Komunis, revolusi anti-kolonialisme, dan Silungkang

Sepanjang rezim Soeharto, gerakan komunis, tepatnya Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah kelompok yang harus ditumpas dan dimusnahkan. Orde Baru mengartikan kelompok komunis sebagai kelompok yang penuh catatan hitam pada peta politik bangsa Indonesia. Kejam, sadis, pembantai para jenderal, anti agama.  Generalisasi atas peristiwa G30S yang dikontruksi oleh penguasa Orde Baru sampai detik ini masih melekat kuat dalam memori masyarakat di negeri ini. Inilah sumber utama yang mengacaukan pemahaman mengenai sepak terjang gerakan komunis di Indonesia.

Namun apakah benar begitu ? sebenarnya bagaimana Komunis bisa masuk ke Hindia-belanda apa pra-kemerdekaan dan bagaimana gerakan ini bisa menyusup ke dalam masyarakat yang dalam kondisi terjajah saat itu ? perlu diingat bahwa saat itu ideologi Marxisme merupakan suatu ideologi baru yang menjadi antitesis dari kolonialisme-kapitalisme

Satu karya dari Mestika Zed yang bertajuk Pemberontakan Komunis Silungkang 1927: Studi Gerakan Sosial di Sumatera Barat menampilkan sudut dan sisi lain dari gerakan komunis di Indonesia, jauh sebelum indung telur Orde Baru dibentuk dan dilahirkan di negeri ini.

Apa Silungkang ini ? sebuah dusun kecil yang tidak tercantum di peta, tidak memiliki tanah yang memadai untuk bercocok-tanam hingga rakyatnya sudah terbiasa hidup dari berdagang dan bertenun kain. Jadi mengapa bisa sebuah revolusi anti-kolonialisme pertama yang mengusung gerakan Komunis JUSTRU muncul di desa kecil ini ?

Pada tahun 1912, di bawah kekuasan kolonial Belanda, Silungkang merupakan pusat perdagangan dan pertambangan. Seiring dengan interaksinya dengan dunia luar, gagasan-gagasan radikal masuk juga ke Silungkang.

Pada tahun 1915, Sulaiman Labai—konon, ia seorang saudagar—mendirikan cabang Sarekat Islam di Silungkang. Tiga tahun kemudian, ia mulai mempelopori perlawanan terhadap peraturan-peraturan kolonial yang melarang pengangkutan beras. Pada tahun 1918, Sulaiman Labai dan puluhan anggotanya memaksa kepala stasiun untuk menyerahkan dua gerbong beras dari keretap api yang melintas di Silungkang. Beras hasil rampasan itu kemudian dibagi-bagikan kepada massa rakyat yang sedang kelaparan.

Sulaiman Labai ditangkap gara-gara aksi tersebut. Namun demikian, kisah kepahlawanannya membuat rakyat sangat bersimpati kepada Sarekat Islam dan ingin bergabung dengan organisasi bentuk HOS Tjokroaminoto tersebut.

Dengan demikian, SI cabang Silungkang pun berkembang pesat. Selain memimpin SI, Sulaiman Labai juga memimpin koran kiri: Panas. Pada tahun 1924, SI cabang Silungkang diubah menjadi Sarekat Rakyat (SR). Meningkatnya aktivitas kaum radikal dalam perjuangan anti-kolonial mendorong pemerintah Belanda melakukan penangkapan-penangkapan. Pada tahun 1926, Sulaiman Labai juga ditangkap oleh Belanda.

Sulaiman Labai ditangkap sebelum terjadinya pemberontakan anti-kolonial di Silungkang tanggal 1 Januari 1927. Pemberontakan rakyat itu dipimpin oleh PKI dan Sarekat Rakyat. Pemberontakan itu menemui kegagalan. Ribuan aktivis, kaum tani, kaum buruh, ulama, dan rakyat biasa ditangkap oleh Belanda.

Mengapa revolusi ini gagal ?

Perpecahan di tubuh PKI mengenai resolusi Prambanan, Tan Malaka, tokoh kharismatis ini menolak keras resolusi Prambanan. Bagi Tan Malaka pemberontakan untuk menjalankan revolusi sangat prematur dan belum matang (de tijd nog niet rijp). Selain itu revolusi yang sesungguhnya (true revolution) tidak menggantungkan bantuan dana luar negeri. Baginya kondisi itu dianggap sebagai kelemahan paling fundamental dalam revolusi. Revolusi murni itu dimatangkan oleh situasi dalam negeri dan kematangan organisasi gerakan itu sendiri. Jika kedua butir itu dipatuhi, “maka sejarah toh sudah mengajarkan kita,” kata Tan Malaka.

Tan Malaka sendiri merupakan toko paling kontroversial dan radikal yang pernah ada dalam sejarah ini, di hadapan para Bolshevik dia mengajak Komunis untuk bergabung dengan gerakan Pan Islamisme  :

“Saat ini, Pan-Islamisme berarti perjuangan untuk pembebasan nasional, karena bagi kaum Muslim Islam adalah segalanya: tidak hanya agama, tetapi juga Negara, ekonomi, makanan, dan segalanya. Dengan demikian Pan-Islamisme saat ini berarti persaudaraan antar sesama Muslim, dan perjuangan kemerdakaan bukan hanya untuk Arab tetapi juga India, Jawa dan semua Muslim yang tertindas. Persaudaraan ini berarti perjuangan kemerdekaan praktis bukan hanya melawan kapitalisme Belanda, tapi juga kapitalisme Inggris, Perancis dan Itali, oleh karena itu melawan kapitalisme secara keseluruhan. Itulah arti Pan-Islamisme saat ini di Indonesia di antara rakyat kolonial yang tertindas, menurut propaganda rahasia mereka – perjuangan melawan semua kekuasaan imperialis di dunia.

Ini adalah sebuah tugas yang baru untuk kita. Seperti halnya kita ingin mendukung perjuangan nasional, kita juga ingin mendukung perjuangan kemerdekaan 250 juta Muslim yang sangat pemberani, yang hidup di bawah kekuasaaan imperialis. Karena itu saya tanya sekali lagi: haruskah kita mendukung Pan-Islamisme, dalam pengertian ini?” 

Dari Silungkang kita bisa berkaca bahwa PKI juga pernah melawan rezim kolonial yang menindas, PKI dengan berbagai elemen baik dari kelompok Islam maupun Nasionalis pernah bersahabat dan berjalan bersama mengobarkan semangat antikolonial

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s