Puisi-puisi para Sahabat Radhiyallahu anhu

“I have never seen anyone better than you
Nor did any woman give birth to anyone more beautiful than you

You were created free from all faults
As if you were created just as you desired”

 

(Puisi dari Hassan Bin Tsabit untuk Nabi Muhammad SAW)

Dalam mempelajari sejarah Islam, ada satu hal yang kurang mendapatkan perhatian, yaitu puisi-puisi yang dikarang oleh para sahabat yang sangat indah.

Keindahan puisi-puisi ini sebenarnya tidak dapat diterjemahkan ke bahasa selain arab kecuali akan kehilangan kesempurnaannya, namun karena saya belum bisa menguasai bahasa ini jadi puisi-puisi yang saya cantumkan disini adalah terjemahannya saja.

Puisi-puisi ini bersumber dari kitab-kitab Shahih Bukhari, Muslim dan Imam al-Baghawi, dalam Islam puisi yang diperbolehkan adalah :

  • Pujian-pujian kepada Allah Subhanawata’ala dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihiwassalam
  • Doa dan nasihat yang baik
  • tarbiyah atau pendidikan untuk keimanan dan ketakwaan
  • Pujian kepada kaum muslim yang telah berjasa dalam jihad fi sabilillah

Para sahabat yang ahli dalam merangkai puisi ini mendapatkan status yang tinggi dan kedudukan yang mulia, mereka mendapatkan panggilan khusus yaitu “Hadrat” yang artinya “Orang yang dimuliakan karena kebaikan dan keluasan ilmunya”

“Duhai putra Hasyim yang santun,
sungguh Allah telah mengaruniaimu lebih dari seluruh manusia di mana tak ada hak mereka untuk iri dan dengki…
aku terpanah!
berulang-ulang kali terpanah dengan kelembutan budi pekertimu karena itu hanya orang pandirlah yang akan menolak ajaran yang Anda bawa, sebagaimana si pandir yang menolak ajaran Musa.”

 

(Puisi karangan Abdullah bin Rawahah saat Bai’ah Al-Aqabah)

Tiga penyair terkenal dari kalangan sahabat adalah Hadrat Hassan bin Tsabit, Hadrat Ka’b bin Malik dan Hadrat ‘Abdallah ibn Rawaha Radiallahu ‘Anhum.

Pernah Abdullah bin Rawahah berduka ketika ayat tentang penyair turun : “Dan para penyair diikuti oleh orang- orang yang sesat” (QS Asy-syua’ara 24)

Namun ia kembali gembira ketika ayat berikutnya turun : “Kecuali orang-orang [penyair] yang beriman dan beramal shaleh dan banyak ingat kepada Allah, dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya” (QS Asy-syu’ara 227)

“Sesungguhnya orang mukmin berjuang melalui pedang dan lidah [tintah]-nya.” Sabda Nabi SAW, Abdullah bin Rawahah kemudian terharu dan merasa sangat bahagia mendengar penjelasan itu

“O Allah, were it not for you,
We would not have been guided,
Nor would we have given charity, nor prayed.
So bestow on us calmness, and
when we meet the enemy,
Then make our feet firm, for indeed,
The enemy has revolted against us;
Yet if they want to afflict us
We oppose their affliction”.

 

Allahumma lawlaa Anta mahtadaynaa
Wa laa tasaddaqnaa walaa sallaynaa
Fa anzilan sakeenatan ‘alaynaa
Wa thabbitil aqdaama in laaqaynaa
Innal a’daaa qad baghaw ‘alaynaa
Idhaa araadu fitnatan abaynaa

 

(Puisi dari Abdullah bin Rawahah yang dinyanyikan kaum muslim dan Nabi Muhammad SAW saat menggali parit sebelum Perang Khandaq)

Setelah Penaklukan Mekkah, seorang penyair terkenal masuk Islam yaitu Ka’ab bin Zuhair, ia menggubah syair berisikan pujian kepada Nabi Muhammad yang sangat terkenal :

The Messenger a light is, source of light,
An Indian blade, a drawn sword of God’s swords,
Amid Quraysh companions. When they chose
Islam in Mecca’s vale, men said, “Be gone!”
They went, not weaklings, not as men that flee,
Swaying upon their mounts and poorly armed,
But heroes proud and noble of mien, bright clad
In mail of David’s weave for the encounter.

 

Inna’r Rasula lasaifun yustadaau bihi
Muhannadun min Suyufillahi maslulu
Fee fityatin min Quraysh-in qaala qaailuhum
Bibatni Makkata lamma aslamu zulu
Zaalu fama zaala ankaasun walaa kushufun
‘Indalliqaai walaa meelu ma’aazeelu
Shummul ‘araaneeni abtaalun labusuhum
Min nasji Dawud-a fi’l hayjaa saraabeelu

Setelah Ka’ab membacakan puisi itu dihadapan Nabi Muhammad, Nabi memberikan selendangnya (Burdah), puisi Ka’ab bin Zuhair ini dikenal sebagai “Qasidah Burdah”

Puisi adalah satu-satunya bukti dari tingginya peradaban bangsa arab dalam sejarah Islam, dan Allah Subhanawata’ala menurunkan Al-Quran yang suci kepada bangsa yang menguasai ilmu puisi yang tinggi sebagai bukti bahwa Al-Quran tidak dapat ditandingi oleh bahasa manusia, karena Al-Quran adalah berasal dari Allah Jalla jalalahu, maka dari itu puisi-puisi para sahabat semuanya berisikan pujian-pujian kepada Allah dan utusan-Nya Nabi Shalallahu ‘alaihiwassalam.

“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
tapi kenapa kulihat engkau menolak surga
wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati
inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti …
tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini
jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati!

 

(Puisi dari Abdullah bin Rawahah sebelum syahid di medan perang Mu’tah)

 

Advertisements

2 comments

  1. Bang Ical · May 3, 2016

    Sebentar lagi puasa. Ayo kita juga galakkan puisi transendental 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s