Makkiyah, Madaniyah dan Ali bin Abi Thalib

Secara garis besar, sejarah penting dalam Islam terbagi menjadi tiga periode : Makkiyah, Madaniyah dan masa-masa fitnah di kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

kenapa saya menuliskan ini dan apa manfaatnya yang bisa kita ambil dari tiga periode ini, adalah tidak lain karena kita hidup pada masa-masa penuh fitnah, adu domba, perpecahan, dsb.

maka dengan mempelajari tiga periode ini mudah-mudahan kita bisa mendapat hikmahnya,

Periode Makkiyah

pada masa ini umat Islam mendapatkan cobaan dari kaum kafir (non muslim) yang dimana mereka secara terang-terangan menyerang secara verbal dan fisik, dan apa yang diperintahkan oleh Allah kepada Rasulullah dan umat Islam adalah sama seperti yang dilakukan Nabi Isa Al-Masih di Jerusalem, mereka sama sekali tidak memberikan perlawanan, bahkan membalas celaan dan makian pun tidak diperbolehkan.

“If anyone slaps you on the right cheek, turn to them the other cheek also”

di surat al-Mukminun ayat 96 – 97 dijelaskan bahwa kita harus menahan diri dari membalas perbuatan buruk itu, jangan merendahkan diri kita dengan cacian dan makian, dan jika kita tergoda oleh setan untuk melakukan hal itu maka kita harus berdoa “ya Tuhan, aku berlindung dari bisikan-bisikan setan”

Apakah sulit untuk menahan diri ? apakah kita tidak sakit hati dan bersedih dengan penghinaan itu ?

tentu saja, bahkan di awal surat Al-Kahfi dijelaskan bahwa Rasulullah sendiri merasa sangat sedih bahkan kesedihannya itu setara dengan depresi seorang yang hendak bunuh diri (tentunya bukan berarti Rasulullah akan melakukan hal itu) juga di surat al-Hijr yang menjelaskan bahwa Allah sungguh-sungguh mengetahui kesakitan yang kita rasakan akibat ucapan kaum kafir itu.

dan apa yang diperintahkan Allah kepada kita ?

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadikan kamu diantara orang-orang yang bersujud”

Karena dengan mendekatkan diri kepada Tuhan maka semua kesakitan yang kita rasakan itu bisa tergantikan oleh perasaan tenang yang disebut “Sakinah”

Periode Madaniyah

biang keladi pada masa ini adalah kaum munafik, dan puncak masalah yang mereka berhasil buat adalah tuduhan keji kepada Aisyah, istri Rasulullah, dan karena kaum munafik ini secara kontinu memanasi isu ini maka akhirnya kaum muslim pun ikutan terbawa fitnah ini,

Abu Ayyub al-Anshori ketika dihampiri oleh istrinya dan istrinya berkata ; “Apakah kau sudah mendengar berita tentang Aisyah yang sedang ramai dibicarakan oleh semua orang ?”

Abu Ayyub langsung bertanya “Apakah kau merasa bahwa kau lebih baik daripada Aisyah ?” tidak jawab istrinya

“Maka jangan kamu sebarkan berita itu lagi !” kata Abu Ayyub.

Gosip, ghibah, namimah adalah perbuatan sangat tercela dan tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim,

Kita harus menjaga diri agar tidak melakukan hal ini, dan jika ada muslim berbuat seperti itu harus kita nasihati dengan baik, namun jika kita tidak bisa melakukan itu maka sebaiknya kita menghindar dan jangan ikutan mendengar berita-berita tercela seperti itu.

“dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.”

Periode Ali bin Abi Thalib

ini menurut saya adalah masa-masa yang paling sulit dalam sejarah, karena pada masa-masa ini umat Islam di adu domba dengan yang lainnya, semua makar dan propaganda dilakukan untuk memecahbelah umat, hubungan pertemanan dan kekeluargaan menjadi pecah, silaturahmi terhenti akibat cobaan yang berat ini.

Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil).’ (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

pada masa ini hampir mustahil bagi muslim untuk menghindarinya, jadi sebisa mungkin kita menjauh dari semua akses fitnah tersebut, beberapa sahabat bisa melakukan hal itu seperti Ibnu Abbas, namun sebagian besar sahabat lainnya terjebak dalam situasi yang lose-lose itu.

Bahkan dua kubu yang punya satu tujuan pun bisa berperang, seperti pada peperangan Jamal (Perang Unta) dimana kubu Ali bin Abi Thalib bertemu dengan kubu Aisyah dengan tujuan hendak berunding mengenai insiden pembunuhan Ustman bin Affan, namun akibat ulah para provokator seketika saja kaum muslim terjebak dalam situasi peperangan.

demikianlah tiga periode penuh cobaan ini, tujuan saya menuliskan ini sebenarnya untuk catatan pribadi agar saya sendiri pun bisa sabar dalam menghadapi bermacam-macam situasi yang terjadi belakangan ini,

semoga kita semua bisa terhindar dari semua fitnah ini, aamiin

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 comments

  1. samuelmaasSamwil Maas · October 13

    bagus…, terima kasih pembelajarannya, ijin share & salam

    • susandevy · October 13

      wa’alaikumsalam, terima kasih sudah baca ini, ongku…
      salam buat keluarga di batam ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s