Al-Baqiyatush-Shalihat

“To be doing good deeds is man’s most glorious task” – Sophocles

Dua minggu belakangan ini nenek kami yang hampir berusia 90 tahun mengalami masa krisisnya, tubuhnya yang sudah menua mulai tidak bisa berfungsi seperti dulu lagi, kemudian beberapa kali beliau mengalami masa-masa koma dan kehilangan kesadarannya

diantara masa-masa sulit itu nenek beberapa mengucapkan hal-hal yang aneh, salah satu ucapan nenek yang sangat saya ingat yaitu nenek berkata bahwa :

“harta itu tidak akan bermanfaat, tidak ada gunanya memperebutkan harta, yang akan kita bawa nantinya hanya amalan, Amalan itu yang akan abadi.”

Saya teringat akan satu ayat yang serupa di Al-Quran surat Al-Kahfi ayat 46 yang bunyinya :

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia. tetapi Amalan baik yang abadi (Al-Baqiyatush-Shalihat) itulah yang lebih baik disisi Tuhanmu dari segi balasannya dan lebih baik untuk menjadi harapan.”

Al-Baqiyatush-Shalihat, amalan-amalan baik yang abadi,

jika kita melihat terjemahan maka Al-Baqiyatush-Shalihat diartikan menjadi “Amalan kekal yang baik”, ini jadi aneh karena terjemahan hanya mengartikan Al-Quran dari kata-perkata tanpa mampu menjabarkan makna yang tersirat

Saya pernah dengar seorang ustad yang mengatakan bahwa membaca terjemahan itu hampir sama saja dengan TIDAK membaca Al-Quran, karena sering kali terjemahan tidak mampu menjelaskan tata bahasa Al-Quran yang luarbiasa indahnya

Untuk memahami makna Al-Baqiyatush-Shalihat, saya mengambil rujukan dari tafsir Al-Quran, biasanya tafsir yang saya gunakan adalah Ibnu Katsir dan Buya Hamka,

Jadi seharusnya amalan yang baik yang abadi disebut “As-Shalihatul Baqiyaat”, namun Allah Subhanawata’ala membaliknya menjadi Al-Baqiyatush-Shalihat untuk memberi penekanan bahwa amalan-amalan yang baik itu sangat abadi dan menjadi harapan kita setelah kita meninggalkan dunia yang sementara ini.

Buya Hamka menerjemahkan Al-Baqiyatush-Shalihat sebagai “Jejak yang baik” dan “Bekas yang Indah”

karena setelah kita meninggalkan dunia ini maka amalan-amalan yang baik itu menjadi “jejak-jejak” yang baik hingga bisa ditiru oleh orang-orang yang masih hidup agar mereka juga dapat memetik manfaat dari amalan-amalan tersebut untuk hidup mereka.

Ibnu Abbas mengartikan Al-Baqiyatush-Shalihat sebagai sholat lima waktu dan dzikir kepada Allah, Abdur-Rahman bin Zaid mengartikan Al-Baqiyatush-Shalihat sebagai semua amalan ibadah yaitu sholat, zakat, puasa, sedekah dan sebagainya.

sebelumnya disebutkan bahwa “Harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia” karena dua hal ini yang biasanya menjadi tujuan hidup kita, terutama harta, kita menghabiskan waktu kita untuk mencari harta, dan seringkali urusan anak-anak terlalu menyita perhatian kita, padahal ini hanya perhiasan dunia yang membuat kita dapat menikmati hidup kita di dunia.

Ya tentu saja kita tidak dilarang untuk mengejar dunia namun tujuan utama hidup kita tetap pada Al-Baqiyatush-Shalihat

Setelah dua minggu nenek mengalami masa krisisnya, akhirnya nenek kembali kepada Sang Pencipta dengan tenang dan damai, tidak ada sedikitpun tampak kesakitan saat nenek menghembuskan nafas terakhirnya, Allah Subhanawata’ala telah mengambil nenek dengan cara yang paling lembut dan paling indah,

Kami hanya bisa berdoa untuk kebaikan beliau, dan berdoa agar beliau dimaafkan segala dosa-dosanya, dan dilapangkan kuburnya, juga bersyukur karena nenek masih diberikan kesempatan untuk menitipkan wasiatnya pada kami agar memperbanyak amalan-amalan baik

Terima kasih, Nenek

miss u so much…..

