Firman Tuhan, Arab dan Kepercayaan

sebagai orang yang terlahir sudah menjadi muslim, tentunya saya telah memiliki anggapan bahwa kitab agama yang saya anut ini ; Al-Quran adalah wahyu dari Tuhan.

Tapi ternyata tidak demikian dengan orang yang belum mengenal agama ini, kebanyakan mereka beranggapan bahwa Quran adalah karangan Muhammad, bukan berasal dari Tuhan.

Karen Armstrong pernah berpendapat bahwa Quran sulit untuk dipahami karena kita tidak berbicara dengan bahasa Arab – bahasa Quran tersebut.

pada awalnya saya bingung kenapa Armstrong berpendapat seperti itu, karena tidak sulit untuk memahami isi Quran ; tinggal baca terjemahannya saja.

ternyata terjemahan sama sekali tidak bisa membuat kita bisa memahami makna kandungan dari Quran, karena tata bahasa Quran yang sangat luarbiasa indah dan banyak mengandung makna tersirat.

Bahkan seringkali kita menjumpai orang yang salah memakai ayat tentu karena hanya mengandalkan terjemahan saja.

Jadi bagaimana cara untuk bisa memahami isi Quran ini ? saya akan mencoba menjelaskannya dengan pengetahuan saya yang masih terbatas ini ;

Pertama, kita harus memiliki niat yang ikhlas

Tanpa niat tersebut, kita akan selalu salah memahami isi Quran, jika tujuan kita mencoba mempelajari Quran agar kita kelihatan pintar atau jadi terkenal, maka tentunya kita tidak akan dapat memahami isi Quran dan keajaibannya,

Kebanyakan kita – terutama di negri mayoritas muslim ini, sudah percaya bahwa Quran adalah firman Tuhan, tapi TIDAK sebenar-benarnya percaya bahwa Quran adalah mukjizat yang terbesar yang pernah ada, akibatnya niat kita mempelajari Quran menjadi tidak ikhlas atau dengan tujuan lain selain untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Prof. Jefrey Lang pada saat pertama kali membaca Quran merasa bahwa penulis Quran tidak adil, karena seakan-akan penulis Quran ini mengetahui semua hal tentang dirinya sedangkan dia sama sekali tidak tahu apapun tentang penulis Quran.

Pendapat Lang tersebut saat dia masih atheis (belum convert jadi muslim) membuat saya berpikir bahwa saya selama ini merasa biasa-biasa saja saat membaca Quran, sedangkan mereka yang non-muslim itu merasakan hal yang berbeda dan pengalaman yang aneh dengan Quran.

sedangkan Yusuf Islam (aka. Cat Stevens) merasakan keindahan Quran saat ia membaca kisah Nabi Yusuf yang ada pada surat Yusuf.

Saya hanya mencoba menjelaskan dengan beberapa contoh pengalaman non-muslim tersebut ; bahwa selama ini kita selalu “taken for granted” terhadap kitab agama kita sendiri, kita senantiasa memegangnya namun tidak meresapi maknanya dan tidak mengamalkan isinya dalam kehidupan kita.

Hingga kita hidup sekedar hidup saja, tidak ada cahaya dalam hati kita, karena sikap kita yang mengacuhkan Quran.

kedua ; mencoba mempelajari Bahasa Quran yaitu Bahasa Arab.

sebenarnya ini adalah kelemahan saya, sampai saat ini saya masih kesulitan untuk mempelajari bahasa Arab – walaupun tentunya saya sudah bisa membaca Quran.

Jadi apa yang saya lakukan adalah saya mempelajari Quran dari buku-buku tafsir, dari sejarah hidup Nabi Muhammad SAW ( Sirah Nabawiyah) dan ceramah-ceramah dari para ulama (baik offline maupun online)

Mengapa penting untuk bisa mengerti bahasa Quran ini ?

Seperti yang disebutkan oleh Armstrong ; bahwa orang non-Arab akan kesulitan untuk mengerti arti Quran karena kita tidak bisa merasakan keajaiban saat mendengarkan bahasa Quran yang memiliki tata bahasa berbeda dengan bahasa Arab pada umumnya.

Sebagai contoh bagaimana Quran adalah keajaiban yaitu pada di masa awal Quran turun yaitu pada saat Nabi Muhammad masih berdakwah di Mekkah (sebelum hijrah)

Penduduk Mekkah terkejut saat mendengarkan Firman Tuhan, dan mereka menuduh Muhammad SAW sebagai tukang sihir, ada juga yang menuduhnya sudah gila.

