Hidup tanpa Kantung Empedu : Spiritual Healing

“Dan Kami turunkan AL-Quran sebagai Penyembuh dan Rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Al-Isra : 82)

Sudah lama terakhir kali saya menulis tentang penyakit batu empedu, namun sampai hari ini masih ada yang mengirim email kepada saya menanyakan tentang hal ini, seakan-akan posting-posting saya yang sebelumnya tidak cukup menberikan informasi tentang penyakit ini.

Kali ini saya tidak akan menuliskan tentang cara penyembuhan lain, karena semua yang saya ketahui sudah saya tulis pada posting-posting sebelumnya, dan pada posting ini saya akan menceritakan asal muasal kenapa saya mendapatkan penyakit ini hingga kondisi saya saat ini.

Awalnya saya mendapat diagnosa penyakit ini pada sekitar tahun 1999, pada saat itu dokter sudah menyuruh saya untuk mengambil tindakan operasi – karena batu sudah terlalu banyak dan terjadi peradangan, namun saya mencoba memakai obat herbal “Pusaka Ambon” dan semua batu di kantung empedu saya berhasil hilang

Pada tahun 2002 saya merasakan peradangan yang lebih parah dari sebelumnya dan berkali-kali saya masuk ke UGD, hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tindakan operasi, ada dua alasan kenapa saya mengambil tindakan itu :

  1. Saya tidak tahu adanya efek samping setelah kantung empedu hilang,
  2. kondisi fisik dan mental saya saat itu sangat lemah, hingga saya memerlukan tindakan yang cepat untuk penyembuhan

Jadi setelah operasi, selama beberapa tahun saya merasakan perubahan kondisi fisik yang sangat jelas seperti sering mual dan kembung, cepat lelah dan pusing.

Namun kondisi sekitar saya sangat tidak mendukung pada saat itu, hingga saya mengabaikan semua gejala tersebut. Hingga alhamdulillah pada tahun 2010 saya kembali kepada keluarga saya yang sangat memperhatikan dan menyayangi saya, dan mulai saat itu saya dapat lebih memperhatikan kondisi kesehatan saya dan menemukan sebab semua gejala itu adalah akibat dari hilangnya kantung empedu.

Dan kondisi saya saat ini sebenarnya belum benar pulih seperti sebelumya, namun berkat keluarga saya yang sangat perhatian pada saya hingga saya dapat menjaga pola makan dan lebih memperhatikan kondisi fisik saya.

Pada posting2 sebelumnya saya sudah menjelaskan dua cara pengobatan penyakit ini yaitu pengobatan herbal dan pengobatan modern, dan saya sudah menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda hingga saya TIDAK bisa merekomendasikan pilihan pengobatan yang terbaik.

Namun ada cara lain yang setidaknya bisa membantu dan bisa dilakukan semua orang yaitu pengobatan spiritual,

Pengobatan spiritual yang saya lakukan tentunya berdasarkan dari ajaran agama yang saya anut, dan ternyata hal ini sangat membantu dalam proses penyembuhan saya, dan membuat saya menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya,

Berikut beberapa hal yang saya lakukan untuk mencapai kesehatan rohani :

  • Menambah ilmu agama, saya paham bahwa saya harus mengenal siapa Tuhan yang menciptakan saya, mengapa saya harus beribadah hanya kepada-Nya, mengapa saya harus mencintai-Nya, mengapa saya diberikan penyakit ini, semua pertanyaan itu hanya saya dapatkan setelah saya mengenal Tuhan saya dengan membaca banyak buku-buku agama dan menghadiri pengajian.
  • Memahami bahwa setiap manusia (dan saya juga) tidak diciptakan secara sia-sia, setiap insan memiliki tugas masing-masing, dan kita mempunyai pilihan untuk menjadi manusia yang baik
  • Dimanapun, kapanpun saya berada, saya harus memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, jadi bukan hanya ketika sedang beribadah saja, namun setiap waktu saya usahakan untuk terus mengingat-Nya
  • Satu-satunya senjata yang paling ampuh yang saya miliki adalah doa, maka saya akan terus berdoa kepada Tuhan, agar saya bisa terus mensyukuri semua nikmat yang ada dalam hidup ini
  • Setiap kali saya merasa kesakitan dan kelelahan, saya berusaha untuk tidak mengeluh dan mengucapkan syukur kepada Tuhan serta memanjatkan doa untuk kebaikan dari penyakit ini.
  • Keberadaan saya di dunia ini hanyalah sementara, saya berasal dari-Nya dan saya akan kembali kepada-Nya, maka tujuan hidup saya di dunia ini adalah agar saya dapat kembali kepada-Nya
  • Menyadari bahwa kesembuhan rohani ini hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman, maka saya akan terus memanjatkan doa agar keimanan saya tetap terjaga hingga akhir hidup saya ini.