 

IMG-20160116-WA0030

 

Advertisements

Skin in the Game

“At no point in history have so many non-risk-takers, that is, those with no personal exposure, exerted so much control.” – Antifragile

“Skin in the Game” adalah sebuah istilah yang belakangan ini sering digunakan, terutama untuk finansial lingo, “Skin” adalah sinekdot untuk “kepala” dan “Game” adalah sinekdot untuk komitment dan aksi,

Maka “Skin in the Game” adalah tentang mengambil suatu keputusan yang dilanjutkan dengan aksi, dan berkomitment untuk menanggung segala resikonya

Istilah ini pertama kali mulai terkenal saat Warrent Buffet melakukan investasi dengan dananya sendiri, yang artinya dia akan menanggung semua resiko baik kekalahan maupun kemenangan dari investasi tersebut,

Namun istilah “Skin in the Game” ini tidak hanya digunakan untuk finansial lingo saja, namun untuk semua profesi dan tindakan secara umum,

kita mengetahui bahwa semakin besar kekuasaan, maka akan semakin besar tingkat resiko yang ditanggung orang yang memikulnya,

with greater status came greater exposure to risk,

Misalnya pada masa medieval dulu, jika seorang raja melakukan kesalahan, maka dia akan dihukum pancung, bahkan seluruh keluarganya juga di hukum mati seperti yang terjadi saat revolusi prancis.

Sayangnya di kehidupan modern ini hal itu terjadi sebaliknya ; semakin tinggi kekuasaan seseorang, maka resiko yang ditanggungnya justru semakin kecil,

Apakah akibat yang timbul dari fenomena ini ? terjadi ketidakadilan, ketimpangan sosial, hilangnya harga diri, kita terbiasa mendengar berita korupsi dan hukum yang salah arah, seseorang yang tidak kompeten menduduki posisi yang berpeluang untuk menentukan nasib orang banyak adalah hal yang sangat membahayakan

Jadi siapa saja orang yang TIDAK memiliki “Skin in the Game” ?

  • Banker, Sales, Fund Manager yang melakukan transaksi investasi beresiko tinggi, namun tidak menanggung kerugiannya, bahkan membebankan kerugian tersebut pada klien, pemerintah dan rakyat sebagai pembayar pajak
  • CEO perusahaan yang membuat keputusan salah hingga membuat perusahaan bangkrut namun walk-out dengan bonus yang besar
  • Jurnalis dan penulis kolom yang membuat berita yang memprovokasi rakyat, namun berdalih bahwa mereka melakukan itu untuk membeberkan kebenaran
  • Politikus hitam dan aparat negara yang melakukan tindakan gegabah dan membebankan negara atas kesalahan yang mereka buat

Dari sekian contoh itu terlihat bahwa mereka yang tidak memiliki “Skin in the Game” adalah mereka yang tidak memiliki komitmen dan tidak sanggup memikul amanah dari jabatan yang mereka ambil,

Kita patut memahami hal ini agar kita tidak terjebak dalam profesi yang serupa, karena pada saat kita telah masuk dalam situasi yang tidak memiliki “Skin in the Game” maka pastinya akan sangat sulit untuk melepaskan diri dari hal itu

Mengapa sangat sulit ?

karena situasi telah membuat kita merasa aman dan nyaman melakukan hal itu, terutama lagi karena kita tidak menanggung semua resiko dan akibat dari hal-hal yang kita lakukan.

Kecuali mereka yang benar-benar memiliki niat yang kuat dan hati yang tulus – tentunya akan bisa lepas dari ini

(bersambung ke bagian kedua)

 

 

 

what we really need now

Think of the word “money” for moment. What’s the first image that comes to mind?

Perhaps the folded paper in your wallet. Or the balance in your bank account.

Or perhaps the investments in your brokerage account.

In our modern financial system where unelected central bankers wield totalitarian control over the financial system, all three of these are forms of money.

But the relationship between them is very tenuous, and very risky. I’ll explain:

 

1) Physical cash

No matter where you live in the world, just about every civilized nation on the planet has some form of physical currency in various denominations. Dollars. Pounds. Euros. Yen. Renminbi.

