Menangani tuduhan dusta, pelajaran dari fitnah terhadap Aisyah r.a.

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku” (HR Thirmidzi)

Dalam mempelajari sejarah hidup Rasulullah, selalu saja ada bagian-bagian dari kisahnya yang dapat dijadikan teladan, terutama kisah kehidupan rumahtangganya, salah satu cobaan terberat dalam kehidupan rumahtangga Rasulullah adalah ketika mendapatkan cobaan fitnah dari kaum munafiq terhadap istri kesayangannya, Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Siti Aisyah adalah istri nabi yang termuda dan tercantik, kedudukannya istimewa karena ia adalah anak dari sahabat terdekat Rasulullah yaitu Abu Bakar.

Kisah ini diriwayatkan sendiri oleh Aisyah, yang terjadi setelah Rasulullah dan rombongan kaum muslim pulang dari sebuah ekspedisi kecil, dimana Aisyah pun ikut serta,

Ketika telah dekat dengan Madinah, maka beliau memberi aba-aba agar berangkat. Saat itu aku keluar dari tandu melewati para tentara untuk menunaikan keperluanku. Ketika telah usai, aku kembali ke rombongan. Saat aku meraba dadaku, ternyata kalungku terputus. Lalu aku kembali lagi untuk mencari kalungku, sementara rombongan yang tadi membawaku telah siap berangkat. Mereka pun membawa sekedupku dan memberangkatkannya di atas ontaku yang tadinya aku tunggangi. Mereka beranggapan bahwa aku berada di dalamnya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

Pada masa itu perempuan-perempuan rata-rata ringan, tidak berat, dan tidak banyak daging. Mereka hanya sedikit makan. Makanya, mereka tidak curiga dengan sekedup yang ringan ketika mereka mengangkat dan membawanya. Di samping itu, usiaku masih sangat belia. Mereka membawa onta dan berjalan. Aku pun menemukan kalungku setelah para tentara berlalu. Lantas aku datang ke tempat mereka. Ternyata di tempat itu tidak ada orang yang memanggil dan menjawab. Lalu aku bermaksud ke tempatku tadi di waktu berhenti. Aku beranggapan bahwa mereka akan merasa kehilangan diriku lalu kembali lagi untuk mencariku.”

“perempuan-perempuan rata-rata ringan, tidak berat, dan tidak banyak daging” : perhatikan bagaimana bijaknya Aisyah r.a. menjelaskan mengapa rombongan itu meninggalkannya, bukannya dia menyalahkan mereka karena kecerobohannya, tapi dia memahami bahwa kesalahan itu biasa saja terjadi ! mungkin kalau wanita biasa pasti sudah marah dan menyalahkan orang lain.

“Ketika sedang duduk, kedua mataku merasakan kantuk yang tak tertahan. Aku pun tertidur. Shafwan bin al-Mu’aththal tertinggal di belakang para tentara. Ia berjalan semalam suntuk sehingga ia sampai ke tempatku, lalu ia melihatku. Ia pun mengenaliku ketika melihatku. Sungguh, ia pernah melihatku sebelum ayat hijab turun, Aku terbangun mendengar bacaan istirja’-nya (bacaan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) ketika ia melihatku. Kututupi wajahku dengan jilbab. Demi Allah, dia tidak mengajakku bicara dan aku tidak mendengar sepatah kata pun dari mulutnya selain ucapan istirja sehingga ia menderumkan kendaraannya, lalu ia memijak kaki depan onta, kemudian aku menunggangi ontanya. sehingga kami dapat menyusul para tentara setelah mereka berhenti sejenak seraya kepanasan di tengah hari.

“Ketika kami telah sampai di Madinah aku sakit selama sebulan. Sedangkan orang-orang menyebarluaskan ucapan para pembohong. Aku tidak tahu mengenai hal tersebut sama sekali. Itulah yang membuatku penasaran, bahwa sesungguhnya aku tidak melihat kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasanya aku lihat dari beliau ketika aku sakit. Beliau hanya masuk, lalu mengucap salam dan berkata, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Itulah yang membuatku penasaran, tetapi aku tidak mengetahui ada sesuatu yang buruk sebelum aku keluar rumah.”

Pada saat ini tuduhan fitnah telah menyebar ke seluruh kota Madinah, namun apa yang Rasulullah lakukan ? apa dia langsung melabrak istri seketika mendengar tuduhan itu ? tidak, yang justru beliau lakukan adalah berdiam diri dan bahkan ia melindungi istrinya dari mendengar tuduhan itu ! walaupun beliau sendiri tidak tahu apakan fitnah itu benar atau tidak, karena ia sendiripun tidak bisa membuktikannya.

