Mereka yang terdahulu

seseorang pernah bilang bahwa ia merasa sedih dan kehilangan harapan setelah membaca ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa golongan terdahulu akan lebih banyak masuk ke surga dibandingkan dengan golongan kemudian.

Kemudian saya mencari dimana ayat itu berada, ternyata terdapat di surat Al-Waqiah, surat ke 56, yang memang terdapat ayat yang menyebutkan demikian :

“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, mereka yang paling dahulu masuk surga” (ayat 10) dan “Segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang kemudian” (ayat 13 – 14)

Jika kita hanya membaca terjemahannya saja memang kita akan langsung mengambil kesimpulan bahwa orang-orang yang hidup di masa lalu akan mendapat jatah kuota besar di surga dibandingkan dengan orang-orang yang hidup di akhir masa.

Namun surat ini turun pastinya pertama kali ditujukan untuk kaum muslim yang hidup di masa itu (para sahabat) jadi tidak masuk akal kalau para sahabat sedikit yang masuk surga jika demikian menurut surat ini.

Maka saya mencari makna dalam tafsir, karena kita tidak dapat memahami Al-Quran tanpa bantuan tafsir.

Iyas bin Muawiyah al Muzanni, mengatakan bahwa perumpamaan orang yang membaca Al-Quran tanpa tafsir adalah seperti orang yang menerima surat dari raja pada malam hari namun tidak memiliki lampu hingga tidak dapat membaca isi surat itu karena kegelapannya, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tafsir adalah seperti orang yang membaca surat itu dengan lampu.

Kembali ke surat Al-Waqiah, siapa mereka yang terdahulu itu ?

Menurut Al-Hasan dan Qatadah ; mereka ini dari setiap umat.

Utsman bin Abi Saudah berkata : “Mereka yang pertama kali pergi ke mesjid, dan yang pertama kali pergi jihad fisabilillah” intinya mereka semua yang bersegera untuk melakukan amal kebaikan seperti yang telah diperintahkan.

Para sahabat telah memberikan contoh yang baik untuk menjadi “orang terdahulu”, karena mereka sering berlomba-lomba dalam melakukan amal kebaikan, bahkan sering kita jumpai kisah-kisah dimana para sahabat senior saling berkompetisi dan bersaing dalam amal kebaikan, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab yang saling bersaing satu sama lain – dalam persaingan yang sehat tentunya.

Kalau dipikirkan, kapan kita pernah melihat orang-orang saling berlomba dalam kebaikan ? malah saat ini semua orang berlomba-lomba dalam menumpuk harta, mencari jabatan, ketenaran dan sebagainya.

Dan untuk tafsir Segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang kemudian” ini adalah berasal dari umat Nabi Muhammad, karena tidak diragukan lagi umat generasi pertama yaitu para sahabat adalah umat yang terbaik, dan disimpulkan bahwa ayat ini bersifat umum karena tiap umat memiliki kedudukannya sendiri, jika kita pelajari sejarah Islam selama 14 abad ini memang ada perbedaan dan corak ragam masing-masing dinasti dan generasi.

“Masih akan ada terus sekelompok orang dari umatku yang akan menegakkan kebenaran, mereka tidak akan dicelakakan oleh orang yang menghina mereka dan tidak pula orang yang menentang mereka sampai hari kiamat” (Hadist)

Jadi dari tafsir ini dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan “orang terdahulu” bukan mereka yang hidup dimasa lampau, namun ada pada setiap masa, tetapi tentunya derajat para sahabat dan tabi’in tetap menempati posisi paling atas dibandingkan dengan umat-umat setelahnya – mengingat banyaknya jasa mereka terhadap perkembangan Islam ini.

Saat ini kita akan memasuki Bulan Suci Ramadhan,

adalah waktu yang tepat untuk kita mencoba berusaha menjadi “orang terdahulu”, paling dahulu datang ke mesjid, paling duluan memberikan sedekah, paling duluan membantu orang susah, paling duluan memberikan salam, paling duluan memberikan maaf, paling duluan bertegur sapa, paling duluan dalam semua hal kebaikan, baik hal kecil maupun besar.

Semoga setelah Ramadhan ini kita termasuk dalam golongan “yang terdahulu” itu.

Aamiin.

Kindness-is-the-language

Advertisements

2 comments

  1. Arie M. Prasetyo · June 1

    Ya… penjelasan yang masuk akal. Memang, banyak perumpamaan-perumpamaan di Quran yang tidak bisa langsung dipahami secara harafiah. Sekarang saya jadi mengerti pentingnya peranan tafsir. Thank you for the article! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s