Heraclius

Perang antara Romawi Byzantium dengan Persia-Sassanid pada 502 – 628 adalah peperangan antara dua negara adidaya saat itu yang panjang dan menguras sumberdaya kedua negara tersebut, diakhir peperangan itu Byzantium Empire hampir kehilangan seluruh wilayahnya, kekaisaran kehilangan banyak wilayahnya terutama di Syria, Palestina dan Mesir dan hanya menyisakan ibukotanya yaitu Konstantinopel yang dilindungi oleh beberapa lapis tembok yang besar.

Akibat peperangan yang lama dan memakan banyak sumberdaya, Kekaisaran diambang kehancuran dan kebangkrutan, hanya satu langkah lagi yaitu penaklukan kota Konstantinopel, maka Persia-Sassanid berhasil menghapus Kekaisaran Romawi Byzantium dari sejarah.

Adalah Kaisar Heraclius yang menyelinap keluar dari tembok Konstantinopel untuk menggalang pasukan-pasukan romawi yang sudah tercerai-berai akibat serangan Persia-Sassanid, sebelumnya Heraclius berpamitan pada rakyat Konstantinopel dan menjanjikan kemenangan untuk mereka.

Karena uang kas negara sudah kosong, maka Heraclius menggalang dana dari rakyat dan pemuka agama untuk membiayai perang dan menyogok bangsa-bangsa barbar Avars disekitar yang telah membelot ke Persia, sebelumnya Heraclius sudah mendalami berbagai ilmu dan taktik perang, hingga ia bisa menyusun kembali formasi baru pasukan-pasukan militer yang akan diterjunkan pada perang melawan Persia.

Berita tentang Kekaisaran Romawi-Byzantium yang hampir punah oleh Persia tersebut sampai juga ke Mekah, saat itu Rasullah dan pengikutnya berpihak pada Romawi, karena mereka masih satu rumpun agama monotheis (Ahlul Kitab) dengan bangsa Romawi yang telah menjadikan Nasrani sebagai agama resminya, sedangkan mayoritas penduduk Mekah yang masih Pagan itu mendukung Persia.

Kemudian diturunkan Surat Ar-Ruum (QS 30, ayat 1 -4 ) yang memprediksikan kemenangan Romawi atas Persia, tentu saja hampir seluruh penduduk Mekah tidak mempercayainya, karena bangsa Romawi telah kehilangan hampir seluruh wilayah kekuasaannya.

Perlahan namun pasti, dengan berbagai serangkaian peperangan, pasukan Romawi mulai dapat memukul mundur pasukan Persia dari wilayah mereka, kemudian wilayah-wilayah yang pernah dikuasai Persia yaitu Mesir, Syria, Palestina berhasil ditaklukkan kembali oleh Romawi, dipenghujung serangkaian peperangan yang dimenangkan oleh Romawi, kondisi politik Persia semakin tidak stabil dan terjadi revolusi yang berhujung pada gencatan senjata antara Romawi dan Persia.

Kemenangan Romawi atas Persia ini diriwayatkan bertepatan dengan Perang Badar, yaitu perang pertama antara pasukan muslim dari Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah dengan pasukan Quraisy dari Mekah.

Setelah Perjanjian Hubadiyyah antara umat muslim di Madinah dan kaum Quraisy Mekah yang intinya adalah gencatan senjata, Rasulullah mulai mengirim surat diplomasi kepada beberapa penguasa di sekitar termasuk kepada kaisar Heraclius.  Saat surat itu sampai kepada Heraclius di Yerusalem, takdir mempertemukan Heraclius dengan Abu Sufyan yang sedang dalam perjalanannya untuk berniaga ke negri Syam.

Abu Sufyan – yang saat itu masih belum masuk Islam, bersama rombongannya dipanggil menghadap Heraclius, terjadi percakapan interogasi yang cukup panjang antara Heraclius dan Abu Sufyan yang diriwayatkan oleh Sahih Bukhari, pada akhir interogasi itu, Heraclius mengakui bahwasanya dia telah memprediksi akan adanya utusan terakhir tersebut namun dia tidak menyangkan bahwa utusan itu akan berasal dari bangsanya Abu Sufyan.

