Efek artistik dari plugin G’IMC ~ kolaborasi Gimp dan MyPaint

Dari artikel David Revoy tentang plugin G’MIC, baru saya pahami bahwa beberapa filter dari plugin ini adalah untuk memberikan efek artistik dari gambar – bukan cuma hanya foto, dan beberapa filter ini tidak kalah hebatnya dibandingkan dengan filter-filter yang serupa dari beberapa plugin Photoshop ( yang tentunya berbayar ya)

Jadi berikut akan saya coba jabarkan bagaimana mengaplikasikan filter-filter dari G’MIC pada gambar yang saya buat dengan software foss untuk digital painting, MyPaint, contoh berikut ini adalah gambar “Eye” yang dibuat dengan Deevad mixbrush, saya suka menggunakan brush ini karena menghasilkan gambar yang “smooth” hingga saya tidak perlu menggunakan “Smudge” Tool untuk menghaluskan gambar lagi.

eyes1

Dan berikut adalah tampilan plugin G’MIC, filter yang akan saya gunakan adalah filter Poster Edges

gmicmenu

Setelah mengubah beberapa setting, terutama pada setting Edge Threshold, berikut gambar setelah diaplikasikan dengan filter Poster Edges

eyes_posteredge

Selanjutnya akan saya coba untuk menggunakan filter tersebut pada gambar berikut ini, namun saya tidak mau efek filter tersebut mengubah detail pada wajahnya.

girl

Maka saya akan menggunakan “Free Select Tool” untuk men-select wajah, pada Tool Option Bar, klik pada “Feather Edges” dengan radius 20 piksel. setelah itu pilih pada menu : Select – Invert , untuk men-select area disekitar rambut (karena saya akan mengaplikasikan efek filter untuk rambut – bukan pada wajah)

Screenshot from 2013-03-29 16:48:21

Dan berikut adalah hasil dari filter Poster Edges :

gmic-posteredges

Saya mencoba filter yang lain yaitu “Graphic Boost 2” untuk menghasilkan tekstur yang lebih “berisi” pada gambar ini. ohya, warna mata dari gambar ini sudah saya ubah dengan Gimp, jadi warna mata bukan diubah dengan filter G’MIC.

gmic-graphicboost2

Dan ini juga gambar saya yang lain dengan mengaplikasikan filter “Graphic Novel”

mygirl_gmic_graphicnovel2

Demikian posting tentang beberapa filter ciamik dari G’MIC yang sangat cocok untuk menberika efek yang artistik pada gambar digital, semoga bermanfaat ! 😀

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

I remember…..

I remember when everything was simple and we still believe in a thing called love

I remember when he kept asking about what I was thinking, doing and felling. There was a time when I was really important for him, and I was the only one in his mind.

Wherever I was, there he was.

Whatever I did, he loved it

He made me feel happy just the way he showed how he cared for me, I never could understand why he treasured me that much, while I didn’t treasure myself like he did.

He always called me everyday, and when I went away, he could find a way to call me.

When I was having holiday in granma’s house, and the phone’s line there was broken, he called the operator to fix it, and after it was fixed, he called me just to hear my voice.

letters, and letters….words would never enough to describe his feeling for me that moment.

last year, he asked ; do I still remember those days ?

I replied ; I was surprised you still remember it, I thought you forget all about it.

he never forget it, either do I

it was nice to know when things are over there are some sweet memories that will stay forever in our mind

 

G’MIC ~ plugin untuk Gimp

Jika anda adalah Gimp user, pastinya sudah tahu bahwa Gimp memiliki beragam plugin yang terdapat pada Gimp Plugin Registry, repository untuk extension dan plugin Gimp. Nah, salah satu Plugin Gimp yang terkenal adalah G’MIC atau Grey’s magic for Image Computing. 

gmicky_wilber_small

Sebetulnya G’MIC sejatinya bukan saja merupakan plugin untuk Gimp, namun merupakan sebuah framework untuk image processing yang menyediakan berbagai interface untuk memanipulasi image (begitu penjelasan dari website-nya)

Saya kurang begitu suka menggunakan plugin, mungkin karena selama ini belum merasa perlu, tapi setelah melihat beberapa review mengenai G’MIC, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba plugin ini.

