Hidup di Jakarta

Entah sudah berapa kali saya mencoba mencari bantuan teman-teman di bidang IT, terutama yang bisa menggunakan software desain grafis, dan saya tidak menemukannya di kota Jakarta ini, bahkan semua teman-teman yang saya kenal yang berprofesi di bidang ini berdomisili di Bandung, Jogya, Batam, Semarang, Malang, dsb.

Ada apa dengan Jakarta dan kenapa orang yang berprofesi di bidang IT menghindar dari Jakarta.

Pertama, pekerjaan desain dan IT memerlukan konsentrasi dan kreatifitas yang tinggi, dan kota Jakarta dengan segala hiruk pikuknya bisa mematikan denyut otak, belum lagi biaya hidup di kota ini yang cukup tinggi.

saya cukup beruntung tidak berprofesi di bidang itu dan saya hanya menekuninya hanya untuk sebagai hobi saja, dan saya sangat beruntung masih bisa mengatur waktu saya, karena saya tidak terlalu terikat dengan waktu yang spesifik di tempat saya bekerja.

tapi memang harus saya akui ritme di Jakarta ini sangat mengkhawatirkan, misalnya saya harus bangun dari jam 3 atau 4 pagi, menyiapkan semua keperluan untuk kerja dan masakan, kemudian siap berangkat tepat setelah sholat subuh.

ini yang membuat saya sangat sedih, sholat subuh yang harusnya jadi waktu untuk menambah momen spiritualitas, jadi harus dilakukan dengan terburu-buru, tapi dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain saya cukup beruntung tidak harus pergi dari rumah sebelum sholat subuh !

yang kedua adalah soal traffic atau macet, Jakarta sangat luarbiasa macetnya, tiap tahun semakin memburuk dan walau tempat kerja saya tidak ke arah sumber macet, namun semua jalan yang saya lalui kena arus contra-flow traffic yang sama parahnya juga, saya tidak heran jika tiap hari ada saja kejadian orang bertengkar di jalan hanya karena tersenggol, ya karena semua orang stress, panik dan tidak tertib.

total waktu saya dalam kendaran tiap hari adalah 5 jam, padahal saya hanya di sekitar selatan bagian dari Jakarta saja.

semua orang dari luar Jakarta pasti terkejut dengan kondisi ini, dan heran bagaimana penduduk Jakarta bisa bertahan dengan semua ini.

Ya pastinya ada yang harus dikorbankan agar bisa bertahan di kota ini dan yang pertama adalah : Kehidupan Sosial, sudah sekitar tiga tahun ini saya sangat jarang bersosialisasi, karena pergi ke satu tempat hang-out saja menghabiskan waktu sekitar 5 jam, dan itu sangat meletihkan buat saya, hingga saya hanya bisa bersosialisasi di akhir pekan, itu pun jika saya tidak ada acara keluarga, the down side is : I don’t have new friends….tapi karena kondisinya memang seperti ini maka terpaksa harus dijalani.

dan selanjutnya yang terpenting adalah menjaga kesopanan di jalan raya, saya tiap saat melihat kepongahan, kecerobohan dan kebodohan di jalan raya….ya kita sudah tahu itu semua, saya selalu berpikir bahwa jika saya terus mengeluh soal kondisi jalan maka saya tidak berlaku adil, yang saya lalukan adalah terus mencoba menjaga etika dan kesopanan di jalan seperti :

  • tidak membunyikan klakson dengan keras
  • memberikan jalan kepada motoris, sepeda dan pejalan kaki
  • mengemudi dengan kecepatan yang konstan
  • memberikan tanda jika ingin pindah jalur
  • parkir pada tempatnya

kedengarannya semua hal yang saya lakukan itu sangat klise di jalanan Jakarta yang barbaric ini, tapi saya tetap akan konsisten menjalankan etika itu, setidaknya menunjukkan saya memiliki kualitas akhlak yang baik.

dan anehnya jika kita mencoba memperlakukan orang sebagai manusia, kita akan menemukan bahwa orang akan memperlakukan kita juga dengan baik, saya pikir ini termasuk dalam “law of attraction” juga ya.

dengan tingkat kepadatan penduduk yang makin tinggi ini, maka penting untuk memiliki disiplin, adab dan akhlak di manapun, karena jika kita mess-up dan berlaku seenaknya maka akan mengkibatkan kota ini jadi makin tidak layak untuk hidup.

satu hal lagi yang membedakan orang Jakarta adalah kita sangat sulit menerima tamu di rumah, karena rumah sudah jadi ranah pribadi, kita hanya bertemu dengan keluarga di malam hari dan sangat sulit jika waktu yang sudah sangat sedikit itu digunakan untuk melayani tamu.

kedengarannya sangat sombong atau selfish oleh orang non-Jakarta, tapi kita masih berusaha menerima tamu yang dadakan, walau kita tidak bisa melayani dengan maksimal (ya subuh kita sudah hilang dari rumah sih)

maka saya tidak heran jika banyak orang non Jakarta yang paham hal ini dan memilih tinggal di hotel jika ke Jakarta, banyak budget hotel di kota ini dan kita bisa meluangkan waktu dengan tamu di akhir pekan.

intinya, tiap orang di Jakarta ini berusaha beradapatasi dengan perubahan yang cepat di Jakarta, apalagi yang telah memiliki keluarga akan makin kesulitan mempertahankan keharmonisan rumah tangganya,

tapi akan selalu ada jalan untuk tetap bahagia di kota ini, karena saya yakin kita diciptakan sebagai manusia yang diberikan kekuatan untuk beradapatasi setiap saat.

 

 

Advertisements