Ada Apa Dengan Cinta

Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan karena saya gak punya duit buat beli makanan di kantin.

Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Puisi saya menang dan membuat nama saya terkenal diseluruh sekolah.

ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara, “Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading, “Saya Cinta”

Rangga : “Ada perlu apa sih?”

Cinta : “Saya tau kamu contek puisi itu dari buku koleksi puisi jadul ! beli dimana?”

Rangga : “Kalo mau murah beli buku di pasar kwitang aja”

Cinta : “Kamu antar saya kesana ya, kalo gak nanti saya laporin kamu lho”

Rangga : (keluh) “Iya deh, eh ini kencan apa bukan sih ? Saya cuma mau mastiin aja, supaya nggak salah sangka”

Cinta : “Bukan kencan, tapi morotin dompet kamu, kan nanti kamu yang bayar semua buku yang saya beli !”

Di Pasar Kwitang…..Cinta lagi asik baca buku Karl Marx dan Sigmund Freud, cuekin si Rangga.

Rangga : “Ya ampuuun”

Cinta : “kenapa sih gaaaa ?”

Rangga : “Kamu kan ada janji nonton konser sama temen-temen kamu yang super gaul en cihuy itu, pergi deh sana”

Cinta : “Jangan gitu dong, saya belum sempat baca semua buku ini !”

Rangga : “Kayak nggak punya kepribadian aja”

Cinta : “Apa kamu bilang !?”

Rangga : “Yaaa, perempuan kayak kamu nggak pantes aja jalan di tempat kayak gini”

Cinta : ” Perempuan kayak gue? Perempuan kayak gimana tuh maksud lo?! Rugi! Gue buang-buang waktu sama elo! ini bawa semua buku gue ! bayar tuh semua buku ini ke si bapak itu !”

Rangga pulang sambil membawa tumpukan buku-buku yang dibeli Cinta.

Besoknya di lapangan basket

Rangga : “Saya mau minta maaf sama kamu. Yang di Kwitang kemarin.”

Cinta : “Maaf apaan?”

Rangga : ” saya udah bikin kamu marah. Makanya sekarang saya minta maaf sama kamu”

Cinta : “Ya udah, dimaafin !!”

Rangga : “Cinta, saya cuman pengen bisa baca buku aneh bin ajaib kayak kamu yang kamu baca biar saya jadi aneh kayak kamu, tapi saya gak bisa, cinta”

Cinta : “Nah sekarang kalo elo gak bisa kayak gitu, salah siapa sekarang gue tanya? SALAH GUE ???! Salah temen-temen gue??

Sejak itu, Cinta menjauhi saya di sekolah. Tiap saya telepon, nggak diangkat, dikirim wasap cuman dibaca aja, gak pernah dibales.

Sampai akhirnya, saya pamit ke Pak Wardiman karena saya harus pergi ke Amerika.

“Saya mau kuliah di New York. Biar malamnya, saya bisa main ke Hollywood” pamit saya.

“Hati-hati ya banyak copet disana,” komentar Pak Wardiman.

Ketika saya berpelukan dengan Pak Wardiman, salah satu teman Cinta yang bernama Karmen memergoki. Kabar saya yang ingin ke Amerika sampai ke telinga Cinta. Akhirnya, Cinta bersama teman-temannya mengejar saya ke bandara.

Di airport, Cinta berlari mengejar Rangga,

Cinta : “Ranggaaa !!”

Rangga : “Cinta ?”

Cinta : “Rangga… Rangga, waktu terakhir sekali saya ketemu kamu, saya nggak marah sama kamu. Saya marah sama diri saya sendiri. Rangga maafin saya ya plis, saya nggak mau kamu ninggalin saya kayak gini, sebelum saya kasih kamu daftar buku-buku yang harus kamu beliin buat saya di New York”

Rangga : “Maksud kamu?”

Cinta : “Ga, disini susah cari buku bagus, ini kamu bawa daftar ini ya, kalo bisa beli yang hardcover biar lebih mahal”

Rangga : “tapi uang saya gak cukup buat beli semua buku ini, cinta!”

