ketika seorang ulama membuat kesalahan yang (tidak) fatal

beberapa hari yang lalu, seorang ulama senior memberikan ceramah di forum internasional, dan dia memberikan statement yang menyudutkan suatu ras di negaranya dan juga memberikan kritikan pada satu kelompok (aliran) agama yang terkenal.

Sebenarnya apa yang diucapkan ulama ini bukanlah bentuk hinaan, tapi hal itu tidak pernah dia lakukan sebelumnya, tentu semua orang jadi kaget dan syok.

yang saya perhatikan adalah reaksi dari teman-teman ulamanya di sosial media sangat menarik, berikut reaksi sebagian dari mereka :

  • ulama 1 menyatakan terkejut dan menghimbau jamaah agar tetap tenang dan berprasangka baik pada ulama senior itu sampai beliau memberikan klarifikasi
  • ulama 2 membuat posting tentang pentingnya umat mengkritik para ulama, jika ulama melakukan kesalahan – tanpa menyinggung sedikitpun perihal ulama senior itu.
  • ulama 3 membuat self-deprecating joke tentang hal itu, LOL
  • ulama 4 (yang kebetulan seorang wanita) mengungkapkan kekagetannya namun tetap menghimbau jamaah agar tenang.
  • ulama 5 membuat posting tentang kejadian pribadinya yang dulu pernah melakukan kesalahan yang hampir sama, yang intinya menunjukkan bahwa ulama tidak bebas dari kesalahan.

intinya para ulama itu berusaha menenangkan umat dan mengingatkan untuk berprasangka baik pada si ulama senior itu.

Saya pun sebenarnya kaget dengan kejadian ini, karena saya sering mengikuti kutbah ulama senior itu via internet, tidak berlebihan kalau beliau memberikan dampak positif bagi saya ; berkat beliau saya jadi sering membaca banyak buku agama dan mulai mempelajari puisi2 klasik.

kemudian saya bertanya pada teman saya yang kebetulan adalah simpatisan kelompok yang dikritik itu ; apakah mereka tersinggung dengan pernyataan ulama itu ?

ternyata jawaban teman saya bahwa hal itu sudah biasa, disini bahkan banyak yang menuduh mereka adalah aliran sesat.

jadi menurut teman saya itu pernyataan ulama senior itu bukan hal besar – no big deal, jika dibandingkan dengan apa yang telah mereka alami.

akhirnya si ulama senior itu memberikan pernyataan maaf atas kesalahannya, karena dia sedang dalam kondisi yang tidak fit akibat masih jetlag dari penerbangan jarak jauh, dia tidak sedikitpun berusaha menutupi kesalahannya atau bersikap defensif, juga tidak melemparkan kesalahannya kepada pihak lain (blame shifting)

dia juga berterimakasih pada para ulama yang sudah mengingatkannya dengan baik,

jadi akhirnya insiden itu berakhir dengan hepi ending.

yang jadi pertanyaan adalah ; apa jadinya jika kejadian itu terjadi disini ?

sering saya mengikuti ceramah dimana pembicaranya tanpa merasa bersalah mengkritik suatu kelompok, dan seakan-akan jika kita tidak menyetujui hal itu maka kita pun akan masuk dalam kelompok yang dikritik.

saya paham bahwa membahas tentang kelompok atau firqoh ini adalah hal yang sangat sensitif – apalagi saya ini hanya orang awam.

tapi dari insiden di atas, setidaknya kita bisa melihat contoh yang baik, bagaimana para ulama di negara itu berusaha menyelesaikan masalah yang tampaknya sepele bagi kita – demi  untuk menjaga keutuhan umat.

ada seorang filsafat dan ahli sejarah terkenal dari Lebanon, dia berkata bahwa semua kelompok dalam agama kita ini muncul akibat isu kesukuan, sifat superior yang membanggakan suatu golongan atau suku.

jadi….ada kemungkinan sentimen antar kelompok di sini akibat isu ras yang diimport dari negara asalnya !

tapi sulit untuk menghimbau agar kita saling menghargai kelompok lainnya, sedangkan disini saja banyak ulama yang melarang kita berinteraksi dengan kelompok lainnya, bahkan duduk bersama juga tidak boleh.

sementara itu satu ulama dari aliran yang paling konservatif (salaf) yang saya kenal dari barat, pernah berkata bahwa dia akan mengusahakan segala upaya untuk menyatukan umat – bahkan dengan golongan yang paling radikal dari negri persia itu.

 

suatu hal yang tidak akan pernah saya dengar disini……..

hamzayusuf

 

 

 

Advertisements

One comment

  1. Hamam Abidin · January 12

    Ya yang bijak adalah mengingatkan dengan cara yang paling baik dan halus. Di Indonesia normalnya ketika ulama sedang khilaf berakhir dibully, dan akhirnya sang ulama tetap komitmen dengan kesalahannya “tidak merasa salah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s