Ash-Shiddiq

“Intentions count in your actions”

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat Nabi SAW dan khalifah pertama setelah wafatnya Rasululloh. mengenai keutamaan Abu Bakar selain beliau merupakan salah satu orang yang pertama masuk Islam, juga sifatnya yang “selalu berkata benar” yaitu saat Nabi SAW membawa kabar tentang perjalanan Isra Mi’raj, Abu Bakar yang pertama membenarkan peristiwa itu, untuk itu Nabi SAW memberinya gelar “Ash-Shiddiq”

Momen paling krusial dalam sejarah Islam adalah saat wafatnya Nabi SAW, ditengah-tengah kebingungan umat dan bahkan Umar bin Khattab mengacungkan pedangnya dan mengancam akan menebas siapapun yang mengatakan bahwa Nabi telah wafat, kemudian Abu Bakar muncul dan mencegah perpecahan diantara umat dengan berkata :

Barangsiapa yang menyembah Muhammad sesungguhnya dia telah wafat, barang siapa yang menyembah Allah sesungguhnya Allah tetap hidup, “Muhammad tidak lain hanya seorang Rasul, sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul, apakah jika ia wafat atau terbunuh kamu berbalik kebelakang (murtad) ? barangsiapa yang berbalik kebelakang maka ia tidak mendatang mudharat kepada Allah sedikitpun dan Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur “(QS 2:144)

mendengar ini Umar bin Khattab tersadar dan berkata bahwa seakan-akan belum pernah mendengar ayat ini sampai Abu Bakar mengucapkannya.

Abu Bakar dibai’at menjadi khalifah pertama dan berikut pidatonya :

“Aku telah terpilih sebagai pemimpin bagi kalian semua dan aku bukanlah yang terbaik, maka jika aku berbuat kebaikan maka bantulah aku, jika aku berbuat kekeliruan maka luruskanlah aku, kejujuran adalah amanah dan dusta adalah penghianatan, patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya, namun jika aku tidak mematuhi keduanya maka tidak ada kewajiban taat atas kalian terhadapku”

tugas pertama yang dilakukannya adalah mempersatukan umat yang sempat terpecah setelah wafatnya Nabi SAW dengan membentuk batalyon yang salah satu panglimanya adalah Khalid bin Walid si “Pedang Allah”, juga pada masa ini Abu Bakar mulai mengumpulkan Al-Quran dengan bantuan salah seorang sahabat yang hafiz quran yaitu Zaid bin Tsabit.

Abu Bakar wafat setelah dua tahun menjabat sebagai khalifah dan beliau diteruskan oleh Umar bin Khattab “Amirul Mukminin” pada saat wafatnya Abu Bakar ini pasukan muslim yang dipimpin oleh Khalid bin Walid baru memenangkan pertempuran melawan pasukan romawi di Syam (Irak)

Kekalahan romawi ini membuat gusar kaisar Heraclius, yang bertanya pada prajuritnya “apakah jumlah kalian lebih banyak berlipat-lipat dibandingkan mereka ?” Benar jawab mereka, Heraclius bertanya lagi “jadi kenapa kalian kalah ?

mereke menjawab “kami kalah karena mereka beribadah di malam hari, puasa disiang hari, mereka menepati janji, mengajak pada perbuatan baik dan mencegah keburukan, sedangkan kami gemar minum, berzina, menyalahi janji, menjarah harta, berbuat zalim dan selalu berbuat kerusakan”

mendengar itu Heraclius berkata “engkau benar

 

 

abu-bakr-siddiq-quote-on-patience (1)abu-bakr-siddiq-quote-on-patience (1)

 

 

 

 

 

The Black Swan

“A good book gets better at the second reading. A great book at the third. Any book not worth rereading isn’t worth reading”

Surga Lebanon tiba-tiba menguap, butiran peluru dan roket mulai beterbangan, beberapa bulan setelah saya masuk penjara, setelah hampir 13 abad terjalin hidup yang harmonis bersama antar etnik yang luarbiasa, sebuah Black Swan entah dari mana telah mengubah tempat firdaus itu menjadi neraka.

Perang saudara yang sengit berkecamuk antara golongan Kristen dan Islam, perang itu brutal, karena medan perang terjadi berada ditengah-tengah kota dan tembak-menembak terjadi di daerah hunian.

Disamping kehancuran fisik, perang telah menghilangkan sebagian besar warisan budaya yang telah menjadikan kota-kota Levantin terus menjadi pusat rujukan intelektual yang sempurna selama 3000 tahun.

Jumlah kaum berbudaya di kawasan ini turun sampai batas yang mengkhawatirkan, seketika tempat ini menjadi ruang hampa, Brain drain yang terjadi sulit untuk dipulihkan dan warisan budaya nenek moyang telah hilang untuk selama-lamanya.

Malam itu pada 19 Oktober 1987 saya tidur pulas selama 12 jam.

Sulit bercerita kepada semua teman-teman saya yang semua resah akibat musibah itu (Black Monday, 1987) tentang perasaan yang meluap-luap karena pendapat saya terbukti benar, ada masa-masa pada saat sangat lazim bagi trader untuk membanting telefon saat kehilangan  uang, ada yang membanting kursi, menggebrak meja, suatu hari ada trader yang mencekik saya hingga perlu empat penjaga untuk menariknya pergi.

Perang Lebanon dan Black Monday 1987 tampak seperti dua fenomena yang identik, jelas bagi saya bahwa hampir setiap orang mempunyai sebuah mental blindspot dalam mengenali peran peristiwa-peristiwa seperti itu : situasinya seperti ketika orang entah mengapa tidak mampu melihat “makluk raksasa” dihadapan mereka atau melihatnya namun dengan cepat melupakan semua itu setelah berlalu.

Jawabannya jelas bagi saya : Kebutaan tersebut psikologis, tetapi bisa juga biologis. masalahnya bukan terletak pada kejadian-kejadian tersebut namun dalam cara kita memahaminya atau memandangnya.

Berhentilah percaya pada semua hal yang dikatakan orang banyak, dan ingat bahwa anda adalah seekor Black Swan

dari The Black Swan, Nassim Taleb