Etika memahami sejarah

Belakangan ini ada fenomena pengungkitan kejadian sejarah, terutama pada saat masa-masa gestapu, ada kekhawatiran munculnya kebangkitan gerakan ini lagi, disatu sisi pihak lain menginginkan dimaafkannya kesalahan orang-orang yang terlibat.

Saya sebenarnya tidak begitu mengikuti hal ini, terutama karena saya sudah tidak peduli lagi dengan berita-berita yang silih berganti ini. namun gara-gara beberapa orang yang terus menerus membahas ini akhirnya saya jadi tahu juga.

Memang bagus mempelajari sejarah, tapi satu hal yang penting adalah ; apa sih tujuan kita mempelajari ini ? buat apa kita membuang banyak waktu dan usaha untuk mengetahui detail-detail yang telah terjadi di masa lalu ? dan apa manfaatnya yang bisa kita dapatkan, selain bisa dipamerkan di posting-posting media sosial?

Saya juga sering bertanya pada diri sendiri tentang hal itu, akhirnya saya membatasi diri hanya untuk mempelajari hal-hal yang bisa memberikan jelas manfaat pada diri sendiri dan orang-orang terdekat saya.

intinya ; bukan seberapa banyak ilmu yang kita ketahui, tapi seberapa banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari ilmu itu.

Maka saya membatasi diri untuk mempelajari sejarah hanya di masa kenabian dan masa para sahabat dan tabi’in (generasi setelah para sahabat) karena pada masa-masa ini adalah masa paling penting bagi umat Islam, dan masa yang paling banyak hikmah yang terkandung di dalamnya.

Bahkan saya merasa perlu mempelajari berulang-ulang untuk hal ini, terutama pada masa kenabian (Sirah Nabawiyah)

Dan setelah masa itu, mulai masa para sahabat yang diawali dengan masa Khulafa Rasyidin (empat Khalifah pertama) dimana para sahabat mulai menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW dalam penyebaran dakwah dan memimpin umat.

Mempelajari masa ini sangat sulit, karena para sahabat – walaupun sudah mendapat jaminan masuk syurga, adalah manusia biasa, bukan Nabi yang selalu dijaga oleh Allah agar tidak membuat kesalahan, maka terjadi banyak hal dimana para sahabat membuat kesalahan, berselisih pendapat, bahkan sampai berperang dengan sesama mereka.

Pada awalnya saya merasa enggan untuk mempelajari ini, jauh lebih menyenangkan mempelajari kehidupan Nabi SAW yang indah itu, namun setelah saya mengetahui kode etika untuk mempelajari masa sahabat ini maka saya pun dapat memahaminya.

Pertama, Para Sahabat adalah manusia biasa.

Oleh karena itu pada pidato pertama Abu Bakar As-Shiddiq setelah diangkat menjadi Khalifah, ia berkata bahwa jika ia melakukan kesalahan maka ia minta agar rakyatnya mengkoreksinya.

Ini menunjukkan bahwa Abu Bakar radiyallahu anhu sangat paham bahwa ia bukan Nabi, jadi ia memerlukan rakyatnya untuk memberikan masukan dan koreksi. sikap Abu Bakar ini kemudian dicontoh oleh para penerusnya.

Kedua, situasi pada masa itu sangat berat dan berbeda dengan masa-masa lainnya.

Islam pada saat itu menghadapi berbagai ancaman, baik dari luar (Persia dan Romawi) dan masalah internal (pemberontakan), hingga akhirnya terjadi beda pendapat antar sahabat yang bahkan berujung pada perang saudara, dan penyebaran Islam yang eksponensial (luarbisa sangat cepat) memberikan dampak positif dan juga negatif.

Semua beban dan masalah yang muncul ini harus diselesaikan oleh para sahabat, hingga beberapa dari mereka membuat keputusan yang tidak populer, yang terpaksa dilakukan untuk menghindari dampak yang lebih buruk lagi.

