Tarbiyah

“The foundation of every state is the education of its youth.”  Diogenes of Sinope

Seperti kebanyakan orang di negri ini, saya terlahir sebagai Muhammadiyah, tapi sebagian besar masa dewasa saya banyak dipengaruhi oleh gerakan baru yang disebut “Tarbiyah”

Tarbiyah adalah gerakan baru pada era 80an yang terinspirasi dari “Ikhwanul Muslimin” dari Mesir, yang berfokus pada pendidikan umat, namun pada akhirnya gerakan ini ikut terjebak dalam arus politik.

Kali ini saya hanya ingin menjelaskan apa pengaruh gerakan ini menurut segi pandang saya pribadi, baik dari segi positif maupun negatifnya,

Segi Positif :

Pertama, Tarbiyah sangat mensupport wanita untuk banyak memberikan kontribusi, maka tidak heran pada masa ini ada beberapa tokoh wanita muslim yang muncul seperti penulis Helvi Tiana Rosa dan Asma Nadia

Wanita yang besar di era ini rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi, dan tidak jarang mereka banyak yang sekolah ke luar negri. Para akhwat masih bebas bepergian tanpa mahram jika niat untuk bepergian adalah untuk hal-hal yang baik.

Hal ini sangat bertolakbelakangan dengan gerakan yang “lebih konservatif” , dimana wanita dilarang keras untuk keluar rumah tanpa mahram – tanpa kompromi.

Kedua ; Interaksi antar wanita dan pria yang terbatas, seperti tidak boleh berjabat tangan, pemisahan ruangan antara pria dan wanita, pacaran dsb, menurut saya ini poin yang cukup masuk akal karena dengan dibatasinya interaksi antar wanita dan pria maka masing-masing pihak akan menjalin hubungan yang sehat tanpa harus terjebak dalam urusan yang sia-sia seperti pacaran.

Pacaran sendiripun adalah hal yang absurd, dan tidak dilakukan oleh generasi di masa lalu, dengan tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna ini, masa muda saya terselamatkan dan saya bisa lebih fokus untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Ketiga ; Tarbiyah tidak pernah secara eksplisit mendiktekan pada wanita seberapa panjang kerudung yang harus digunakan, mungkin karena pada masa itu untuk bisa memakai kerudung adalah hal yang cukup sulit, kebanyakan akhwat masih dilarang memakai jilbab oleh keluarga, sekolah atau tempat kerjanya, jadi kerudung yang dipakai beragam dan modelnya alakadarnya saja, bahkan saya pernah melihat beberapa akhwat datang ke pengajian belum memakai kerudung.

Keempat ; Tarbiyah tidak pernah secara tegas melarang musik dan lukisan, dalam beberapa kondisi, musik dan lukisan jika tidak bertentangan dengan agama masih diperbolehkan,

tidak seperti gerakan agama lain yang “lebih konservatif” yang sangat melarang kedua hal ini tanpa kompromi sedikitpun.

Maka jika kita lihat di sekolah-sekolah yang berbasis Tarbiyah seperti Sekolah Islam Terpadu masih terdapat ajaran musik dan melukis, ini sangat baik untuk memupuk bakat dan kreatifitas anak-anak.

Segi Negatif :

imbauan untuk cepat menikah, pada masa itu banyak kejadian pernikahan dini yang dilakukan oleh ikhwan dan akhwat yang secara mental dan finansial belum siap, menurut saya pernikahan dini ini seharusnya tidak di-encourage , dan sebaiknya para akhwat dan ikhwan dibekali dengan ilmu berumahtangga menurut ajaran Rasulullah SAW sebelum menikah.

Terlibat dalam politik, walaupun tidak semua aktifis Tarbiyah setuju ketika mereka maju ke arena politik, bagaimanapun keputusan untuk tampil ke politik ini adalah hal yang prematur dan sangat merugikan gerakan ini.

Hingga akhirnya kita lihat saat ini gerakan Tarbiyah seperti kehilangan ruh karena ditinggal oleh sebagian besar pengikutnya yang beralih ke gerakan yang “lebih konservatif” itu.

Pengaruh dari gerakan ini dalam kehidupan saya cukup banyak ; karena dari pengajian Tarbiyah saya mengetahui kewajiban memakai jilbab dan berkat hidayah-Nya pada masa sulit itu saya bisa mengenakan jilbab, saya mengambil kursus bimbel yang didirikan oleh pengikut gerakan ini (Nurul Fikri) dan pada waktu kuliah pun kampus saya adalah markas besar dari gerakan ini. bahkan lembaga-lembaga pendidikan yang terlibat dalam kehidupan saya adalah berasal dari gerakan ini.

Hari ini saya baru sadar betapa banyaknya manfaat dan hidayah yang saya dapatkan dari gerakan yang berfokus pada pendidikan ini,

walaupun sekarang ini gairah gerakan ini sudah meredup, para ulamanya sudah menua dan regenerasi hampir tidak ada, namun simpati dan hati saya tetap pada mereka – yang dulu sudah pernah mengorbankan waktu, harta, pemikiran, tenaga untuk kebaikan dan kemajuan pendidikan umat.

Semoga Allah SWT memberikan kita hidayah-Nya dan mengumpulkan kita di Maqam al-Mahmudah

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s