sebelumnya.

saya sudah menemui banyak hal tentang ceramah atau tulisan mengenai hal ini, dan saya baru bisa memahami saat ini kenapa kita tidak bisa memiliki keimanan seperti umat terdahulu adalah karena kita tidak bisa memahami bahwa Para Nabi yang manusia biasa itu adalah bukan manusia biasa dan pesan yang dibawa oleh mereka adalah pesan yang tidak boleh dianggap enteng.

ada banyak contoh-contoh usaha memanusiakan Para Nabi, salah satunya adalah mencari bukti bahwa fisik Nabi sama seperti manusia biasa, bahkan ada yang menyebutkan bahwa wajahnya tidak bersinar seperti lampu (astagfirullah) atau ada juga yang membandingkan kegantengan antara Nabi satu dengan Nabi lainnya.

ada banyak referensi dari kitab-kitab lama terutama dari Sahih Bukhari tentang ciri fisik Nabi Muhammad SAW dan disitu akan kita bisa lihat dengan jelas mengapa para sahabat seperti kesulitan mencoba menggambarkan ciri fisik Nabi, atau Ali bin Abi Thalib yang pernah berkata bahwa Nabi Muhammad tidak sama dengan siapapun dan dia tidak pernah melihat orang serupa dengan Nabi setelah wafatnya.

juga dalam ilmu bahasa linguistik, ketika Nabi mengucapkan kalimat “Saya hanya manusia biasa yang membawa pesan dari Tuhan-mu” mengandung kalimat penegasan bahwa Para Nabi selain bukan manusia biasa namun juga figur pemimpin dan figur bapak bagi umatnya.

hal itu yang tercermin pada generasi-generasi awal Islam, terutama para sahabat yang hidup berdampingan dengan Rasulullah, mereka mencintai sepenuh hati, bahkan rela mengorbankan jiwa, keluarga dan harta untuk Rasulullah, dan ketika Rasulullah wafat mereka seakan-akan kehilangan cahaya hidupnya, gambaran kondisi kota Madinah seperti diliputi oleh kesedihan dan depresi mendalam, jika saja Abu Bakar As-Shiddiq tidak memberikan pidatonya yang terkenal itu mungkin mereka tidak akan pernah bangun dari kesedihan itu.

saya percaya bahwa saat ini kita sebagai umat muslim masih menyimpan rasa cinta itu, namun yang harus ditanyakan apakah rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad sama dengan yang dirasakan umat terdahulu ? bagaimana kita bisa mendalami agama ini jika perasaan kita tidak sama dengan umat terdahulu ? padahal kita selalu membanggakan kehebatan umat terdahulu dengan segala kehebatan mereka namun ternyata hal terpenting ini justru kita lewati saja.

sebagai penutup, ada perkataan seorang ulama tentang gambaran Nabi : “Nabi dan umatnya adalah bagaikan batu permata dan kerikil, memang keduanya sama-sama batu, namun apakah batu permata sama dengan kerikil ?”

untuk memulai perjalanan cinta kepada Allah, kita awali dengan mencintai Nabi-Nya, untuk mencintai Nabi-Nya, kita awali dengan memiliki keyakinan bahwa Nabi-Nya bukan manusia biasa.

(Bagian kedua dari Tiga kesalahan orang masa kini)

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s