Heraclius memutuskan untuk tidak merespon surat dari Rasulullah tersebut dan tetap berpihak pada rakyat Romawi, namun kemudian terjadi insiden pembunuhan utusan kaum muslim di wilayah Yordania yang berujung pada Perang Mu’tah, Heraclius berusaha untuk menghalangi ekspansi muslim dengan mengirimkan pasukan bantuan.

Setelah perang Mu’tah yang merupakan peperangan pertama antara pasukan muslim dan pasukan romawi, Rasulullah menghimpun pasukan terbesar dalam pernah ada dalam masa kenabiannya yang kemudian dikenal sebagai Perang Tabuk, dimana pasukan muslim saat itu berjumlah 30.000 orang menuju ke padang Tabuk di musim panas yang menyengat, namun Heraclius dan pasukannya tidak datang ke Tabuk, berbagai spekulasi mengenai absennya Heraclius di Tabuk, antara lain yaitu Heraclius enggan berhadapan dengan Rasulullah, selain itu ia tidak mau terlibat dengan perang ini yang disulut oleh kaum munafik dari Madinah.

Setelah Rasulullah wafat, ekspansi muslim tidak dapat dibendung lagi, dalam kurun waktu 10 tahun Kekaisaran Romawi Byzantium kehilangan sebagian besar wilayahnya di Palestina, Syria, Mesir untuk selama-lamanya. Romawi Byzantium menderita kekalahan besar pada Perang Yarmuk yang dipimpin oleh Khalid bin Walid.

Kaisar Heraclius dikenang oleh bangsa romawi sebagai raja yang menyelamatkan Byzantium dari Persia, terutama karena ia berhasil membawa Salib Asli “True Cross” (yang sebelumnya ditelah direbut oleh Persia) kembali ke Yerusalem dengan upacara yang megah.

Bukan saja mendapatkan gelar “King of Kings”, Heraclius adalah seorang terpelajar yang juga menguasai berbagai ilmu taktik perang, ilmu Falak (astronomi dan bintang), sejarah, tata negara dan militer. Heraclius dicintai rakyatnya dan ia tetap setia kepada rakyatnya hingga akhir hayatnya.

 

 

 

 

Perang Mu’tah dan munculnya Pedang Allah

Perang Mu’tah tercatat sebagai salah satu perang dalam masa Rasulullah yang dimana beliau tidak hadir dalam perang itu dan diwakilkan oleh tiga panglima yang ditunjuk olehnya

Perang ini juga merupakan kontak pertama pasukan muslim dengan pasukan romawi

Tidak ada peperangan yang begitu dahsyat, memilukan, mencengangkan dan sangat menyentuh seperti perang ini, dimana pasukan muslim berjumlah 3000 orang harus berhadapan dengan pasukan romawi sebanyak 200.000 orang di padang Mu’tah, Yordania.

Awal terjadinya perang Mu’tah adalah karena utusan dari Rasulullah yang dibunuh oleh Raja Ghassan, dalam etika politik saat itu ; membunuh seorang utusan adalah pelanggaran besar dan dapat diartikan sebagai isyarat perang. juga kemudian tersiar kabar bahwa pasukan Ghassan sudah bersiap menghadang kaum muslim

Zaid bin Haritsah yang akan menjadi komandan. Jika ia terbunuh maka komando pasukan diambil oleh Ja’far bin Abu Thalib. Jika Ja’far juga terbunuh maka pimpinan diambil oleh Abdullah bin Rawahah. Jika Abdullah bin Rawahah juga terbunuh maka silakan kaum muslimin memilih di antara yang mereka ridhai untuk menjadi pimpinan.”

untuk pertama kalinya Rasullulah mengangkat tiga panglima sekaligus, ini menandakan bahwa beliau telah memahami kondisi medan perang yang dimana pasukan muslimin akan mendapati musuh yang tangguh.

