Path Tool dari Gimp

Path Tool yang terdapat pada Gimp sebetulnya adalah salah satu dari Selection Tools, namun fitur ini sebetulnya hampir menyerupai Pen Tool pada Photoshop atau Bezier Tool pada Inkscape.

Path Tool adalah fitur yang cukup unik karena selain berfungsi untuk men-select suatu image, Path tool dapat juga digunakan seperti Bezier Tool untuk menggambar atau membuat karya-karya unik lainnya.

Nah, pada posting ini saya akan mencoba membuat brush “bintang segi delapan” atau Octagon Star dari path tool, pertama buat image baru : File – New , dengan size 64 x 64 piksel , pilih Path tool , lalu mulai buat bentuk oktagon, dan untuk menghubungkan titik terakhir dengan titik awal jangan lupa untuk menahan Ctrl sambil mengklik titik awal.

 

 

Setelah selesai membuat oktagon, pada Path Dialog Box (yang terdapat disebelah Layer dialog box) klik mouse kanan pada Path dan pilih Stroke Path , maka akan  muncul window seperti berikut ini

 

 

Pilih Stroke Line pada Solid Color , pastikan warna yang dipilih adalah Hitam, dan klik OK

Untuk menyimpan Brush Octagon Star ini pada Gimp, pilih Export , dan simpan dalam format .gbr , misalnya Octagon.gbr , simpan difolder home/user_name/gimp/brush  (di ubuntu ya, kalau untuk windows pastinya lain ) dan klik Ok , maka kita sudah berhasil membuat brush berbentuk Bintang Oktagon !

untuk menggunakan brush bintang oktagon, klik pada tombol refresh di Brush Dialog box, maka brush berbentuk bintang oktagon akan muncul, dan ini hasil yang saya coba dengan menggunakan brush bintang oktagon dengan Brush Tool

 

 

Oh ya, Path tool ini bisa digunakan untuk menggambar juga lho, tentu saja lebih sulit menggunakannya dibandingkan dengan Bezier tool, tapi ada yang berhasil membuat gambar2 unik dengan Path tool dan hasilnya tidak kalah keren dibandingkan dengan menggunakan tablet mouse ! wow ! coba cek ke youtube.com/user/FreeGimp , pasti bengong lihat cara orang ini mengunakan Path Tool ! Ajaib ! 😯

Dan saya gak mau kalah coba juga pake path tool untuk menggambar, walau hasil ya wallohualam deh, ya gitu lah, namanya juga nubie, harus banyak latihan lagi, hehee :mrgreen:

 

Demikian posting tentang Path tool pada Gimp , mudah2an bermanfaat dan kalau ada kritik silakan isi komen dibawah ini ya ! terima kasih ! 😀

Advertisements

Stephen “7 Habits” Covey’s Legacy

“Be a light, not a judge. Be a model, not a critic” – Stephen R. Covey

Ada beberapa buku yang sangat menyentuh saya secara personal, mungkin karena buku-buku itu memberikan ‘insight’ baru atau memiliki sesuatu hal yang sulit dijabarkan hingga saya merasa memiliki semacam sentimental tersendiri terhadap buku-buku itu. salah satunya adalah 7 Habits of Highly Effective People.

Dulu, jauh sebelum Mario Teguh dan para motivator dadakan itu terkenal, Buku 7 Habits adalah merupakan suatu terobosan yang spektakuler, seingat saya waktu pertama kali membacanya ( ya, saya membaca buku itu berulang kali !) waktu zamannya kuliah dulu, dan buku ini cukup memberikan perubahan yang signifikan pada karakter saya ( gak bo’ong lhoo )

Apa saja 7 Habits itu ?

Buat yang sudah lupa atau belum tahu , ini Tujuh Kebiasaan Efektif yang dirumuskan oleh Stephen Covey :

  1. Be Proactive
  2. Begin with the End in Mind
  3. Put First Things First
  4. Think Win/Win
  5. Seek First to Understand, Then to Be Understood
  6. Synergize
  7. Sharpen the Saw

Dan “Habit” favorit saya adalah nomor 4 : “Win-Win Solution”, rasanya tanpa Covey, kalimat win-win solution tidak akan pernah ditemukan, win-win solution atau lebih tepatnya seperti “musyawarah untuk mufakat” adalah suatu kebiasaan yang mulia karena mengharuskan kita menekan ego dan menggunakan empati untuk mencari jalan keluar dari suatu masalah hingga mendapatkan solusi yang menguntungkan semua pihak.

Sebetulnya saya rada basi menulis tentang Stephen Covey, toh semua orang sudah tahu karyanya, tapi pagi ini saya membaca posting teman di fesbuk tentang berita kematiannya, dan tiba-tiba saja saya jadi ingat tentang semua hal yang pernah saya pelajari dari buku-buku Stephen Covey.

Saya rasa tidak berlebihan jika menyatakan bahwa karya Stephen Covey memiliki pengaruh yang besar di bidang psikologi atau lebih tepatnya self-motivational dan self-improvement, kebesaran Covey tentunya bisa disandingkan dengan Dale Carnegie.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan jasa….