Jadi apa etika yang kita gunakan untuk mempelajari sejarah para sahabat ? dan apa hubungannya dengan gestapu ini ?

Ada seorang imam terkenal (Hasan Al-Basri, kalau tidak salah ya) berkata bahwa ; “Allah sudah menyelamatkan saya dengan tidak membuat saya melihat kondisi pada saat fitnah (di masa para sahabat itu) terjadi, maka saya akan menyelamatkan diri saya dengan tidak membiarkan lidah saya membicarakan keburukan dari fitnah itu.”

Misalnya begini ; jika orang tua kita pernah berantam dan berselisih di masa lalu, apa lantas kita sekarang mengungkit-ungkitnya lagi setelah mereka tiada ? apa yang bisa kita dapat dari hal itu ? kecuali kesedihan dan kemarahan akibat dari mengingat hal yang tidak menyenangkan itu.

begitu juga sikap kita dengan para sahabat yang telah banyak berjasa ini, kita memang boleh tahu apa kesalahan mereka tapi kita tidak berfokus pada hal itu, dan segera meninggalkan topik tersebut untuk beralih pada hal yang lain.

Let the bygones be the bygones,

Satu contoh kisah dari masa Khulafa Rasydin yang paling sulit adalah pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, dimana Ali harus menghadapi berbagai masalah mulai dari pemberontakan khawarij, mosi tidak percaya dari Muawiyah dan para pengikutnya, Perang Jamal dan Perang Shiffin.

dari semua fitnah dan ujian itu, yang paling berat adalah kondisi mental rakyat Kuffah, kota dimana Ali bin Abi Thalib tinggal, rakyat Kuffah selalu rewel, manja, pemalas dan sering mengeluh, namun saat Ali memerintahkan mereka untuk berperang, mereka malah kabur dan bersembunyi di rumah mereka.

Ali bin Abi Thalib pernah ditanya oleh rakyatnya (dengan niat ingin menghinanya) : “Mengapa saat khalifah2 dulu kondisinya tertib, namun engkau yang menjadi khalifah kondisinya kacau?”

Ali radhiyallahu ‘anhu meberikan jawaban yang sangat menohok :

“Karena saat mereka menjadi khalifah, rakyatnya adalah aku, namun saat aku yang menjadi khalifah, rakyatnya adalah kamu dan orang-orang sepertimu”

So don’t be like people of Kuffah ; sudah rewel, manja, pemalas, tidak patuh dan malah membanding-bandingkan masa lalu dengan masa kini, tapi tidak memberikan kontribusi yang nyata.

Pastinya kita pun harus menjauhi sikap seperti itu dalam mempelajari sejarah bangsa kita sendiri, dan yang harus kita lakukan adalah :

  • tidak mencari-cari kesalahan dimasa lalu,
  • dan tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, seakan-akan masa lalu lebih baik dari saat ini,
  • berusaha menghormati dan tidak mencela tokoh-tokoh di masa lalu,

Memang banyak hal yang bisa didapat dari mempelajari sejarah, terutama hikmah-hikmah yang terkandung di dalam setiap kisahnya, asalkan kita dapat bersikap netral dan tidak terlalu terobsesi, maka kita akan dapat memetik manfaat darinya.

preview

 

 

 

 

Ka’ab bin Malik, Sujud syukur dan Perang Tabuk

beberapa waktu yang lalu, seseorang berkata bahwa pada saat Perang Tabuk itu terjadi kontak fisik antara kaum muslim dan musuh yaitu romawi, saya saat itu juga mengkoreksinya – dengan maksud baik tentunya.

Karena penting untuk memberi pemahaman bahwa pada perang ini hikmahnya BUKAN pada peperangan namun pada kejadian2 disekitarnya itu.

Dari kejadian ini kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kesungguhan dan keindahan keimanan para sahabat.

