Kaum Madani, Anshor, Muhajirin dan Piagam Madinah

“Tanda keimanan adalah cinta kepada kaum Anshor. Dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshor”. (HR. Al-Bukhari)

beberapa tahun yang lalu istilah “Masyarakat Madani” dipromokan oleh seorang cendikiawan untuk menunjukkan bahwa masyarakat yang maju adalah masyarakat yang beradab, menghargai kemajemukan dalam unsur-unsur kehidupannya.

sebetulnya apa arti konsep Madani ini ?

Awalnya konsep masyarakat madani ini dimulai pada era pasca hijrah kaum Muhajirin dari Mekkah ke Madinah, untuk menghindari tekanan dari kaum kafir terhadap umat Islam saat itu, momen ini adalah momen penting dalam sejarah Islam karena pada saat itulah kaum muslim baru dapat merasakan kehidupan beragama yang lebih bebas.

Kita semua mendambakan kehidupan damai dalam kemajemukan itu, namun apa kita semua memahami apa yang menyebabkan terciptanya kaum Madani dan kaum apa yang paling memberikan kontribusi terciptanya kondisi tersebut ?

Kota Yastrib, yaitu nama asli dari Madinah al-Mukarromah, terdiri dari berbagai suku-suku, yaitu suku Arab dan suku Yahudi, pada masa pra-Hijrah, terjadi perang saudara (civil war) antara suku-suku di kota ini yang mengakibatkan terbunuhnya banyak tokoh-tokoh besar dari suku-suku tersebut, hingga akhirnya pada saat musim haji sebagian dari perwakilan suku-suku di Yastrib itu bertemu dengan Rasulullah dan mereka dengan mudahnya menerima ajaran monoteisme Islam.

ada beberapa poin yang menyebabkan suku-suku arab Yastrib dapat menerima hidayah dengan mudah :

  • mereka sudah mengetahui konsep ketuhanan monoteisme dari suku-suku Yahudi di Yastrib, namun mereka tidak dapat menjadi penganut agama yahudi, karena mereka bukan keturunan yahudi.
  • perang saudara yang sangat lama dan telah membunuh banyak tokoh-tokoh penting dari Yastrib membuat generasi muda dari Yastrib sudah muak dengan perpecahan dan mendambakan kesatuan dalam suatu konsep kepemimpinan yang lebih baik

dan oleh karena itu mereka tidak ragu lagi menawarkan kepada kaum muslim di Mekkah untuk pindah ke Yastrib, terutama karena mereka tidak tahan melihat perlakukan kasar kaum kafir Mekkah kepada Muhammad SAW dan pengikutnya.

setelah Hijrah, kaum muslim dari Mekkah yang disebut Muhajirin, tercengang-cengang dengan kebaikan dan kedermawanan kaum Anshor kepada mereka, bukan saja mereka terbuka menerima “pengungsian” tersebut, bahkan mereka menawarkan sebagian harta mereka kepada kaum muslim !

perlu dipahami bahwa kaum Anshor bukanlah kaum yang kaya, sebagian besar dari mereka hidup dalam kemiskinan, terutama karena mereka hidup dari pertanian, bukan seperti kaum Muhajirin yang sebagian besar adalah pedagang.

walaupun kaum Anshor belum lama memeluk agama Islam namun mereka sudah memahami arti konsep persaudaraan Islam yang sebenarnya yang seperti konsep ideoligi sosialisme : apa yang mereka miliki adalah miliki sahabatnya juga

“Kebaikan” kaum Anshor ini disampaikan kepada Rasulullah, dengan kekhawatiran apakah nantinya amalan kaum Muhajirin akan dikurangi oleh Allah SWT akibat keikhlasan kaum Anshor, maka Nabi SAW menjawab tentu saja tidak, asalkan kaum Muhajirin mendoakan kaum Anshor agar mendapatkan keberkahan dan keridhoan dari Allah SWT.

“Tentang (nama) Anshar, apakah kalian menamakan diri kalian dengannya atau Allahlah yang menamakan kalian dengannya?”. Anas menjawab, “Bahkan Allahlah yang menamakan kami dengan sebutan Anshar”. (Shahih al-Bukhari no.3776).