Kenapa mereka menuduh demikian ? karena mereka terkejut bagaimana bisa seorang Muhammad yang buta huruf – juga TIDAK pernah membuat syair, tiba-tiba bisa mengucapkan kalimat-kalimat yang bisa menghipnotis mereka.

Misalnya pada surat An-Najm¬† ayat 57-62 : “Telah dekat terjadinya hari kiamat, Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah, Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu melengahkan(nya)? Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).”

Pada saat surat ini dibacakan kepada penduduk Mekkah, ketika dibagian “bersujudlah kepada Allah” mereka semua tersungkur sujud, termasuk juga para elit Quraisy yang gigih menentang Muhammad itu tidak berkutik dan ikut bersujud juga.

ayat ini menggambarkan betapa hebatnya pengaruh tata bahasa Quran pada orang yang mengerti bahasa Arab, sedangkan kita yang non-arab harus berusaha keras agar bisa memahami isi kandungan kitab ini.

Teman saya pernah bertanya ; bagaimana kita bisa merasakan hidayah atau petunjuk dari Tuhan itu ?

Saya bilang kepadanya ; coba saja baca Quran secara acak, lakukan secara konstan sampai dimana terasa bahwa ada ayat yang seakan-akan sedang berbicara pada kita, disitu akan terasa hidayah mulai masuk ke dalam hati.

Kita adalah makhluk yang lemah dan senantiasa memerlukan pertolongan dari Tuhan, dan Tuhan telah menurunkan Al-Quran sebagai perantara komunikasi kita dengan Tuhan

Bulan ini adalah Bulan Ramadhan dan Ramadhan adalah bulan Al-Quran,

Sayangnya kita melihat banyak perdebatan dan fitnah pada bulan ini, saking sibuknya kita mengikuti perdebatan itu hingga kita lupa bahwa harusnya pada bulan ini kita semakin mendekatkan diri kepada-Nya dan terus mempelajari kitab-Nya.

Al-Quran adalah mukjizat terakhir untuk umat manusia yang harus kita pelajari setiap keajaibannya pada setiap ayatnya,

Dengan bertujuan untuk mendekatkan diri pada Tuhan, agar kita bisa mengenali siapa Sang Pencipta sarwa sekalian alam ini, agar kita bisa menjadi orang yang lebih baik, lebih bijak, lebih sabar dan dapat mencapai kebahagiaan hidup.

Semoga Quran senantiasa dapat menjadi pendamping hidup kita, menjadi cahaya kita dalam kegelapan dan menuntun kita agar kita dapat berjumpa dengan Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Aaamiin.

 

Berikut adalah video dari Lesley Hazelton tentang pengalamannya mempelajari Al-Quran :

 

Advertisements

No Poo Shampoo

Sudah bertahun-tahun saya berusaha mengobati kerontokan rambut saya, namun semua produk yang saya coba hanya memberikan hasil sementara, setelah itu rambut saya kembali rontok lagi dan lagi,

Bahkan uban di rambut semakin banyak, tadinya saya pikir mungkin rambut saya jadi banyak uban karena bawaan genetik.

Jadi ini ritual perawatan rambut saya dulu :

  • keramas dengan shampoo setiap dua hari sekali
  • hair tonic setiap sehabis keramas
  • creambath dan masker rambut setiap seminggu sekali
  • hair coloring atau henna setiap sebulan sekali, untuk menutupi uban

Kemudian saya baca di media online bahwa ada yang sudah meninggalkan shampoo selama dua tahun dan rambutnya semakin sehat, saya pikir kok aneh banget ya, tapi kemudian setelah saya membaca sejarah tentang shampoo dan ternyata shampoo itu baru menjadi produk komersil sekitar tahun 1950-an

Orang dulu tidak mengenal shampoo yang kita pakai saat ini, mereka mencuci rambut dengan ramuan-ramuan alami dan memberikan minyak atau wewangian.

Bahkan dulunya orang tua kita biasa berkeramas dengan merang padi yang dibakar, dan meminyaki rambut dengan minyak kelapa.

Shampoo komersial ternyata memberikan dampak yang negatif antara lain :

  • menghilangkan pelembab alami yang dihasilkan kulit kepala (sebum)
  • mengandung bahan-bahan kimiawi yang berbahaya bagi tubuh
  • produk shampoo adalah salah satu sumber polusi yang merusak lingkungan.

Kemudian saya mencari informasi tentang “No Poo” shampoo, yang intinya metode ini membuat kita meninggalkan semua produk shampoo komersil dan beralih pada shampoo buatan sendiri yang alami.