Jadi ini tampilan plugin G’MIC, untuk membuka G’MIC di Gimp, pada menu pilih Filter – G’MIC (tentunya pilihan ini baru muncul setelah menginstal plugin ini)

gmicforgimp

Pada tampilan window G’MIC, terdapat ratusan filter, yang bisa diatur settingnya juga, dan ternyata ada beberapa filter yang cocok digunakan untuk retouching foto seperti filter Soft-Glow berikut ini :

gemma-arterton_softglow_gmic

Saya juga mencoba salah satu filter “Lylejk’s Painting” pada gambar yang saya buat dengan menggunakan MyPaint, dan berikut hasilnya yang menyerupai lukisan impressionist (gambar yang dibagian atas adalah gambar asli, dan gambar dibagian bawah adalah gambar setelah diberi efek dari G’MIC) :

random_gmic2

Dan juga saya mengaplikasikan filer “Graphic Novel” pada gambar sketsa yang saya buat juga dengan MyPaint, dan berikut hasilnya (gambar sebelah kiri adalah gambar asli, gambar sebelah kanan adalah gambar setelah diberi efek dari G’MIC) :

merida_graphicnovel_gmic

 

Jadi saya rasa plugin G’MIC ini sangat menyenangkan, terutama karena beberapa efeknya bagus untuk diaplikasikan pada foto maupun digital painting (yang disini saya buat dengan MyPaint) dan masih banyak lagi plugin dari G’MIC yang belum saya coba ! wow ! 😀

Oh ya, kalau ingin mencoba G’MIC namun belum menginstal Gimp, bisa mencoba ratusan filter dari G’MIC langsung di websitenya di G’MIC Online  selamat mencoba ! 🙂

sumber :

http://gmic.sourceforge.net/

http://www.davidrevoy.com/article147/gmic-new-filter-poster-edges#.UL-cnEsfxIw.google_plusone_share

http://registry.gimp.org/

http://sourceforge.net/p/gmic/wiki/Home/

Theodore Boone: Kid Lawyer (Theodore Boone, #1)Theodore Boone: Kid Lawyer by John Grisham
My rating: 1 of 5 stars

Okay, and so please remind me again NOT TO BUY A BOOK BEFORE READING A REVIEW, because I always end up regretting reading a lousy book like this KID LAWYER by one of my favorite writer, John Grisham.

Dear Mr. Grisham,
somehow, I wonder what was you intention to write this novel ? did you want to follow other famous novelist who wrote great novels for kids ? or did you want to introduce about legal things to kids ?

I’m so sorry, but I think this novel is a big fail……..

Meet Theodore Boone, 13yo, raised from a lawyer family (mother and father are lawyer, his uncle was a retired lawyer too, and FOR GOD’S SAKE, HE GOT A DOG NAMED WITH “JUDGE”)

Theo wasn’t like any other regular 13yo kids, who talked about movies, games, girls…..instead he always hang around the courtroom (really ? why didn’t they kick that kiddo outta there ?)

Theo loved all about legal things sooooooooooo much, he even could give LEGAL ADVICE to his friends, just like any other lawyer (SHUT UP) and somehow he arranged a visit with his classmates to a courtroom, and he didn’t forget to remind all of his friends THAT REAL COURTROOM IS DAMN BORING AND IT IS NOT AS DRAMATIC AS IN THE MOVIES

Theo didn’t feel anything with a cute girl at his age who got crush on him, because he got a different taste, unlike other boy in his age, Theo got a crush with a mature woman, twice of his age, and pregnant…….

okay so I stopped read it here, exactly at page 72, only waste my time reading this non-sense.
but anyway I gave a star and also write this review, to help me to remind myself not to buy a cheap book without reading a review before it.

View all my reviews

AirframeAirframe by Michael Crichton
My rating: 3 of 5 stars

If you think you will find “Airframe” like any other novels or movies about airplane crash, then you wrong, the drama and main-plot about Airframe were during AFTER the airplane incident, not during or before it.

so basically it was more like “Air plane Crash investigation” conducted by several people who worked at the Norton Aircraft who built that airplane. the main protagonist was Casey Singelton, mid-thirties, single-mom, control-freak, unfashionable and always follow by the rules.

Casey who was one of the top executive in that company, at beginning, already smelled something fishy about that incident, so she digged up all the evidence, unaware that some people in her company who watched all her steps, and did something to prevent her finding a fact about that incident.

