Momen-momen menjelang G30S PKI

23 Mei 1965 PKI yang merupakan partai terbesar di Indonesia saat itu merayakan ulang tahunnya secara besar2an, tamu-tamu dari seluruh negara-negara komunis seperti Cina, Albania, Korea, Vietnam dan Uni Soviet berdatangan.  Jakarta dipenuhi oleh poster-poster raksasa bergambarkan para tokoh-tokoh komunis ; Sukarno, Aidit, Lenin, Karl Marx…..Jakarta bagai menjadi Ibu Kota Komunis pada hari itu.

Pawai “merah” tersebut terpusat di Gelora Senayan, Presiden Sukarno memeluk Aidit, Ketua PKI dengan mesra, dan disambut oleh tepuk tangan semua orang yang memadati stadion itu.

“Aku, sebagai pemimpin besar revolusi memang merangkul PKI, sebab siapa yang bisa membantah bahwa PKI adalah unsur hebat dalam revolusi kita ? saat ini PKI beranggotakan tiga juta orang, dan simpatisan 20 juta orang, dan oleh karena PKI yang paling konsekuen progresif revolusioner”

Pada hari kemerdekaan 17 Agustus 1965, Sukarno menyampaikan pidato kenegaraan “Tjapailah Bintang-bintang di Langit” yang isinya mengobarkan semangat revolusi pada rakyat, dan pada 30 Agustus terjadi demo besar2an di Jakarta yang menuntut pemutusan hubungan diplomatik dengan Amerika dan penutupan kedutaan besarnya.

Massa melewati kedutaan besar inggris yang terletak di samping monumen Selamat Datang, yang hari ini kita kenal dengan Bundaran HI.

Howard Jones dubes AS saat itu melukiskan momen itu :

“At the British Embasy, my doughty colleague, Sir Andrew Gilchrist received them in spirit of There will always be an England, when the rioters departed with a shout of Hidup Bung Karno, the British Ambassador responded with Hidup U Thant, to make sure the crowd had no doubt about the British Spirit, Gilchrist sent his military attaches to stride up and down the balcony playing his bagpipes….”

begitu para atase militer Inggris memainkan alat musik skotlandia yang bunyinya sangat bising itu, diluar dugaan massa menjadi beringas dan terbakar amarahnya.

“I have no doubt that Sir Andrew meant the gestures in good fun, but the Indonesians did not appreciate the Scotsman’s good sense of humor, then they broke through the gates, pushed over the ambassador’s big black Rolls Royce, and set it on fire….”

(oookay mister, next time don’t use bagpipes with the rioters. LOL)

Sukarno sendiri tidak berbuat apa-apa terhadap aksi tersebut, bahkan sebelum masa penjajahan jepang, beliau suka mengucapkan kalimat yang membakar semangat masanya : “Inggris kita linggis, Amerika kita setrika”

(loe kate baju apa disetrika ???)

17 hari sebelum peristiwa tragis G30S PKI, Sukarno memberikan penghargaan tertinggi kepada Aidit ; Bintang Mahaputra, dengan alasan “atas kepahlawanan berikut teladan yang telah dia berikan dalam political leadership”

PKI memang merupakan organisasi politik yang menganut ideologi komunis, namun tidak seperti organisasi komunis di negara lain, PKI tidak memiliki angkatan bersenjata, sementara itu peran militer saat itu sudah terwakili oleh TNI/ABRI yang telah banyak berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan negri ini.

Jadi bagaimana Sukarno sampai sebegitu dekatnya dengan PKI ?

perlu dipahami bahwa PKI pada momen-momen menjelang G30S PKI bukan PKI yang sama pada di awal munculnya pada Revolusi Komunis di masa pra-kemerdekaan yang bersatu-padu dengan kekuatan masa dan masih sejalan dengan Serikat Islam, PKI pada masa itu adalah PKI murni komunis yang memiliki hubungan langsung dengan Soviet, bukan lagi PKI komunis-religius diawal masa perjuangan pra-kemerdekaan yang diusung oleh Tan Malaka

Walau demikian Sukarno bukanlah komunis, ideologinya adalah ideologi yang diciptakannya sendiri : Marheinisme yang bertujuan untuk mengangkat kehidupan rakyat kecil dan mandiri dalam segala hal.

Namun pada saat itu Sukarno sedang melakukan proyek besar : Ganyang Malaysia, yang awalnya karena pencaplokan wilayah di Kalimantan oleh Malaysia, Sukarno menentang hal ini karena tindakan ini akan memperbesar pengaruh imperialisme Inggris di sekitarnya.

Ganyang Malaysia bukanlah hal sepele, karena Malaysia tentu saja mendapat bantuan dari Inggris dan negara persemakmuran lainnya (Australia, New Zealand, bahkan tentara Gurkha dari nepal yang terkenal itupun juga turut diterjunkan)

Jadi ini merupakan pertempuran yang sangat, sangat, sangaat tidak seimbang :  Indonesia melawan persemakmuran Inggris

Untuk mewujudkan proyek ini Sukarno perlu dukungan penuh dari TNI/ABRI, namun dalam hal ini TNI terpecah menjadi dua kubu ; Jendral Ahmad Yani tidak menyetujui rencana ini karena sudah pasti kalah, sedangkan A.H. Nasution justru mendukung Sukarno karena khawatir PKI akan semakin dekat dengan Sukarno jika TNI tidak berpihak pada Presiden.

Akibat tidak mendapat dukungan dari TNI, Sukarno semakin dekat dengan PKI yang 100% menyetujui rencana Ganyang Malaysia.

Akhirnya, para pemimpin Angkatan Darat mengambil posisi unik. Mereka menyetujui perintah Soekarno untuk mengirimkan tentara, tetapi tak akan benar-benar serius dalam konfrontasi ini agar situasi tak bertambah buruh menjadi perang terbuka Indonesia melawan Malaysia ( dan kubu Inggris, Australia-Selandia Baru). Tak heran, Brigadir Jenderal Suparjo, komandan pasukan di Kalimantan Barat, mengeluh, konfrontasi tak dilakukan sepenuh hati dan ia merasa operasinya disabotase dari belakang.

Proyek Ganyang Malaysia yang memakan biaya banyak ini berakibat pada pelemahan ekonomi secara makro ; inflasi tak terkendali, nilai rupiah merosot, rakyat semakin miskin dan kelaparan, hal yang sama terjadi pada saat Jerman melakukan invasi militer keseluruh eropa, juga pada saat Rusia mengerahkan pasukannya setelah Revolusi Bolshevik, pada akhirnya perang hanya mengorbankan rakyat kecil, yang semakin sulit untuk bertahan hidup dari hari ke hari.

Kondisi ekonomi yang parah ini nantinya akan menjadi pemicu gerakan demo besar2an oleh mahasiswa yang tergabung dalam KAMI dengan Tritura, belakangan diketahui bahwa inflasi yang tinggi dan hilangnya barang-barang sembako disebabkan oleh kroco-kroco Suharto yaitu Om Liem dan Bob Hasan yang mempermainkan pasar dengan lihai.

Komunis adalah ideologi yang panas seperti tungku uap yang dipaksa bekerja tanpa henti, karena pemimpinnya terlalu bersemangat ingin mengobarkan ideologi itu keseluruh dunia namun hanya akan mengorbankan rakyatnya sendiri. seperti bunga yang gagal mekar, Komunis menghilang dari kacah politik negri ini, seiring dengan lenyapnya ideologi lainnya seperti Sosialis yang diusung oleh Sjahrir.

dan pada akhirnya semua ini bermuara pada tragedi G30S PKI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s