We pass around these pieces of paper as a medium of exchange.

You can go to the grocery store, and, as long as you’re in the US, you can pay for your food with US dollar physical cash. Or if you’re in Canada, with Canadian dollar physical cash. Simple.

 

2) Bank balances

This is where it starts getting more complicated.

When you log in to your bank’s website, you see a balance printed on the screen. Let’s say it’s $100,000.

Don’t think for a second that there are one hundred thousand pieces of paper sitting in your bank’s vault. In fact most banks have very little cash on hand.

Your balance is nothing more than an accounting entry on your bank’s balance sheet, which is likely maintained in a computer database somewhere in a building with no windows.

There’s no physical ‘money’ backing up this bank balance. It’s an annotation in a computer. Every bank customer’s savings is part of this complex system of accounting entries.

When you transfer money to your kids, the bank doesn’t send them a FedEx full of cash.

They merely make an entry in the ledger reducing your balance and increasing your kids’.

The same thing happens when you swipe your Mastercard to pay for something; banks exchange accounting entries that credit the vendor’s account and debit your own.

Nothing physical ever changes hands, it all takes place in digital ledgers.

Given that this type of money exceeds physical cash by a factor of 10:1, you could argue that most modern currencies are digital.

 

3) Government bonds

Government bonds are another form of money that people often forget about.

Most people will keep the majority of their life’s savings in the second form of money– in the bank.

But big banks or companies like Google or Apple that have tens of billions don’t keep such vast sums sitting in the bank. Certainly not all of it.

Banks only have a certain limit on deposit insurance. In the US right now it’s $250,000… which doesn’t quite cover Google’s $70 billion savings.

These companies and institutions need a ‘safe’, highly liquid alternative to banking (i.e. they can quickly buy and sell the investment).

And that’s why they turn to government bonds.

In finance, government bonds are typically considered ‘cash equivalents’. Especially in the United States.

US government bonds, in fact, are the most popular, most liquid investment in the world. You can buy and sell them in an instant.

Companies, institutions, banks, and even foreign governments around the globe buy US government bonds precisely because of this ‘cash equivalent’ status.

This means that if the Chinese government is doing a deal with an African government for $1 billion, they can conduct the transaction using US government bonds as the currency.

Here’s the problem…

Right now, each of these is basically considered the same thing. It’s just different versions of the same money, i.e. $1 million in government bonds equals a $1 million bank balance equals one million pieces of paper with George Washington’s face.

But in actuality they are three entirely separate currencies: Physical cash, digital cash, and government IOUs.

AT the moment they just happen to have a 1:1:1 exchange rate, i.e. they’re freely interchangeable at parity.

But that 1:1:1 exchange rate depends on financial stability. And when there are serious problems, the exchange rate breaks down rapidly.

Think back to 2013 when the government of Cyprus froze bank accounts across the entire country. For weeks no one could access their bank balances.

Clearly in an instance like this, the value of a bank balance becomes worthless. The only way to conduct a transaction was with physical cash.

So in the event of a banking crisis, the exchange rate quickly changes. Physical cash becomes much more valuable.

It’s the same thing in a government debt crisis.

It’s bizarre to think that the bonds of a bankrupt government are a widely accepted form of ‘risk-free’ savings among institutions.

But what happens when that bankrupt government defaults, or has to restructure its debt?

The entire system breaks down. Suddenly the bonds are no longer ‘cash equivalents’, and there’s a scramble to dump them and find another safe, reliable investment.

Similarly, the 1:1:1 exchange rate quickly breaks down, just like it did recently in Greece.

This is ultimately why it makes sense to hold some physical cash.

You certainly won’t be worse off for holding some physical cash savings in a safe at home, especially since interest rates on bank balances are essentially zero.

Physical cash is by no means a panacea; it’s nothing more than a piece of paper printed by a government agency at the behest of unelected central bank committee.

Fundamentally it has zero intrinsic value other than the heat it generates in BTUs.

And in the long run all paper currencies will reach this intrinsic value, with future historians wondering with utter incredulity how we could be so silly to assign any value to paper.

But in the short term, holding at least some physical cash makes sense as a hedge against financial calamity

 

from : the Sovereign Man