I gave 3 of 5 stars for this novel, though I really enjoyed this novel very much, (actually one of Crichton best novel since “Congo”) but the plot was a bit boring at the middle of the novel, so I skipped it and really enjoyed the dramas at the end part of this novel.

So Airframe is an enjoyable, non-serious reading for weekend, and I really glad I read this novel !

View all my reviews

Antifragile ~ things that gain from disorder (book review)

“What doesn’t kill me kills others”

“Antifragile” adalah buku ketiga dari Nassim Taleb, setelah dua buku sebelumnya yaitu “Fooled by Randomness” dan “Black Swan”. Taleb sendiri adalah mantan trader wall street yang sudah “tobat” dan sudah keluar dari sistem yang sering disebutnya “vulgar commerce”, saat ini menjadi penulis dan penasihat finansial.

Kesan pertama setelah membaca beberapa bab dari buku ini adalah tidak lain dari aura egosentris penulis yang kental terasa pada setiap paragraf ( segitu arogannya Taleb hingga cuek saja dia menuliskan bahwa sumber krisis yang dimulai tahun 2007 adalah si “Uberfragilista” Alan Greenspan) Jadi untuk bisa menikmati buku ini saya harus mengabaikan keegosentrisnya dan kearoganannya untuk hanya mengambil poin-poin pentingnya saja. Baiklah.

Apa itu Antifragile ?

Antifragile ? itu adalah istilah yang diciptakan sendiri oleh penulis untuk bisa menjelaskan semua hal yang tidak “Fragile”, atau “Beyond Robustness”, jika dari dua buku sebelumnya Taleb berusaha untuk dapat menghitung dan meramalkan probabilitas dari suatu kejadian atau misalnya krisis ekonomi dan bencana alam, dsb. Maka dalam Antifragile ini Taleb seakan merangkumkan apa yang sudah dia jelaskan di kedua buku sebelumnya.

Untuk memahami Antifragile, perlu diingat bahwa Taleb adalah seorang independent thinker, yang tentu saja pola pikirnya sangat absurd dan susah ditebak, apa yang selama ini kita percaya bahwa hal itu merupakan suatu kepastian justru oleh Taleb dikategorikan sebagai suatu yang “Fragile”,  misalnya pada tabel 1 dimana Taleb memasukkan “Classroom” sebagai fragile, dan “Real Life with library” sebagai Antifragile.

Ada beberapa hal yang saya temukan kontradiktif pada buku ini, pada halaman 161, Taleb menjelaskan teori solusi “Barrel” yaitu tentang memberi keseimbangan atau balance dalam kehidupan dengan memberikan porsi yang tepat antara hal-hal yang tidak beresiko dengan hal-hal yang memiliki resiko tinggi. Misalnya menaruh investasi pada portofolio yang tidak beresiko sebesar 90% dan yang beresiko tinggi sebesar 10%, masuk akal, tentu saja kita tidak mau bertaruh dengan berinvestasi pada hal yang penuh resiko sebesar 90% dari total investasi.

Namun pada bab “Non Linear” di halaman 300, Taleb menjabarkan dengan kurva-kurvanya yang membingungkan dan sulit dipahami bahwa semakin banyak hal yang tidak pasti dan tidak linear maka untuk jangka panjang akan baik untuk kita. Bagi saya hal ini tidak sejalan dengan teori Barrel-nya yang memberikan porsi 90% dan 10%, teori Non-Linear justru mendorong kita untuk mengambil resiko lebih banyak dari hal-hal yang tidak beresiko.

Sekali lagi Taleb berargumen tentang pentingnya “Randomness”, No Stability without Volatility. kali ini Taleb memberikan contoh tentang bagaimana pemerintah Amerika yang berusaha untuk menstabilkan perekonomian ( yang jelas saja sistemnya hanya menguntungkan pihak tertentu ) yang justru malah mendorong perekonomian itu pada jurang ketidakstabilan, begitu juga dengan kebijakan luar negri yang mengintervensi negara-negara lain demi untuk menjaga kestabilan alias “World Peace” yang justru malah mengakibatkan perang yang berkepanjangan dan krisis ekonomi babak lanjutan.