 

Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi tempat singgah untuk anak-anak yang memiliki penyakit parah – kanker, leukimia, dsb. mereka adalah anak-anak yang sudah tidak memiliki harapan untuk sembuh, namun kesabaran dan semangat mereka untuk hidup tetap terpancar, hingga membuat saya malu dengan kondisi saya yang masih sehat.

Dengan bersyukur dan berbagi kepada yang lain juga akan menumbuhkan semangat dalam hidup, kita perlu berada disekitar orang-orang yang memiliki aura positif untuk memberikan pengaruh yang baik kepada kita.

Dan yang terpenting adalah kita harus memiliki kesabaran, satu-satunya cara untuk meraih kesabaran adalah dengan memohon kepada Tuhan agar diberikan kesabaran, karena Tuhan adalah yang bersama orang-orang sabar ; wallahu ma’ashobirin

La tahzan, innallaha ma’as sobirin

 

 

 

Advertisements

“Tawaffani Muslimaa wa alhiqnii bish-Shoolihiin”

“an Honest man is the noblest work of God”

 

Pada saat saya sedang mempelajari sejarah hidup Khalifah pertama yaitu Abu Bakar ash-Shidiq, saya menemui bahwa pada saat menjelang kematiannya, beliau mengucapkan doa : “Tawaffani Muslimaa wa alhiqnii bish-Shoolihiin” (wafatkan aku dalam Islam dan bangkitkan aku bersama orang-orang sholeh)

ini ternyata adalah doa Nabi Yusuf Alaihissalam yang terdapat pada Surat Yusuf

namun mengapa Abu Bakar mengucapkan doa ini ? dari sekian banyak doa-doa yang terdapat di dalam Al-Quran mengapa beliau memilih doa ini pada saat sakaratul maut ?

kemudian saya membuka beberapa tafsir dari doa Nabi Yusuf itu, ternyata dibalik doa indah itu, Nabi Yusuf sedang berduka setelah ayahnya, Nabi Ya’kub alaihissalam wafat, kematian ayahnya itu sungguh membuatnya sangat berduka hingga dia larut dalam kesedihan hingga diakhir hidupnya

Jadi, “Tawaffani Muslimaa” – wafatkan aku dalam Islam ; artinya adalah Yusuf ingin diwafatkan dalam kondisi terbaik, yaitu dalam kondisi beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanawata’ala.

dan “Wa alhiqnii bish-Shoolihiin” – bangkitkan aku bersama orang-orang sholeh ; makna dari kalimat ini adalah permintaan agar di hari akhir nanti agar dibangkitkan bersama kaum sholeh yaitu kaum yang beriman – yang ternyata di hari akhir nanti hanya ada DUA golongan ‘ yaitu :

  • golongan yang beriman yang tentunya akan masuk surga,
  • dan golongan yang tidak beriman yaitu yang akan masuk neraka.

dan “wa alhiqnii bish-Shoolihiin” ini ternyata ada makna tersirat yaitu keinginan dan hasrat Yusuf agar bisa dipertemukan dengan ayahnya yang tercinta yaitu Nabi Ya’kub, bahkan juga ingin bertemu dengan kakek2nya yaitu Nabi Ishak dan Nabi Ibrahim.

Maka tidak berlebihan jika bisa disimpulkan bahwa saat Abu Bakar mengucapkan doa ini di saat sakaratul mautnya adalah keinginannya agar dapat dipertemukan dengan Nabi Muhammad SAW yang lebih dicintainya daripada ayah dan ibunya sendiri.

Semakin saya baca berulang-ulang tentang tafsir surat Yusuf ini semakin saya sadar bahwa surat yang indah ini ternyat memiliki kisah cinta yang paling indah dalam sejarah umat manusia yaitu kisah cinta antara orang tua dan anak yaitu Ya’kub dan Yusuf.

Sebagian dari kita telah kehilangan orang-orang yang kita sayangi, dan kita berduka dan larut dalam kesedihan berkepanjangan atas kepergian mereka

Namun apakah kita pun pernah menangisi diri kita sendiri ; karena kita belum tentu dapat berjumpa lagi dengan mereka ?

“Tawaffani Muslimaa wa alhiqnii bish-Shoolihiin”