Dalam suasana kehidupan masyarakat yang kondusif inilah lahir “Piagam Madinah” yang mewujudkan konsep “Civil Society” yang ideal, bahkan tidak pernah dalam sejarah sebelumnya dibuat konsep konstitusional yang demikian sempurnanya, hingga akhirnya Piagam Madinah ini menjadi rujukan dalam konsep-konsep konstitusional negara-negara adidaya zaman modern yang menyerupai landasan negara federasi.

kembali lagi ke kaum Anshor dan Muhajirin, sejalan dengan perkembangan Islam terutama dimasa-masa kepemimpinan Rasulullah di Madinah, selalu ada kekhawatiran bahwa Muhammad dan pengikutnya hanya memanfaatkan kaum Anshor untuk mencapai tujuan mereka yaitu kembali menguasai kota Mekkah,

Di Jazirah Arab, sebelumnya tidak dikenal konsep kesatuan berdasarkan keagamaan, selama ini mereka mengenal konsep kesatuan berdasarkan kesukuan atau keturunan, jadi tentunya kesatuan antara Anshor dan Muhajirin ini adalah hal yang aneh bagi kaum arab. dan menimbulkan keraguan bahwa kesatuan ini tidak akan lama.

namun keraguan ini ditepis sendiri oleh Muhammad SAW, terutama setelah penaklukan kota Mekkah, ternyata Nabi SAW tidak menetap di kota suci tersebut, hal ini tentunya sangat membuat gembira kaum Anshor bahwa Nabi tercinta tetap akan kembali ke kotanya,

bahkan saat membagi harta rampasan perang Hunayin yang sangat banyak, Nabi SAW memberikan bagian yang lebih banyak kepada kaum lain, bukan Anshor, saat kaum Anshor memprotes hal ini, Nabi SAW berkata apakah mereka tidak senang bahwa orang lain pulang dengan harta dan sedangkan kaum Anshor pulang dengan Nabinya ?

kemudian kaum Anshor menangis dan berkata ya tentu saja mereka lebih suka pulang dengan membawa Nabinya.

Kita sering mendambakan kehidupan kemajemukan yang ideal dengan pemimpin yang ideal, namun apakah kita sudah menjadi rakyat yang ideal seperti kaum Anshor yang mendapatkan Nabi sebagai pemimpinnya ?

“Pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya”

kaum Anshor adalah kaum Madani yang paling ideal yang pernah ada di dunia ini,

mereka pulang mendapatkan kotanya menjadi kota suci kedua setelah Mekkah dan mendapatkan Nabinya yang mereka cintai bersemayam di kotanya…..selamanya

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (At-Taubah 100)

 

 

 

 

Advertisements

Abraham Lincoln, President terbaik yang pernah ada

“Don’t complain about the snow on your neighbor’s roof, when your own doorstep is unclean.” – Confucius

dari sekian banyak President Amerika, hanya Abraham Lincoln yang paling banyak dituliskan biografinya, bahkan sampai saat ini para politikus masih merujuk pada kebijakannya, bahkan saat Roosevelt setiap dirudung masalah pelik senantiasa ia memandang lukisan Lincoln dan berkata : “What would Lincoln do if he were in my shoes? How would he solve this problem?”. Memang Lincoln bukan sosok yang sempurna, namun tentunya ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari tokoh ini.

Pada saat Lincoln wafat, sahabatnya seorang senator berkata : “There lies the most perfect ruler of men that the world has ever seen.”

Bagaimana Lincoln bisa menjadi the most perfect ruler ever ? apa rahasianya ?

