Bir non Alkohol, dan kesalahpahaman terhadap definisi Khamr

“Semua yang memabukkan adalah khamr dan semua khamr adalah haram.” (HR. Muslim no.2003)

Sekitar akhir dasawarsa 90-an, saya pernah bepergian ke luarnegri untuk mengunjungi sanak keluarga yang sedang belajar di negri itu, dan karena penduduk negri itu (tentu saja) mayoritasnya adalah non-muslim, maka saya dari awal sudah berharap bisa mencicipi bir non-alkohol yang belum ada di negri saya pada saat itu

dan saya terkejut dan kagum pada komunitas pelajar di sana, mereka sangat hati-hati pada setiap makanan dan minuman yang mereka akan konsumsi, jika ada hal yang tidak jelas maka mereka akan meninggalkannya, terutama juga untuk bir non-alkohol yang mereka tidak minum karena menurut mereka itu tidak halal.

sifat tersebut adalah cermin dari kebaikan akidah para pelajar di negri itu, dan saya sangat kagum pada hal itu, karena mereka banyak mendapatkan tantangan untuk melakukan ritual ibadah-ibadah sehari-hari, namun hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk menerapkan dan menjalankan ritual Islam di negri itu

maka saya pun pulang ke tanah air tanpa sempat mencicipi bir non-alkohol, tapi tidak mengapa karena saya mendapatkan ilmu tentang perbedaan antara bir dan alkohol yang saya pegang teguh sampai hari ini.

lalu munculah minuman bir non-alkohol sekitar pertengahan dasawarsa 2000, dan saya cukup kaget dengan pemahaman orang disini yang menganggap bahwa bir itu halal asalkan tidak ada alkoholnya, padahal bukan masalah ada alkohol atau tidak, intinya adalah apakah itu memabukkan atau tidak !

jika masalahnya terletak pada alkohol, maka banyak makanan lain yang mengandung kadar alkohol tinggi tapi tidak memabukkan seperti durian dan tapai, tapi hukumnya tetap halal karena sifatnya yang tidak memabukkan.

berangkat dari pemahaman itu, maka sampai saat ini saya tidak pernah mencoba meminum bir non-alkohol dan alhamdulillah saya memiliki perkerjaan yang sangat paham tentang hal itu, usaha kami di bidang retail ini walaupun mendapatkan banyak cobaan dan saingan yang cukup ketat, namun so far kami tidak pernah menjual bir, baik yang beralkohol maupun non-alkohol, dan juga kami tidak menjual rokok.

Beberapa hari yang lalu ada polemik tentang bir non-alkohol dan saya sangat sedih karena reaksi banyak orang yang justru mempertanyakan hal itu bahkan ada juga yang mengejeknya tanpa mencoba mencaritahu tentang dalil asal-muasal bir non-alkohol hukumnya adalah haram,

Tapi itulah cerminan dari kondisi umat saat ini yang sedang lemah akidahnya, dan pada umat yang lemah akidahnya maka hukum fiqih tentunya akan sulit untuk dijalankan,

kemudian apa yang bisa kita perbuat ?

ada kewajiban pada setiap umat dalam kondisi ini : mempelajari agamanya

hari ini tidak sulit untuk mempelajari agama kita sendiri, sudah banyak fasilitas-fasilitas dimana saja, buku-buku dan majelis ilmu tersebar dimana-mana, bahkan di zaman digital ini kita bisa 24 jam mengakses ilmu-ilmu itu.

dan jika kita telah mendapatkan ilmu itu, maka tunaikanlah hak dari ilmu tersebut : menyebarkannya kepada yang lain, dimulai dari yang paling dekat dengan kita yaitu keluarga kita sendiri.

agar kita dapat menjadi cahaya bagi diri kita sendiri dan cahaya bagi yang lainnya.

Wallahu A’lam bishowab

 

referensi :

http://www.konsultasisyariah.com/bir-haram/

http://firanda.com/index.php/konsultasi/fiqh/382-hukum-mengkonsumsi-obat-makanan-dan-minuman-yang-mengandung-alkohol

http://rumaysho.com/umum/salah-kaprah-dengan-alkohol-dan-khomr-812.html

 

Advertisements

One comment

  1. mistertaqwil · April 24, 2015

    Reblogged this on Taqwil's Weblog.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s