Satu hal yang perlu diingat : Rambut kita telah terbiasa dengan shampoo komersil, jadi pada saat pertama kali mencoba No Poo shampoo akan ada Masa Adaptasi dimana rambut akan jadi lepek dan berminyak, biasanya masa adaptasi ini sekitar dua minggu sampai sebulan, tergantung kondisi rambut. setelah itu rambut akan terbiasa dengan no poo shampoo.

Ada beberapa resep No Poo shampoo yang sudah saya coba :

Jeruk Nipis atau lemon dan Madu, perasan dari dua buah jeruk nipis dicampur dengan madu satu sendok teh, dicampur dengan air sekitar 500ml, cara keramas : basahi rambut dengan air, bilas rambut dengan air campuran jeruk nipis dan madu, diamkan selama 3-5 menit, bilas dengan air.

Pada awalnya saya mencoba no poo shampoo, saya menggunakan resep jeruk nipis dan madu, namun ternyata resep ini tidak cocok dengan kondisi rambut saya yang terlalu berminyak.

Green Tea : satu teh hijau celup dalam air panas sekitar 500ml, diamkan sampai agak dingin, bisa ditambahi dengan parfum atau essential oil secukupnya, cara pemakaian sama seperti no poo shampoo sebelumnya.

20160604_103901

Resep ini yang paling cocok untuk rambut saya yang berminyak, juga wangi teh hijau yang segar membuat rambut saya jadi terasa lebih ringan. saya sudah menggunakan resep green tea ini setidaknya selama 6 bulan. favorit saya adalah green tea dari jepang karena bisa membuat rambut saya segar lebih lama.

Baking Soda ; satu sendok teh baking soda dicampur dengan air 500ml, tambahi dengan parfum atau essential oil secukupnya, cara pemakaian sama seperti no poo shampoo sebelumnya.

20160604_103205

Resep baking soda ini yang masih saya gunakan sampai saat ini, karena resep ini yang paling bisa menghilangkan minyak di kulit kepala saya tanpa membuat rambut jadi terlalu kering.

Dry Shampoo ; salah satu dari metode no poo adalah dry shampoo yang mudah dibuat, yaitu dengan mencampur tepung maizena dan bubuk coklat dengan perbandingan 50:50, simpan dalam tempat kering, gunakan kuas untuk menaburnya di kulit kepala. dry shampoo dapat digunakan kapan saja, terutama jika rambut tampak lepek dan berminyak.

20160604_103327

resep dry shampoo lainnya yaitu adalah bedak bayi, yang lebih mudah digunakan dan memberikan hasil yang sama dengan resep dry shampoo sebelumnya.

Setelah beralih ke No Poo Shampoo, kini ritual perawatan rambut saya adalah :

  • Keramas dengan no poo shampoo dua atau sekali seminggu
  • dry shampoo setiap pagi, karena kulit kepala di ubun-ubun saya terlalu berminyak
  • hair coloring atau henna tidak pernah lagi
  • ke salon hanya untuk potong rambut saja (baru dua kali dalam dua tahun ini)

Setelah hampir dua tahun ini saya beralih ke no poo shampoo, apakah saya pernah berniat untuk mencoba memakai produk shampo komersil lagi ? tentu tidak ! buat apa ? toh rambut saya sudah lebih sehat dan tidak rontok lagi, jadi buat apa saya kembali menggunakan produk itu lagi ?

Apakah rambut jadi bau dengan no poo shampoo ?

tergantung pada bagaimana perawatan yang dilakukan, saya setiap hari memberikan wewangian di rambut saya, terutama karena cuaca di kota ini sangat panas, jadi bisa membuat rambut cepat lembab dan bau, sebetulnya dengan menggunakan produk shampo komersil pun bisa membuat rambut bau juga – jika tidak dirawat dengan benar.

Bonusnya dari no poo shampoo ini adalah ternyata uban saya jadi tidak tampak lagi, awalnya saya pikir mungkin no poo ini membuat uban berkurang, ternyata tidak, namun uban menjadi tidak dominan lagi warnanya, maka dari itu saya tidak pernah mewarnai rambut lagi sejak beralih ke no poo shampoo.

uban = gray hair , mungkin karena dulu uban itu warnanya abu-abu, bukan putih keperakan seperti saat ini setelah kita semua memakai shampo komersil.

Demikian pengalaman no poo shampoo saya ini, mudah-mudahan bisa memberikan manfaat.

tentunya masih banyak yang meragukan metode ini, saya tidak heran karena kita terlahir sudah dengan budaya shampo komersil.