ketiga panglima ini tentunya adalah sahabat pilihan :  Zaid bin Haritsah adalah anak angkat dari Rasulullah, Ja’far bin Abu Thalib adalah sepupu Rasulullah yang pernah hijrah ke negri Abbasiyah, sedangkan Abdullah bin Rawahah adalah Anshori yang merupakan golongan pertama convert yang juga ahli puisi kesayangan kaum muslim

“Berperanglah kalian atas nama Allah, di jalan Allah, melawan orang-orang kafir kepada Allah. Jangan berkhianat, jangan mencincang, jangan membunuh anak-anak, wanita, orang yang sudah tua renta, orang yang menyendiri di biara Nasrani, jangan menebang pohon kurma dan pohon apa pun, dan jangan merobohkan bangunan.” – pesan Rasulullah pada pasukan muslim sebelum berangkat ke medan perang.

Ketangguhan dan kesabaran pada pasukan muslim diuji pada saat ini, dimana mereka menemui kenyataan di lapangan saat pasukan Ghassan yang awalnya berjumlah 100.000 orang kemudian mendapat reinforcement dari Kaisar Heraclius , Romawi sebanyak 100.000 orang

Melihat kondisi tersebut, para kaum muslim berembuk untuk membahas apa mereka perlu mengirim utusan untuk meminta reinforcement kepada Rasulullah.

Lalu panglima mereka yang ketiga, Abdullah bin Rawahah radhiallahu ‘anhu, menyemangati mereka seraya mengatakan :

“Demi Allah, sesungguhnya apa yang kalian takutkan sungguh inilah yang kalian cari !  Kita tidak memerangi manusia karena banyaknya bilangan dan kekuatan persenjataan, tetapi kita memerangi mereka karena agama Islam ini yang Allah muliakan kita dengannya. Bangkitlah kalian memerangi musuh karena sesungguhnya tidak lain bagi kita melainkan salah satu dari dua kebaikan : yaitu menang atau mati syahid.”

Sebelum perang dimulai, panglima perang Zaid bin Haritsah membagi pasukan muslim menjadi beberapa pasukan yang berada di kanan, kiri, depan dan belakang dari pasukan inti yang berada ditengahnya, pembagian pasukan ini dikarenakan untuk mengimbangi pasukan romawi yang jumlahnya sangat banyak.

Kemudian perang dimulai, Zaid bin Haritsah memimpin pasukan muslim dengan Panji Islam (bendera putih) ditangannya, ketika Zaid terbunuh, Ja’far bin Abu Thalib maju menggantikannya sambil mengambil panji itu, namun beliau juga terbunuh dengan kondisi yang paling mengenaskan ; kedua tangannya putus dan sekujur tubuhnya penuh dengan tikaman dan luka.

salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidak kurang 90 luka di bagian tubuh depan beliau akibat tusukan pedang dan anak panah.

Ketika Abdullah bin Rawahah mengangkat Panji Islam, beliau ragu sejenak, menyadari saat itu adalah momen paling penting dalam hidupnya, dalam keraguannya beliau membuat sebuah puisi :

“Aku telah bersumpah wahai jiwaku, majulah ke medan laga !
Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga ?
Wahai jiwaku, bila kau tak tewas terbunuh, kau pasti akan mati juga
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti,
Tibalah waktunya yang engkau idam-idamkan selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati !”

Maka Abdullah bin Rawahah mengikuti jejak kedua sahabatnya menjadi kesatria sejati, menjemput syahid di Mu’tah.

Setelah gugurnya tiga orang komandan sebelumnya, mulanya panji diambil oleh Tsabit bin Aqram. Panji itu dipegangnya dengan tangan kanannya dan diangkatnya tinggi-tinggi di tengah-tengah pasukan muslimin agar barisan kaum muslimin tidak kocar-kacir.

Pada malam harinya, saat perang dihentikan sementara hingga esok pagi, pasukan muslim berembuk untuk memilih panglima baru mereka. “Siapakah yang sanggup membawa panji ini ?”

semua mata tertuju pada Khalid bin Walid.

