Printing Press, Ibrahim Muteferrika dan kejatuhan Islam

Dulu saya selalu beranggapan bahwa awal kejatuhan Islam adalah pada masa setelah Perang Dunia pertama,

ternyata masa kegelapan itu mulai dari jauh sebelumnya yaitu pada masa kekhalifahan Turki Ustmaniyah di abad ke 15

Sebelumnya, Islam selalu menjadi pioner dalam kemajuan teknologi, dari masa para sahabat dan tabi’in hingga beberapa generasi berikutnya mereka selalu cepat dalam menyerap ilmu duniawi, hingga Islam pada beberapa abad itu menjadi puncak kemajuan ilmu dan budaya.

Nah, apa hubungannya Printing Press dengan kejatuhan Islam ?

sebelum itu, kita lihat dulu bagaimana Islam pada masa pra-kertas, semua tulisan ditulis pada daun kurma, tulang unta, kulit binatang ,dsb. kemudian akhirnya mereka menemukan teknologi pembuatan kertas dari cina, hingga khalifah Al-Makmun dari dinasti Abbasiyah memutuskan untuk menggunakan kertas untuk segala keperluan adminitrasi negara dan semua aktifitas keilmuan, hal yang saat itu belum dilakukan oleh cina, karena mereka hanya menggunakan kertas untuk hasil karya seni.

hingga tidak berlebihan jika kita berpendapat bahwa buku adalah penemuan Islam, karena setelah mereka menulis banyak kertas dan mengumpulkannya, dan menjilid menjadi buku yang lengkap dengan sampulnya.

maju tiga abad setelah itu, ketika Gutenberg menemukan Printing Press, sikap Islam berbeda dengan generasi sebelumnya ; mereka menutupdiri dari teknologi itu, bahkan khalifah Bayezid II membuat fatwa bahwa Printing Press hukumnya haram dan pemakaianya adalah kafir dan pantas mendapatkan hukuman mati !

apa yang terjadi berikut adalah mulainya kemajuan renaissance yang dipicu dari penyebaran printing press di seluruh eropa, hingga pada saat Colombus melakukan ekspedisi ke amerika, mereka juga membawa mesin printing press yang kemudian percetakannya diletakkan di kota meksiko.

Kita pasti bertanya ; kenapa Islam sebegitunya menutup diri dengan kemajuan teknologi ?

Jawabannya seperti biasa adalah ; karena pada ulama yang disekitar khalifah saat itu tidak menginginkan ilmu menyebar keseluruh masyarakat, mereka ingin agar ilmu tetap menjadi eksklusif hanya untuk segelintiran kalangan saja, dengan monopoli ilmu maka orang yang ingin belajar harus datang sendiri kepada mereka untuk menimba ilmu.

Akhirnya salah satu ulama berkebangsaan hungaria yaitu Ibrahim Muteferrika mengajukan petisi kepada khalifah untuk memperbolehkan penggunaan printing press, akhirnya khalifah menyetujui dengan sejumlah daftar larangan kitab-kitab yang tidak boleh dicetak dengan printing press.

namun usaha Ibrahim Muteferrika ini terlambat, karena pada saat itu eropa telah dapat mendahului Islam dari segi ilmu dan teknologi, berkat Printing Press.

Sementara itu, pada saat invasi Napoleon Bonaparte ke Mesir, walaupun Napoleon kalah dalam perang tersebut, dan mengakhiri periode dinasti Mamluk (yang dulu mereka pernah menang dari invasi mongol ) ternyata memberikan angin segar bagi Islam : munculnya percetakan Islam pertama “Bulaq” , berkat jasa Napoleon yang membawa mesin printing press ke mesir.

Bagaimanapun usaha Islam mengejar ketinggalannya dengan dunia barat, mereka telah tertinggal hingga akhirnya Islam benar-benar terkalahkan setelah perang dunia pertama yang akhirnya mengakibatkan berakhirnya kekhalifahan terakhir yang pernah ada di dunia ini.

