Microcosmic dan Macrocosmic – Tafsir surat Ath-Thariq

“Demi Langit, demi Ath-Thariq”

“Dan adakah pengetahuan engkau, apakah Ath-Thariq itu ?”

“Bintang yang menembus”

(Surat Ath-Tariq)

Pada pembukaan surat ini Allah mengambil dua hal dari alam yang dijadikan sumpah yaitu langit dan “Ath-Thariq”

Kata “Thariq” artinya adalah orang yang mengetuk rumah di waktu malam, karena di arab biasanya orang berjalan saat malam untuk menghindari cuaca panas, maka mereka sampai di rumah saat malam hari dan mengetuk rumah dengan keras agar penghuni rumah terbangun.

Tafsir klasik meyakini bahwa ini adalah makna “Thariq”, namun jika disambungkan ke ayat berikutnya “Bintang yang menembus” maka Thariq memiliki makna tersembunyi yaitu benda dilangit, karena dalam bahasa arab Thariq juga bisa diartikan sebagai “benda diseluruh langit”

Para Ulama di zaman pertengahan menafsirkan bahwa bintang yang menembus ini adalah bintang jatuh atau komet, namun ini juga tidak tepat karena Thariq artinya semua benda di langit, bukan cuma komet saja.

hingga ulama pada saat itu hanya bisa menyimpulkan bahwa Ath-Thariq adalah perumpamaan yang hanya Allah yang tahu arti sesungguhnya.

kemudian muncul teori yang menyebutkan bahwa sebenarnya langit di malam hari tidak gelap namun terang benderang karena cahaya dari semua benda di langit.

Lalu kenapa hanya sebagian dari cahaya itu yang sampai di bumi ?

Ternyata baru di abad ini ditemukan yang dinamakan sebagai “dark energy” atau “dark matter” yang menjadi isian atau filling langit, bisa kita bayangkan jika tidak ada “isian” itu maka kita tidak bisa tidur di malam hari karena silau cahaya bintang !

Dari pembukaan surat Ath-Thariq ini kita bisa mendapat hikmah bahwa masih banyak ilmu alam semesta ini yang kita tidak ketahui, itulah yang disebut “MACROCOSMIC”

Kemudian di surat itu menjelaskan tentang penciptaan manusia, di surat Ath-Thariq ini seakan-akan menunjukkan bahwa ada alam semesta di luar sana dan juga ada “alam semesta” di dalam diri kita. Itu yang disebut “MICROCOSMIC”

orang zaman dulu selalu percaya pada konsep Microcosmic dan Macrocosmic, bahkan filsafat yunani kuno juga mempercayai hal ini, begitu pula hal ini terdapat pada kitab-kitab lama.

Mereka percaya bahwa semua alam semesta ini dalam pengaturan yang sangat tepat, bukan sekedar random events, semuanya dalam harmoni yang serasi.

Berbeda dengan keyakinan modern ini, yang percaya bahwa kita hidup hanya sekedar hidup, karena tidak bisa melihat Tuhan maka tidak usah percaya, hidup sekedar buat makan, kerja, belanja, traveling, have fun, nonton netflix, non-stop spotify, online 24/7, no rules what so ever, yolo – you only live once, kemudian mati selesai perkara.

No,you’re not just a random event,

you are the Cosmo,

you are here for one purpose ;

in a journey to find God

“Tidak ada tiap-tiap diri, melainkan ada atasnya yang memelihara”

(Ath-Thariq ayat 4)

shutterstock_231163618-676x450

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s