Pada masa mudanya, Lincoln adalah seorang pengacara yang jenius, salah satu hobinya adalah menulis tentang hal yang berhubungan dengan politik, dan pada saat itu satu-satunya media adalah surat kabar, dan sering Lincoln menulis opininya tentang politik dengan menggunakan nama samaran (seperti yang kita lakukan sekarang dengan menggunakan akun anonymous di sosial media)

Namun salah satu artikelnya menuai dampak yang buruk

Lincoln menulis artikel tentang kritikannya pada salah seorang politikus dengan menggunakan bahasa yang memperolok-olok si politikus itu, seluruh warga menertawakan politikus itu setelah artikel tersebut menjadi hits. tentunya politikus itu sangat marah dan akhirnya menemukan fakta bahwa Lincoln yang menulis artikel hinaan tersebut, hingga akhirnya dia menantang Lincoln untuk duel satu lawan satu (suatu hal yang biasa terjadi pada saat itu untuk menyelesaikan permasalahan)

Pada hari yang sudah ditetapkan, Lincoln datang ke tempat duel dengan politikus itu, hampir saja mereka mulai duel maut itu jika keluarga mereka tidak menghentikannya,

dan mulai hari itu Lincoln bersumpah bahwa ia tidak akan pernah lagi menghina, mengkritik atau menghakimi siapapun

“Judge not, that Ye be not judged.”

“Don’t criticize them; they are just what we would be under similar circumstances.”

Battle of Gettysburg, salah satu perang American Civil War, Jendral Meade yang memimpin perang itu melakukan hal yang tidak diperintahkan oleh Lincoln, bahkan ia mengabaikan perintah Lincoln. dalam amarahnya, Lincoln berkata kepada bawahannya : ” If I had gone up there, I could have whipped him by myself !!”

Lincoln menulis sebuah surat yang berisikan tentang kegusaran dan kekecewannya kepada Jendral Meade, dan apakah yang terjadi ? Meade tidak pernah melihat surat itu…..

Lincoln tidak pernah mengirimkan surat itu, dan surat itu ditemukan dalam mejanya setelah ia wafat.

dalam kehidupannya, cobaan terberat Lincoln adalah dari perkawinannya sendiri,

sahabatnya berkata setelah Lincoln wafat, bahwa yang membunuh Lincoln bukanlah penembak itu, namun perkawinannya yang telah mematikannya selama puluhan tahun.

Lincoln menikah dengan dengan seorang wanita yang tidak pernah berhenti mengkritik dan mencelanya, seorang wanita yang memiliki karakter yang berbeda dengan Lincoln ; jika Lincoln tidak pernah menkritik apapun maka istrinya selalu mengkritik semuanya, termasuk suaminya sendiri.

pernah pada suatu hari Lincoln disirami mukanya oleh air teh panas oleh istrinya dihadapan tamunya akibat hal yang sepele…..dan apa reaksi Lincoln ? ia diam saja dan tidak berkata apapun atas penghinaan itu

“the bitter harvest of Conjugal Infelicity”

suara amarah lengkingan istrinya dapat terdengar dari kejauhan, siapapun yang telah mengenal Lincoln dan istrinya pastinya tahu bagaimana buruknya perangai istrinya itu.

jadi mengapa Lincoln tidak membalas perilaku istrinya itu ? atau mengapa dia tidak meninggalkan istrinya itu saja ?

Banyak orang yang beranggapan bahwa lelaki yang tidak membalas perangai buruk istrinya itu adalah lelaki yang pengecut, lelaki yang takut pada istrinya, namun sebenarnya justru lelaki seperti Lincoln ini adalah lelaki yang tangguh dan sabar dalam menghadapi istrinya,

mereka inilah Real Gentlement yang sebenarnya

kita tidak tahu apa alasan Lincoln tetap bertahan dalam pernikahannya itu, mungkin dia melihat kebaikan lain dalam istrinya atau mungkin dia bertahan demi anak2nya, kita tidak tahu….

Hal ini mengingatkan saya pada satu kisah dari seorang Khalifah (kalau tidak salah dia adalah Umar bin Khattab) yang pernah kedapatan sedang diomeli oleh istrinya, mengapa dia tidak menceraikan istrinya itu ? padahal ia adalah seorang pemimpin besar, namun beliau menjawab bahwa istrinya itu telah memberikan banyak hal bagi kehidupan rumah tangganya.

Maka dapat saya simpulkan bahwa rahasia Abraham Lincoln dalam membina hubungan dengan semua orang adalah :

tidak pernah mengkritik, tidak pernah mencela, tidak pernah menghakimi dan selalu melihat segi positif pada setiap orang, dimanapun dan kapanpun

“I will speak ill of no man…….and speak all the good I know of everybody.” – Benjamin Franklin