Sekarang pertanyaannya adalah ;

Apakah kita akan bersikap seperti khalifah Bayezid II dan para ulama saat itu yang bertahan dengan sikap mereka yang memperlakukan ilmu sebagai hal yang eksklusif hanya untuk kalangan tertentu saja ?

Atau kita seperti Ibrahim Muteferrika, si ilmuan hungarian yang dulunya penganut agama nasrani yang menjadi muslim dan berusaha agar ilmu menjadi maju dan tersebar keseluruh lapisan masyarakat

Uprising_in_Cairo

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber :

https://en.wikipedia.org/wiki/Global_spread_of_the_printing_press

https://en.wikipedia.org/wiki/Printing_press

https://en.wikipedia.org/wiki/Johannes_Gutenberg

https://en.wikipedia.org/wiki/Ibrahim_Muteferrika

https://en.wikipedia.org/wiki/French_campaign_in_Egypt_and_Syria#The_printing_press

 

Advertisements

4 comments

  1. Bang Ical · September 4

    Infornya menarik sekali, terutama tentang Ibrahim Muteferrika. Itu benar ulama berkebangsaan Hungaria?

    • susandevy · September 4

      “Ibrahim Müteferrika (Turkish: İbrahim Müteferrika; 1674–1745) was a Hungarian-born Ottoman diplomat, polymath, publisher, printer, courtier, economist, man of letters, astronomer, historian, historiographer, Islamic scholar and theologian, sociologist,[1] and the first Muslim to run a printing press with movable Arabic type”

      dari wikipedia: https://en.wikipedia.org/wiki/Ibrahim_Muteferrika

      saya sudah cantumkan semua sumber2nya, silakan dibuka link2 tersebut
      terima kasih

  2. Arie M. Prasetyo · September 5

    Setuju. Kegagalan Turki Ottoman dalam mengadaptasi teknologi informasi mutakhir di masanya menjadi salah satu alasan ketertinggalan mereka dari para pesaingnya di Eropa. Padahal di awal abad 16 mereka dapat dikatakan adalah negara adidaya kawasan Mediterania. Empat abad kemudian mereka takluk dan porak poranda di tangan para rivalnya dari Barat.

    Saya juga pernah menulis sebuah artikel tanggapan mengenai kejatuhan peradaban-peradaban Islam (https://as3c.wordpress.com/2015/08/26/tanggapan-terhadap-kenapa-dunia-islam-terbelakang/). Ironis, salah satu alasannya adalah karena Ottoman yang menjadi sangat kuat ia menyebarkan imperialisme di kawasan Timur Tengah. Di sana saya juga menyinggung peran penting mesin cetak Guttenberg dalam runtuhnya peradaban Ottoman. Kombinasi reformasi politik dan proliferasi buku di Eropa Barat adalah kunci utama kemajuan mereka selama Renaissance. Sesuatu yang gagal ditiru oleh imperium Turki Ottoman dengan mesin politiknya yang paripurna. It crumbles under its own magnificent weight.

    • susandevy · September 8

      wow artikel yang luarbiasa !

      sebenarnya selain printing press ada beberapa fatwa aneh yang dibuat oleh para sultan ottoman ini,
      tapi ya printing press yang paling berdampak pada kemunduran Islam,

      intinya memang ketika para “musulman” berusaha untuk menggapai dunia dengan melakukan hal-hal yang menjaga kepentingan segelintiran kalangan – dimana fatwa dibuat bukan untuk kepentingan umat lagi, disitu mulai terjadi kebodohan dan kegelapan.

      dan ironisnya akibat printing press ini kita kehilangan “Bilad as-Syam” ( I don’t like to call it syiria, because Bilad as-Syam is very important place for us) yang dimana disitu terdapat kota suci kita ; Jerusalem.

      juga akibat dari ini, kita sampai saat ini pun masih terpecah-pecah, saling diadudomba satu sama lain,

      tidak ada keutuhan umat, tidak ada kasih-sayang antar kita….
      padahal kita adalah satu umat, satu saudara, satu hati

      dan satu Tuhan Ar-Rafiqul A’la

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s