Perang Tabuk ; adalah perang terakhir dalam sejarah kenabian, dimana pada saat itu seluruh bangsa Arab telah bersatu dalam panji Islam, dan mereka menuju tempat yang disebut Tabuk, terletak diperbatasan negri Syam untuk menghadang pasukan romawi.

Ketidakmunculan pasukan romawi dapat disimpulkan bahwa Kaisar Heraclius mengetahui siapa Muhammad SAW ini sebenarnya, dan adalah hal yang sia-sia belaka jika ia mengirimkan pasukannya – walaupun pasukan romawi jumlahnya jauh lebih banyak dan lebih canggih dibandingkan kaum muslim, Heraclius enggan melawan utusan Allah.

Salah satu hikmah dari Perang Tabuk adalah sebagai ajang untuk menguji keimanan para sahabat, karena pada saat itu sedang musim panas dan kebun kurma di Madinah sedang panen, jadi berat bagi kaum muslim untuk mengikuti perintah ini, terutama bagi kaum munafik.

Namun bagi para sahabat tentunya hal ini adalah ajang untuk meningkatkan amal baik mereka, berbondong-bondong para sahabat menyumbangkan hartanya untuk dana perang, seperti yang diriwayatkan Abu Bakar as-Shiddiq bahkan menyumbangkan seluruh hartanya.

Kemudian Nabi dan kaum muslim berangkat menuju Tabuk yang memakan waktu sekitar sebulan diperjalanan, adalah Ka’ab bin Malik yang masih menunda keberangkatannya karena dia masih sibuk mengurusi kebun kurmanya yang sedang berbuah, namun akibat kesibukan itu akhirnya dia tidak dapat menyusul kaum muslim ke Tabuk.

Hingga akhirnya Ka’ab sedih dan menyesali kecerobohannya itu.

Ketika kaum muslim telah kembali ke Madinah, Nabi SAW memanggil orang-orang yang tidak ikut pergi perang, kaum munafik segera membuat berbagai alasan agar tidak diberikan hukuman, namun Ka’ab dan dua orang sahabat tidak memberikan alasan apapun. karena mereka jujur dan sungguh menyesali kesalahannya itu.

Akhirnya Ka’ab bin Malik dan kedua sahabat itu diberikan hukuman boikot (hajr) atau isolasi dari semua kontak sosial, hingga Nabi menerima keputusan dari Allah SWT.

Hajr atau boikot, mungkin bagi kita kelihatan sebagai hukuman yang ringan, namun sebenarnya hukuman ini memberikan efek psikologis yang sangat berat, jika penerimanya tidak kuat mental maka mereka bisa gila atau bunuh diri. sebegitu beratnya bentuk hukuman ini bahkan isolasi/boikot adalah penyiksaan yang diberikan kepada pelaku kriminal berat.

Dari ketiga orang yang dihukum itu, hanya Ka’ab yang masih berani berjalan keliling kota walaupun tidak ada seorang pun yang menegurnya, bahkan keluarga dan teman dekatnnya tidak menegurnya, hal ini menunjukkan betapa patuhnya kaum muslim pada keputusan Nabi SAW.

Hari-hari berlalu, dan datang surat untuk Ka’ab dari Kaisar Heraclius yang disampaikan oleh mata-mata, berisikan ajakan dari kaisar romawi itu kepada Ka’ab untuk membelot sambil diberikan iming-iming kedudukan dan harta, seketika itu juga Ka’ab menyobek-nyobek surat itu.

Ditengah ketidakpastian kapan berakhirnya hukumannya itu, Ka’ab tetap teguh pada keimanannya.

Setelah berlalu satu bulan, datang berita bahwa Nabi menyuruh Ka’ab dan kedua sahabat yang sedang dihukum itu untuk berjauhan dari istri-istri mereka, Ka’ab dengan patuh menyetujui hal itu.

