“Engkau Suka ?”

“We make a living by what we get, but we make a life by what we give”

Beberapa hari yang lalu saya mendapati suatu kisah yang sederhana namun menarik dari tafsir Al-Quran yang saya baca sebelum tidur, yaitu dari surat Ali-Imran ayat 92 :

“Sekali-kali tidaklah kamu akan mencapai kebaikan sebelum kamu mendermakan sebagian dari harta yang kamu sayangi”

Setelah ayat ini turun, berbondong-bondong kaum muslim mendermakan hartanya yang paling mereka sayangi, tanpa berpikir panjang lagi, walaupun sebenarnya mereka sangat membutuhkan harta tersebut, namun karena kemurnian imannya mereka rela mendermakan hartanya itu.

Seorang sahabat, Abu Thalhah, menemui Rasulullah dan berkata bahwa dia hendak memberikan kebunnya yang sangat subur dan menjadi kebanggaannya, “Aku ingin mengamalkan wahyu itu ya Rasulullah ! kekayaan yang paling kucintai ialah kebun itu, terimalah sedekahku dan aku ridhai siapapun yang patut menerimanya !”

Demikian pula dengan Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah yang membawa kuda kesayangannya yang bernama “Subul” kehadapan Rasulullah untuk disedekahkan.

– sebagai catatan ; pada masa itu, binatang tunggangan memiliki nilai lebih dari sekedar kendaraan saja, mereka sudah dianggap sebagai anggota keluarga, dan bahkan mereka bisa dikenali dari bentuk dan warnanya, maka pada masa itu orang biasa memberikan nama pada tunggangannya.

Melihat kesedihan yang terpancar dari wajah Zaid ketika akan berpisah dengan kudanya, Rasulullah dengan bijak memberikan kuda itu kepada Usamah, anak kandung Zaid sehingga kuda cantik kesayangan Zaid itu tidak terpisah jauh darinya.

Beberapa sahabat lainnya juga tidak mau kalah, dan berlomba-lomba memberikan harta kesayangannya juga, bahkan ada yang membebaskan beberapa budak kesayangannya juga.

Umar bin Khattab pernah mendapati sepinggan masakan kepala kambing yang sangat enak dan harum menggoda ketika beliau masuk ke rumahnya, teringat oleh ayat tersebut, beliau mengurungkan niatnya untuk memakan masakan tersebut dan memberikannya kepada sahabatnya, sampai makanan tersebut di rumah sahabatnya dan merasalah bahwa sahabat lain lebih patut menerimanya maka berpindahnya makanan tersebut ke sahabat yang lain, perpindahan masakan itu terus berjalan dan berpindah sampai tujuh rumah hingga akhirnya masakan tersebut kembali kepada Umar bin Khattab lagi !

Rasulullah sendiri adalah teladan yang paling tinggi dalam hal memberikan hadiah yang beliau cintai, apalagi beliau hampir-hampir tidak memiliki rasa cinta pada semua hal yang bersifat duniawi, dan ini yang membuat beliau sangat mudah memberikan hartanya tanpa berpikir panjang lagi atau dengan perasaan sedih.

mengetahui sifat pemberi yang terlalu mudah ini, para sahabat sudah paham dan menenggang rasa agar tidak lancang menatap barang-barang milik Rasulullah, karena jika beliau mendapati seseorang menginginkannya maka beliau langsung memberikannya.

“Engkau suka ?” beliau akan bertanya jika mendapati seseorang yang melihat-lihat pakaiannya atau sorbannya atau jubahnya, dan langsung memberikannya kepada si fulan tersebut.

Pada suatu hari, ada pemuda yang masih naif dan tidak paham akan kebiasaan Rasulullah ini, dan dia menatap lama pada gamis yang dipakai beliau, sebelum dia sempat dinasihati oleh para sahabat yang lebih senior, Rasulullah telah bertanya padanya : “Engkau suka ?”

Sebelum pemuda itu sempat menjawab, Rasulullah sudah menanggalkan gamisnya dan memberikannya pada pemuda itu. Terharu dan bahagia atas pemberian itu, pemuda itu berkata : “Memang aku sungguh sangat rindu akan gamis Rasulullah dan aku berharap bisa meninggal dengan memakai gamis ini !”

dan pada suatu peperangan, pemuda itupun juga ikut serta dan dia mencapai syahidnya dengan mengenakan gamis Rasulullah.

“Hobby” yaitu adalah kegiatan yang kita sukai, ternyata kata Hobby ini berasal dari bahasa Arab yaitu “Hubb” yang artinya “Cinta”

Sedangkan saat ini kita semua berbondong-bondong memiliki hobby mengumpulkan dan mengkoleksi barang-barang yang kita cintai, terutama barang yang langka dan mahal, semakin langka barang tersebut maka akan semakin mahal dan semakin cinta kita kepada barang tersebut.

Namun justru para kaum beriman dan Rasulullah justru memiliki “Hobby” memberikan barang-barang yang mereka cintai, bukan mengkoleksinya atau mengumpulkannya, karena mereka sangat ingin mengamalkan satu ayat dalam Al-Quran tersebut, yang menjelaskan :

bahwa kita akan memperoleh kebaikan apabila kita melepaskan sesuatu yang kita sangat cintai

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

One comment

  1. dianaayunindita · April 9, 2015

    Reblogged this on Little Hikari and commented:
    Bersedekah dengan harta atau barang yang kita cintai, bukti kita lebih cinta kehidupan akhirat dan tidak silau akan duniawi. Bismillah, semoga bisa meningkatkan sedekah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s