Namun setidaknya coba dulu gunakan resep dry shampoo yang bisa digunakan saat sedang traveling atau saat sedang sakit.

Untuk yang ingin mencoba shampo organik yang siap pakai bisa membeli online seperti contoh ini :

Screenshot_2016-06-02-12-05-45-1

 

 

 

 

 

 

Mereka yang terdahulu

seseorang pernah bilang bahwa ia merasa sedih dan kehilangan harapan setelah membaca ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa golongan terdahulu akan lebih banyak masuk ke surga dibandingkan dengan golongan kemudian.

Kemudian saya mencari dimana ayat itu berada, ternyata terdapat di surat Al-Waqiah, surat ke 56, yang memang terdapat ayat yang menyebutkan demikian :

“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, mereka yang paling dahulu masuk surga” (ayat 10) dan “Segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang kemudian” (ayat 13 – 14)

Jika kita hanya membaca terjemahannya saja memang kita akan langsung mengambil kesimpulan bahwa orang-orang yang hidup di masa lalu akan mendapat jatah kuota besar di surga dibandingkan dengan orang-orang yang hidup di akhir masa.

Namun surat ini turun pastinya pertama kali ditujukan untuk kaum muslim yang hidup di masa itu (para sahabat) jadi tidak masuk akal kalau para sahabat sedikit yang masuk surga jika demikian menurut surat ini.

Maka saya mencari makna dalam tafsir, karena kita tidak dapat memahami Al-Quran tanpa bantuan tafsir.

Iyas bin Muawiyah al Muzanni, mengatakan bahwa perumpamaan orang yang membaca Al-Quran tanpa tafsir adalah seperti orang yang menerima surat dari raja pada malam hari namun tidak memiliki lampu hingga tidak dapat membaca isi surat itu karena kegelapannya, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tafsir adalah seperti orang yang membaca surat itu dengan lampu.

Kembali ke surat Al-Waqiah, siapa mereka yang terdahulu itu ?

Menurut Al-Hasan dan Qatadah ; mereka ini dari setiap umat.

Utsman bin Abi Saudah berkata : “Mereka yang pertama kali pergi ke mesjid, dan yang pertama kali pergi jihad fisabilillah” intinya mereka semua yang bersegera untuk melakukan amal kebaikan seperti yang telah diperintahkan.

Para sahabat telah memberikan contoh yang baik untuk menjadi “orang terdahulu”, karena mereka sering berlomba-lomba dalam melakukan amal kebaikan, bahkan sering kita jumpai kisah-kisah dimana para sahabat senior saling berkompetisi dan bersaing dalam amal kebaikan, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab yang saling bersaing satu sama lain – dalam persaingan yang sehat tentunya.

Kalau dipikirkan, kapan kita pernah melihat orang-orang saling berlomba dalam kebaikan ? malah saat ini semua orang berlomba-lomba dalam menumpuk harta, mencari jabatan, ketenaran dan sebagainya.

Dan untuk tafsir Segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang kemudian” ini adalah berasal dari umat Nabi Muhammad, karena tidak diragukan lagi umat generasi pertama yaitu para sahabat adalah umat yang terbaik, dan disimpulkan bahwa ayat ini bersifat umum karena tiap umat memiliki kedudukannya sendiri, jika kita pelajari sejarah Islam selama 14 abad ini memang ada perbedaan dan corak ragam masing-masing dinasti dan generasi.

“Masih akan ada terus sekelompok orang dari umatku yang akan menegakkan kebenaran, mereka tidak akan dicelakakan oleh orang yang menghina mereka dan tidak pula orang yang menentang mereka sampai hari kiamat” (Hadist)

Jadi dari tafsir ini dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan “orang terdahulu” bukan mereka yang hidup dimasa lampau, namun ada pada setiap masa, tetapi tentunya derajat para sahabat dan tabi’in tetap menempati posisi paling atas dibandingkan dengan umat-umat setelahnya – mengingat banyaknya jasa mereka terhadap perkembangan Islam ini.

Saat ini kita akan memasuki Bulan Suci Ramadhan,

adalah waktu yang tepat untuk kita mencoba berusaha menjadi “orang terdahulu”, paling dahulu datang ke mesjid, paling duluan memberikan sedekah, paling duluan membantu orang susah, paling duluan memberikan salam, paling duluan memberikan maaf, paling duluan bertegur sapa, paling duluan dalam semua hal kebaikan, baik hal kecil maupun besar.

Semoga setelah Ramadhan ini kita termasuk dalam golongan “yang terdahulu” itu.

Aamiin.

Kindness-is-the-language