Berpikir dengan Hati

beberapa hari ini banyak yang membicarakan tentang kemajuan teknologi terutama yang berhubungan dengan artificial intelligence yang sudah sangat jelas bisa menggantikan fungsi manusia, jadi jika semua pekerjaan manusia bisa digantikan oleh mesin maka manusia tidak perlu bekerja lagi.

banyak ahli filsafat modern yang sudah meramalkan hal ini, itu sebabnya juga Richard Stallman sangat menentang pemakaian teknologi internet untuk pribadi karena hal tersebut merambah ke ranah infomasi pribadi yang akan terbuka ke publik, namun masalahnya adalah tidak semua kita bisa sepintar Richard Stallman untuk menjaga diri kita dari wabah ini.

ada hal lain yang lebih patut diwaspadai dari pada A.I. ini yaitu kondisi moral dan logika masyarakat, karena dengan semakin bergantungnya kita pada teknologi maka kapabilitas kita semakin berkurang, jadi intinya sekarang adalah bagaimana cara mengurangi dampak itu.

Lewis Mumford dalam “Megamachine” meramalkan hal ini dan menggarisbawahi bahwa ritual Sabath pada penganut agama Yahudi adalah salah satu cara untuk mencegah dampak Megamachine ini, setidaknya sampai Juru Selamat “Messiah” datang untuk menghancurkan Megamachine itu.

Namun saat ini tidak banyak yang paham apa esensi dari ritual Sabath, ritual hari Sabath itu adalah sebenarnya untuk mensucikan hati dari kekotoran duniawi, bukan sekedar mengistirahatkan diri setelah bekerja seminggu penuh.

Mensucikan hati atau Purification of The Heart (Tazkiatun Nafs) adalah ritual yang terlupakan dalam agama ini, apalagi setelah banyak aliran ahlussunah yang mengaku ahlussunah sejati namun menjalankan ritual Tazkiatun Nafs hanya sekedar untuk kegiatan agama saja, tanpa sampai menyentuh ke hati.

ini juga akibat dari ajaran yang menitikberatkan pada untuk mempelajari hukum fiqih saja, padahal kita tahu kekuatan agama itu berawal dari hati, dan dari hati yang bersih suci maka semua akan bisa berubah.

para Ahli Tasawuf dulu selalu berkata “berpikir dengan Hati”, Syaikh Hamza Yusuf juga berkata bahwa Hati yang menyuruh Otak berpikir, ahli neuroscience juga baru menemukan “Heart Intelligence” dimana bahwa hati yang mengontrol Otak, dan Heart Intelligence ini ternyata lebih besar dibandingkan dengan IQ ataupun EQ.

dapat dibayangkan jika kita hidup di zaman ini dimana perbuatan dosa sudah dipandang biasa saja, banyak yang mudah berbohong, banyak yang mudah berkhianat, banyak yang mudah mencuri, dan sebagainya, apakah semua perbuatan itu tidak berbekas pada hati, bagaimana hati bisa menyuruh otak agar bisa berpikir LOGIS jika hati saja tidak bersih lagi.

saya tahu bahwa ini adalah topik yang akan panjang jika terus dibahas, namun selama ratus abad kita salah hanya memandang pada otak saja, dan mengabaikan kekuatan dari Hati, jika saja Khalifah Al-Makmun mengetahui bahwa logika itu berasal dari Hati bukan otak, maka dia tidak akan membiarkan penganut aliran logika “Mu’tazillah” menguasai istana Baghdad dan justru akan berpihak pada Imam Ahmad bin Hanbal dan Baghdad akan menjadi lebih bersinar dalam sejarah umat manusia.

Hati adalah organ pertama yang berfungsi dalam tubuh manusia, ia memompa darah terus menerus tanpa kita suruh, ia merasakan manisnya cinta pada sesama manusia, ia yang menyuruh kita berbuat baik dan mencegah kita berbuat jahat, Hati diletakkan pada bagian tubuh yang paling terlindungi, Kita berpikir dengan Hati, kita mencintai dengan Hati…..

dan ketika Hati berhenti berdetak maka kita akan bangun dari mimpi ini dan menuju ke alam yang nyata.

what-is-heart-intelligence-4-intelligences

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s