Ketika situasi dirasakan Ka’ab semakin berat dan menekannya, pada suatu pagi selepas subuh, Ka’ab sedang berdiri di atas atap rumahnya selesai sholat, ia melihat seseorang berlari menghampirinya dan berteriak ; “Wahai Ka’ab, bergembiralah !” seketika itu Ka’ab langsung tersungkur dalam sujud syukurnya.

Saking gembirnya, Ka’ab memberikan bajunya kepada pembawa berita itu, dan ia baru sadar bahwa ia tidak memiliki baju lain, karena hampir semua hartanya sudah ia sedekahkan pada masa boikot itu.

Ka’ab dan kedua sahabat itu langsung menemui Nabi shallallahu `alaihi wasallam yang wajahnya berseri seperti bulan purnama dan beliau memberikan kabar gembira bahwa Allah telah menerima taubat mereka.

Kesimpulan dari kisah Ka’ab bin Malik ini adalah :

  • Kejujuran Ka’ab dan kedua sahabatnya, yang tidak membuat alasan palsu seperti kaum munafik
  • kepatuhan semua kaum muslim atas keputusan Nabi pada Ka’ab dan dua sahabatnya itu, hingga seluruh kota Madinah memboikot ketiga orang itu
  • kesabaran Ka’ab dalam menerima hukuman berat itu, terutama saat datang godaan dari surat kaisar romawi
  • Sujud syukur sebagai reaksi pertama Ka’ab ketika mengetahui hukumannya telah berakhir, bahwa sujud memang hal yang patut dilakukan oleh orang-orang yang senantiasa dekat dengan Rabb-nya

Kisah Ka’ab bin Malik ini adalah salah satu dari beberapa kisah indah lainnya dari Perang Tabuk, memang pada perang ini tidak terjadi perang sebenarnya namun perang terakhir dalam masa kenabian inilah yang menjadi ajang penguat keimanan para sahabat hingga mereka patut disebut sebagai kaum terbaik yang pernah ada dalam sejarah umat manusia.

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allahlah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah: 118).

 

 

 

 

 

 

 

 

Puisi-puisi para Sahabat Radhiyallahu anhu

“I have never seen anyone better than you
Nor did any woman give birth to anyone more beautiful than you

You were created free from all faults
As if you were created just as you desired”

 

(Puisi dari Hassan Bin Tsabit untuk Nabi Muhammad SAW)

Dalam mempelajari sejarah Islam, ada satu hal yang kurang mendapatkan perhatian, yaitu puisi-puisi yang dikarang oleh para sahabat yang sangat indah.

Keindahan puisi-puisi ini sebenarnya tidak dapat diterjemahkan ke bahasa selain arab kecuali akan kehilangan kesempurnaannya, namun karena saya belum bisa menguasai bahasa ini jadi puisi-puisi yang saya cantumkan disini adalah terjemahannya saja.

Puisi-puisi ini bersumber dari kitab-kitab Shahih Bukhari, Muslim dan Imam al-Baghawi, dalam Islam puisi yang diperbolehkan adalah :

  • Pujian-pujian kepada Allah Subhanawata’ala dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihiwassalam
  • Doa dan nasihat yang baik
  • tarbiyah atau pendidikan untuk keimanan dan ketakwaan
  • Pujian kepada kaum muslim yang telah berjasa dalam jihad fi sabilillah

Para sahabat yang ahli dalam merangkai puisi ini mendapatkan status yang tinggi dan kedudukan yang mulia, mereka mendapatkan panggilan khusus yaitu “Hadrat” yang artinya “Orang yang dimuliakan karena kebaikan dan keluasan ilmunya”

“Duhai putra Hasyim yang santun,
sungguh Allah telah mengaruniaimu lebih dari seluruh manusia di mana tak ada hak mereka untuk iri dan dengki…
aku terpanah!
berulang-ulang kali terpanah dengan kelembutan budi pekertimu karena itu hanya orang pandirlah yang akan menolak ajaran yang Anda bawa, sebagaimana si pandir yang menolak ajaran Musa.”