Akhirnya Aisyah mendengar juga fitnah terhadap dirinya dari pembantunya yang keceplosan, dalam panik dan kebingungan, ia minta izin untuk pulang ke rumah orang tuanya, ibunya mencoba untuk menghiburnya dengan mengatakan bahwa sudah biasa seorang istri yang cantik akan mendapatkan cobaan seperti itu.

“Lantas aku berkata, ‘Maha Suci Allah! Berarti orang-orang telah memperbincangkan hal ini !’ Maka, aku menangis pada malam tersebut sampai pagi. Air mataku tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali”

Ini mungkin adalah bagian yang paling memilukan, saat Aisyah menemukan kenyataannya bahwa fitnah itu telah tersebar dan sementara ia tidak dapat melakukan apapun, hingga akhirnya ia hanya dapat menangisi nasibnya

Rasulullah berdiri di atas mimbar seraya bersabda kepada kaum muslim :  ‘Wahai kaum muslimin! Siapakah yang sudi membelaku dari tuduhan laki-laki yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang keluargaku kecuali kebaikan. Dan mereka juga menuduh seorang laki-laki yang sepanjang pengetahuanku adalah orang baik-baik, ia tidaklah datang menemui keluargaku kecuali bersamaku.”

Tuduhan fitnah yang disebarkan oleh kaum munafik dan antek-anteknya sejatikan bukan ditujukan untuk Aisyah, namun untuk menghina Rasulullah secara tidak langsung, karena jika ada aib dalam keluarga Rasulullah maka semua orang akan berpikir bahwa Rasulullah tidak becus mendidik keluarganya sendiri, maka fitnah keji ini secara tidak langsung mencoreng muka Rasulullah

Rasulullah pergi ke rumah Abu Bakar masuk kemudian duduk. pada saat beliau duduk seraya berkata kepada Aisyah : ‘Amma ba’du, hai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima taubat-Nya.”

Adakah suami yang dapat berkata seperti itu kepada istrinya yang sedang mendapat tuduhan yang keji ? seorang suami normal akan dengan emosinya menunjukkan kekecewaannya dan kemarahannya pada istrinya dan pastinya akan berkata : “Keterlalulan sekali kelakukanmu ini ! apa kamu tidak pikirkan bagaimana martabatku dan kehormatanku dihadapan orang banyak ?”

tidak, tapi Rasulullah justru menjelaskan dengan sabar kepada istrinya bahwa jika ia suci dan tidak bersalah maka istrinya akan dibersihkan dari tuduhan itu, namun jika ia melakukannya maka ia menganjurkan istrinya untuk bertaubat…….

Aisyah pun melanjutkan ceritanya,

Ketika mendengar itu seketika itu pula keringlah air mataku, aku berpaling kepada kedua orang tuaku namun mereka diam saja, “Jawablah wahai ayah dan bunda perkataan Rasulullah itu !” mereka berkata “Demi Allah, kami tidak tahu apa yang harus kami jawab !

Abu Bakar dan istrinya kebingungan, ini anaknya sedang dirundung masalah pelik sementara mantunya adalah Rasulullah sendiri, mereka tidak tahu siapa yang harus mereka bela.

Maka Aisyah membela dirinya sendiri : “Demi Allah saya lebih mengetahui dan Allah lebih mengetahui bahwa saya tidak bersalah, namun ayah bunda dan kakanda tidak percaya !”

Kemudian Aisyah mengucapkan sebait ayat dari surat Yusuf, ketika Ya’qub kehilangan putranya :

“Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18)

Aisyah melanjutkan,

“Demi Allah, Rasulullah belum sempat beranjak dari tempat duduknya sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.”

“Rasulullah tersenyum bahagia setelah menerima wahyu itu. Kalimat yang pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula).” (QS. An-Nur: 11)

Maka dari kejadian ini ada beberapa poin penting yang perlu kita pahami :

  • Bukanlah sifat seorang muslim untuk menyebarluaskan berita yang tidak dapat ditelusuri kebenarannya, maka  jika kita menemui berita2 yang seperti itu baiknya kita diamkan saja untuk menghindari terjadinya fitnah
  • Rasulullah sebagai figur suami yang baik telah sangat bijak menangani hal ini, terutama cara beliau menahan isu fitnah agar tidak sampai terdengar oleh istrinya sendiri, juga bagaimana cara beliau menanyakan perihal itu kepada istrinya dengan cara yang paling santun
  • Aisyah sendiri walaupun saat itu masih sangat muda (mungkin sekitar 14 atau 15 tahun) namun sudah cukup dewasa dalam bersikap, terutama dalam menghadapi cobaan yang sangat berat ini

“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

jika akhlak yang mulia itu telah tercapai maka yang pertama-tama akan merasakan manfaatnya adalah keluarga terdekat kita, terutama pasangan dan orang tua kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s