The Black Swan

“A good book gets better at the second reading. A great book at the third. Any book not worth rereading isn’t worth reading”

Surga Lebanon tiba-tiba menguap, butiran peluru dan roket mulai beterbangan, beberapa bulan setelah saya masuk penjara, setelah hampir 13 abad terjalin hidup yang harmonis bersama antar etnik yang luarbiasa, sebuah Black Swan entah dari mana telah mengubah tempat firdaus itu menjadi neraka.

Perang saudara yang sengit berkecamuk antara golongan Kristen dan Islam, perang itu brutal, karena medan perang terjadi berada ditengah-tengah kota dan tembak-menembak terjadi di daerah hunian.

Disamping kehancuran fisik, perang telah menghilangkan sebagian besar warisan budaya yang telah menjadikan kota-kota Levantin terus menjadi pusat rujukan intelektual yang sempurna selama 3000 tahun.

Jumlah kaum berbudaya di kawasan ini turun sampai batas yang mengkhawatirkan, seketika tempat ini menjadi ruang hampa, Brain drain yang terjadi sulit untuk dipulihkan dan warisan budaya nenek moyang telah hilang untuk selama-lamanya.

Malam itu pada 19 Oktober 1987 saya tidur pulas selama 12 jam.

Sulit bercerita kepada semua teman-teman saya yang semua resah akibat musibah itu (Black Monday, 1987) tentang perasaan yang meluap-luap karena pendapat saya terbukti benar, ada masa-masa pada saat sangat lazim bagi trader untuk membanting telefon saat kehilangan  uang, ada yang membanting kursi, menggebrak meja, suatu hari ada trader yang mencekik saya hingga perlu empat penjaga untuk menariknya pergi.

Perang Lebanon dan Black Monday 1987 tampak seperti dua fenomena yang identik, jelas bagi saya bahwa hampir setiap orang mempunyai sebuah mental blindspot dalam mengenali peran peristiwa-peristiwa seperti itu : situasinya seperti ketika orang entah mengapa tidak mampu melihat “makluk raksasa” dihadapan mereka atau melihatnya namun dengan cepat melupakan semua itu setelah berlalu.

Jawabannya jelas bagi saya : Kebutaan tersebut psikologis, tetapi bisa juga biologis. masalahnya bukan terletak pada kejadian-kejadian tersebut namun dalam cara kita memahaminya atau memandangnya.

Berhentilah percaya pada semua hal yang dikatakan orang banyak, dan ingat bahwa anda adalah seekor Black Swan

dari The Black Swan, Nassim Taleb

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s