 

(Puisi karangan Abdullah bin Rawahah saat Bai’ah Al-Aqabah)

Tiga penyair terkenal dari kalangan sahabat adalah Hadrat Hassan bin Tsabit, Hadrat Ka’b bin Malik dan Hadrat ‘Abdallah ibn Rawaha Radiallahu ‘Anhum.

Pernah Abdullah bin Rawahah berduka ketika ayat tentang penyair turun : “Dan para penyair diikuti oleh orang- orang yang sesat” (QS Asy-syua’ara 24)

Namun ia kembali gembira ketika ayat berikutnya turun : “Kecuali orang-orang [penyair] yang beriman dan beramal shaleh dan banyak ingat kepada Allah, dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya” (QS Asy-syu’ara 227)

“Sesungguhnya orang mukmin berjuang melalui pedang dan lidah [tintah]-nya.” Sabda Nabi SAW, Abdullah bin Rawahah kemudian terharu dan merasa sangat bahagia mendengar penjelasan itu

“O Allah, were it not for you,
We would not have been guided,
Nor would we have given charity, nor prayed.
So bestow on us calmness, and
when we meet the enemy,
Then make our feet firm, for indeed,
The enemy has revolted against us;
Yet if they want to afflict us
We oppose their affliction”.

 

Allahumma lawlaa Anta mahtadaynaa
Wa laa tasaddaqnaa walaa sallaynaa
Fa anzilan sakeenatan ‘alaynaa
Wa thabbitil aqdaama in laaqaynaa
Innal a’daaa qad baghaw ‘alaynaa
Idhaa araadu fitnatan abaynaa

 

(Puisi dari Abdullah bin Rawahah yang dinyanyikan kaum muslim dan Nabi Muhammad SAW saat menggali parit sebelum Perang Khandaq)

Setelah Penaklukan Mekkah, seorang penyair terkenal masuk Islam yaitu Ka’ab bin Zuhair, ia menggubah syair berisikan pujian kepada Nabi Muhammad yang sangat terkenal :

The Messenger a light is, source of light,
An Indian blade, a drawn sword of God’s swords,
Amid Quraysh companions. When they chose
Islam in Mecca’s vale, men said, “Be gone!”
They went, not weaklings, not as men that flee,
Swaying upon their mounts and poorly armed,
But heroes proud and noble of mien, bright clad
In mail of David’s weave for the encounter.

 

Inna’r Rasula lasaifun yustadaau bihi
Muhannadun min Suyufillahi maslulu
Fee fityatin min Quraysh-in qaala qaailuhum
Bibatni Makkata lamma aslamu zulu
Zaalu fama zaala ankaasun walaa kushufun
‘Indalliqaai walaa meelu ma’aazeelu
Shummul ‘araaneeni abtaalun labusuhum
Min nasji Dawud-a fi’l hayjaa saraabeelu

Setelah Ka’ab membacakan puisi itu dihadapan Nabi Muhammad, Nabi memberikan selendangnya (Burdah), puisi Ka’ab bin Zuhair ini dikenal sebagai “Qasidah Burdah”

Puisi adalah satu-satunya bukti dari tingginya peradaban bangsa arab dalam sejarah Islam, dan Allah Subhanawata’ala menurunkan Al-Quran yang suci kepada bangsa yang menguasai ilmu puisi yang tinggi sebagai bukti bahwa Al-Quran tidak dapat ditandingi oleh bahasa manusia, karena Al-Quran adalah berasal dari Allah Jalla jalalahu, maka dari itu puisi-puisi para sahabat semuanya berisikan pujian-pujian kepada Allah dan utusan-Nya Nabi Shalallahu ‘alaihiwassalam.

“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
tapi kenapa kulihat engkau menolak surga
wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati
inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti …
tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini
jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati!

 

(Puisi dari Abdullah bin Rawahah sebelum syahid di medan perang Mu’tah)