Banyak hal yang dibahas pada buku ini dengan istilah-istilah filsafat yang aneh, tapi satu hal menarik yaitu pada saat Taleb jatuh dan melukai hidungnya, dia masih bisa berargumen dengan dokter saat dokter tersebut ingin memberi es batu untuk menghentikan pendarahan dengan alasan tidak ada bukti statistik bahwa es batu bisa menghentikan pendarahan. kalau saya pribadi sih tentu saja karena panik akan menerima apa saja yang dianjurkan oleh dokter, tapi tentu saja filsafat sekelas Taleb harus mempertanyakan dulu atas dasar apa si dokter mengambil tindakan seperti itu.

Sekali lagi Taleb mengkritik sistem kapitalis yang selalu berusaha untuk menjadi “lebih besar”, “Too big to fail” dan tamak, karena justru dengan ukurannya yang besar menambah resikonya untuk menjadi hancur. “Small is Beautiful” , untuk mengurangi resiko, ubah mega proyek menjadi beberapa proyek kecil yang ditangani oleh para proyek manajer, perusahan besar yang memecah subdivisinya menjadi lebih kecil tapi banyak, dan masih ingat bahwa usaha berskala mikro justru yang bisa bertahan dari krisis ?

Tentang krisis finansial 2008, Taleb  bercerita tentang dua tokoh fiktifnya Fat Tony dan Nero yang bertaruh melawan sistem finansial bahwa krisis akan terjadi dan mereka akan menambil untung besar dari hal tersebut, “By betting against Fragility, they were Antifragile”. walaupun tidak menjelaskan secara detail bagaimana si Fat Tony dan Nero bisa melakukan hal itu, kejadian ini mirip sekali dengan isi buku “Big Short” oleh Michael Lewis yang secara detail menceritakan tentang segelintir orang dari luar sistem yang bisa memprediksi kehancuran finansial jauh dari sebelum 2008 dan mengambil keuntungan dari krisis finansial itu.

Saya sempat berpikir jangan-jangan Taleb sendiri adalah si Fat Tony atau Nero yang juga mengambil keuntungan besar dengan “short trading” saat krisis finansial terjadi………

Taleb juga membahas tentang ilmu kedokteran, obat-obatan, penyakit dan nutrisi makanan, dimana dia menjelaskan bahwa dia pantang makan buah yang tidak memiliki nama latin, seperti buah mangga dan pepaya, dengan alasan yang masuk akal bahwa buah-buah tersebut sarat dengan kandungan gula yang tinggi, yang tentu saja tidak baik untuk kesehatan ( waduh, jangan-jangan Durian gak punya nama latinnya ya ? 😐 )

Harus saya akui bahwa setiap bab pada buku ini sulit untuk dicerna, tadinya saya pikir apa saya saja yang segitu begonya hingga perlu waktu berhari-hari dan membaca berulang-ulang untuk memahami pesan dari setiap bab pada buku ini, sampai saya membaca review buku ini di Goodreads dimana beberapa pembaca juga mengeluhkan hal yang sama, bahkan ada juga yang menyebut Taleb sebagai “Ass****” tapi masih memberikan 5 bintang untuk bukunya.

Satu hal lagi yang saya bisa dapatkan dari buku ini, adalah menjadi puitis itu bisa membunuh ! jadi lupakan saja membuat posting2 puitis di semua sosial media, karena hal itu tidak baik untuk kesehatan jiwa !

Beberapa beautiful quotes yang saya dapatkan dari buku ini yaitu :

Keeping one’s distance from an ignorant person is equivalent to keeping company with a wise man” – Ali bin Abi Talib.

“The good is mostly in the absence of the bad”

“Suckers try to win arguments, Non-Suckers try to win”

“never ask a doctor what you should do, ask him what he would do if he were in your place”

dan saya modifikasi jadi begini ;

“never ask a TRADER what you should buy or sell, ask him what he would do if he were in your place”

:mrgreen:

Jadi mungkin bisa saya simpulkan bahwa Taleb berusaha untuk meyakinkan kita bahwa segala hal yang tidak pasti dalam hidup ini bukan dihindari, namun harus dihadapi.

No result without efforts,

no joy without sadness,

no convictions without uncertainty. 

All and all, buku ini sangat menarik, menyebalkan, membingungkan tapi juga mencerahkan, dan baru kali ini saya bisa begitu membenci dan menyukai satu buku pada saat yang bersamaan, dan tentu saja seperti kedua buku Taleb sebelumnya, saya akan membaca buku ini berulang-ulang 🙂

antifragile