Thanks, Mr. Covey….for your great books

“Live, love, laugh, leave a legacy.”

– Stephen R. Covey

Orca , si Paus Pembunuh

Orca atau yang lebih dikenal dengan nama “Killer Whale” adalah mamalia laut sejenis dengan lumba-lumba dan ikan paus, tapi apa yang membuat Orca begitu berbeda dibandingkan dengan mamalia laut lainnya ?

Orca dikategorikan dalam kelas “paus bergigi” artinya Orca yang memiliki gigi ini tentu saja makannya terdiri dari ikan-ikan kecil dan sebagainya, lain dengan “paus baleen” yang memiliki baleen atau semacam jaring yang berguna untuk menangkap mangsa yang kecil seperti plankton.

Apa yang unik tentang Orca ?

Oke deh, to the point aja, Orca ini mamalia laut yang paling keren dan hebat ! bukan saja karena Orca adalah mamalia tercepat dilaut, tapi juga karena Orca adalah mamalia terpintar dan memiliki kultur sosiologi yang kompleks seperti manusia – artinya kehidupan Orca dan komunitasnya itu penuh drama haru-biru seperti manusia juga ! heheee ( ya kaleee :mrgreen: )

Orca tidak sembarangan dalam memilih korbannya, tentu saja untuk makan sehari-hari Orca suka makan ikan sarden, salmon atau anjing laut, tapi kalau Orca sedang bosan atau ingin refreshing gitu (kalau kita kan bisa ngemal atau ke bioskop, lha dilaut mana bisa gitu ?? ) Orca mencari korban yang lebih “menantang” yaitu saudaranya sendiri yaitu lumba-lumba (aduh, kacian 😦 ) paus bungkuk dan paus sperma yang merupakan mamalia terbesar di laut, bahkan hiu pun juga.

Bagaimana Orca memangsa buruan yang lebih kuat dan lebih besar dari mereka ?

Orca adalah mamalia yang pintar, mereka panggil teman-teman segank dulu, buat rencana taktik untuk menjebak mangsanya, pemburuan bisa memakan waktu berjam-jam, tapi Orca adalah mamalia yang penuh perencanaan dan pantang menyerah, dan akhirnya berkat otak dan kerjasama, Orca berhasil menaklukan mangsanya.

Anehnya setelah berhasil menaklukkan buruannya yang besar itu ( lumba-lumba atau ikan paus) Orca tidak memakan buruannya, jadi mereka cuma memangsa untuk rekreasi saja ! hmmm……

Sebetulnya saya gak tahu sama sekali tentang Orca sampai anak saya yang waktu itu masih berumur setahun entah angin dari mana terobsesi banget dengan Orca !  segala macam musti Orca, mulai dari video, buku-buku dan mainan…..lucu banget ya anak balita gitu udah kesengsem sama Orca, mungkin karena Orca itu imut-imut kayak panda kali ya ? 🙂

Oh ya, iseng2 buat gambar Orca dengan Inkscape dan Gimp, dengan Inkscape saya buat gambar vektor  si Orca, trus buat latar belakang lautnya dengan Gimp.

Ini juga saya buat dengan Inkscape, sayangnya entah kenapa Inkscape tidak bisa menghandle Opacity dan Gradient, tapi untuk membuat gambar vektor sederhana, inkscape sudah cukup memadai kok.

Demikian hasil iseng-iseng saya dengan Gimp dan Inkscape, mudah2an posting ini bermanfaat, terima kasih ! 😀

Book’s Reviews from Goodreads ; The Girl Who Kicked the Hornet’s Nest

The Girl Who Kicked the Hornet's Nest (Millennium, #3)The Girl Who Kicked the Hornet’s Nest by Stieg Larsson

My rating: 4 of 5 stars

“Friendship is probably the most common form of love.”
― Stieg LarssonThe Girl Who Kicked the Hornet’s Nest

Unlike the previous two books, my expectation for this book was really high, and I wasn’t disappointed after reading it, frankly I enjoyed it very much ! what I really like about Larsson’s Millenium series that it has different “topic” for each book.

for example, in the first book the topic was about anti-semit, sexual harassment and domestic violence, Larsson successfully conveyed it thoroughly in every chapter of that book.

and in this third book, I guess the theme or topic is about “Amazon Fighters” or “Army of women” or nowadays as known as “Alpha-Female”

All of the female characters in this book were born as stubborn fighters, alpha-dominant-women who kicked ass those jerks, and off course the smartest and the most kicked-ass female and the center of this book is none other than ; Lisbeth Salander.

My favorite part of this book was at the courtroom, Lisbeth and her lawyer played their part perfectly and flawless, I think that courtroom section was much better compared with John Grisham ( no way ! just kidding, folks )

One flaw is ; why the hell is Mikael Blomkvist a chick-magneto ?

A middle aged journo has that such kinda charm so every girls in that book couldn’t say no to him ? pleeeaaaseeee……..

all and all, this is a very enjoyable book, must read it !

by the way, I read this book months ago, but didn’t think to write a review till now, fyi

View all my reviews