Cinta : “INI GAK FAIR!!” (mulai nangis)

Rangga : “Cinta, sabar ya, nanti saya coba beli kalau saya dapat uang dari kerja sambilan ya”

Cinta tersenyum manis sambil menjitak Rangga dengan bukunya

 

 

 

 

 

Sehari atau Setengah Hari

Belakangan ini saya mencoba memahami Al-Quran secara intensif dengan menggunakan beberapa tafsir, dan saya menemukan hal yang menarik ; ada tiga cerita berbeda yang dimana terjadi percakapan yang sama pada tiga tempat berbeda di Al-Quran

Percakapan yang sama itu adalah :Qolu labitsna yauman au ba‘dho yaum“Saya/kami telah tinggal di sini sehari atau setengah hari.”

Nah, “Yauman au ba’dho yaum” yang pertama ada pada surat Al-Baqoroh ayat 259, dimana Allah SWT menidurkan seorang lelaki selama seratus tahun dan membangunkannya, kemudian lelaki itu ditanya berapa lama dia disitu maka dijawabnya : “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari.”

Hikmah dari “Yauman au ba’dho yaum” yang pertama ini adalah kekuasaan Allah SWT yang sanggup menghidupkan yang telah mati. orang itu akhirnya berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

dan “Yauman au ba’dho yaum” kedua ada pada kisah yang terkenal yaitu Ashabul Kahfi (penghuni gua) pada surat Al-Kahfi, dimana pada saat penghuni gua itu bangun, mereka bingung dan berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. (ayat 19)

Padahal mereka telah berada digua itu lebih dari tiga ratus tahun, kisah kedua inipun juga membuktikan kekuasaan Allah SWT yang dapat membangkitkan para penghuni gua dan juga untuk membuktikan bahwa hari kebangkitan adalah benar.

namun “Yauman au ba’dho yaum” ketiga sangat berbeda dengan dua kisah lainnya, terdapat di akhir surat Al-Mukminuun dimana Allah bertanya kepada orang-orang yang telah masuk ke dalam neraka tentang berapa tahun mereka hidup di dunia,

dan orang-orang di neraka menjawab dengan jawaban yang sama : “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung”. (ayat 113)

Mengapa orang-orang di neraka itu merasa mereka hanya sebentar saja di dunia ? padahal mereka mendapatkan umur yang sama seperti manusia lainnya yaitu sekitar 60-70 tahun, namun karena mereka melihat bahwa dalam waktu hidupnya itu tidak ada hasil yang dapat menyelamatkan mereka dari neraka, hingga mereka merasa bahwa hidup mereka sangat singkat di dunia,

bahkan dalam kepanikan dan keputusasaan mereka itu, mereka menantang Allah SWT untuk mengecek kepada “orang-orang yang menghitung” yaitu malaikat tentang berapa lama mereka hidup di dunia.

Pada ayat berikutnya Allah memberitahu bahwa memang hidup di dunia ini sangat singkat, namun seharusnya setiap manusia memanfaatkan waktu yang diberikan di dunia ini untuk melakukan amal kebaikan yang dapat menyelamatkan mereka dari siksa neraka.

Semoga kita termasuk dalam golongan yang dapat memanfaatkan waktu kita di dunia ini dengan sebaik-baiknya.

 

 

Hidup tanpa kantung empedu : Kopdar pertama

Hampir empat tahun yang lalu saya menulis artikel tentang penyakit batu empedu : “Hidup tanpa kantung empedu” dengan niat hanya untuk membuat dokumentasi tentang penyakit ini saja, ternyata respon yang saya dapat sangat banyak, hingga akhirnya salah seorang pembaca artikel – Bapak William mengusulkan untuk membuat grup di Whatsapp untuk menjadi wadah sharing antara sesama penderita penyakit ini.

Alhamdulillah hari ini beberapa dari anggota grup ini dapat melakukan kopdar pertama, berkat jasa Mbak Myrna dan Mbak Cicik yang sudah berupaya untuk mengumpulkan kami dan mencarikan tempat yang paling nyaman untuk kopdar yaitu di restoran Saung Mang Engking di Serpong

Tujuan dari diadakannya kopdar selain untuk menjalin silaturahmi, juga untuk mencarikan solusi yang baik untuk setiap anggota grup agar dapat menjalankan pola hidup sehat

Acara dimulai dengan sesi perkenalan dan dilanjutkan dengan sharing mengenai pengalaman dengan penyakit batu empedu.