Khalid tercengang ; “kenapa saya ?”

kaum muslim belum lupa bagaimana Khalid bin Walid memukul balik mereka di Uhud, walau saat itu Khalid masih dipihak kaum kafir, namun kejeniusannya sudah muncul saat itu, dan saat ini Khalid bin Walid baru sebulan menjadi muslim, dan dia merasa seperti anak baru diantara para seniornya.

Kemudian Tsabit bin Aqram berteriak kepada seluruh pasukan, “Apakah kalian ridha dengan kepemimpinan Khalid ?”

Mereka serentak menjawab, “Ya !”

di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar dalam keadaan sedih meneteskan air mata seraya berkata : “Sesungguhnya saudara-saudara kalian telah berhadapan dengan musuh. Pertama kali panji dipegang oleh Zaid bin Haritsah. Ia berperang dengan gagah berani sampai akhirnya syahid. Kemudian panji diambil oleh Ja’far bin Abu Thalib. Ia berperang sampai akhirnya juga syahid. Setelah itu panji diambil oleh Abdullah bin Rawahah. Lalu ia berperang sampai akhirnya jatuh syahid. Terakhir, panji diambil oleh Pedang di antara pedang-pedang Allah, maka Allah menenangkan kaum muslimin di bawah komandonya.”

Setelah itu, beliau mendatangi keluarga Ja’far dan menghibur mereka.

Bagaimana Khalid menyusun taktik baru untuk menghadapi romawi ?

Pertama, beliau memindahkan susunan pasukan, dari yang kiri ke kanan, dari belakang ke depan, hingga pasukan romawi mendapat kesan bahwa mereka menghadapi orang-orang lain yang baru didatangkan dari Madinah,

Kedua, beliau mengutus sebagian kecil pasukan berkuda untuk pura-pura datang dari arah Madinah sambil menghentakkan pasir-pasir, hingga memberikan kesan pada musuh bahwa pasukan baru dalam jumlah yang besar hampir tiba.

Insiden-insiden dan kamuflase kecil ini cukup mengalihkan perhatian dan memecah konsentrasi pasukan romawi saat perang berjalan, walaupun demikian pasukan muslim tetap bertempur dengan gigihnya, bahkan Khalid bin Walid pun bertempur dengan sangat intens hingga sembilan pedangnya patah,

“Telah patah Sembilan pedang ditanganku, tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman”

Perang Mu’tah diakhiri dengan jumlah korban 12 orang dari pihak muslim dan 20.000 orang dari pihak romawi.

Dari kejadian ini ada beberapa hal yang patut digarisbawahi :

  • Perang Mu’tah adalah kontak pertama kaum muslim dengan kaum non-arab, dimana kejadian ini memberikan pengalaman penting yang berguna saat perkembangan Islam dimasa berikutnya.
  • karena Perang ini pihak Romawi ikut serta, maka ada catatan dari para scholar mengenai perang ini ( karena Romawi adalah bangsa yang lebih maju dan mereka mencatat semua insiden) ; dalam catatan itu mereka menyebutkan pasukan Islam dipimpin oleh panglima yang dijuluki “Pedang Allah”
  • Kesungguhan dan kesabaran pada sahabat teruji dalam perang ini, walaupun Rasulullah tidak hadir, namun mereka tetap patuh dan setia pada panglima yang sudah terpilih.
  • Hasil dari perang ini menyisakan pertanyaan ; apakah pasukan muslim benar menang dari pasukan romawi ? sebagian ulama berpendapat bahwa pasukan muslim menang berdasarkan dari hadist Rasulullah diatas yang menyebutkan pasukan muslim menang setelah dibawah komando “Pedang Allah”

 

“Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Pengasih,

Pukulan yang menakutkan dan mencerai beraikan

Atau tusukan dengan tombak di tanganku yang membuat musuh limbung

Menembus dada dan jantung

Hingga dikatakan, bila mereka melewati mayatku :

“Wahai prajurit Islam yang dibimbing oleh Allah, Dia memang telah memimpinmu.”

(Abdullah bin Rawahah)