Historical Trauma – kejadian traumatis yang diwariskan

“Hanya mereka yang mengenal trauma, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima kedahsyatan dan keterbatasan yang bernama Manusia”

Menjelang pileg dan pilpres ini, semua orang mengutarakan berbagaimacam analisa, ada yang akurat, banyak yang tidak, salah satunya yang kemarin saya dapatkan dari seorang teman yang mengkritik kekalahan salah satu partai nasional di propinsi Sumatra Barat dengan alasan karena di daerah itu pernah terjadi kejadian yang meninggalkan peristiwa traumatis yaitu pemberontakan PRRI

Saya tidak paham apa korelasinya PRRI dengan kekalahan partai nasional tersebut, jelas kejadian itu sudah lama dan hampir tidak ada yang mengingatnya lagi, juga kalaupun trauma historis itu masih terekam pada setiap kromosom-kromosom DNA penduduk Sumbar, mereka tentunya lebih memilih partai lain atas alasan yang lebih logis.

kemudian saya baru sadar bahwa orang yang melontarkan analisa ini masih keturunan suku Batak, entah kenapa saya sudah sering berurusan dengan suku ini dan mereka memiliki sentimen yang tajam terhadap suku Sumbar.

Saya paham bahwa artikel yang saya tulis ini bernuansa politik dan kesukuan yang kental, tapi saya mencoba untuk melihat ini secara netral, dengan harapan semoga kita tidak mengulang kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh mereka sebelumnya.

Pada abad 19, terjadi perang Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol, perang ini sebetulnya adalah gerakan pencerahan agama, untuk memperbaiki kualitas akidah umat, namun gerakan ini digunakan oleh Belanda untuk memecah belah kaum Paderi dengan Kerajaan Pagaruyung di Sumbar, singkat cerita kerajaan Pagaruyung meminta bantuan Belanda untuk menumpas kaum Paderi, hingga akhirnya timbul peperangan yang pada akhirnya menghancurkan seluruh kerajaan Pagaruyung.

Menurut cerita, ada sebagian suku yang lari ke daerah Batak, mereka ini yang kemudian dikenal sebagai suku “Mandailing” (Mande Hilang, atau hilang akar keluarganya) jadi suku Mandailing di Batak (Nasution, Lubis, Harapan, dsb) adalah masih serumpun dengan orang Sumbar.

Dari catatan seorang Belanda pada masa itu, kaum Batak di daerah Karo juga menderita kekalahan yang cukup parah akibat perang dengan kaum Paderi, jadi kaum Paderi bukan saja menyerang kerajaan Pagaruyung dan Belanda, tapi juga suku-suku Batak yang pada saat itu masih kanibal.

jadi apakah sentimen orang Batak pada orang Sumbar diturunkan oleh gen ?

Pemberontakan PRRI yang menginginkan pemisahan sebagian daerah sumatra itu akhirnya ditumpas oleh jendral A.H. Nasution, saya tidak tahu seberapa banyak korban yang berjatuhan akibat itu, namun dampaknya masih terasa hingga saat ini, yaitu setiap orang dari Sumatra Barat berusaha melepaskan identitas kesukuannya dengan tidak menggunakan nama marganya, bahkan sebagian besar memberikan nama-nama asing pada anak2nya.

Kekerasan, bagaimanapun bukanah solusi, kekerasan hanya melahirkan permasalahan baru, itu sebabnya mengapa para Founding Fathers kita (Soekarno, Hatta, Sjahrir dan Tan Malaka) sangat menentang segala bentuk kekerasan, politik memang kejam namun peperangan bukan solusinya.

“You can travel the world but If you cannot let go of the past, you will never move on.”

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s