Dari semua yang hadir, empat orang sudah mengambil tindakan operasi pengangkatan kantung empedu yaitu : Saya sendiri, Bapak Handri, Bu Riza, dan Bu Myrna, sedangkan lainnya belum dioperasi yaitu : Bu Yulianti, Mbak Cicik, Mbak Rika dan Bu Nina.

Dari Kiri ke Kanan :  Mbak Nina, Mbak Riza, saya, Bu Yulianti, Mbak Cicik, Mas Handri, Mbak Myrna dan Mbak Rika

Dari Kiri ke Kanan :
Mbak Nina, Mbak Riza, saya, Bu Yulianti, Mbak Cicik, Mas Handri, Mbak Myrna dan Mbak Rika

dari kelompok yang sudah dioperasi (tidak punya kantung empedu) kami semua sama-sama merasakan masih mempunyai keluhan yang sama yaitu sering begah (kembung), mudah letih dan kadang diare.

dari kelompok yang belum dioperasi masih merasakan gejala yang kurang lebih sama dan juga masih kambuh penyakit mag.

Hampir semua yang hadir sudah menjalankan pola makan sehat, juga sudah pernah melakukan terapi apel, dan setelah melakukan itu terbukti bahwa jumlah batu dalam kantung empedu berkurang.

ada beberapa tips untuk menjaga stamina yang telah dilakukan sebagian dari anggota grup yaitu :

  • meminum suplemen habbatusauda dan omega3 setiap hari
  • meminum cuka apel tiap pagi satu sendok makan
  • membatasi jumlah makanan
  • beristirahat jika merasa kelelahan
  • tetap terus mengurangi konsumsi makanan berlemak dan gorengan
  • berolahraga secara rutin
  • terapi jeruk nipis peras (jeniper) hangat setiap pagi
  • kapsul albumin untuk menguatkan fungsi hati
  • sari temulawak untuk kesehatan liver

Diakhir sesi, Bu Yulianti memberikan presentasi tentang Psikosomatis dan hubungannya dengan penyakit batu empedu,

Topik tentang Psikosomatis sudah saya tulis di artikel : “Psikosomatis ; gangguan fisik akibat gangguan mental”

Psikosomatis adalah penyakit yang dimana pikiran mempengaruhi kondisi tubuh, kondisi mental yang tidak stabil dan lemah akan mempengaruhi kesehatan mental secara signifikan, dan sering kali serangan batu empedu dipicu oleh psikosomatis.

Cara meredakan psikosomatis :

  • Psikoterapi ; mengkonsumsi obat antidepresan
  • latihan relaksasi, meditasi, dsb
  • sharing dengan psikolog atau rekan yang dipercaya

Intinya untuk mendapatkan kesembuhan dari segala penyakit – bukan hanya batu empedu, adalah dengan selalu menjaga kesehatan mental dan spiritual

Kemudian Bu Yulianti menyuruh kami semua untuk membacakan deklarasi berikut ini :

“Aku SEHAT, aku BAHAGIA

Hidupku penuh KEDAMAIAN

Terima semua dengan IKHLAS, selalu berpikiran POSITIF

Serahkan semuanya kepada TUHAN yang Maha KUASA

Terus TERSENYUM”

Demikian kopdar kami berakhir dengan meninggalkan kesan yang mendalam dan banyak hal yang dapat kami bagikan kepada teman-teman di grup juga kepada keluarga di rumah.

Terima kasih banyak kepada Bapak Handri yang sudah repot mengumpulkan kami dan memilih tempat kopdar, terima kasih kepada Bapak William sebagai pencipta grup kami di Whatsapp, terima kasih kepada Mbak Riza, Mbak Nina, Mbak Cicik, Mbak Rika yang sudah datang, juga kepada Bu Yulianti yang sudah memberikan presentasi yang luasbiasa.

Terutama terima kasih banyak untuk Mbak Myrna yang sudah mengkoordinasikan acara ini, mencarikan tema dan sesi psikolog, alhamdulillah acara berjalan lancar berkat jasa-jasa beliau.

Saya sangat bersyukur karena semua ini adalah berkat dari rahmat Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, hingga kami dapat berkumpul dan saling berbagi.

Semoga kebersamaan dalam nuansa sehat dan positif ini dapat selalu terjalin.

(untuk pembaca yang ingin bergabung dengan grup kami, silakan hubungi saya pada kontak disini)

Kopdar grup KE